Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 43

PEMBATAL KEISLAMAN KE-10

*
Beliau mengatakan 
*العَاشِرُ*: الإِعْرَاضُ عَنْدِينِ اللهِ تَعَالَى لَا يَتَعَلَّمُـهُ وَلَا يَعْمَـلُ بِهِ، وَالدَلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمَنْأَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَالْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ﴾

Beliau mengatakan – *العَاشِرُ* – 
 *Kesepuluh*: _berpaling_ dari agama Allâh  tidak _mempelajarinya & tidak mengamalkannya agama Allāh Subhānahu wa Ta’āla_ dan Dalilnya firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang artinya :
“Dan siapa yang lebih zhalim daripada orang yang diingatkan kepadanya ayat-ayat Rabb-nya – ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا – kemudian dia berpaling dari ayat² Allāh Subhānahu wa Ta’āla – إِنَّا مِنَالْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُون – . Sesungguhnya Kami akan mengazab orang-orang Mujrimin / orang-orang yang kufur & berpaling dari ayat² Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

(QS. As-Sajdah [32]: 22)
Ini adalah pembatal keIslaman yang ke10, yang ingin beliau sampaikan yaitu berpaling dari agama Allāh. Seorang muslim apabila dia sudah bersyahadat mengatakan

 – أشهد أن لا إله إلا الله – 

mengatakan

 – وأشهد أن محمد رسول الله –
 Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh dan mengatakan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah Rasulullãh. Maka hendaklah dia mempelajari dua kalimat ini 

Apa isinya 

Apa makna dari dua kalimat syahadat

Dan apa konsekuensi yang harus di lakukan oleh  seseorang ketika mengatakan
 أشهد أن لا إله إلا 

Ketika mengatakan

 و أشهد أن محمد رسول الله 
Kalimat ini adalah kalimat yang agung, Kalimat yang memiliki makna yang memiliki konsekuensi, orang yang mengatakan 

أشهد أن لا إله إلا الله 
Maka dia diharuskan untuk menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla & meninggalkan segala sesembahan selain Allāh *Meninggalkan kesyirikan dengan berbagai jenis nya*
Orang yang mengatakan 

وأشهد أن محمد رسول الله 
Maka dia harus konsekuen dengan kalimat ini, apabila dia yakin & percaya & percaya bahwasanya Muhammad adalah seorang Rasul, maka dia harus:
Membenarkan apa yang datang dari beliau

Menjalankan perintah beliau 

Meninggalkan larangan beliau 

Dan tidak beribadah kepada Allāh kecuali dengan syariat & cara yang beliau ajarkan 
Dua kalimat syahadat

 – أشهد أن لا إله إلا الله و أن محمد رسول الله 
Adalah dua kalimat yang agung yang memiliki makna yang memiliki konsekuensi, memiliki tuntutan. 
 
_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Iklan
Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 42

 كَمَا وَسِعَ الخَضِرَ الخُرُوجَ عَنْ شَرِيعَةِ مُوسَى عَلَيهِ السَّلَامُ، فَهُوَكَافِرٌ.
Sebagian mereka beralasan dengan kisah Khodir (yaitu Nabi Khodir alaihi salam), sebagian mereka mengatakan
 “boleh kita keluar dari syariat Rasulullãh ﷺ  dengan alasan bahwasanya Nabi Khodir  dahulu beliau keluar dari syariat nya Nabi Musa alaihi salam”  
Maksudnya adalah kisah yang Allāh sebutkan didalam surat Al Kahfi, dimana Nabi Musa alaihi salam didalam sebuah hadits disebutkan, pernah ditanya Bani Israil 

“apakah engkau mengetahui disana ada orang yang lebih ‘alam (orang yang lebih tau) pada dirimu ”

Maka Nabi Musa alaihi salam menjawab sesuai dengan ilmunya 

” tidak ada disana orang yang lebih tahu dari pada aku”
Maka Allāh mewahyukan kepada Nabi Musa alaihi salam bahwasanya disana ada hamba diantara hamba² Allāh yang dia memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh Nabi Musa alaihi salam & beliau (Nabi Musa alaihi salam) diperintahkan oleh Allāh untuk menemui hamba tersebut. 
Bertemulah Nabi Musa alaihi salam dengan Nabi Khodir dan Nabi Musa alaihi salam meminta ijin kepada Nabi Khodir menemani beliau & Nabi Khodir mensyaratkan boleh menemani dalam bepergian tetapi harus bersabar, tidak boleh menanyakan sesuatu sampai dikabarkan oleh Nabi Khodir alaihi salam. 
Maka terjadilah kisah yang disebutkan di dalam surat Al Kahfi. 

Nabi Khodir alaihi salam merusak sebuah kapal, kemudian membunuh seorang anak kecil kemudian ketika keduanya (Nabi Musa & Nabi Khodir) mampir kesebuah desa & mereka tidak menghormati keduanya Khodir alaihi salam mendirikan / memperbaiki sebuah dinding & ini semua secara dhohir adalah perkara yang aneh. 
Bagaimana seseorang merusak kapal orang lain , bahkan kapal tersebut adalah milik orang miskin. 

Bagaimana seorang muslim membunuh anak kecil yang tidak berdosa. 

Bagaimana seseorang ketika tidak dijamu dan tidak dihormati justru berbuat baik kepada mereka (memperbaiki salah satu dinding yang sudah akan roboh) 

Maka ini pertanyaan² di ajukan oleh Nabi Musa alaihi salam kepada Nabi Khodir, kemudian dijawab satu per satu oleh Nabi Khodir alaihi salam 
⇒Bahwasanya kapal tadi adalah kapal milik orang-orang miskin & disana ada seorang Raja yang senang mengambil kapan orang lain dengan tidak hak /dengan dzolim. Nabi Khodir alaihi salam sengaja merusak kapal tersebut maksudnya adalah dilubangi dirusak sebagian supaya raja tersebut tersebut tidak mengambil kapal orang-orang miskin tersebut, karena kapal yang rusak tentu nya raja tersebut tidak ingin mengambil kapal yang rusak, Raja ingin mengambil kapal yang bagus (yg masih utuh) adapun kapal yang sudah berlubang maka dia tidak mengambilnya, sengaja oleh Nabi Khodir dilubangi supaya tidak diambil oleh raja tersebut. 
⇒Demikian pula kenapa beliau membunuh anak kecil tersebut karena beliau diwahyukan oleh Allāh bahwasanya anak kecil ini apabila sudah besar akan durhaka kepada kedua orang tuanya. Maka Allāh ingin menggantikan dengan anak yang lain. 
⇒Adapun dinding, maka dinding tersebut adalah milik kedua anak yatim dan Allāh ingin memberikan kepada keduanya harta yang ditinggalkan oleh orang tuanya yang ditaruh dibawah dinding tersebut, baru setelah itu Nabi Musa alaihi salam mengetahui, ternyata memang disana ada orang yang lebih tahu dari pada beliau alaihi salam & Nabi Khodir menurut pendapat yang shahih adalah seorang Nabi diantara Nabi nabi Allāh Subhānahu wa Ta’āla, karena disebutkan didalam Alquran beliau mengatakan
 وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ۚ 

“dan tidaklah aku melakukan itu semua dari diriku sendiri ”
Artinya beliau melakukan itu semua dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 
Mereka mengatakan disini Nabi Khodir alaihi salam keluar dari syariat nya Nabi Musa alaihi salam. Kemudian mereka mengatakan ini menunjukkan bahwa kita boleh / sebagian manusia boleh keluar dari syariat nya Rasulullãh ﷺ. 
Kita katakan ini adalah alasan yg tidak benar & alasan yang batil karena Nabi Khodir alaihi salam bukan termasuk Bani Isra
el, sedangkan Nabi Musa alaihi salam diutus kepada Bani Israel. 
Oleh karena itu tidak dikatakan bahwasanya Nabi Khodir keluar dari syariat Nabi Musa, seandainya Nabi Khodir tidak mengikuti syariat nya Nabi Musa maka ini adalah jalan  yang benar, karena beliau bukan termasuk bani Israel. 
Oleh karena itu tidak dikatakan & tidak benar alasan bolehnya keluar dari syariat nya Nabi Muhammad ﷺ dengan alasan bahwasanya Nabi Khodir telah keluar dari syariat nya Nabi Musa 
فهو كافر 
Maka orang yang demikian adalah orang yang kafir keluar dari agama Islām, batal amalannya apabila dia meninggal dunia dalam keadaan tidak Bertaubat dari perbuatan ini dari keyakinan ini maka dia tidak akan diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla & tempat kembalinya adalah Neraka selama² nya disana & diharamkan masuk ke dalam surga nya Allāh Subhānahu wa Ta’āla

 
_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 41

Apabila ada seseorang di jaman sekarang dia meyakini ada sebagian manusia :
⇒Boleh dia tidak mengikuti Rasulullãh ﷺ 

⇒Boleh dia tidak beriman dengan Rasulullãh ﷺ 

⇒Boleh dia Untuk keluar dari syariat Rasulullãh ﷺ
Maka kata beliau disini – فهو كافر – Maka orang yang demikian telah keluar dari agama Islām. 
Seorang Muslim meyakini bahwasanya syariat beliau ﷺ adalah untuk seluruh manusia, bukan untuk orang Arab saja & bukan untuk  orang tertentu saja.
 Barangsiapa ada meyakini bahwasanya ada sebagian manusia boleh keluar dari syariat Rasulullãh ﷺ maka dia telah keluar dari agama Islām. 
Kenapa demikian? 
Karena dia telah mendustakan kabar dari Allāh, Allāh mengabarkan bahwasanya syariat Rasulullãh ﷺ untuk seluruh manusia. Bagaimana dia mengeluarkan dirinya sendiri atau mengeluarkan sebagian orang & mengatakan bahwasanya dia tidak wajib untuk beriman dengan Rasulullãh ﷺ & dia mendustakan Rasulullãh ﷺ , karena Rasulullãh ﷺ mengabarkan seperti yang kita sebutkan tadi bahwasanya dia diutus untuk seluruh manusia. 
Dan ini adalah Ijma para Ulama tidak terkecuali, mereka semua berijma bahwasanya Rasulullãh ﷺ  diutus untuk seluruh manusia. 
Maka bagaimana seorang muslim atau mengaku bahwasanya diri adalah seorang muslim meyakini bahwasanya ada sebagian manusia boleh tidak beriman & tidak mengikuti syariat Rasulullãh ﷺ. 
Seperti sebagian manusia yang mengaku telah mencapai derajat ma’rifat yang menurut dirinya adalah derajat yang paling tinggi sudah sampai derajat yakin, dia mengatakan apabila sudah sampai derajat ini maka boleh dia tidak mengikuti syariat, meyakini bahwasanya syariat itu untuk orang awam. 
Adapun kita (kata dia) sudah sampai ma’rifat sudah sampai derajat yang tinggi sudah mengenal Allāh maka kita sudah tidak diwajibkan untuk mengikuti syariat tersebut. 
*

Ucapan ini adalah ucapan yang kufur

*
Mengeluarkan seseorang dari Islām. Tidak ada Diantara manusia yang boleh keluar dari syariat nya Rasulullãh ﷺ. 
Apabila ada yang mengaku sudah sampai derajat tertentu kemudian dia mengatakan kami mengambil agama langsung dari Allāh, tidak perlu kami seorang Rasul, tidak perlu hadits, tidak perlu Al-Qur’an tapi kami langsung mendengar agama dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 
Ini adalah Ucapan Yang Kufur, yang mengeluarkan seseorang dari Islām. 
Seharusnya seorang muslim semakin dia mengenal Allāh, maka semakin dia rajin beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Seseorang semakin mengenal Allāh, mengenal namaNya, mengenal sifat-Nya, mengenal agamaNya, semakin dia yakin dengan agama Islām semakin dia rajin dalam beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 
Oleh karena itu orang yang paling mengenal Allāh adalah orang yang paling takut kepada Allāh. 
Allāh Subhānahu wa Ta’āla memuji para ulama, karena mereka mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla, mengenal Allāh & mengenal agama Nya. 
( إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ )
“Sesungguhnya orang yang paling takut kepada Allāh adalah para ulama” 

(QS Surat Fathir: 28) 
Semakin orang yang takut kepada Allāh, semakin seseorang mengenal Allāh semakin dia takut, semakin dia takut dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, semakin dia takut dengan azab-Nya 
 Rasulullãh ﷺ mengatakan 

 أنا أعلمكم بالله وأشدكم له 

Sesunggunya aku adalah orang yang paling tahu kepada Allāh & aku orang yang paling takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla 
Beliau adalah orang yang paling tahu, orang yang paling mengenal Allāh & beliau adalah orang yang paling takut kepada Allāh & rasa takut beliau ilmuyg beliau miliki / ma’rifat yang beliau miliki menjadikan beliau semakin rajin & semakin semangat beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 
Disebutkam didalam hadits beliau shalat malam sampai pecah pecah kaki beliau kemudian beliau ditanya perkara ini, kemudian beliau mengatakan :
أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا.
“Bukankah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur”. 
Seseorang semakin mengenal Allāh, semakin mengenal agamagNya harusnya sema
kin takut kepada Allāh & semakin mendekatkan kepada Allāh dengan ibadah. Bukan seperti keyakinan sebagian orang apabila seseorang sudah mencapai derajat tertentu maka dia boleh meninggalkan sebagian syariat atau meninggalkan semua syariat Rasulullãh ﷺ. Sekali lagi ini adalah bentuk kekufuran. 
 
_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 40

Seorang Nabi sekalipun seandainya sekarang masih hidup maka dia wajib untuk Rasulullãh ﷺ. 
Di dalam sebuah hadist suatu saat Umar bin khotob radiallahu anhu membaca sebuah kitab yang beliau dapatkan dari Ahlul kitab & Rasulullãh ﷺ melihat Umar bin khotob radiallahu anhu, maka Rasulullãh ﷺ mencela apa yang dilakukan oleh Umar karena beliau membaca sebuah kitab yang diturunkan kepada Ahlul kitab, kemudian Rasulullãh ﷺ mengatakan :
 وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ ، لَوْ كَانَ مُوْسَى حَيًًّّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّأَنْ يَتَّبِعَنِيْ
Beliau mengatakan 

“Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya seandainya Musa (yaitu Nabi Musa alaihi salam) sekarang ini hidup niscaya dia tidak boleh melakukan kecuali harus mengikuti diriku(beriman dengan diriku)”.
Karena Nabi Musa alaihi salam telah diambil perjanjiannya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, oleh karena itu diakhir zaman ketika Nabi Isa alaihi salam, turun kedunia maka beliau alaihi salam akan turut menjadi salah satu diantara umat Rasulullãh ﷺ, mengikuti syariat Rasulullãh ﷺ, tidak berhukum dengan Injil tapi berhukum dengan Alquran yang diturunkan kepada Rasulullãh ﷺ, shalat bersama kaum muslimin, melakukan umrah, melakukan haji dan akan meninggal dunia dimandikan dikafani & dishalatkan oleh kaum muslimin. 
Beliau turun diakhir zaman sebagai salah satu umat Rasulullãh ﷺ, bukan sebagai Nabi Bani Israel. Para Nabi pun wajib mengikuti Rasulullãh ﷺ apabila mereka menemui Rasulullãh ﷺ. 
Dan risalah beliau kenabian beliau ﷺ wajib ditaati oleh Jin maupun manusia, beriman dengan beliau, beriman dengan Alquran, mengikuti syariat beliau ﷺ sebagaimana kaum muslimin dikalangan manusia. 
Apabila Jin mendengar kedatangan Rasulullãh ﷺ maka diwajibkan mereka untuk mengikuti Rasulullãh ﷺ, tidak ada alasan mereka untuk tidak mengikuti Rasulullãh ﷺ. 
Allāh menceritakan didalam Al-Qur’an, ada sebagian Jin yang datang kepada Rasulullãh ﷺ & mendengar Al-Qur’an dari beliau ﷺ 
وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ

[QS Al-Ahqaf 29]
“dan ketika Kami palingkan kepadamu /Kami datangkan kepadamu serombongan dari Jin 

يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ 

Yang mereka mendengar Al-Qur’an yang engkau baca 

 فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا ۖ 

Ketika mereka datang & hadir mendengar apa yang dilakukan oleh Rasulullãh ﷺ mereka mengatakan 

 أَنْصِتُوا 

Hendaklah kalian diam (saling menasihati diantara mereka) mengatakan hendaklah kalian diam, mereka ingin mendengar apa yang dibaca Rasulullãh ﷺ(ini diucapkan oleh Jin) 

فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ

Ketika Rasulullãh ﷺ selesai membaca (Al-Qur’an tersebut) maka Jin-Jin tersebut pergi kepada kaum mereka dalam keadaan 

مُنْذِرِينَ

Dalam keadaan memberikan peringatan”.

قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

[QS Al-Ahqaf 30]

“mereka berkata wahai kaum kami /wahai Jin /wahai kaum kami, Sesungguhnya kami telah mendengar sebuah kitab yang diturunkan setelah Musa yang membenarkan apa yang sebelumnya 

يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ 

Yg memberikan petunjuk kepada kebenaran 

وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus”.
Para Jin tersebut mengetahui bahwasanya Al-Qur’an apabila dipelajari & diamalkan akan membimbing seseorang kepada jalan yang lurus 
Dan mereka mengatakan 
يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

[QS Al-Ahqaf 31]

“Wahai kaum kami hendaklah kalo menjawab dai dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla (yaitu Rasulullãh ﷺ) 

وَآمِنُوا بِه

Hendaklah kalian beriman niscaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan mengampuni dosa kalian & akan menyelamatkan kalian dari azab yang pedih”.

Menunjukkan kepada kita tentang kewajiban Jin beriman dengan Rasulullãh ﷺ, wajib bagi
 mereka untuk beribadah kepada Allāh dengan syariat Rasulullãh ﷺ. 
Inilah keistimewaan kenabian & juga kerasulan 

 
_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 39

Apabila ada seorang Yahudi atau Nashrani yang mereka mengaku beriman dengan Nabi Musa atau Nabi Isa Alaihi salam, sekarang mendengar kedatangan Rasulullãh ﷺ, maka tidak halal kecuali harus mengikuti Rasulullãh ﷺ. 
Apabila meninggal dalam keadaan seorang Yahudi & Nashrani & tidak beriman dengan kenabian Rasulullãh ﷺ maka dia meninggal dalam keadaan kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 
Rasulullãh ﷺ bersabda :
(( لا يسمع بي أحدمن هذه الأمة يهودي ولانصراني ثم يموت ولم يؤمن بما أرسلت به إلا كان من أصحاب النار))رواه مسلم.
“tidaklah mendengar tentang kedatangan seseorang diantara umat ini, baik seorang Yahudi maupun Nashrani kemudian dia meninggal dunia & tidak beriman apa yang aku bawa kecuali dia adalah termasuk penghuni Neraka”.
Tidaklah mendengar kedatanganku seorang dari umat ini baik Yahudi maupun Nashrani kemudian meninggal dunia & tidak beriman dengan apa yang aku bawa (tidak masuk kedalam agama Islām) kecuali dia akan masuk kedalam Neraka. 
Kabar dari Nabi ﷺ tentang wajibnya orang-orang Yahudi & Nashrani untuk mengikuti Rasulullãh ﷺ. 
Bahkan bukan hanya itu seandainya sekarang ada seorang Nabi yang masih hidup baik Nabi Musa maupun Nabi Isa maka diwajibkan bagi Nabi tersebut untuk mengikuti Rasulullãh ﷺ, tidak boleh dia melaksanakan syariatnya. 
Allāh Subhānahu wa Ta’āla mewajibkan bagi Nabi tersebut untuk mengikuti & beriman bahkan menolong Rasulullãh ﷺ didalam agama & Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah mengambil perjanjian kepada seluruh nabi, seluruh Nabi sebelum Rasulullãh ﷺ telah diambil perjanjian oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla
*

Apabila datang kepada mereka seorang rasul, yaitu Rasulullãh ﷺ yang membenarkan apa yang diturunkan kepada mereka (apabila datang kepada beliau) dan mereka masih hidup diwajibkan mereka untuk mengikuti Rasulullãh ﷺ, beriman dengan beliau & menolong beliau

*
Ini sudah Allāh ambil perjanjiannya sebelum kedatangan Rasulullãh ﷺ. 
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

فَمَنْ تَوَلَّىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

[Surat Al-Imran 81,82 ]
“ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengambil perjanjian dari para Nabi 

لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ 

Aku telah memberikan kepada kalian kitab & juga hikmah, kemudian datang kepada kalian seorang Rasul 

مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ 

Yang membenarkan apa yang kalian bawa 

لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ

Kalian harus beriman dengan rasul tersebut yaitu Rasulullãh ﷺ 

وَلَتَنْصُرُنَّهُ

Dan kalian harus menolong dia”.

Ini janji Allāh ambil dari para Nabi 

قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ 

Kemudian Allāh berkata *

“apakah kalian mengikrarkan perjanjian ini /apakah kalian menyetujui perjanjian ini”.

*

قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ 

Mereka mengatakan *

“kami berikrar ”.

*
Para Nabi semuanya berikrar apabila datang Rasulullãh ﷺ niscaya mereka akan beriman kepada Rasulullãh ﷺ

قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ

Maka hendaklah kalian bersaksi dan saksikanlah kalian karena sesungguhnya Aku bersama kalian termasuk orang-orang yang bersaksi 
فَمَنْ تَوَلَّىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Maka barangsiapa yang berpaling (dari perjanjian ini) maka mereka adalah orang-orang yang fasik 

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 38

Pembatal keIslaman yang ke-9
Beliau mengatakan 
*التَّاسِعُ*: من اعتقد أن بعض الناس لا يجب عليه اتباع النبي ﷺ : وَانه يَسَعُهُ الخُرُوج عن شريعة ﷺ كَمَا وَسِعَ الخَضِرَ الخُرُوجَ عَنْ شَرِيعَةِ مُوسَى عَلَيهِ السَّلَامُ، فَهُوَكَافِرٌ.
Yang artinya :

“Yang kesembilan Barangsiapa yang meyakini bahwasanya sebagian manusia tidak wajib mengikuti Nabi ﷺ & bahwasanya dia boleh keluar dari syariat nya Nabi ﷺ, sebagaimana Nabi Khodir keluar dari syariatnya Nabi Musa alaihi wasallam, Maka orang yang demikian adalah orang yang kafir “. 
Ini adalah pembatal keIslaman yang kesembilan yang disebutkan oleh pengarang rahimahullah didalam kitab beliau Nawāqidhul Islām. 
Beliau mengatakan التَّاسِعُ perkara yang kesembilan dari sepuluh perkara yang membatalkan keIslaman 
من اعتقد أن بعض الناس لا يجب عليه اتباع النبي ﷺ 
Yaitu barangsiapa yang meyakini / mempercayai bahwasanya sebagian manusia tidak wajib untuk mengikuti Nabi ﷺ 
وَانه يَسَعُهُ الخُرُوج عن شريعة ﷺ 
Dan bahwasanya boleh baginya untuk keluar dari syariat Nabi ﷺ
Manusia semuanya semenjak diutusnya Rasulullãh ﷺ  maka wajib bagi mereka semua untuk taat & beriman kepada Rasulullãh ﷺ. Rasulullãh ﷺ diutus untuk oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla sebagai seorang Rasul untuk seluruh manusia baik termasuk orang Arab maupun diluar orang Arab baik seorang Yahudi, seorang Nasrani (seorang yang musyrik) siapa saja yang datang setelah diutusnya Rasulullãh ﷺ maka wajib baginya untuk mengikuti Rasulullãh ﷺ. 
Apabila mereka mendengar tentang kedatangan Rasulullãh ﷺ kemudian meninggal dalam keadaan tidak beriman dengan beliau ﷺ, maka dia meninggal dalam keadaan kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, meskipun dia mengaku sebelumnya beriman dengan Nabi, mengaku sebelumnya beriman dengan Nabi Musa, Nabi Isa alaihi sallam atau dengan Nabi yang lain, apabila sudah datang Rasulullãh ﷺ & mendengar kedatangan beliau maka wajib baginya untuk mengikuti Rasulullãh ﷺ karena Rasulullãh ﷺ diutus untuk seluruh alam semesta, sebagaimana firman Allāh :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

[QS Al-Anbiya’ 107]

“dan tidaklah kami mengutusmu wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam”
Baik orang Arab maupun selain orang Arab, baik kulitnya yang berwarna putih maupun yang hitam. 
Di dalam ayat yang lain Allāh mengatakan:
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
“Katakanlah wahai manusia sesungguhnya aku adalah Rasulullãh – إِلَيْكُمْ جميعًا – 

Aku adalah Rasulullãh untuk kalian – جميعًا – semuanya 
Menunjukkan bahwasanya beliau ﷺ diutus untuk seluruh manusia tidak terkecuali & ini adalah keistimewaan beliau ﷺ adapun para Nabi sebelum beliau ﷺ maka mereka diutus untuk kaumnya & bukan untuk seluruh manusia. 
Sebagaimana dalam hadits 
وكان النبي يبعث إلى قومه خاصة وبعثت انا إلى الناس كافه
Dahulu Nabi diutus kepada kaum nya secara khusus 
Nabi Musa alaihi salam diutus kepada Bani Israel 

Nabi Isa alaihi salam diutus kepada Bani Israel 

Nabi Sholeh alaihi salam diutus kepada Tsamud 

Nabi Hud alaihi salam diutus kepada ‘Ad 

Nabi Syueb alaihi salam diutus kepada Madyan 

Nabi Nuh alaihi salam diutus untuk kaumnya 
Demikianlah para Nabi & Rasul sebelum Rasulullãh ﷺ diutus kepada kaumnya masing-masing dengan bahasa mereka, adapun Rasulullãh ﷺ maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kelebihan kepada beliau, beliau diutus kepada seluruh manusia 
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
Katakanlah wahai manusia sesungguhnya aku diutus untuk kalian semuanya 

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 37

Halaqoh yang Ke-37

Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam Al-Qur’an mengabarkan bahwasanya diantara sifat orang-orang Yahudi, mereka dahulu menolong dan mencintai orang yang kafir (orang-orang musyrikin yang menyembah berhala) padahal orang-orang Yahudi mereka adalah Ahlul kitab yang menisbatkan diri mereka kepada wahyu / kepada kitab Allāh Subhānahu wa Ta’āla, tapi diantara sifat mereka yg Allāh cela adalah mereka mencintai dan menolong orang-orang musyrikin. 

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan 
تَرَىٰ كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ

[QS Al-Ma’idah 80]

“kamu akan melihat sebagian besar atau banyak diantara mereka (orang-orang Yahudi) 

يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا

Mereka mencintai dan menolong orang-orang yang kafir, mencintai orang-orang yang menyembah berhala/orang-orang musyrikin 

لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ

Sungguh jelek perbuatan tangan mereka 

أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ

Allāh Subhānahu wa Ta’āla marah kepada mereka dan di dalam neraka mereka akan kekal”

وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَٰكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

[QS Al-Ma’idah 81]

“Seandainya mereka benar-benar beriman kepada Allāh, beriman kepada Rasul dan apa yang diturunkan kepada Rasul berupa wahyu 

مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ

Tentunya mereka tidak akan menjadikan (orang-orang kafir tersebut) sebagai wali /sebagai penolong /sebagai orang yang dicintai menjadi teman setia 

 وَلَٰكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Tetapi banyak diantara mereka adalah termasuk orang-orang yang fasik”.

Sifat orang Yahudi mereka mencintai dan menolong orang-orang Musyrikin, padahal mereka menisbatkan diri mereka kepada wahyu, kepada kitab dan ini juga termasuk sifat orang-orang munafik. Selain sifat Yahudi, menolong dan mencintai orang-orang musyrikin adalah termasuk sifat orang munafik. 
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا 

الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

[QS An-Nisa’ 138-139]

“kabarkanlah, berilah kabar gembira kepada orang-orang munafik dengan Azab yang pedih (siapa mereka?) 

الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

Mereka adalah orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai Aulia (sebagai teman setia) menolong mereka untuk memerangi kaum muslimin, mencintai agama mereka 

 مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

Menjadikan mereka sebagai teman setia selain orang-orang yang beriman”

Menunjukkan kepada kita bahwasanya sifat ini adalah sifat yang tercela dan ini adalah sifat orang-orang Yahudi demikian pula sifat orang-orang munafik dan seorang muslim loyal nya adalah kepada Allāh, kepada RasulNya, kepada orang-orang yang beriman 
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

[QS Al-Ma’idah 55-56]

“Sesungguhnya wali kalian adalah Allāh dan RasulNya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat, membayar zakat dan mereka dalam keadaan ruku dan barangsiapa yang berloyal kepada Allāh dan RasulNya dan orang-orang yang beriman maka sesungguhnya golongan Allāh (pasukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla) merekalah orang-orang yang menang ”
Inilah sikap seorang mukmin. Loyal nya adalah kepada Allāh dan RasulNya dan juga orang-orang yang beriman 

والدليل قوله تعالى 
Dan dalil bahwasanya orang yang menolong kaum musyrikin didalam memerangi kaum muslimin karena ingin menampakkan agama orang-orang musyrikin, Dalil bahwasanya ini termasuk kufur dan mengeluarkan seseorang dari Islām adalah firman Allāh 
وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْق
َوْمَ الظَّالِمِين 
“Dan Barangsiapa yang menolong mereka diantara kalian maka sesungguhnya dia adalah termasuk mereka 
Firman Allāh 

فَإِنَّهُ مِنْهُم

Maka dia adalah – مِنْهُم – termasuk mereka yaitu termasuk orang-orang kafir. 
Maksud dari pengarang disini menunjukkan bahwasanya yaitu firman Allāh 

فَإِنَّهُ مِنْهُم

Maka dia adalah termasuk mereka 
Menunjukkan bahwasanya orang yang melakukannya adalah termasuk orang yang kafir telah mengeluarkan dia dari keIslaman, yaitu karena dia menolong kaum musyrikin dalam memerangi kaum muslimin dan di dalam hatinya senang dengan agama orang-orang musyrikin dan senang apabila agama orang musyrikin nampak diatas agama kaum muslimin 

 إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِين

“Sesungguhnya Allāh tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dzolim ”
Yaitu orang-orang yang kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla 

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*