Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 36

Seorang Muslim senang apabila agama Allāh ini diatas permukaan bumi, senang apabila seluruh manusia beriman kepada Allāh, gembira ketika manusia taat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sebagaimana dia bergembira apabila dirinya taat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dan dia benci melihat kekufuran & benci terhadap melihat orang melakukan kemaksiatan kepada Allāh, benci karena kekufuran yang dia lakukan 
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ… 

[QS At-Tawbah 33]

“Dia lah Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang mengutus RasulNya dengan petunjuk dan agama yang benar ”
لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّه

Untuk menampakkan agama ini (agama Islām) diatas seluruh agama 
Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan menampakkan agamanya dan seorang muslim senang apabila agama Allāh nampak di atas permukaan bumi. 
Ketika Allāh di Esa kan didalam ibadah nya, senang apabila Allāh di taati, senang apabila agama ini di amalkan didalam kehidupan sehari-hari oleh manusia. 
Demikianlah sikap seorang muslim 

*الثَّامِنُ*: مُظَاهَرَةُ المُشْرِكِينَوَمُعَاوَنَتُهُمْ عَلَى المُسْلِمِينَ 
Termasuk diantara perkara yang membatalkan keIslaman adalah menolong orang² kafir / orang-orang musyrik di dalam memerangi orang Islām. 
Menolong mereka & didalam hatinya dia cinta dalam kekufuran dan senang apabila orang-orang musyrikin tersebut agamanya lebih nampak & lebih menang daripada agama kaum muslimin. Maka ini bisa menyebabkan keluar dari Islām. 
Adapun orang yang membantu orang-orang musyrikin & orang-orang yang kafir dalam memerangi orang muslimin bukan karena cinta dengan agama orang kafir dan bukan karena senang apabila agama orang-orang kafir menang diatas agama kaum muslimin, dia menolong orang-orang musyrikin tersebut (orang-orang kafir tersebut) karena keinginan duniawi ingin jabatannya tetap atau dia tetap harta dunia atau dia ingin kekuasaannya tetap maka dalam keadaan seperti ini dia telah melakukan dosa besar bukan keluar dari Islām tetapi melakukan dosa besar, termasuk kefasikan. Kalau dia meninggal dalam keadaan seperti ini maka dia telah meninggal dunia dalam keadaan membawa dosa besar, keadaan dia di akhirat adalah seperti pelaku dosa besar yang lain dibawah kehendak Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kalau Allāh menghendaki maka Allāh mengampuni dan kalau Allāh menghendaki maka Allāh akan mengazab dia di dalam neraka. 
Di zaman Rasulullãh ﷺ ada beberapa kaum muslimin yang ketika kaum muslimin hijrah ke kota Madinah mereka tidak hijrah padahal saat itu melakukan hijrah hukumnya wajib, meninggalkan daerah yang kufur & daerah yang syirik yang disitu mereka tidak bisa beribadah kepada Allāh dan di ancam ketika beribadah kepada Allāh wajib saat itu mereka untuk melakukan hijrah ke kota Madinah tetapi ada sebagian kaum muslimin karena cinta karena daerahnya dengan kota Mekah yang sudah menjadi tanah kelahiran & disana banyak bisnis, banyak dagang yang dia lakukan disana, cinta dengan keluarganya yang terlalu banyak di kota mekkah sehingga dia tidak melakukan hijrah & ada Diantara mereka yang ketika terjadi peperangan yang besar antara kaum muslimin dengan orang kafir yaitu ketika perang Badr ada Diantara kaum muslimin yang dipaksa oleh orang-orang musyrikin untuk ikut keluar perang melawan Rasulullãh ﷺ & juga para shahabat , padahal dia seorang muslim kemudian dia meninggal dunia dalam keadaan membawa dosa ini memerangi kaum muslimin penolong orang-orang musyrikin tetapi bukan karena cinta agama orang-orang musyrikin sebabnya adalah karena dia cinta dengan dunia maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla menurunkan ayat 

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً
 وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا

فَأُولَٰئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا

[QS An-Nisa’ 97-99]

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh para Malaikat (yaitu oleh para Malaikat maut) 

ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ 

Dalam keadaan mereka mendzolimi dirinya sendiri 

قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ

(kata Malaikat) Malaikat berkata kepada orang-orang seperti ini – فِيمَ كُنتُمْ – didalam apa kalian dahulu? Kalian ini adalah orang-orang muslimin tetapi kenapa kalian berperang bersama orang-orang musyrikin melawan orang-orang muslimin – قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ – kalian dulu ini bagaimana? 

Apakah kalian ini muslim ataukah kalian ini bersama orang-orang kafir, kalau kalian muslim kenapa kalian bersama orang-orang musyrikin memerangi orang² muslimin 

قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ 

Mereka menjawab “kami dahulu adalah orang-orang yang lemah, kami dahulu dipaksa keluar untuk memerangi orang-orang muslimin padahal kami tidak ingin”  mereka beralasan karena mereka dipaksa 

Kemudian malaikat mengatakan 

قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً 

Bukankah bumi Allāh ini adalah bumi yg luas 

فَتُهَاجِرُوا فِيهَا

Sehingga kalian bisa hijrah 

Kalian dahulu punya kemampuan untuk melakukan hijrah meninggalkan kota Mekkah bergabung bersama kaum muslimin mengapa tidak kalian lakukan… Kalian lebih memilih tinggal didaerah kalian, cintai terhadap harta kalian, cinta terhadap keluarga kalian sehingga kalian dipaksa oleh orang-orang musyrikin untuk memerangi orang-orang muslimin. 
فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Maka orang yang demikian balasannya /kembalinya adalah Jahanam 

وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan ini adalah sejelek jelek tempat kembali 
Dan ini menunjukkan bahwasanya adalah dosa besar, setiap dosa didalam Al-Qur’an maupun didalam Hadits yang disitu ada ancaman dengan Jahanam maka itu termasuk dosa besar di akhirat dibawah kehendak Allāh, kalau Allāh menghendaki maka Allāh akan mengampuni kalau Allāh menghendaki maka Allāh memasukkan kedalam Neraka /di azab di dalam Neraka
إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ 
Kecuali orang-orang yang lemah dari kalangan laki-laki & wanita dan juga anak² kecil 

لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا

Yang mereka tidak mampu untuk keluar, tidak memiliki harta, tidak memiliki kekuatan fisik – وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا – & mereka tidak tahu jalan ingin keluar dari kota Mekkah tetapi tidak tahu dimana kota Madinah 

فَأُولَٰئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ ۚ 
Maka orang yang demikian Allāh memaafkan mereka
 وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla Maha memaafkan & Maha mengampuni. 
Termasuk dosa besar menolong orang-orang musyrikin memerangi kaum muslimin dan sebabnya dia karena cinta terhadap dunia bukan karena cinta terhadap agama kaum muslimin tetapi cinta terhadap dunia, *adapun apabila menolong orang-orang musyrikin & cinta dengan agama orang-orang musyrikin & senang apabila mereka agamanya lebih nampak daripada agama kaum muslimin maka inilah yang bisa mengeluarkan seseorang dari Islām*

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Iklan
Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 35

🌿

Pembatal KeIslaman yang ke-8 yaitu tentang menolong orang-orang musyrikin di dalam memerangi orang-orang muslimin. 
Berkata pengarang rahimahullah :
*الثَّامِنُ*: مُظَاهَرَةُ المُشْرِكِينَوَمُعَاوَنَتُهُمْ عَلَى المُسْلِمِينَ وَالدَلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى:﴿وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِين﴾
*Kedelapan* kata beliau : _menolong_ orang-orang musyrik dan _membantu_ mereka didalam memerangi  kaum muslimin. Dalilnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang artinya: 
“Dan barangsiapa siapa yang menolong mereka maka sesungguhnya dia termasuk mereka sesungguhnya Allāh tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dzolim ”
Ini adalah pembatal keIslaman yang ke-8 yang apabila dilakukan oleh seseorang maka dia telah membatalkan Islām nya & apabila dilakukan maka perbuatan ini mengeluarkan dia dari Islām & menjadikan dia termasuk orang-orang yang kafir membatalkan amalannya & apabila dia meninggal dunia dalam keadaan tidak Bertaubat dari perbuatan ini, maka tidak akan diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla & di akhirat termasuk orang-orang yang kafir masuk kedalam Neraka selama-selamanya. 
Menolong orang-orang musyrikin /orang kafir & membantu mereka didalam memerangi orang-orang muslim. Maksudnya apabila terjadi peperangan antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir perang didalam masalah agama, kemudian seseorang memihak kepada orang kafir atau orang musyrik memihak mereka membantu mereka untuk memerangi orang-orang  muslimin. Memihak mereka dengan maksud untuk supaya mereka menang, memihak mereka supaya agama orang-orang kafir menang lebih tinggi dari pada agama kaum muslimin, apabila seseorang keadaannya seperti ini menolong orang kafir memerangi kaum muslimin dengan maksud supaya agama orang kafir menjadi agama yang nampak & lebih menang & lebih nampak dari pada agama orang-orang muslimin dan mencintai agama mereka & juga ajaran mereka maka orang yang demikian adalah mengeluarkan seseorang dari Islām & seorang muslim mencintai Allāh & juga RasulNya & menjadikan cinta nya kepada Allāh & RasulNya lebih dari pada cinta nya kepada orang lain (lebih dari pada cinta nya kepada bapaknya, kepada anaknya kepada saudaranya kepada istrinya kepada keluarganya) mencintai Allāh & RasulNya lebih dari hartanya lebih dari bisnis nya ini adalah sifat seorang muslim & juga mencintai orang yg beriman kepada Allāh & RasulNya, mencintai kaum muslimin mencintai orang-orang yang beriman dan juga mencintai segala ketaatan. 

Mencintai Tauhid mencintai mengikuti Sunnah Rasulullãh ﷺ, mencintai Al-Qur’an, mencintai hadits mencintai para Shahabat radiallahu anhum demikianlah sikap seorang muslim & benci kemaksiatan dengan berbagai jenisnya dari yang paling besar membenci kemusyrikan membenci kenifakan, membenci kekufuran, membenci dosa dosa besar & dosa dosa kecil. 

 ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ

Tiga perkara apabila ada pada diri seseorang maka dia menemukan kelezatan keimanan, manisnya keimanan 
مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا،

Allāh & RasulNya lebih dia cintai daripada selain keduanya 
 وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ،
Dan mencintai orang lain tidak mencintainya kecuali karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 
Karena dia taat kepada Allāh, beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla 
 وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

.(رواه البخاري ومسلم وهذا لفظ مسلم)

Dan dia benci untuk kembali kepada kemaksiatan sebagaimana dia benci apabila dia dilempar kedalam api neraka 
Demikianlah sifat seorang mukmin, mencintai Allāh & RasulNya, mencintai orang yang beriman kepada Allāh dan RasulNya & mencintai ketaatan, *Bukan* mencintai kekufuran &membantu  orang-orang yang musyrik di dalam memerangi orang-orang yang beriman. 

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi aud
io ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 34

ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ 

[Surat Al-Baqarah 102]
Mereka mempelajari sihir yang tidak memudhoroti mereka & tidak memberikan manfaat kepada mereka 
وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ 

Yang memudhoroti mereka di dunia maupun di akhirat 
وَلَا يَنْفَعُهُمْ 

Dan juga tidak memberikan manfaat kepada mereka 
وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ 

Padahal mereka sudah tahu bahwasanya orang yang membeli sihir ini maka dia diakherat tidak memiliki bagian. 
Menunjukkan kepada kita bahwasanya orang yang melakukan sihir nanti diakherat tidak memiliki bagian artinya tidak memiliki kenikmatan. 
Dan menunjukkan bahwasanya orang yang melakukan sihir dia adalah orang yang kufur. Karena orang yang kafir di akhirat tidak memiliki kenikmatan sedikit pun & akan mendapat adzab dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla 
وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan sungguh jelek apa yang mereka beli seandainya mereka mengetahui. 
Ayat ini menunjukkan kepada kita dalam beberapa tempat bahwasanya sihir adalah kekufuran kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang bisa mengeluarkan seseorang dari Islām. 
Oleh karena itu seorang muslim hendaklah menjauhi apa yang dinamakan dengan sihir dan menasihati orang lain, saudaranya yang masih melakukan sihir ini & hendaklah membersihkan masyarakat dari tukang² sihir & hukumannya berat didalam Islām bagi orang yang menjadi tukang sihir. 
Karena didalam hadits yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ 

حَدُّ السَّاحِرِ ضَرْبَةٌ بِالسَّيْفِ 
“Hukuman bagi tukang sihir adalah dipotong dengan pedang”
Kenapa demikian? 

Karena kerusakan yang ditimbulkan, menyakiti manusia memisahkan antara seorang suami dengan istri menghancurkan sebuah keluarga, maka hukumannya didalam Islām adalah di potong dengan pedang artinya dibunuh & hadits ini ada pembicaraan dikalangan para ulama, ada yg mendhoifkan. Namun membunuh tukang sihir dengan pedang ini telah datang dari beberapa shahabat diantaranya dari Umar bin khotob radiallahu anhu di zaman beliau radiallahu anhu, beliau memerintahkan untuk membunuh setiap tukang sihir baik laki-laki maupun wanita & ini disetujui oleh para shahabat radiallahu anhum. 
Demikian pula telah shahih dari Hafshah anaknya Umar bin khotob pernah ada salah seorang budak Hafshah mensihir Hafshoh, kemudian dia mengaku & mengeluarkan sihir nya setelah itu dia dibunuh karena dia telah mensihir Hafshoh radiallahu anha. 
Kemudian datang juga dari Jundub radiallahu anhu & Jundub adalah salah seorang shahabat nabi ﷺ yaitu Jundub Ibn Kaaf ketika suatu saat beliau berada didepan salah seorang Amir /kholifah Bani Umayah yang saat itu ada seorang laki-laki yang dia melakukan sihir Tahyili (sihir yang berupa khayalan) dia seakan-akan dilihat oleh manusia saat itu membunuh seseorang & memotong kepalanya kemudian dia bisa menghidupkan kembali orang tersebut, ini dilakukan didepan Jundub Ibn Kaaf & juga salah seorang kholifah di zaman Bani Umayah. 
Maka Jundub mendekati orang tersebut kemudian membunuhnya & sanad nya shahih, menunjukkan bahwasanya hukuman bagi tukang sihir adalah di bunuh & yg melakukan adalah pemerintah yang melakukan adalah yang berwenang yaitu penguasa pemerintah yang sah, inilah yang berhak untuk menegakkan qishos atau hukuman  bagi orang lain *BUKAN* dilakukan secara individu seorang menemukan tetangganya ada tukang sihir kemudian dia datang & membunuh maka ini tidak diperbolehkan, yang menegakkan qishos & juga hukuman yang berhak adalah yang berwenang yaitu para penguasa / pemerintah yang sah, merekalah yang berhak untuk menentukan & menegakkan hukuman bagi manusia 

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 33

Bukan hanya mengamalkan bahkan mengajarkan kepada orang lain sihir, ini termasuk bentuk kekufuran, karena Allāh mengatakan :
 يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ 

[Surat Al-Baqarah 102]

Dan apa yang telah diturunkan kepada dua orang Malaikat di Babil yaitu Harut & Marut 

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengutus Harut & juga Marut sebagai fitnah /sebagai ujian bagi manusia, menurunkan kepada keduanya sihir. 
 وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ
Dan tidaklah keduanya mengajarkan kepada orang lain sihir tersebut kecuali setelah memberikan nasihat 
Memberikan nasihat, berkata kepada orang yang mau diajari 
فَلَا تَكْفُرْ ۖ 

Janganlah engkau kufur

 Kami ini hanyalah fitnah / kami ini hanyalah ujian, Allāh Subhānahu wa Ta’āla menurunkan kami sebagai ujian bagi kalian, kami mengajarkan sihir tetapi janganlah kalian amalkan 

فَلَا تَكْفُرْ ۖ 

Menunjukkan bahwasanya mengamalkan sihir ini adalah kekufuran 
 فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ 

Maka manusia mempelai dari keduanya (yaitu Harut & Marut) apa yang bisa memisahkan antara seseorang dengan istrinya
Dan ini menunjukkan bahwasanya sihir ini adalah hakiki & dia ada & kita harus meyakini bahwasanya sihir itu ada, Diantara dalilnya adalah Allāh berfirman 
فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ 

Bisa memisahkan antara seseorang dengan istrinya

 karena sebagian ada yang mengingkari adanya sihir /tidak percaya dengan adanya sihir. Sihir adalah hakiki & bisa memudhoroti dengan ijin Allāh Subhānahu wa Ta’āla 
وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ 

Dan mereka tidak bisa memudhoroti seseorang dengan sihir tersebut kecuali dengan ijin dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 

Semuanya dengan ijin dari Allāh & Ijin dari Allāh tidak menunjukkan bahwasanya Allāh ridha dengan perbuatan tersebut, disana ada iradah syar’iyah & iradah Kauniah.

Iradah Kauniah adalah kehendak Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan tetapi tidak berkaitan dengan mahabbah. Dikehendaki oleh Allāh belum tentu di cintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, adanya syaitan, adanya maksiat, adanya  kesyirikan adalah dengan kehendak Allāh tetapi tidak Allāh cintai. 
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

[QS Yasin 82]

Sesunggunya urusan Allāh /perkara Allāh apabila menginginkan sesuatu hanyalah dengan mengatakan “كُنْ” jadilah ” فَيَكُونُ” maka jadilah sesuatu tersebut. 
Dan disini ada Iradah syar’iyah yaitu kehendak Allāh yg berkaitan dengan mahabbah & juga  kecintaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 
Seperti Allāh Subhānahu wa Ta’āla menurunkan syariat memerintahkan manusia beriman maka ini adalah kehendak Allāh & keinginan Allāh yang syar’iyah yang berkaitan dengan kecintaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 32

Diceritakan bahwasanya dahulu ketika Nabi Sulaiman meninggal dunia Syaitan & juga Jin menaruh sihir dibawah singgasana beliau yg isinya ini adalah bacaan². Kemudian mengabarkan kepada manusia bahwasanya dahulu Sulaiman bisa mendudukan kami (Jin dan juga Syaitan) adalah karena membaca sihir ini. Yaitu membaca bacaan ini. Padahal ini adalah kedustaan dari syaitan & juga Jin, Allāh Subhānahu wa Ta’āla Dia-lah yang telah menundukan Jin & juga  syaitan untuk Nabi Sulaiman alaihi wasallam, menundukan mereka sehingga mereka tunduk ketika diperintah oleh Nabi Sulaiman alaihi wasallam 
Diperintahkan untuk membangun maka mereka membangun 
Diperintahkan untuk menyelam kedalam lautan, mengambil apa yang ada didalam laut berupa perhiasan mereka melakukan 
Dan ada diantaranya ini adalah keutamaan yang Allāh berikan kepada Nabi Sulaiman alaihi wasallam 
وَالشَّيَاطِينَ كُلَّ بَنَّاءٍ وَغَوَّاصٍ

وَآخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِي الْأَصْفَادِ

[QS Sad:37&38]

“Dan Syaitan² ada Diantara mereka sebagai orang yang membangun & diantaranya menyelam & ada diantara yg dibelenggu”
Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menundukan Jin dan juga Syaitan untuk nabi Sulaiman alaihi salam. Oleh karena itu mereka tunduk kepada Nabi Sulaiman alaihi salam & Nabi Sulaiman alaihi salam pernah berdoa kepada Allāh 
 وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي ۖ 

[Surat Sad 35]

“Ya Allāh berilah aku kekuasaan yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun setelahku”
Diantaranya adalah menundukan Jin dan juga syaitan tidak diberikan oleh Allāh kepada orang lain setelah Nabi Sulaiman alaihi salam. Ini adalah – فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ – keutamaan yang Allāh berikan kepada siapa yang dikehendaki. 
Ini adalah sebab kenapa Jin dan Syaitan tunduk di zaman Nabi Sulaiman alaihi salam bukan karena Nabi Sulaiman alaihi salam membaca mantra² atau membaca kholasim (bacaan²) kemudian syaitan² tersebut tunduk kepada Nabi Sulaiman alaihi salam *TIDAK*, tapi ini semua adalah mu’jizat Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang telah menundukan mereka untuk Nabi Sulaiman alaihi salam. 
Adapun yg dilakukan oleh tukang-tukang sihir atau yang semisalnya, bagaimana mereka bisa menundukan Jin, mereka menundukan dengan mantra² dengan bacaan² isinya adalah kekufuran kepada Allāh, celaan kepada Allāh, celaan kepada syariat Nya, kesyirikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, pemujaan kepada Jin. Ini adalah isi dari mantra² yang diucapkan oleh tukang sihir. Apabila diucapkan oleh tukang sihir maka Syaitan akan ridha dan senang karena dia sangat senang dengan kekufuran, apabila dia ridha maka dengan senang hati dia & juga pasukannya membantu apa yang diinginkan oleh tukang sihir. 
Diperintahkan untuk mengganggu si fulan, diperintahkan untuk menyantet si Fulan, diperintahkan untuk memelet si Fulan dengan senang hati mereka membantu dengan syarat tukang sihir tersebut kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla 

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ 
Kemudian Allāh mengatakan :
وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ
Dan Sulaiman tidak kufur 
Bagaimana seorang Nabi kufur, para Nabi adalah orang-orang yang Ma’sum dijaga oleh Allāh dari dosa-dosa besar dan juga dari kekufuran 

 وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا

Akan tetapi Syaitan² itulah yang kufur 
 يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ
Dimana mereka mengajarkan kepada manusia sihir 

[QS Al-Baqarah 102]

Syaitan-syaitan itu adalah makhluk yang kufur  diantara sebabnya adalah – يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ – mereka mengajarkan kepada manusia sihir. 

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 31

Sihir jenis banyak, diantaranya kata beliau adalah *Asharf wal ‘athf*

Ashorf – الصرف 

Di dalam bahasa Arab artinya memalingkan, maksud beliau adalah memalingkan dari rasa cinta menjadi rasa benci antara seorang suami dengan istri atau antara seorang kawan dengan kawannya yang sebelumnya ada rasa cinta diantara keduanya kemudian dengan bantuan syaitan dirubah menjadi rasa benci diantara keduanya. *Maka ini dinamakan Ashorf*&ini termasuk sihir & diharamkan didalam agama Islām. 

Demikian pula Al’athf ini adalah kebalikan dari Ashorf yang artinya adalah cinta yaitu menjadi seseorang yang awalnya saling membenci menjadi saling mencintai atau dengan nama yang lain, sebagaimana datang dalam hadits – Attiwalah. 
Sebagaimana beliau ﷺ bersabda :
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
“Sesungguhnya mantra-mantra, jimat-jimat dan juga attiwalah semua ini adalah  syirik.” 

[HR. Ahmad, no. 3615, Abu Daud no. 1776, 3883 dan Ibnu Majah, no. 3530. Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata, “Shahih lighairihi,” dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah, no. 2854]
Yang dimaksud dengan Attiwalah sesuatu yang digunakan untuk menjadikan seseorang mencintai orang lain, atau dalam bahasa kita dinamakan dengan pelet, maka ini termasuk sihir yang diharamkan. 
ومنه الصرف والعطف 

Dan diantaranya adalah Ashorf wal ‘athf 
فمن فعله أورضي به 

Maka barangsiapa yang mengamalkan sihir ini, bekerja sama dengan syaitan dengan Jin untuk mensihir orang lain – أورضي به – atau dia ridha dengan sihir tersebut, dia tidak melakukan dengan tangannya tetapi dia ridha, menyuruh orang lain untuk melakukan & dia ridha dengan sihir tersebut – كفر – maka dia telah kufur /telah keluar dari agama Islām. 
Dan Rasulullãh ﷺ bersabda :
 لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَسَحَّرَ أَوْ تُسِحِّرَ لَهُ ، 
“Bukan termasuk golongan kami orang yang melakukan sihir atau yang di sihir kan ”
Artinya meminta orang lain untuk mensihirkan dia, memohon bantuan kepada dukun atau tukang sihir atau orang yang dianggap pintar untuk mensihir orang lain maka dia adalah orang yang ridha dengan sihir tersebut – كفر – maka orang yang demikian adalah orang yang kufur keluar dari agama Islām. 
Apa dalil beliau rahimahullah? 
والدليل 

Dan dalil yang menunjukkan bahwasanya sihir ini adalah kufur & bisa mengeluarkan seseorang dari Islām 
قوله تعالى : 

Adalah firman Allāh yaitu didalam surat Al-Baqarah 
وما يعلمان من أحد حتى يقول إنما نحن فتنة فلا تكفر 
“Dan tidaklah keduanya (yaitu dua orang Malaikat Harut & juga Marut) mengajarkan kepada orang lain sihir – حتى يقول – sampai ia berkata (sampai kedua malaikat tersebut berkata ) kepada orang yang diajari – إنما نحن فتنة  – Sesungguhnya kami adalah fitnah /kami adalah ujian cobaan bagi kalian (Allāh yang mengutus kami) – فلا تكفر – janganlah engkau kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan melakukan sihir. 
Disini Allāh mengatakan /menceritakan tentang ucapan Harut & juga Marut, ketika Allāh mengutus keduanya dengan sihir dan mengajarkan kepada Manusia maka dua orang Malaikat ini setiap kali mengajarkan Manusia dia mengatakan /mereka berdua mengatakan – فلا تكفر – janganlah engkau kufur, artinya dengan melakukan sihir ini janganlah engkau kufur. 
Menunjukkan kepada kita bahwasanya sihir adalah perbuatan kufur, termasuk perbuatan kufur yang bisa mengeluarkan dari keIslaman. 

Ini maksud pendalilan beliau membawakan ayat ini yang menunjukkan bahwasanya orang yang melakukan sihir adalah orang yang kufur & keluar dari agama Islām. 
Dan ini akan ayat yang panjang yang disebutkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam Alquran yang menceritakan tentang sebagian manusia yaitu orang-orang Yahudi tersebar dikalangan mereka sihir & didalam hadits disebutkan bahwasanya Rasulullãh ﷺ dahulu pernah disihir oleh seorang Yahudi yaitu Labid Ibnul ‘Ashom dan hadits yang shahih, dimana beliau ﷺ disihir & beliau adalah manusia biasa seperti manusia yang lain menimpa kepada beliau apa yang menimpa manusia,
 beliau ditimpa sakit & diantaranya beliau pernah disihir oleh seorang Yahudi yang bernama Labid Ibnul’ Ashom sehingga saat itu tersihir pikiran  beliau & dihayalkan kepada sesuatu padahal beliau tidak melakukannya sampai Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengutus dua orang Malaikat yaitu Malaikat Jibril dan satu orang Malaikat yang lain, kemudian meruqiyah Rasulullãh ﷺ dengan membacakan surat Al-Falaq & terbebaslah Rasulullãh ﷺ & beliau sembuh dengan Ijin Allāh Subhānahu wa Ta’āla setelah di ruqyah dengan surat Al-Falaq kemudian diambilah Buhul² yang digunakan untuk men sihir beliau yg ada di dalam sumur kemudian di hancurkan & ini menunjukkan bahwasanya banyaknya sihir diantara orang-orang Yahudi. 
Allāh berfirman di dalam ayat ini :
وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

[QS Al-Baqarah 102]
Allāh mengatakan 

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ 

Dan mereka itu (orang-orang) Yahudi mengikuti apa yang di baca oleh syaitan kepada tukang² sihir di zaman kerajaan Sulaiman. 
Orang-orang Yahudi menyangka bahwasanya Nabi Sulaiman alaihi salam bisa menundukkan Jin dan juga sayatin dengan sihir padahal tidaklah demikian, setanlah yang telah kufur & dia lah yang telah mengajarkan sihir kepada manusia. 

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 30

Pembatal keIslaman yang ke-7 yaitu sihir. 

Berkata mualif rahimahullah 
*السَّابِعُ*: السِّحْرُ – وَمِنْهُ:الصَّرْفُ وَالعَطْفُ-، فَمَنْ فَعَلَهُ أَوْ رَضِيَ بِهِ كَفَرَ، وَالدَلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ﴾
Beliau mengatakan :

Assaabi’ – *السَّابِعُ*-yang ketujuh yaitu diantara pembatal-pembatal keIslaman 
السِّحْرُ – وَمِنْهُ:الصَّرْفُ وَالعَطْف
*Sihir* diantaranya / contohnya adalah _sharf dan ‘ath,_ dan insyaallah akan kita terangkan maknanya 
فَمَنْ فَعَلَهُ 
“Maka barangsiapa yang mengerjakannya (yaitu mengerjakan sihir)”
أَوْ رَضِيَ بِهِ 

“Atau dia meridhoi sihir”
كَفَرَ، 

“Maka dia telah kufur (keluar dari Islām)”
وَالدَلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى

Dalilnya adalah firman Allāh Ta’āla yang artinya :

“dan tidaklah keduanya (yaitu) kedua malaikat tersebut mengajarkan kepada seseorang (mengerjakan sihir) sampai mereka berkata 
يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ
Sampai mereka berkata “Sesungguhnya kami adalah fitnah, kami adalah ujian maka jangan engkau kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla” 
Ini adalah pembatal keIslaman yang ke-7 yaitu sihir & kalimat Assihr di dalam bahasa Arab artinya adalah segala hal yang samar sebabnya, waktu orang makan sahur namanya adalah sahr, dinamakan dengan sahr karena terjadi di akhir malam & akhir malam adalah samar, kalimat Assihr dalam bahasa Arab adalah ghulma khofiya sababuk : segala sesuatu yang samar sebabnya maka dinamakan dengan sihir. 
Ini adalah sihir secara bahasa. 
Dan sihir yang dilarang ada dua macam, ada diantaranya yang hakiki yaitu sihir dengan bantuan syaitan & jin yang memudhoroti orang lain, membuat sakit orang lain bahkan ada Diantaranya yang meninggal & bisa mempengaruhi pikiran sehingga dia dikhayalkan kepadanya sesuatu padahal dia tidak melakukan & juga mempengaruhi hati menjadikan seorang yang cinta menjadi benci atau sebaliknya menjadikan orang yang benci menjadi mencintai
Ini adalah bentuk sihir yang hakiki. 
Dan disana ada sihir yang takhyili yaitu khayalan dan yang di sihir adalah penglihatan seseorang sehingga dia melihat sesuatu yang tidak sebenarnya seperti yang terjadi di zaman Nabi Musa alaihi salam, ketika Firaun mengumpulkan tukang² sihir yang mahir di Mesir untuk melawan Nabi Musa alaihi salam, maka mereka menggunakan sihir takhyili mensihir mata mata manusia sehingga melihat tali-tali yang mereka lempar seakan-akan itu adalah Ular, sebagaimana Allāh menceritakan didalam Alquran 
قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ نَحْنُ الْمُلْقِينَ

قَالَ أَلْقُوا ۖ فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ

[QS Al-A’raf 115,116]

“mereka berkata kepada Nabi Musa alaihi salam “wahai Musa silahkan engkau yang melempar tongkatmu terlebih dahulu atau kami yang melempar” 
Maka Beliau mengatakan – أَلْقُوا – silahkan kalian melempar tali-tali kalian 
فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ

“Ketika mereka melempar tali-tali tersebut – سَحَرُوا – mereka men sihir – أَعْيُنَ النَّاسِ – mata² manusia”
 وَاسْتَرْهَبُوهُمْ

“Dan mereka menjadikan Manusia takut ”
Ketika mereka melihat dengan mata mereka bahwasanya tali-tali tersebut seakan-akan berubah menjadi ular 
 وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ

” mereka datang dengan sihir yang besar”
Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla mewahyukan kepada Musa alaihi salam 
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ

[QS Al-A’raf 117]

“maka Kami wahyu kan kepada Musa supaya dia melempar tongkatnya ”
فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ

” maka tiba-tiba tongkat (yang di lempar oleh Nabi Musa alaihi salam) berubah menjadi ular yg hakiki”
Dengan ijin Allāh Subhānahu wa Ta’āla 
فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ

Maka ular tersebut (yaitu ular yg mubin/yang nyata /yang besar) memakan tali-tali yang di lempar oleh tukang² sihir tersebut 

Dan ini adalah mu’jizat dari Allāh S
ubhānahu wa Ta’āla bukan hanya mensihir mata manusia sehingga melihat sesuatu yang bukan hakikat nya akan tetapi benar-benar Allāh merubah dari tongkat menjadi seekor ular yg nyata yg bergerak & hidup bukan hanya itu bahkan dia memakan tali-tali yang di lempar oleh tukang² sihir. 
فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ

فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ

[QS Al-A’raf 118, 119]

Maka telah nyata kebenaran dan batal lah apa yang mereka amalkan (diamalkan oleh tukang² sihir) 
فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ

“maka mereka kalah dan mereka kembali dalam keadaan hina ”
وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ

[QS  Al-A’raf 120]

” maka tukang² sihir tersebut mereka sujud & beriman”
Bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla setelah melihat apa yang ada didepan mereka dimana tongkat (yg di lempar Nabi Musa alaihi salam) berubah benar-benar menjadi seekor ular. Dan ini bukan sihir, sihir yang mereka lakukan tidak sampai demikian cuma menipu manusia, men sihir mata mereka sehingga mereka melihat tali seakan-akan itu adalah ular. Apabila sudah hilang sihirnya maka mereka akan melihat pada kenyataannya, tapi ini mereka melihat sebuah tongkat benar-benar menjadi seekor ular, akhirnya mereka percaya bahwasanya ini adalah seorang Rasulullãh & Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang telah mengutus beliau & bahwasanya apa yang terjadi ini adalah diantara ayat-ayat Allāh Subhānahu wa Ta’āla 
وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ

[QS Al-A’raf 120]

“maka mereka (yaitu tukang² sihir tersebut) mereka bersujud kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla ”
قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

رَبِّ مُوسَىٰ وَهَارُونَ
[QS  Al-A’raf 121, 122]

“mereka berkata kami beriman kepada Rabbul’alamin, Rabb nya Nabi Musa & Harun” 
Inilah akhir dari tukang² sihir yang mereka mendapatkan petunjuk dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla & beriman kepada Nabi Musa alaihi salam. 
Dan ini dinamakan Assihr attakhyili yaitu sihir yang berupa khayalan. 
Dan keduanya diharamkan didalam agama islam, baik sihir yang pertama (yang hakiki) yang bisa memudhoroti, yang bisa menyakiti, bahkan bisa membuat mati seseorang, menjadikan orang yang benci menjadi mencintai, ataupun  mencintai menjadikan membenci ataupun sihir yang kedua yaitu yang berupa khayalan, keduanya diharamkan didalam agama Islām 

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*