HSI MAHAZI – 07 PEMBAGIAN AMALAN-AMALAN HAJI

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillah Wa shollatu wa sallamu alaa Rasulillah, wa alaa alihi wa ashabihi ajma’in
Setelah mengumpulkan dalil, para ulama menyimpulkan bahwa amalan-amalan haji yang cukup banyak, dilihat dari tingkat pentingnya dibagi menjadi 3 : 1.    Rukun2 haji 2.    Kewajiban2 haji 3.    Mustahabbah / sunnah2 haji
Rukun2 haji = amalan yang wajib dilakukan dan tidak bisa diganti dengan  sesuatu apapun sebanyak apapun (uang, hewan). Bila tidak dilakukan tidak sah hajinya 1.    Niat 2.    Wukuf di Arofah 3.    Thowah ifadhoh 4.    Sa’i haji
kewajiban-kewajiban Haji adalah amalan yang wajib dilakukan, jika tidak dilakukan sengaja/tidak maka ditebus dengan dam (dam secara bahasa = darah) , dengan cara menyembelih seekor kambing yang memenuhi syarat dan dagingnya dibagi2 ke orang2 fakir yang tinggal di tanah Mekkah.
Rasulullah bersabda : Dan barangsiapa yang lupa sesuatu dari kewajibannya atau meninggalkannya maka hendaknya ia menumpahkan darah. Shahih HR Imam Malik dalam Kitab al-Muwatho
Jumlah kewajiban : 1.    ihrom dari miqot 2.    mencukur habis atau memendekkan rambut 3.    wukuf di arafah sampai tinggal matahari bagi siapa yang wukuf dari siang hari 4.    bermalam di Musdalifah 5.    melempar jumroh al aqobah pada hari An-Nahr yaitu 10 Dzulhijjah baik dilakukan sebelum zawwal atau tergelincirnya matahari ataupun sesudahnya, serta melempar 3 jumrah : shugro, wustho dan kubro/aqobah pada hari2 tasyrik setelah tergelincirnya matahari 6.    bermalam di Mina pada malam2 hari tasyrik, 3 malam bagi orang yang mutaakhirin dan 2 malam bagi orang2 yang mutaajillin 7.    thowaf wada
Mustahabbah / sunnah haji adalah amalan2 yang dianjurkan untuk dilakukan spy mendapat pahala yang besar. Meninggalkannya tidak berdosa Diantaranya ·      mencium hajar aswad ·      mengusap rukun yamani ·      tinggal di Mina pada hari tarwiyah dan malam tanggal Arofah, dll

Iklan

HSI MAHAZI – 06 BADAL HAJI ATAU MEWAKILI ORANG LAIN DALAM IBADAH HAJI

Disyariatkan untuk mewakili orang lain dalam ibadah haji, baik itu keluarga mapun bukan. 1 orang hanya boleh mewakili 1 orang Orang yang mewakili disyaratkan harus sudah pernah berhaji sebelumnya
Dari Abdullah Ibnu Abbas rhadiyallahu anhuma, Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mendengar seorang laki2 berkata “labbaika an shubrumah (aku memenuhi panggilanMu ya Allah, untuk shubrummah) , maka Nabi bertanya : siapa subrummah ? saudara laki2ku. Nabi bertanya apakah kamu sudah berhaji untuk dirimu sendiri ? Laki2 itu menjawab belum. Maka Nabi berkata “ Hajilah untuk dirimu sendiri dahulu, kemudian berhajilah untuk shubrumah” shahih HR Abu Dawud dan Ibnu Majjah
Orang yang diwakili hendaknya yang mengetahui amanatnya dan tatacara ibadah haji sesuai sunnah Rasul dan bukan karena harta. Lebih baik keluarga sendiri krn biasanya lebih ikhlas dan lebih sungguh2 didalam mewakili keluarganya untuk berhaji
Orang yang bisa diwakili dalam ibadah Haji ada 3 golongan : 

  1. Yg sudah meninggal. Dalil dari Ibnu Abbas rhadiyallahu anhuma, seorang wanita dari kabilah Juhainnah datang kepada Nabi dan berkata : sesungguhnya ibuku bernadzar untuk berhaji tapi beliau belum berhaji sehingga meninggal dunia. Bolekah aku menghajikan beliau ? Nabi bersabda : Ya, berhajilah untuknya. Apa pendapatmu seandainya Ibumu memilihi kutang, apakah engkau akan membayarkannya ? Tunaikanlah hutang kepada Allah karena Allah lebih berhak kamu tunaikan hutang kepadanya. HR al Bukhori.
  2. Yg sudah tua renta tidak mampu melakukan perjalanan. Hadits Abu Rozin rhadiyallahu anhu (halaqoh 4)
  3. Orang yg sakit dan tidak diharapkan kesembuhannya menurut dokter yang terpercaya, hal ini dikiaskan pada orang tua yang tidak bisa melakukan bepergian.  

aa. Seorang laki-laki boleh mewakili laki-laki (HR Abu Rozin) bb. Seorang wanita boleh mewakili wanita lain sebagaimana kisah wanita dari kabilah Juhainah (HR Ibnu Abbas) cc. Seorang wanita boleh menghajikan laki2 sebagaimana Kisah wanita dari kabilah Qhot’am berkata kepada Rasulullah : Wahai Rasulullah sesungguhnya kewajiban Haji dari Allah atas hamba-hambaNya telah datang sedangkan bapakku dalam keadaan sudah tua renta, tidak bisa tegak diatas kendaraan, bolehkah aku menghajikan untuk beliau ? Rasulullah menjawab : Iya. Kejadian ini terjadi pada saat haji Wada. (Hadits al Bukhari dan Muslim). d.  Seorang laki2 boleh mewakili wanita sebagaimana hadits Ibnu Abbas rhadiyallahu anhuma. Sesungguhnya saudariku bernadzar untuk berhaji dan ia sudah meninggal. Rasul berkata kalau ia punya hutang…dst
Pahala dari haji tersebut adalah untuk yang dihajikan; sedangkan yang mewakili pahala berbuat baik kepada orang lain dan dia bisa mendapat manfaat2 misalnya saat berdoa di Arafah, ketika diatas Safa dan Marwa saat sa’i dll

HSI MAHAZI – 05 MAHROM WANITA KETIKA HAJI

Sebagian ulama mengatakn : termasuk kemampuan bagi seorang wanita muslimah adalah apabila dia mempunyai mahrom. Artinya bila ia punya mahrom maka ia dianggap mampu dan jika tidak punya mahrom dianggap tidak mampu. Bila tidak punya mahrom maka ia tidak diwajibkan melakukan ibadah haji, dan tidak berdosa jika tidak melakukan ibadah haji.
Jika ia berhaji tanpa mahrom dan memenuhi rukun-rukun haji maka HAJINYA SAH namun ia BERDOSA karena menyelisihi syariat. Diantara yang berpendapat demikian adalah al-Imam Ibnu Hanifah dan Imam Ibnu Hambal. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasssalam bersabda : Seorang wanita tidak boleh safar kecuali ada mahromnya dan tidak boleh seorang laki-laki masuk ketempat wanita kecuali wanita tersebut bersama mahrom. Bertanya seorang laki-laki “ Wahai Rasulullah sesungguhnya aku ingin keluar bersama pasukan ini dan itu sedangkan istriku ingin melakukan haji”Maka Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasssalam bersabda : Keluarlah bersama istrimu” HR Muslim
Didalam hadits ini Rasulullah menyuruh suami tersebut untuk meninggalkan jihad dan menemani istrinya berhaji. Ini menunjukkan bahwa wanita diharuskan bepergian bersama mahrom, baik bepergian untuk urusan dunia maupun urusan ibadah. Pendapat inilah yang dikuatkan oleh sebagian besar guru kami dan ulama di Saudi Arabia, Allahu Ta’ala a’lam.
Adapun Imam Malik dan Imam Syafii beliau berdua tidak memiliki mahrom. Mereka mensyaratkan adanya rombongan yang terpercaya sehingga wanita tersebut aman.
Yang dimaksud mahrom adalah suami dan semua laki-laki yang diharamkan untuk menikah dengan wanita itu selama-lamanya. Mahrom karena nasab : bapak, anak laki2, saudara laki2, paman dari pihak Bapak, paman dari pihak Ibu Mahrom karena sebab yang boleh seperti sebab penyusuan, contoh suami dari Ibu yang menyusui pada seorang wanita Mahrom karena sebab perkawinan = bapak mertua, menantu laki-laki, dll. Adapaun saudara sepupu dan ipar bukanlah mahrom

Dalam Islam mahrom sudah ada dalam syariat, dan tidak ada dalam Islam istilah mahrom titipan

HSI MAHAZI – 04 SYARAT-SYARAT WAJIB HAJI

Syarat-syarat wajib haji adalah perkara-perkara yang apabila terpenuhi pada diri seseorang maka ia diwajibkan untuk melakukan ibadah haji. Jumlahnya ada 5 :
1.    Islam. Orang yang kafir tidak diperintahkan berhaji hingga ia masuk Islam. Seandainya ia berhaji sebelum masuk Islam maka hajinya tidak diterima. Allah berfirman : “Dan kami akan mendatangi apa yang mereka amalkan berupa amalan, kemudian Kami jadikan amalan tersebut debu yang berterbangan” Qs Al Furqon 23
2.    Berakal. Orang yang gila tidak diwajibakan untuk berhaji. Seandainya ia berhaji dalam keadaaan tidak berakal maka hajinya tidak sah. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : “Diangkat pena dari 3 orang : dari orang yang tidur sampai ia bangun, dari anak kecil sampai ia dewasa, dari orang gila sampai ia berakal” shahih, HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Ali ibni Abi Thalib rhadiyallahu anhu.
3.    Baligh / dewasa. Seorang yang belum baligh maka tidak diwajibkan melakukan haji. Seandainya ia berhaji ketika masih kecil maka hajinya sah, dan orang yang menghajikan (orang tua misalnya) mendapatkan pahala, tapi haji ini belum menggugurkan kewajiban Haji. Apabila ia dewasa dan memenuhi syarat Haji yang lain maka ia diwajibkan memenuhi kewajiban Haji. Pada hadits Ibnu Abbas rhadiyallahu ahuma disebutkan bahwa seorang wanita mengangkat anaknya dan bertanya pada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ‘Wahai Rasulullah, apakah anak ini boleh berhaji ?’ Rasulullah menjawab “Iya boleh, dan kamu mendapatkan pahala” HR Muslim. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : “Anak kecil mana saja yang dihajikan keluarganya dalam keadaan masih anak kecil kemudian dewasa maka wajib baginya melakukan haji orang dewasa” HR Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas rhadiyallahu anhuma.

4.    Merdeka. Seorang budak / hamba sahaya tidak wajib melakukan ibadah Haji. Seandainya ia berhaji ketika masih sebagai budak maka hajinya sah tetapi belum menggugurkan kewajiban. Apabila kelak merdeka dan memenuhi syarat haji yang lain maka ia diwajibkan memenuhi kewajiban haji. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Hamba sahaya mana saja yang dihajikan oleh keluarganya kemudian dimerdekakan, maka wajib baginya berhaji” HR Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih.
5.    Memiliki kemampuan badan dan harta sekaligus. Orang yang mampu fisiknya dan tidak mampu hartanya maka tidak diwajibkan berhaji, demikian pula sebaliknya, orang yang mampu hartanya tapi tidak mampu fisiknya maka tidak diwajibkan untuk berhaji sampai mampu keduanya. Allah berfirman : “Dan kewajiban manusia kepada Allah untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah yaitu bagi orang-orang yang mampu kesana” Qs Al Imron 97. Apabila seseorang mampu hartanya tapi tidak mampu fisiknya secara terus menerus misal karena sudah tua renta atau sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya menurut dokter yang terpercaya maka dia mewakilkan hajinya kepada orang lain.
Dari Abu Rozin rhadiyallahu anhu beliau datang kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata ‘Ya Rasulullah sesungguhnya Bapakku sudah tua, tidak bisa haji, tidak bisa umroh, tidak bisa bepergian’ maka Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : “Berhajilah untuk bapakmu dan umrohlah untuk bapakmu” shahih, HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah

Apabila kelima syarat ini terpenuhi pada diri seseorang maka dia diwajibkan untuk melakukan ibadah haji dan bersegera untuk melakukannya, namun apabila salah satu atau lebih dari syarat-syarat wajib haji diatas tidak ada pada diri seseorang maka dia tidak diwajibkan untuk melakukan ibadah haji.

HSI MAHAZI – 03 PENGERTIAN, CIRI, KEUTAMAAN HAJI MABRUR DAN CARA MENDAPATKANNYA

Tidak semua orang yang melakukan ibadah haji mendapatkan haji yang mabrur. 
Haji yang mabrur adalah haji yang seseorang mendapatkan pahala yang besar didalamnya.
Dan ciri haji yang mabrur = haji tersebut membawa perubahan pada dirinya kepada yang lebih baik.
Diantara keutamaan haji yang mabrur :

1.    Balasan surga bagi orang yang mendapatkannya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : “Dan haji yang mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali surga HR al-Bukhari dan Muslim

2.    Diampuni dosa-dosanya.
Didalam sebuah hadits, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam mengatakan “Barangsiapa yang berhaji karena Allah kemudian ia tidak melakukan rofats dan tidak melakukan kefasikan maka ia akan kembali seperti ketika dilahirkan oleh ibunya.” HR al-Bukhari dan Muslim

3.    Haji yang mabrur termasuk amalan yang paling afdhol. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah ditanya tentang amalan apa yang paling afdhol, beliau berkata : –       beriman pada Allah dan RasulNya –       jihad di jalan Allah –       haji yang mabrur HR Bukhari dan Muslim



CARA MENDAPATKAN HAJI YANG MABRUR DIANTARANYA  :
1. Ikhlas, yaitu mengharap pahala dari Allah Azza wa Jalla. Allah berfirman “Dan hendaklah kalian menyempurnakan haji dan umroh karena Allah” Qs Al Baqarah 196. Dalam Hadits Qudsi Allah Sunbhanahu wa Ta’ala berkata : “Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh dengan sekutu. Barangsiapa yang melakukan sebuah amalan dia menyekutukan Aku didalam amalan tersebut maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya” HR Muslim. Maksud Allah meninggalkan dia dan sekutunya adalah Allah tidak memberikan pahala kepadanya. Oleh karena itu seorang calon jamaah haji hendaknya memohon kepada Allah supaya dimudahkan untuk ikhlas dalam beramal, menjauhi riya (ingin dipuji) dan sum’ah (ingin didengar) atau ingin lebih dihormati oleh masyarakatnya atau ingin dipanggil pak haji dan bu haji, karena ini semua bisa menjadi sebab ketidak mabruran haji seseorang
2.    Mengikuti sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam didalam ibadah hajinya.  Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam  bersabda “Hendaklah kalian mengambil dariku manasik kalian, karena sesungguhnya aku tidak tahu mungkin aku tidak haji lagi setelah hajiku ini” HR Muslim.
Oleh karena itu calon jemaah haji hendaknya bersungguh-sungguh dalam mempelajari tatacara haji Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam yang berdasarkan dalil yang shohih dan pemahaman yang benar dan mengamalkannya supaya mendapatkan haji yang mabrur.

3.    Tidak melakukan kemaksiatan dan pelanggaran. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Barangsiapa yang berhaji karena Allah kemudian dia tidak melakukan rofats dan tidak melakukan kefasikan, maka ia akan kembali seperti ketika dilahirkan oleh ibunya” HR Bukhari dan Muslim. Yang dimaksud denga rofats disini adalah jima’ (mendatangi istri) atau pembukaan dari jima’ ketika dalam ihrom. Dan yang dimaksud kefasikan adalah kemaksiatan. Oleh karena itu hendaknya jemaah haji menjaga hati, lisan. Takut kepada Allah dimanapun dia berada, dan apabila dia melakukan kemaksiatan maka hendaknya bersegera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang nasuha dan menjaga larangan-larangan ketika berhaji.
4.    Berakhlak yang baik kepada orang lain diantaranya memberi makan kepada orang lain, menyebarkan salam, memperbaiki tutur katanya, dan lain lain. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda ketika ditanya oleh para Sahabat tentang haji yang mabrur “memberi makan, dan menyebarkan salam”. Didalam riwayat yang lain beliau mengatakan : “memberi makan dan ucapan yang baik” HR Ahmad dalam musnadnya dan Al Hakim dalam Al Mustadrok dan dishahihkan oleh Syaikh Albani rahimahullah.

5.    Menggunakan harta yang halal. Wajib bagi seorang muslim menggunakan harta yang halal supaya menjadi haji yang mabrur. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : “Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik” HR Muslim.

6.    Memperbanyak mengingat Allah dalam rangkaian ibadah hajinya. Hendaknya seorang jemaah haji memperbanyak mengingat Allah dengan hatinya, lisannya, mengingat keagunganNya, keEsaanNya, dan tidak menyia-nyiakan masa ibadah haji yang sebentar ini dengan pekerjaan yang sia-sia dan tidak bermanfaat.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan Bapak dan Ibu untuk mendapat haji yang mabrur.

HSI MAHAZI – 02 KEWAJIBAN HAJI DAN KAPAN DIWAJIBKAN

Haji diwajibkan sekali seumur hidup atas setiap muslim yang memenuhi syarat wajib haji.
Allah berfirman : 

”Dan kewajiban manusia kepada Allah untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Yaitu bagi orang-orang yang mampu kesana. Dan barangsiapa yang mengingkari kewajiban haji maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari seluruh alam” (Qs Al Imran 97)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda ketika ditanya malaikat Jibril tentang Islam : “Engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di Bulan Romadhon, dan engkau berhaji ke Baitullah apabila engkau mampu kesana” HR Muslim dari Umar Ibn Khoththob rhadiyallahu anhu
Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah berkhutbah dan berkata : “Wahai manusia, telah diwajibkan atas kalian maka berhajilah. Maka berkata seorang laki-laki ‘Apakah setiap tahun ya Rasulullah ?’ beliau diam sampai ditanya 3 kali lalu kemudian beliau berkata ‘kalau aku berkata iya maka niscaya haji akan menjadi wajib setiap tahun, dan kalau demikian maka kalian tidak akan mampu melakukannya’.” HR Muslim
Dan kaum muslimin telah bersepakat atas wajibnya Haji bagi yang mampu sebagaimana dinukil ijma ini dari Imam An-Nawawi rahimahullah.
Dan pendapat mayoritas ulama bahwa kewajiban Haji harus segera ditunaikan dan tidak boleh ditunda-tunda sebagaimana sebuah hadits : Rasulullah bersabda “Hendaklah kalian bersegera melakukan Haji karena salah seorang diantara kalian tidak tau apa yang menimpanya” HR Imam Ahmad Ibnu Hambal dalam musnadnya, hadits hasan.
Sebagian kaum ulama berpendapat bahwa haji diwajibkan atas kaum muslimin ditahun ke-9 Hijriyah. Diantara alasannya krn ayat tentang kewajiban haji ada pada surat Al Imron dan awal surat Al Imron diturunkan pada tahun datangnya para utusan kabilah-kabilah pada Rasulullah pada tahun ke-9 H.
Inilah yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Muhammad Amin al Syinthiqi rahimahullah dan Asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah, dan beliau Shalallahu Alaihi Wassalam baru menunaikan ibadah Haji pada tahun ke-10 H, diantara sebabnya karena kesibukan beliau menyambut para utusan dan menyampaikan risalah Allah kepada mereka.

HSI MAHAZI – 01 PENGERTIAN, KEUTAMAAN DAN BEBERAPA HIKMAH HAJI

Al Hajju = Al Qoslu (maksud)
HAJI secara istilah = bermaksud ke Baitullah dengan melakukan amalan-amalan khusus (niat, thawaf, sa’i, wukuf, dll) di waktu-waktu yang khusus (di bulan-bulan Haji : syawal, dzulqo’dah dan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah)

Haji adalah salah satu rukun Islam
HR Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda :  “Islam dibangun diatas 5 perkara. Syahadat bahwasanya tidak ada sesembahan yang  berhak disembah kecuali Allah, bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa bulan Ramadhan dan Haji. Haji yang mabrur adalah termasuk sebaik-baik amalan
HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairoh : Rasulullah ditanya tentang amalan yg paling afdhol =

  • beriman pada Allah dan RasulNya
  • berjihad di jalan Allah
  • Haji yang mabrur

Hikmah-hikmah yang banyak dari haji :

  1. Haji adalah musim untuk mendapatkan pahala yang besar dan ampunan dosa.
  2. Perwujudan Ukhuwah Islamiyah dan usaha untuk mengenal satu sama lain, kaum muslimin yang bermacam-macam asal, warna kulit, suku datang untuk menyembah Tuhan yang satu. 
  3. Madrasah iman dan beramal shaleh; karena seorang jamaah Haji dalam musim Haji akan selalu melakukan amalan sholeh : bersabar, mengingat hari akhir ketika manusia dikumpulkan, dan mengingat bahwa dunia hanya sementara. 
  4. Musim untuk mendapat rejeki dunia bagi banyak orang. 
  5. Kesempatan menimba ilmu dan mengajarkan ilmu dan berbuat baik pada sesama. 
  6. Dan hikmah-hikmah serta manfaat-manfaat yang lainnya

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : 

Hendaklah engkau seru manusia untuk melakukan haji maka mereka akan berdatangan dengan berjalan kaki dan naik onta dari tempat yang jauh supaya mereka merasakan manfaat-manfaat bagi mereka”

(Qs Al Hajj 27-28)