HSI Pembatal Keislaman 09

══════❁﷽❁══════
“`Penjelasan Kitāb Nawāqidhul Islām IX“`

_Didalam Al-Quran Allah Subhanahu wa Ta’ala,_ ketika menyebutkan *perkara² yg diharamkan* _pertama kali yang Allāh sebutkan adalah masalah_ *Syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ala*
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ 

[QS Al-An’am 151]
_”Katakanlah wahai Muhammad -wahai orang-orang musyrikin kemarilah kalian aku bacakan kepada kalian perkara yang diharamkan  Rabb kalian yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala._
_Karena orang-orang musyrikin mereka sangat berdusta atas nama Allah subhanahu wa Ta’ala . Mengharamkan sesuatu yang dihalalkan._
*Maka* Allah berkata kepada Nabi-Nya

_”Katakanlah wahai Muhammad” -wahai orang-orang musyrikin kemarilah kalian aku bacakan kepada kalian perkara2 yang diharamkan  Rabb kalian yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala”_
أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

_*Supaya kalian tidak menyekutukan Allah sedikitpun.*_
Disebutkan disini yang pertama kali yaitu *masalah Syirik*
Dan Allah Subhānahu wa Ta’ala ketika menyebutkan tentang _hak-hak yang 10 didalam surat An-Nisa,_ *Hak yang pertam* yang Allah sebutkan adalah *hak untuk Allah Subhānahu wa Ta’ala, sebelum hak yang lain*
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ…

[QS An-Nisa 36]
Disebutkan didalam ayat ini *10 hak,* “`hak untuk Allah , hak untuk keluarga, hak untuk orang miskin, anak yatim, seorang yg musafir, seorang tetangga. Yang pertama kali adalah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.“`
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
*”Hendaklah kalian menyembah kepada Allah”*
 وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
*”Dan janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun”.*
_Sehingga tidak heran disini, mualif/pengarang menjadikan yang nomor satu adalah_
*الشرك في عبادة الله تعالى*
_Pembatal keIslaman yang pertama adalah *syirik didalam beribadah kepada Allah.*_
“`Kenapa bisa menjadi pembatal?“`
*Karena* Orang yang mengucapkan:
الشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ 
*”Asyhadu an Lā ilāha illallāh”*
_Maknanya dia telah bersaksi dan berikrar dan bersumpah dan mengatakan kepada orang lain bahwasanya *”Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”*_
 لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ 
 لَا إِلَهَ

Berarti dia telah *menafikan/mengingkari* _ada sesembahan yang berhak disembah kecuali_ *Allah*
Ketika dia mengucapkan

إِلَّا اللَّهُ
*Kecuali Allah* _berarti dia telah menetapkan bahwasanya Allah sebagai satu-satunya sesembahan._
“`Orang yang mengatakan“`
الشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ 
_”Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah dan berhak diibadahi kecuali Allah”_
*Berarti* konsekwensinya *tidak boleh* dia serahkan sebagian ibadah sekecil apapun kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
_Siapapun dia_ kalau itu selain Allah berarti tidak halal kita serahkan *ibadah* kepadanya. 
_Selain Allah mencangkup diantaranya :_

“`Jin / pohon / batu atau bahkan nabi sekalipun, dia adalah selain Allah, demikian pula Malaikat dia adalah  selain Allah , selain Allah adalah makhluk dan Al-Kholik hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.“`
_Seorang yang mengatakan_
الشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ 
“`Janji dari dia, ikrar dari dia bahwasanya ibadah sekecil apapun tidak akan dia serahkan kepada selain Allah.“`
_Pantang seorang Muslim yang sudah mengatakan_
ْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ 
Menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. 
_Jika seseorang menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allah,_ baik dengan ucapan lisan atau dengan perbuatan atau dengan hatinya , karena ini yang namanya ibadah maka akan kita sebutkan kadang  berupa lisan kadang berupa hati kadang berupa perbuatan.
Apabila ibadah tersebut diserahkan kepada selai
n Allah berarti dia telah *membatalkan ucapannya*
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ 
الشرك في عبادة الله تعالى
Menyekutukan didalam beribadah kepada Allah.
Yang dimaksud dengan Iibadah disebutkan oleh para ulama adalah 
 اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه، من الأقوال والأعمال الباطنة والظاهرة،
Apa yang dimaksud *ibadah* : _yang tidak boleh kita serahkan kepada selain Allah,_ para ulama telah menerangkan yang dimaksud dengan ibadah adalah:
*_Seluruh perkara yang dicintai dan yang diridhoi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan yang dhohir maupun yang batin._* Hendaklah seorang muslim memahami perkara ini jangan sampai dia tidak mengetahui apa makna ibadah apa perkara yang harus diserahkan kepada Allah yang berupa ibadah dan apa yang *tidak boleh* diserahkan kepada selain Allah. Orang yang tidak mengetahui makna ibadah _dikhawatirkan dia akan menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allah,_ segala sesuatu yang dicintai yang diridhoi oleh Allah _*itulah yang dinamakan ibadah.*_
Dari mana kita tahu bahwa itu sesuatu ucapan atau perbuatan dicintai dan diridhoi oleh Allah, tidak ada jalan lain kecuali dari kabar yang Allah kabarkan didalam *Al-quran atau melewati lisan Rasulullãh ﷺ, , sebagai utusan.* Itulah sumber dimana kita bisa mengetahui sesuatu itu ibadah atau tidak, sesuatu itu dicintai oleh Allah. 
Kita akan mengetahui disana ibadah berupa ucapan maupun perbuatan yang dicintai dan diridhai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ala. 
Terkadang Allāh Subhānahu wa Ta’ala menyebutkan didalam Al-Quran, Allāh mencintai golongan fulan 
والله يحب الصابرين 
*”Allāh mencintai orang-orang yang bersabar”*
Allāh mengabarkan bahwasanya disini Allāh mencintai orang-orang yang bersabar. Menunjukkan bahwasanya *sabar adalah ibadah,* _kenapa demikian?_
*Karena* Allāh mengabarkan Allāh mencintai orang-orang yang bersabar. 
إن الله يحب المحسنين 
*”sesungguhnya Allāh mencintai orang-orang yang berbuat baik”*
Menunjukkan bahwasanya ikhsan / berbuat baik kepada orang lain adalah ibadah, karena dia dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ala. 
Dan Allāh mengabarkan bahwasanya Allāh mencintai orang-orang yang bertaubat kepada-Nya, menunjukkan bahwasanya *Taubat adalah termasuk ibadah.*
_Dan terkadang Allah mencintai sebuah amalan ataupun ucapan, dari mana kita tahu? Karena diperintahkan oleh  Allāh Subhānahu wa Ta’ala._
Allāh Subhānahu wa Ta’ala mengatakan :
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ 
*”dan hendaklah kalian mendirikan shalat, membayar zakat “*
Disini Allāh tidak mengatakan, Allāh mencintai orang-orang yang shalat, tetapi Allāh mengatakan :
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ 
*” dan hendaklah kalian mendirikan shalat “*
_Dari mana kita tahu bahwasanya shalat adalah ibadah?_
*Karena* Allāh memerintahkan dan Allāh tidak memerintahkan dengan sesuatu kecuali sesuatu tersebut dicintai dan diridhai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ala. Berarti kita tahu bahwasanya _*shalat adalah ibadah karena ibadah diperintahkan oleh Allāh dan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allāh berarti itu adalah dicintai oleh Allāh & diridhai, dan kalau dicintai & diridhai berarti dia adalah ibadah.*_
Dan terkadang kita mengetahui ketika Allāh Subhānahu wa Ta’ala memuji sebagian orang, sebagaimana ketika Allāh memuji orang yang menunaikan nazarnya 
 يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا 

[QS Al-Insan 7]
يُوفُونَ بِالنَّذْر
*”Allāh memuji orang-orang yang menyempurnakan Nazarnya”*
_Ketika dia bernazar mewajibkan atas dirinya sesuatu yang sebenarnya tidak wajib, bernazar dengan ke-Ta’atan, kemudian dia menyempurnakan nazarnya maka ini dipuji oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ala, adapun orang yang tidak menunaikan nazarnya maka ini adalah tercela. Allah Subhānahu wa Ta’ala memuji, menunjukkan bahwasanya Allāh mencintai perbuatan tersebut_
اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه، 
Segala perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ala 
 من الأقوال والأعمال 
“`Baik berupa ucapan maupun perbuatan 
Dzikir kepada Allāh, membaca Al-quran, mengucapkan tasbih, tahmid, tahlil, shalawat ini semua ad
alah ibadah yang berupa ucapan dicintai dan diridhai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ala. 
Berupa amalan seperti melakukan shalat, atau amalan harta dia melakukan zakat, bershodaqoh maka ini adalah berupa amalan“` 
الظاهرة والباطنة
_”Yang dhohir maupun  yang batin”_
*Yang dhohir* artinya kelihatan oleh orang lain, adapun yang batin apa yang ada di dalam hati manusia, rasa tawakal kepada Allāh, rasa cinta kepada Allāh, rasa takut kepada Allāh, Al-inabah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ala. _Ini adalah amalan-amalan hati dan semuanya masuk didalam kategori ibadah._
Semua ibadah tersebut harus diserahkan hanya kepada *Allāh* _tidak boleh sedikitpun / secuil pun_ diserahkan kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’ala. _Barang siapa yang menyerahkan sebagian ibadah dari ibadah² tadi kepada selain Allāh maka dia telah masuk didalam_
 الشرك في عبادة الله 
*Menyekutukan didalam beribadah kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’ala & ini adalah pembatal ke-Islam-an yang paling besar.*

*_Abdullāh Roy_*

_Di kota Al-Madīnah_
Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*
═══════ ❁ ❁ ═══════

Iklan

HSI Pembatal Keislaman 08

═════❁﷽❁═════
“`Penjelasan Kitāb Nawāqidhul Islām VIII“`

*بِــسم الله الرحمن الرحيم*
آعلم أنّ من أعظم نواقض الإسلام عشرة:
_Beliau mengatakan_ :

“`”ketahuilah sesungguhnya termasuk Nawāqidhul Islām (pembatal-pembatal keIslaman) yang paling besar ada 10″.“`
*’ilam – آعلم – artinya adalah ketahuilah.*
Dan kalimat ini digunakan oleh _orang arab_ untuk memberi tahu bahwasanya apa yang akan dia katakan adalah sesuatu yang *penting.* Dia mengatakan kepada orang yang diajak bicara *- آعلم -* _ketahuilah_, supaya orang yang mendengar yang diajak bicara *memperhatikan & dia sadar* bahwasanya dia akan mendengar sesuatu yang sangat penting, sehingga dia mengatakan *-  آعلم  – ketahuilah*, _karena Allāh menggunakan kalimat ini didalam Al-Qur’an_, diantaranya adalah :
“`Firman Allāh 
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ… 

[QS Muhammad 19]
“ketahuilah bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh ““`
Digunakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam Al-Qur’an  menggunakan kalimat *-  فَاعْلَمْ -* _untuk menunjukkan setelahnya adalah perkara yang besar yang hendaknya kita seksama didalam mendengarkan perkara yang besar tersebut._
أنّ *من أعظم* نواقض الإسلام 
*Diantara pembatal-pembatal keIslaman yang besar – عشرة – ada sepuluh.*
_Ucapan beliau_ *- من أعظم -* diantara yang paling besar menunjukkan bahwasanya disana sebenarnya _banyak pembatal-pembatal keIslaman,_ *akan tetapi* yang paling besar / yang paling penting / yang sering terjadi adalah _sepuluh perkara – sepuluh pembatal yang akan beliau disebutkan,_ dan sebenarnya pembatal-pembatal keIslaman banyak bukan hanya terbatas pada apa yang akan beliau sebutkan. *Bahkan* disana ada sebagian ulama yang menghitung _sampai 400 pembatal,_ tapi disini _beliau rahimahullah_ menyebutkan 10 dan ini adalah yang paling besar /yang paling penting. 
① *Al-awalu* yang pertama kata beliau 
*الاول*: الشرك في عبادة الله تعالى
*”Syirik didalam beribadah kepada Allāh Ta’āla’*
“`؛ والدليل قوله تعالى : 

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ 

[QS An-Nisa’ 48]

 ومـنه : الذبح لغير الله؛ كمن يذبح للجن، أو القبر
Dalilnya Adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:
“sesungguhnya Allāh tidak mengampuni dosa syirik & masih mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendaki ““`
_Diantara contoh nya_
ومـنه : الذبح لغير الله؛ كمن يذبح للجن، أو القبر
Adalah *menyembelih untuk selain Allāh,* seperti orang yang menyembelih untuk _jin atau untuk kuburan._ 
*Ini* adalah _pembatal keIslaman yang pertama_ beliau sebutkan secara ringkas dengan menyebutkan salah satu diantara dalilnya *- الأول – yang pertama adalah syirik didalam beribadah kepada Allāh.*
Kenapa beliau disini menyebutkan *syirik* pada _nomor yang pertama?_
_*Karena syirik adalah Dosa yang paling besar.*_
Tidak ada dosa yang Allāh dimaksiati dengannya _yang lebih besar daripada syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla._
Rasulullãh ﷺ bersabda :
أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ؟
“maukah aku kabarkan kepada kalian ِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ  *dosa² besar yang paling besar* ”
_Lebih besar dari berzina, lebih besar dari membunuh._ Seandainya seseorang berzina 1000 kali & membunuh 1000 kali, _maka dosa syirik ini lebih besar dari pada dosa tersebut._
*Akbarul kabair –  أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ  – kata Rasulullãh ﷺ ini adalah Dosa yang paling besar  tidak ada dosa yang lebih besar daripada syirik.*
Kemudian beliau mengatakan 
*الإِشْرَاكُ بِاللهِ*
_Diantaranya yang pertama yang paling besar adalah_ *”menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla”* 
Di dalam hadits yang lain beliau ditanya oleh sebagian shahabat 
يا رسول الله :أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ ؟
“`“Ya Rasulullãh, Dosa apa yang paling besar disisi Allāh?”
Dosa yang paling besar disisi Allāh, apakah dosa tersebut? Beliau bertanya kepada Rasulullãh ﷺ, maka Rasulullãh ﷺ mengatakan :

أَنْ تَجْعَلَ لِلّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَك
َ.
“Engkau menjadikan sekutu bagi Allāh & engkau tau bahwasanya Dia-lah yang telah menciptakan dirimu ”
أَنْ تَجْعَلَ لِلّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ.
” engkau menjadikan sekutu bagi Allāh didalam beribadah kepada-Nya, menyerahkan ibadah kepada Allāh dan juga menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla ”
وهو خلقك 
” Dan engkau tau bahwasanya Dia (Allāh) Dia-lah yang telah menciptakan dirimu ““`

Seharusnya orang yang *sadar dan beriman* dengan Rububiah Allāh & beriman bahwasanya _Allāh yang mencipta, mencipta dia dan orang-orang sebelumnya, menciptakan langit & menciptakan bumi & menciptakan seluruh alam semesta & tidak ada yang melakukan itu semua kecuali Allāh,_ *seharusnya* orang yang demikian hanya menyerahkan ibadah nya kepada *Allāh Subhānahu wa Ta’āla.*
Ini adalah tuntutan keimanan dia, tuntutan keimanan dia *_bahwasanya Allāh satu – satunya yang mencipta._* Hendaklah dia hanya menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla 

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ ۚ.. 

_[Surat Al-An’am 102]_
_”itulah Rabb kalian yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, خَالِقُ كُلِّ شَيْ Dia lah yang menciptakan segala sesuatu – فَاعْبُدُوهُ – maka hendaklah kalian menyembahNya “_

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

_[QS Al-Baqarah 21]_

_” wahai manusia sembahlah Rabb kalian – اعْبُدُوا رَبَّكُم – sembahlah Rabb kalian,_
_*Siapa Rabb kalian?*_
الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
*_”Rabb kalian yang berhak untuk disembah adalah yang menciptakan kalian & menciptakan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertakwa “_*
Inilah *Dzat yang berhak untuk disembah, yang mencipta, adapun yang tidak mencipta, seekor lalat pun dia tidak bisa mencipta maka bagaimana dia berhak untuk disembah.* 
أَنْ تَجْعَلَ لِلّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ
_Dosa yang paling besar adalah engkau menyekutukan atau menjadikan sekutu bagi Allāh, sedangkan engkau tahu bahwasanya Allāh yang telah menciptakan kamu._ 
“`Oleh karena itu disini beliau menyebutkan pada nomor yang pertama.“`

*_Abdullāh Roy_*

_Di kota Al-Madīnah_
Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*
═══════ ❁ ❁ ═══════

HSI Pembatal Keislaman 07

══════❁﷽❁══════
“`Penjelasan Kitāb Nawāqidhul Islām VII“` 
_Beliau mengatakan :_
*بِــسم الله الرحمن الرحيم*
“`”Dengan nama Allāh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ““`
_Dan beliau memulai kitab beliau dengan_ *Basmallah*, meniru didalam Al-Qur’an. “`Dimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla memulai Al-Qur’an dengan Basmallah.“`
Demikian pula meneladani Rasulullãh ﷺ karena dahulu beliau menulis surat² maka beliau memulai dengan *Basmallah*. _Sebagaimana ketika beliau menulis kepada Raja Romawi, Raja Persia & juga  yang lain, dan didalam Al-Qur’an ketika Nabi Sulaiman ‘alaihi salam mengirim surat kepada Bilqis, beliau memulai dengan Basmallah_
“`إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
“kata Ratu Bilqis – ini adalah dari Sulaiman – dan isinya – بِــسم الله الرحمن الرحيم  – ”

[QS An-Naml 30]“`
*Memulai sebuah risalah memulai sebuah kitab dengan Basmallah maka ini meniru apa yang ada di dalam Al-Qur’an dan juga dilakukan oleh sebagian Nabi demikian pula dilakukan Rasulullãh ﷺ.*
Makna memulai dengan Basmallah maksudnya adalah _memohon pertolongan kepada Allāh._ Karena – ب – didalam ucapan bismillah ini adalah – ب – al istianah (yang maknanya istianah). 
_Istianah artinya memohon pertolongan._

*بِــسم الله*
“`”Dengan menyebut Nama Allāh ““`
Maksudnya adalah *aku memohon pertolongan kepada Allāh, dengan menyebut nama-Nya. Ismullah : dengan  nama Allāh. Nama Allāh disini mencakup semua nama Allāh.* Didalam _bahasa Arab_ apabila kalimat yang mufrad kata yang mufrad (tunggal) disandarkan maka dia maknanya adalah umum 
*أذكروا نعمة الله* 
“`”hendaklah kalian mengingat nikmat Allāh ““`
Nikmat disini adalah mufrad (tunggal), tapi maksudnya adalah” sebutlah / *ingatlah Nikmat-nikmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla* ” 
Demikian pula dalam kalimat Basmallah 
*بِــسم الله*
“`”Dengan menyebut nama Allāh”“`
_Ini Adalah nama-nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla, dimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla memiliki Asmaul husna,_
“`…وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ 

[Surat Al-A’raf 180]
“Dan Allāh memiliki Asmaul husna hendaklah kalian berdoa dengan-Nya ““`
Orang yang mengatakan *bismillah, berarti dia telah ber-Isti’anah,* dengan menyebut _seluruh nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla,_ baik yang dia maupun yg tidak dia ketahui. 
*Allāh adalah lafdzul dzalallah, dan dia adalah nama Allāh yang paling A’dzom yang paling besar, nama-nama yang lain dsandarkan kepada nama Allāh.*
_Seseorang mengatakan *Ar-Rohman (الرحمن)* adalah diantara nama Allāh, *Ar-Rohim* adalah diantara nama Allāh, *Al-Azis* adalah diantara nama *Allāh*, _tetapi tidak mengatakan,_ “`”Allāh adalah diantara nama Ar-Rohman” .“`
_Kenapa demikian?_
*Karena lafdzul Dzalallah yaitu Allāh adalah nama Allāh yang paling besar.*
_Disandarkan nama-nama yang lain kepada lafdzul Dzalallah yaitu kepada lafadz Allāh Subhānahu wa Ta’āla._ 
Makna dari Allāh / lafdzul Dzalallah di ambil dari kata _Al-uluhah_ yang artinya adalah *ibadah*, “`Al-illah artinya adalah Al-Ma’bud (yang disembah),“` oleh karena itu makna atau nama Allāh, ini mengandung makna bahwasanya *Allāh Subhānahu wa Ta’āla dialah satu²nya yang disembah*
“`Allāh berasal dari kata Al-Illah & Al-Illah artinya adalah Al-Ma’bud : yang disembah.
Ana Rohman ( الرحمن ) juga termasuk nama Allāh dan maknanya adalah yang maha penyayang diambil dari kata Rohmah. Dan nama Allāh Ar-Rohman mengandung sifat Ar-Rohmah yaitu mengandung sifat kasih sayang. Nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah nama yang memiliki makna. Oleh karena itu dinamakan dengan Asmaul husna yang baik karena dia mengandung makna yang paling baik berbeda dengan nama makhluk terkadang seseorang memiliki nama yang baik akan tetapi belum tentu orang yang memiliki nama tersebut adalah orang yang baik. Terkadang seorang pencuri namanya Muhammad, terkadang seorang penjahat namanya Abdullāh. Karena nama yang dimiliki manusia belum tentu dia memiliki sifat didalam nama tersebut
.“`
*Adapun Allāh maka nama-nama Allāh mengandung sifat-sifat, Ar-Rohman dia adalah Maha Penyayang mengandung makna mengandung sifat Rohmah, Ar-Rohim ( الرحيم  ) juga demikian, berasal dari Rohmah dan mengandung makna Rohmah yaitu kasih sayang.*
_Perbedaan antara Ar-Rohman  dengan Ar-Rohim disebutkan oleh para ulama bahwasanya Ar-Rohman adalah kasih sayang Allāh yang mencakup seluruh makhluk / kasih sayang Allāh mencakup seluruh makhluk yang beriman maupun yg tidak beriman, orang yang kafir pun didunia mendapatkan sebagian dari rahmat Allāh, diberikan rezeki, diberikan kenikmatan dan ini semua adalah termasuk Rahmat dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla._
*Adapun Ar-Rohim maka ini adalah kasih sayang Allāh yang Allāh khususkan bagi orang-orang yang beriman, berupa hidayah, berupa ketenangan hidup didunia, berupa kenikmatan dialam kubur, kenikmatan di surga. Ini adalah rahmat Allāh yang Allāh khususkan bagi orang-orang yang beriman.*
“`Ini adalah perbedaan antara Ar-Rohman dengan Ar-Rohim.“`
Oleh karena itu Allāh berfirman:
“`… ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

[QS Al-Ahzab 43]
“dan Dia (Allāh Subhānahu wa Ta’āla) sangat sayang kepada orang-orang yang beriman ““`
*Ar-Rohim adalah kasih sayang Allāh yang khusus Allāh berikan kepada orang yang beriman*
*_Abdullāh Roy_*

“`Di kota Al-Madīnah“`
Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*
═══════ ❁ ❁ ═══════

HSI Pembatal Keislaman 06

“`Penjelasan Kitāb Nawāqidhul Islām VI“`
_*Tidak semua orang*_ yang mengucapkan ucapan kekufuran atau mengatakan amalan yang kufur kemudian dihukumi sebagai orang yang musyrik atau kafir, _*karena ada syarat-syarat*_ diantaranya disebutkan oleh para ulama :
“`Orang yang mengatakan itu adalah orang yang baligh / berakal.“`
_Apabila dia belum baligh / anak kecil (misalnya) mengatakan “aku adalah Tuhan” ucapan dia adalah ucapan kufur & tidak diragukan, ini adalah ucapan kufur tapi karena mengucapkan seorang anak kecil yang belum baligh maka tidak dihukumi dia sebagai orang yang kafir._
*رفع القلم عن ثلاثة*
_Diantaranya adalah dari anak kecil sampai dia dewasa, pencatat amal diangkat dari tiga orang diantaranya dari anak kecil sampai dia dewasa_
*و عن الصبي حتى يكبر*
_Demikian pula berakal bila ada seorang muslim yang gila atau tidak waras kemudian dia mengucapkan ucapan yang kufur maka tidak dianggap dia sebagai orang yang kafir, karena dia mengucapkan ucapan ini  dalam keadaan tidak berakal._
Demikian pula orang yang _mabuk_ misalnya dia mengucapkan ucapan yang _kufur_ maka dia tidak dianggap sebagai orang yang *kafir.* Ucapan dia adalah ucapan yang kufur tetapi dia _tidak dianggap sebagai orang yang kafir._ Ini maksudnya. 
Demikian pula diantara syaratnya adalah dia dalam keadaan memiliki _kehendak_ memiliki _pilihan_ & bukan sedang _dipaksa_ oleh orang lain, terkadang seseorang dipaksa untuk mengucapkan ucapan yang kufur atau melakukan perbuatan yang kufur “`padahal didalam hatinya dia mengingkari & tidak mau & beriman kepada Allāh & beriman kepada Rasul & dia merasa yakin dengan seyakin yakinnya dengan Islām tetapi diancam akan dibunuh /akan disiksa dipaksa untuk mengucapkan kalimat kufur. Apabila dia mengucapkan dalam keadaan terpaksa dan dipaksa maka ini tidak mengeluarkan dia dari Islām.“`
*Ucapan dia adalah ucapan yang kufur akan tetapi  tidak dihukumi dia sebagai seorang yang kafir atau musyrik*
“`مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا…. 
“Barangsiapa yang kufur dengan  Allāh setelah keimanan dia 
إلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ 
kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya dalam keadaan –  مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ  – dalam keadaan hatinya tenang &  beriman”

[QS. An-Nahl : 106]“`
Dan ayat ini turun _ketika Ammar bin Yasir radhiallahu anhu dipaksa oleh orang-orang musyrikin untuk mengucapkan kalimat yang kufur, disuruh untuk mencela Rasulullãh ﷺ & saat itu beliau dalam keadaan disiksa sehingga beliau terpaksa mengucapkan ucapan yang kufur padahal didalam hati beliau, beliau tenang dengan keimanan beliau._ 
*إلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ*
Rasulullãh ﷺ bersabda 
إِنَّ اللهَ تَـجَاوَزَ لِـيْ عَنْ أُمَّتِيْ الْـخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ. حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالْبَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُمَـا
_”sesungguhnya Allāh telah memaafkan dari umatku kesalahan & juga lupa & apa yang mereka dipaksa untuk melakukan “_
Terkadang seseorang melakukan perbuatan yang kufur mengucapkan ucapan² yang kufur akan tetapi dalam keadaan terpaksa. 
_Ini Adalah diantara Qoidah-qoidah yang disebutkan oleh para ulama._ Jadi mereka *sangat berhati-hati* sekali didalam masalah ini, _tidak mengucapkan ucapan ini tidak meyakini kecuali dengan berdasarkan dalil yang jelas dari Al-Qur’an & Hadits nabi ﷺ._
Dalam suatu hadits Rasulullãh ﷺ bersabda :
“`من  قال لِأَخِيْهِ : يَا كَافِرُ, فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا 
“Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya “hai Kafir”, maka sungguh kekafiran ini kembali kepada salah satu diantara keduanya ““`
Menunjukkan tentang _bahayanya_ hukum ini, yaitu masalah *kekufuran, masalah syirik, masalah nifaq,* seseorang hendaklah _berhati-hati_ didalam masalah ini & *menghukumi dengan jelas* bahwasanya bahwasanya” si Fulan adalah kafir /si fula
n adalah musyrik ” *ini dilakukan oleh para ulama yang sudah dalam keilmuannya yang terpenuhi didalamnya syarat-syarat seorang Mufti.*
_Maka inilah ulama ulama yang *berhak* mengatakan” si fulan adalah kafir, si fulan adalah Musrik._

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

HSI Pembatal Keislaman 05

═══════ ❁  ﷽  ❁ ═══════
Mengetahui An-Nawāqidhul Islām adalah perkara yang sangat penting. Tentunya didalam memahami Nawāqidhul Islām seseorang harus kembali kepada Al-Qur’an dan juga hadits-hadits nabi  ﷺ & kembali kepada pemahaman shahabat radhiallahu anhum & menengok kembali ucapan² para ulama didalam masalah Nawāqidhul Islām, karena mengatakan sesuatu mengeluarkan seseorang dari Islām atau tidak ini adalah termasuk hukum syari’

Termasuk hukum syar’i tidak boleh seseorang mengatakan sebuah amalan atau sebuah ucapan atau sebuah keyakinan “ini adalah kufur – ini adalah syirik – ini adalah infaq”  kecuali apabila disana ada dalil yang jelas didalam Al-Qur’an ataupun didalam hadits, jangan sampai seseorang mengucapkan sesuatu atas nama Allāh dengan kedustaan, karena ini adalah perbuatan yang besar. Mengucapkan sesuatu atas nama Allāh padahal tidak pernah dikabarkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla & juga RasulNya 
وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ
“Janganlah kalian mengatakan dengan ucapan kalian (dengan lisan kalian) 

هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَام

Ini adalah halal, ini adalah haram 

لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ

dengan tujuan berdusta atas nama Allāh ”

[QS An-Nahl 116]

Janganlah kalian ucapkan ini halal atau ini haram dengan tujuan untuk berdusta atas nama Allāh.
═ Allāh mengatakan halal kemudian kita katakan haram
═ Allāh mengatakan Haram kemudian kita katakan halal 
Maka ini termasuk berdusta atas nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla 
إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ
“orang-orang yang berdusta atas nama Allāh maka dia tidak akan beruntung baik di dunia maupun di akhirat ”
Mengatakan sesuatu ini adalah kufur ini adalah syirik, mengeluarkan seseorang dari Islām maka ini adalah hukum syari yang dikembalikan kepada Allāh dan juga RasulNya. 

Dikembalikan kepada dalil, jangan sampai seseorang mengatakan:
⇒ ini adalah kufur padahal Allāh dan RasulNya tidak mengatakan demikian, 
atau sebaliknya 
⇒ mengatakan ini tidak kufur padahal Allāh dan RasulNya mengatakan ini adalah kufur. 

Karena disana ada dua kelompok yang tersesat didalam masalah ini sebagian mereka berlebih-lebihan, sehingga mengatakan bahwasanya sesuatu ini adalah kufur padahal Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak mengatakan kufur. 

Seperti orang yang berkeyakinan bahwasanya orang yang melakukan dosa besar maka dia keluar dari Islām dan ini adalah keyakinan orang-orang Khawarij yang sudah ada sejak zaman shahabat radhiallahu anhum dan sampai sekarang berkeyakinan bahwasanya orang yang melakukan dosa besar maka dia keluar dari agama Islām. 
Dan disana ada kelompok lain juga berlebih-lebihan kebalikan dari orang-orang khawarij, mereka meyakini sebuah amalan yang itu adalah jelas² kufur didalam Al-Qur’an maupun hadits akan tetapi mereka meyakini itu bukan sebuah kekufuran. Kufur menurut Allāh & RasulNya kemudian menganggap ini bukan kekufuran dan ini juga berlebih-lebihan dan ini dilakukan orang Murjiah yang mereka menganggap bahwasanya namanya Iman cukuplah keyakinan didalam hati / ma’rifah mengenal didalam hati itulah yang dinamakan keimanan, artinya apa? 
⇒ Artinya saat seseorang mengucapkan apa saja atau melakukan amalan apa saja yang penting hatinya mengenal yang penting hatinya meyakini  maka ini tidak kufur dari agama Islām, karena mereka mengatakan yang namanya iman hanya didalam hati dan ini juga berlebih-lebihan oleh karena itu mereka tidak masalah bagi seseorang mengucapkan apa saja baik itu ucapan yang kufur maupun yang syirik yang nifaq yang penting hatinya tidak demikian. 
Terkadang seseorang bisa kufur dengan ucapan lisannya, Ahlus Sunnah wal Jamaah bukan termasuk Khawarij & juga bukan termasuk Murjiah, mereka didalam pertengahan dan ini adalah taufiq dan karunia dan juga petunjuk yang Allāh berikan kepada mereka didalam masalah kufur dan
juga syirik Islām & juga Iman mereka kembali kepada Al-Qur’an dan juga hadits dengan pemahaman para shahabat radhiallahu anhum, apa yang dihukumi oleh Allāh & RasulNya sebagai bentuk kekufuran mereka katakan ini adalah kufur & apa yang dikatakan oleh Allāh & RasulNya ini bukan kekufuran maka mereka tidak mengatakan ini adalah kekufuran. 
Dan mereka didalam masalah  ini kepada Qoidah-qoidah yang berdasarkan Al-Qur’an juga hadits dan diantara Qoidah Yang mereka sebutkan 
Terkadang seseorang mengucapkan ucapan yang kufur atau melakukan amalan yang kufur (yang mengeluarkan dia dari Islām akan tetapi tidak dihukumi sebagai orang kafir, apa yang dilakukan adalah kufur akan tetapi tidak langsung dihukumi bahwasanya orang ini adalah musyrik /orang ini adalah kafir. 
Karena para ulama menyebutkan disana ada syarat²nya, ada syarat² yang harus terpenuhi & disana ada penghalang² yang harus tidak ada sehingga orang dihukumi sebagai orang yang kafir atau orang yang musyrik. 

Abdullāh Roy 

Di kota Al-Madīnah
Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy. 
═══════ ❁ ❁ ═══════

HSI Pembatal Keislaman 04

═══════ ❁  ﷽  ❁ ═══════
Mempelajari An-Nawāqidhul Islām adalah perkara yang sangat penting Hudzaifah Ibn Yaman (beliau) mengatakan 
كَانَ أصحاب  رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُوْنَه عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي
“Dahulu para sahabat Rasulullãh ﷺ, mereka bertanya kepada Rasulullãh ﷺ tentang kebaikan sedangkan aku bertanya kepada Rasulullãh ﷺ tentang kejelekan 

مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي

karena aku takut apabila terjerumus didalam kejelekan tersebut ”

[HR Bukhari 6/615-616 dan 13/35 beserta Fathul Baari. Muslim 12/235-236 beserta Syarh Nawawi. Baghowi dalam Syarhus Sunnah 14/14. Dan Ibnu Majah 2979]

Hudzaifah Ibn Yaman bertanya kepada Rasulullãh ﷺ tentang kejelekan², tujuannya adalah 
⇒ supaya tidak terjerumus ke dalam kejelekan tersebut. 
Dilakukan oleh para sahabat radhiallahu anhum, mereka mengetahui kebenaran maupun kesalahan, mengetahui al haq & mengetahui kebatilan. 
✓mengetahui kebenaran supaya diamalkan 
✓ dan mereka mengetahui kebatilan / kesalahan supaya bisa terhindar dari kesalahan tersebut. 

didalam sebuah bait dikatakan 
عرفت الشر لا للش ولكن لتوقيه 
ومن لم يعرف الشر من الناس يقع فيه
“aku mengetahui kejelekan bukan untuk kejelekan tersebut (bukan untuk mengamalkannya), akan tetapi supaya terhindar dari kejelekan tersebut & barangsiapa yang tidak mengetahui sebuah kejelekan dari manusia maka dikhawatirkan dia akan terjerumus ke dalam kejelekan tersebut “. 
Oleh karena itu para ulama rahimahullahu didalam kitab² mereka didalam kitab akidah atau didalam kitab fikih disebutkan tentang masalah bab Ar ridhad bab Ttg perkara² yang bisa menjadikan seseorang murtad dan seseorang keluar dari agama Islam. 
Tujuan para ulama membuat masalah riddah (masalah perkara² yang bisa mengeluarkan dari islam) tujuannya adalah:
✓ supaya kita tahu pembatal² keIslaman dan
✓ supaya kita waspada jangan sampai kita & keluarga kita & orang-orang yang kita cintai & kaum muslimin terjatuh di dalam apa yang dinamakan An-Nawāqidhul Islām. 

Yang mengeluarkan seseorang dari Islām 

Dan membatalkan amal seseorang & apabila dia meninggal dunia dalam keadaan riddah maka tidak diterima taubat nya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla & dia kekal didalam neraka bersama orang-orang yang kafir. 
Ini Adalah akibat yang fatal bagi orang yang keluar dari agama Islām & meninggal dalam keadaan sebagai orang yang kafir, batal amalannya dan dia diakherat termasuk penduduk neraka yang kekal didalamnya. 
وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هم الْخَاسِرِينَ

“dan barangsiapa diantara kalian yang murtad dari agamanya  

فَيَمُتْ

Kemudian dia meninggal dunia 

وَهُوَ كَافِرٌ

& dia dalam keadaan kafir (tidak masuk Islām kembali), 

فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ 

maka mereka lah yang batal amalannya di dunia maupun di akhirat ”

Abdullāh Roy 

Di kota Al-Madīnah
Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy. 
═══════ ❁ ❁ ═══════

HSI Pembatal Keislaman 03

═══════ ❁  ﷽  ❁ ═══════
Disana ada pembatal keIslam-an yang berupa Aqidāh, berupa keyakinan, berupa itiqod. 
⇒ Meyakini bahwasanya ada ilāh selain Allāh
⇒ Meyakini bahwasanya hukum selain hukum Allāh adalah lebih baik dari pada hukum Allāh 
⇒ Meyakini bahwasanya shalat tidak wajib 
⇒ Meyakini sesuatu yang diharamkan jelas didalam agama meyakini bahwasanya itu halal. 

Maka ini adalah keyakinan yang bisa membatalkan keIslam-an seseorang, sebagaimana orang² munafik mengucapkan kalimat – لا إله إلا الله – & mengucapkan – محمداً رسول الله – Akan tetapi mereka tidak berkeyakinan dua kalimat syahadat tersebut, didalam hati mereka, mereka tidak percaya bahwasanya Muhammad adalah Rasulullãh. Ini adalah bentuk kekufuran yang berupa keyakinan meskipun mereka mengatakan dihadapan Rasulullãh ﷺ “sesungguhnya engkau adalah rasulullah”  tapi mereka tidak meyakini itu didalam hati mereka & Allāh menghukumi mereka sebagai orang kafir 

 إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

[Surat Al-Munafiqun 1]

“Apabila datang kepadamu wahai Muhammad orang² munafik 

قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ 

mereka berkata “aku bersaksi bahwasanya engkau adalah Rasulullãh” 

Ini dikatakan oleh orang-orang munafik 

قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ 

وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ 

“dan Allāh tau bahwasanya engkau adalah rasul-Nya ”

وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

” dan Allāh bersyahadat (bersaksi) bahwasanya orang-orang munafik adalah berdusta ”
Berdusta didalam ucapan mereka, mereka mengatakan” aku bersaksi bahwasanya engkau adalah Rasulullãh “akan tetapi dusta didalam hati mereka. 

يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِم مَّا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ ۚ 

 [QS Al-Fath: 11] 

“Mereka mengucapkan dengan lisan-lisan mereka apa yang tidak ada di dalam hati mereka”. 
⇒ Hati mereka kufur dan mengingkari meskipun lisan mereka mengucapkan. 
⇒ Menunjukkan kepada kita bahwasanya di sana ada keyakinan yang bisa membatalkan keIslaman seseorang. 

Demikian pula pembatal keIslaman bisa berupa perbuatan anggota badan, seperti: 
• Seseorang yang bersujud kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’ālā. 
• Menyembelih untuk selain Allāh Subhānahu wa Ta’ālā. 
Maka ini adalah berupa perbuatan dan ini semua termasuk kufur, ini semua dinamakan dengan nawāqidhul Islām, yaitu perkara-perkara yang membatalkan keIslaman seseorang. 
Mengetahui An-Nawāqidhul Islām (pembatal-pembatal keIslaman) merupakan perkara yang sangat penting. 
● Seseorang mengetahui kebaikan untuk diamalkan dan mengetahui kejelekan supaya bisa terhindar dari kejelekan tersebut. 
● Orang yang hanya mengetahui kebaikan tetapi tidak mengetahui kejelekan maka dikhawatirkan akan terjerumus di dalam kejelekan tersebut, disadari atau tidak disadari. 
Mempelajari kejelekan tujuannya adalah untuk supaya kita terjauh dan terhindari dari kejelekan tersebut. 
Ibrāhīm ‘alayhissalām berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā: 
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ (٣٥)

 رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ … (٣٦)

 [QS Ibrāhīm: 35] 
“Ya Allāh, jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala.”
Berdo’a dengan do’a ini, meminta kepada Allāh supaya dijauhkan beliau dan juga keturunan beliau dari menyembah berhala, berlindung kepada Allāh dari kesyirikan karena orang yang terjerumus ke dalam kesyirikan (penyembahan kepada berhala/makhluk) maka dia telah keluar dari Islam. Beliau ‘alayhissalām takut atas diri beliau, takut terjerumus ke dalam kesyirikan, demikian pula takut apabila ada keturunan beliau yang terjerumus ke dalam kesyirikan. 
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ 
“Ya Allāh, jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah berhala”. 
Padahal siapa beliau ‘alayhissalām? 
✓ Beliau adalah Imāmul al-muwahhidīn (imamnya orang-orang yang bertauhid kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā). 

Beliaulah yang telah memecah berhala-berhala yang ada di kaumnya dengan tangan beliau sendiri. 
✓ Beliau disakiti dan diuji karena mempertahankan aqidah beliau, mentauhidkan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā. 
✓ Beliau mengajak kaumnya, bapaknya (dan) raja di zaman beliau untuk mentauhidkan Allāh. 
✓ Beliau mendapatkan ujian yang berat karena berdakwah kepada Tauhid, dilempar ke dalam api, dan dengan izin Allāh Subhānahu wa Ta’ālā api tersebut menjadi dingin. 
Dan ini semua adalah ujian yang berat bagi beliau ‘alayhissalām. 
Akan tetapi meskipun demikian, beliau sangat takut apabila terjerumus ke dalam kesyirikan, oleh karena itu beliau berdo’a kepada Allāh dan mengatakan: 
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ 
Apabila beliau ‘alayhissalām takut dengan kesyirikan tersebut padahal beliau adalah imāmul muwahhidīn (imamnya orang-orang yang bertauhid), yang kita diperintahkan untuk mengikuti millah beliau
*“`Maka bagaimana dengan kita?“`*
Tentunya orang seperti kita harusnya lebih takut terjerumus ke dalam kesyirikan tersebut. 
════════════════════

Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy. 
Abdullāh Roy 

Di kota Al-Madīnah

═══════ ❁ ❁ ═══════