HSI MAHAZI – 13 Tatacara Haji dan Umroh Secara Global

Cara melakukan Umroh secara global adalah :
1.     Ihrom dari miqot. Orang Mekkah yang akan melakukan umroh maka ia ihrom dari luar Tanah Haram. 2.     Thawaf 3.     Sa’i antara Shafa dan Marwah 4.     Menggundul rambut atau memendekkan
Cara melakukan Haji secara global adalah :
1.     Seseorang yang datang dari luar miqot maka ia berihrom dari Miqot; sedangkan penduduk Mekah dan selain penduduk Mekah yang berada di Tanah Haram maka ia berihrom dari tempat ia berada. 2.    Orang yang melakukan Haji Qiran dan Ifrad melakukan Thawaf Qudum dan Sa’i dan boleh mengakhirkan Sa’i dan melakukannya setelah Thawaf Ifadhah. 3.     Jamaah Haji berada di Mina tanggal 8 dan malam tanggal 9 4.     Wukuf di Arafah 5.     Bermalam di Musdalifah 6.     Melempar Jumroh Aqobah pada tanggal 10 7.     Menyembelih hadyu bila ada kewajiban membayar hadyu seperti orang yang melakukan Haji Tamattu’ dan Qiran 8.     Mencukur habis atau memendekkan 9.    Thawaf Ifadhah dan Sa’i jika ia Haji Tamattu; dan jika ia melakukan Haji Qiran dan Ifrad dan belum sa’I setelah thawaf Qudum maka dia melakukan sai setelah thawaf ifadhah 10. Bermalam di Mina pada hari-hari tasyrik dan melempar 3 jumroh setiap hari setelah tergelincirnya matahari
11. Melakukan thawaf Wada ketika akan meninggalkan Mekkah

Iklan

HSI MAHAZI – 12 Larangan-Larangan dalam Ihrom

Telah berlalu bahwa Niat adalah termasuk rukun haji. Seseorang apabila sudah ihrom atau niat masuk didalam ibadah umroh atau haji maka diharamkan atasnya beberapa hal yang sebelumnya dihalalkan, yang dikenal dengan larangan-larangan ketika ihrom. Jumlahnya ada 9 :
1.     Mengambil rambut dari tubuh 2.     Memotong kuku 3.     Memakai minyak wangi 4.     Menutup kepala dengan sesuatu yang menempel 5.     Memakai pakaian yang membentuk badan 6.     Membunuh hewan buruan 7.     Melakukan pernikahan 8.     Bersenang-senang dengan istri dengan melakukan jima’ 9.     Bersenang-senang dengan istri dengan selain jima’, baik dengan dengan ucapan atau dengan perbuatan seperti memeluk, mencium dll

1.     MENGAMBIL RAMBUT, BAIK DARI KEPALA, KUMIS, KETIAK, KEMALUAN, DLL Dalil : Firman Allah Azza wa Jalla “Dan janganlah kalian mencukur kepala kalian sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya” Qs 2 : 196
2.     MEMOTONG KUKU. Berkata Ibnu Mundzir  rahimahullah “Dan mereka bersepakat bahwa seorang yang muhrim dilarang untuk mengambil kukunya”
3.     MEMAKAI MINYAK WANGI Dilarang seorang muhrim memakai minyak wangi, baik didalam badannya maupun didalam pakaiannya. Yang demikian berdasarkan hadits Abdullah Ibnu Umar tentang pakaian-pakaian yang dilarang dipakai oleh seorang muhrim, dan didalam hadits tersebut Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Dan janganlah kalian memakai pakaian-pakaian yang terkena za’faron atau warsh” HR Bukhari dan Muslim.
Za’faron dan Warsh adalah nama minyak wangi.

Dan didalam hadits Ya’la Ibnu Umaiyah bahwa seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam di Ju’ronah dan dia memakai jubah yang terkena minyak wangi, maka dia berkata “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang ihram untuk umroh dengan memakai jubah yang sudah terkena minyak wangi?” Maka Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjawab “Adapun minyak wangi yang ada pada badanmu maka cucilah 3x sedangkan jubah maka lepaskanlah kemudian lakukanlah didalam umrohmu apa yang engkau lakukan didalam hajimu”. HR Bukhari dan Muslim

Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda ketika ada seorang laki-laki yang meninggal dalam keadaan ihrom “Hendaklah kalian memandikan laki-laki tersebut dengan air dan daun bidara dan kafanilah dia dengan 2 kainnya dan janganlah kalian menyentuhkan ia dengan minyak wangi dan jangan menutup kepalanya, sesungguhnya ia akan dibangkitkan di akhirat dalam keadaan bertalbiyah”  HR Bukhari dan Muslim

4.     MENUTUP KEPALA DAN WAJAH DENGAN SESUATU YANG MENEMPEL.
Yang demikian berdasarkan hadits Ibnu Umar rhadoyallahu anhuma ketiak ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tentang pakaian yang dipakai seorang Muhrim, maka Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam berkata “Dia tidak memakai gamis dan tidak memakai sorban” HR al-Bukhari dan Muslim. Didalam hadits ini beliau melarang untuk memakai sorban, masuk didalamnya setiap yang menutupi kepala seperti peci, topi, kopiah dll.

Didalam hadits Ibnu Abbas rhadiyallahu anhuma, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berkata kepada Sahabat yang mengurus seorang laki-laki yang meninggal ketika ihrom : “Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara dan kafanilah dengan 2 kainnya yaitu kain ihrom dan jangan tutupi kepala dan wajahnya karena kelak ia akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah”. HR Muslim.
Beliau melarang untuk ditutupi kepala wdan wajah karena dia meninggal dalam keadaan ihrom, adapun menutupi kepala dengan sesuatu yang tidak menempel seperti berteduh dibawah payung, atap mobil, kain, kemah, maka yang demikian tidak masalah karena Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam  berteduh dibawah kain ketika melempar Jumroh Aqobah sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah.
5.     MEMAKAI PAKAIAN YANG MEMBENTUK BADAN
Bagi laki-laki yang sedang ihrom dilarang  memakai pakaian yang membentuk badan, baik seluruh badannya, atau sebagian badannya. Membentuk seluruh badan seperti memakai gamis, dan membentuk sebagian badan seperti celana panjang, sepatu boot, kaos kaki, kaos, dll.

Yang demikian berdasarkan hadits Ibnu Umar ketika ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tentang pakaian yang dipakai seorang yang muhrim, maka Nabi berkata “Dia tidak memakai gamis, sorban, celana panjang, baronis, sepatu boot, kecuali jika seseorang  tidak menemukan 2 sandal maka hendaklah ia memakai sepatu boot dan memotongnya dibawah mata kaki” HR Bukhari  dan Muslim.

Tidak masalah seorang muhrim memakai sabuk, kacamata, jam, cincin, dan sandal yang berjahit maupun tidak berjahit.

Adapun wanita maka memakai pakaian syar’ie yang biasa dia pakai dan dilarang memakai kaos tangan dan niqob.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Dan seorang wanita yang ihrom tidak memakai niqob dan tidak memakai  2 kaos tangan” HR Bukhari dan Muslim.
Yang dimaksud dengan niqob adalah kain cadar, tetapi kalau melewati laki-laki asing maka ia menutup wajah dan tangannya dengan kain kerudungnya sebagaimana ucapan Aisyah rhadiyallahu anha “Dahulu rombongan melewati kami dan kami bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dalam keadaan ihrom. Maka apabila rombongan tersebut mendekati kami, salah seorang wanita diantara kami menjulurkan jilbabnya diatas wajahnya, dan apabila mereka sudah lewat, kamipun membuka wajah-wajah kami” HR Abu Dawud, dan sanadnya lemah tetapi ada syahid yang shahih dikelauarkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatho : Dari Fathimah Ibnu Mundzir beliau berkata “Kami dahulu menutupi wajah-wajah kami dengan kerudung sedang kami dalam keadaan ihrom bersama Asma binti Abi Bakar”


6.     MEMBUNUH HEWAN BURUAN DARAT / MENOLONG DALAM MEMBUNUHNYA / MENUNJUKKANNYA. Dalil : Ø  Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian membunuh hewan buruan, sedangkan kalian dalam keadaan ihram (Al Maidah 95) Ø  Dan diharamkan atas kalian memburu hewan buruan darat selama kalian ihrom (Al Maidah 96) Ø  HR Bukhari dan Muslim : Abu Qotadah rhadiyallahu anhu sedang safar bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dan para Sahabat dalam keadaan para Sahabat sedang ihrom dan Abu Qotadah tidak ihrom. Mereka melihat seekor keledai liar,  maka  Abu Qotadah membunuhnya dan mereka memakannya. Kemudian mereka bertanya “Apakah kita boleh memakan daging hewan buruan sedangkan kita dalam keadaan ihrom ?”. Maka dibawalah sisa daging kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam kemudian Nabi pun Shalallahu Alaihi Wassalam berkata “Adakah diantara kalian yang menyuruh Abu Qotadah, atau memberikan isyarat kepadanya ?” Mereka berkata “Tidak” Maka Nabi pun Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Makanlah daging yang masih tersisa”.
Dan balasan bagi orang yang membunuh buruan darat secara sengaja berdasakan ayat 95 Surat Al Maidah : a.     Menyembelih hewan ternak yang semisal, disembelih di tanah Haram di Kota Mekkah dan tidak boleh memakannya sedikitpun, atau b.     Membeli makanan seharga hewan ternak tersebut dan setiap orang miskin diberikan setengah sha’ yaitu kurang lebih 1,5kg beras, atau c.      Berpuasa dengan jumlah hari sebanyak jumlah orang miskin
7.     MENGADAKAN AKAD NIKAH, BAIK SEBAGAI SUAMI ATAU WALI dan MELAMAR Dalil : Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Seorang yang muhrim tidak boleh menikah dan tidak boleh dinikahkan dan tidak boleh melamar. HR Muslim
8.     BERSENANG-SENANG DENGAN ISTRI DENGAN CARA BERJIMA’ DAN

9.     BERSENANG-SENANG DENGAN ISTRI DENGAN SELAINNYA BAIK DENGAN UCAPAN DAN PERBUATAN SEPERTI MEMELUK, MENCIUM, DLL
Dalil : Haji dilakukan pada bulan-bulan yang sudah diketahui, maka barangsiapa mewajibkan dirinya untuk melakukan ibadah haji pada bulan-bulan tersebut maka janganlah dia melakukan rofats dan kefasikan, dan berdebat ketika dalam keadaan haji. Qs 2:197
Masuk dalam makna rofats : a.     Berjima’ dengan kemaluan b.     Memeluk c.      Mengucapkan ucapan yang jorok atau perbuatan yang jorok
Akibat bagi orang yang berjima’ sebelum Tahallul awal : 1)   Hajinya rusak 2)   Diwajibkan untuk menyempurnakan hajinya tahun tersebut 3)   Diwajibkan untuk berhaji tahun depan 4)   Diwajibkan untuk menyembelih seekor unta dan dibagikan untuk orang-orang miskin di Tanah Haram kota Mekah
Empat konsekuensi diatas diambil dari atsar yang shahih dari Abdullah Ibnu Umar, Abdullah Ibnu Abbas dan Abdullah Ibnu Amr, semoga Allah meridhai semuanya.
Adapun  apabila dilakukan jima’ tersebut setelah tahallul awal maka hajinya tidak rusak dan dia diwajibkan untuk menyempurnakan hajinya tahun tersebut dan tidak diwajibkan menyempurnakan haji tahun depan dan diharuskan membayar fidyah berupa kambing.
Dan ibadah Umroh jika terjadi jima’ sebelum sa’i atau thawaf maka : 1)   rusak umrohnya 2)   diharuskan menyempurnakan umrohnya yang rusak 3)   diharuskan untuk umroh lagi dari miqot umroh yang pertama 4)   diharuskan untuk menyembelih kambing untuk orang-orang yang fakir dan miskin di kota Mekah
Jika dilakukan jima’ setelah sa’i maka umrohnya tidak rusak dan diharuskan menyembelih seekor kambing dan dibagikan untuk orang-orang yang miskin di Tanah Haram Kota Mekkah.

HSI MAHAZI – 11 MIQOT

Miqot haji dan umroh :
1.    MIQOT TEMPAT = tempat-tempat dimana orang yang melewatinya dalam keadaan dalam keadaan ingin melakukan haji / umroh diharuskan berihram dari sana.

Abdullah bin Abbas rhadiyallahu anhuma berkata : “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menentukan Dzulhulaifah untuk penduduk Madinah, dan Juhfah untuk penduduk Syam, Qonun Manazil untuk penduduk Najed dan Yalamlam bagi penduduk Yaman. Tempat-tempat tersebut adalah bagi penduduknya dan orang-orang yang melewatinya dalam rangka ingin melakukan haji dan umroh, dan dia bukan penduduk setempat. Dan barangsiapa berada dibawah miqot, maka berihrom dari tempat dia berada sampai penduduk Mekkah ihrom dari Mekkah” HR  Bukhari dan Muslim.
Dalam Hadits Aisyah rhadiyallahu anha disebutkan “Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menentukan Dzaatu Irqin sebagai miqot bagi penduduk Iraq” shahih, HR Abu Dawud. Barangsiapa yang melewati miqot-miqot ini maka harus berihrom ketika melewati daerah yang sejajar dengan miqot-miqot ini, baik di darat, laut, maupun udara. 
Orang yang naik pesawat dan turun di Jedah dengan tujuan langsung haji atau umroh maka diharuskan ber-ihrom di pesawat  karena dia pasti melewati daerah yang sejajar dengan Miqot. Adapun orang yang turun di Jedah dengan tujuan Madinah terlebih dahulu maka tidak masalah dia mengakhirkan ihromnya sampai di Madinah nanti.
2.    MIQOT WAKTU

Miqot waktu untuk haji adalah bulan-bulan yang digunakan untuk melakukan ihrom haji yaitu Syawal, Dzulqodah dan 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah. Bulan Syawal diawali dari Maghrib malam hari raya Idul Fitri. Dan yang dimaksud dengan 10 hari yang pertama dari bulan Dzulhijjah adalah yang diakhiri dengan datangnya waktu subuh hari raya Idul Adha.  Barangsiapa yang melakukan ihrom haji pada waktu tersebut maka sah hajinya. Dan kalau ia melakukan ihrom haji sebelum Syawal atau setelah subuh tanggal 10 Dzulhijjah maka sah ihromnya dan diubah menjadi Umroh, dan tidak dianggap melakukan Ibadah Haji.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Haji itu di bulan-bulan yang diketahui. Maka barangsiapa yang mewajibkan dirinya untuk berhaji pada bulan-bulan tersebut maka tidak boleh dia melakukan rofats, kefasikan, dan berdebat ketika haji” Qs 2 : 197
Miqot waktu untuk ibadah Umroh adalah sepanjang tahun.

HSI MAHAZI – 10 Mustahabbat atau Sunnah-Sunnah Haji

Diantara sunah2 haji:   1.    MANDI SEBELUM NIAT. Shahih HR At Tirmidzi,berkata Ibnu Umar : sunnahnya seseorang mandi ketika ihrom. Atsar ini diriwayakan oleh Al Bazaar
2.    MEMBERSIHKAN BAGIAN TUBUH YANG BOLEH DIBERSIHKAN seperti memotong kuku, memendekkan kumis, mencabut rambut ketiak, mencukur rambut kemaluan, sebelum niat, spy ketika ihrom sudah tidak perlu lagi membersihkannya. Adapun jenggot tidak boleh dipotong atau dicukur habis : Hendaklah kalian memendekkan kumis dan membiarkan jenggot kalian, HR Muslim
3.    MEMAKAI MINYAK WANGI DIBADAN, dan bukan dibaju. Aisyah radhiyallahu angu mengatakan Dahulu aku mengoleskan minyak wangi ke Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ketika beliau akan ihram. HR Bukhori dan Muslim
4.    LELAKI MEMAKAI 2 KAIN PENUTUP BADAN. Izaar / kain penutup badan bagian bawah, dan Ridaa’ / bag atas. Disunnahkan keduanya berwarna putih dan boleh berwarna lain.  Rasulullah bersabda : Hendaklan salah seorang kalian berihrom dengan izaar dan ridaa’ dan 2 sandal. Shahih HR Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Albani rahimahullah. Adapun wanita maka memawai pakaian sesuai syariat dan menutup aurot seperti ketika diluar ihrom. Tapi tidak boleh wanita yang berihrom menggunakan kaos tangan dan niqob (penutup muka) Rasulullah bersabda wanita yang berihrom menggunakan niqab dan kaos tangan. Shahih, HR Abu Dawud. Watna pakaian wanta yang sedang ihrom adalah bebas yang penting sesuai syariat, dan tidak ada warna khusus seperti putih, hijau, dll
5.    MENGUCAPKAN LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIKA BIL HAJJ. Jabir Ibnu Abdillah rhadiyallahu anhuma berkata : Kami datang bersama Rasulullah dan kami berkata labbaik Allahumma Labbaika bil Hajj. HR al-Bukhori Ada diantara Ulama yang mengatakan  bahwa melafadzkan niat tidak disyariatkan kecuali ketika Haji dan Umroh, inilah yang difatwakan oleh syaikh Bin Baz rahimahullah dan syaikh Abdul Muhsin al Abbad hafidzahullah. Dan pendapat yang benar wallahu ta’ala a’lam.
Ucapan ini dinamalan TALBIYAH dan tidak dinamakan dengan niat. Niat adalah apa yang ada didalam hati seseorang.
6.    NIAT DIATAS KENDARAAN DAN MENGHADAP KE ARAH KIBLAT. Berkata Ibnu Umar : Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam ber-ihlal (melakukan niat) ketika beliau naik kendaraan dan kendaraan beliau dalam keadaan berdiri. Muttafaqun ‘alaih.
Dan Ibnu Umar dulu apabila shalat dzuhur di Dzul Hulaifah beliau meminta kendaraannya dan menaikinya dan apabila sudah diatasnya maka beliau menghadap kiblat dalam keadaan kendaraan tersebut berdiri dan beliau berihlal dan beliau mengabarkan bahwa Nabi dulu melakukannya. HR Bukhari

7.    MENGUCAPKAN SYARAT. Disunnahkan bagi orang yang takut apabila tidak bisa melaksanakan haji karena sakit dan lainnya untuk mengucapkan syarat setelah membaca Talbiyyah
Dalam HR Bukhari Muslim, Rasulullah berkata pada Tuba’ah bintu Az Zubair yang sedang sakit dan ingin melakukan haji: Berhajilah dan bersyaratlah, katakanlah : Ya Allah tempat tahallul ku dimana saja engkau menahanku.
Apabila seseorang yang mengucapkan syarat ini kemudian ia sakit  atau terhalangi sehingga ia tidak bisa menyempurnakan hajinya maka ia bisa bertahalul ditempatnya bertahan dan tidak ada kewajiban sedikitpun dan apapun.
8.    MENGUCAPKAN TALBIYAH SETELAH NIAT.
Tabiyah / ucapan labaik Allhumma Labbaik, Labbaik Ala syarikala kalabbaik. Membaca talbiyah ketika umroh dimulai semenjak niat sampai menjelang thawaf. Adapun membaca talbiyah ketika haji dimulai semenjak niat sampai menyelesaikan jumroh aqobah pada tanggal 10 Dzulhijah. Untuk laki-laki disunnahkan mengeraskan suaranya, adapun wanita melirihkan suaranya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda :  datang kepadaku Jibril kemudian berkata kepadaku : Wahai Muhammad perintahkanlah para sahabatmu untuk mengeraskan suara mereka dengan talbiyah. Shahih, HR An-Nasa’i.
Berkata at Tirmidzi  rahimahullah: Dan dibenci baginya (yaitu bagi wanita) untuk mengeraskan suara dengan talbiyah dan disunnahkan untuk membaca talbiyah ketika dalam perjalanan menuju Mekkah, bagi dalam keadaan berdiri, duduk, turun dari bus, naik bus, dll
9.    MENCIUM HAJAR ASWAD KETIKA THAWAF / MENGUSAPNYA DENGAN TANGAN / MEMBERIKAN ISYARAT
Barangsiapa yang melewati Hajar Aswad dalam thawafnya maka disunnahkan untuk mencium Hajar Aswad, atau kalau tidak mampu maka mengusapnya dengan tangan kanannya dan mencium tangannya, atau kalau tidak mampu maka ia memberikan isyrat dengan tangan kanannya
Didalam shahih Bukhari dan Muslim datang Umar Ibnu Khathab rhadiyallahu anhu ke arah Hajar Aswad kemudian menciumnya, dan beliau berkata : Sungguh aku mengetahui bahwa engkau adalah batu yang tidak memberikan mudharat dan tidak memberikan manfaat. Seandainya aku dahulu tidak melihat Rasulullah menciummu niscaya aku tidak akan menciummu. Dan didalam shhih alBukhari dari Al Zubair Ibnu Aroby beliau berkata seorang laki2 bertanya pada Ibnu Umar tentang mengusap Hajar Aswad maka Abdullah Ibnu Umar rhadiyallahu anhuma berkata Aku melihat Rasulullah dahulu mengusapnya dan menciumnya. Dari Nafi’ beliau berkata : Aku melihat Abdullah Ibn Umar mengusap Hajar Aswad dengan tangannya kemudia mencium tangannya, dan ia berkata : Aku tidak meninggalkan amalan ini semenjak aku melihat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam  melakukannya. HR Muslim. Dalam hadits Abi Tufail rhadiyallahu anhu beliau berkata aku melihat Rasulullah thawaf disekitar Baitullah dan beliau mengusap rukun Hajar Aswad dengan tongkat yang bersama beliau dan akhirnya beliau mencium tongkat tersebut. HR Muslim. Dalil bahwa Rasul memberi isyarat ke Hajar Aswad adalah hadits Ibnu Abbas, beliau berkta : Nabi melakukan  thawaf diatas unta beliau dan setiap beliau melewati hajar Aswad beliau memberi isyarat pada Hajar Aswad.  Dan apabila sampainya seseorang ke Hajar Aswad untuk menciumnya atau mengusapnya tidak bisa dilakukan kecuali dengan mengganggu orang lain maka hendaklah ia meninggalkan amalan ini dan melanjutkan thawafnya, karena mengusap Hajar Aswad adalah mustahab, adapun mengganggu manusia maka hukumnya HARAM.
Sebagian mengatakan apabila seseorang mengusap Hajar Aswad dan menciumnya maka ia mengatakan Bismillahi Allahu Akbar, dan apabila memberikan isyarat maka cukup mengatakan Allahu Akbar. Berkata Abdullah Ibn Abbas, Rasulullah melaksanakan thawaf diatas unta beliau, setiap beliau melewati rukun hajar aswad beliau memberi isyarat dengan sesuatu yang ada di sekitar beliau dan beliau bertakbir. HR bukhari. Telah shahih dari Abdullah bin Umar bahwa beliau menggabungkan Bismillah dan Allahu Akbar ketika mengusap Hajar Aswad. Atsar ini dikeluarkan oleh al Baihaqi dengan sanad yang shahih.
10   MENGUSAP RUKUN YAMANI. Disunnahkan mengusap rukun Yamani dengan tangannya setiap melewatinya apabila dimudahkan, dan tidak disyariatkan mencium rukun Yamani atau mencium tangan setelah mengusap rukun Yamani atau memberi isyarat.
Selain Rukun Hajar Aswad dan Rukun Yamani tidak disyariatkan untuk diusap. Berkata Abdullah Ibnu Umar rhadiyallahu anhuma : “Aku tidak melihat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengusap dari rumah Allah kecuali dari 2 rukun Yamani. Muttafaqun alaih.Yang dimaksud 2 rukun Yamani adalah Hajar Aswad dan Rukun Yamani.
11.AL IDHTHTIBAA’. Disunnahkan bagi laki-laki ketika thawaf umrah dan thawaf qudum bagi orang yang haji qiron dan ifrod untuk melakukan Ittibaa’ yaitu menjadikan kain atas dibawah ketiak kanan, dan meletakkan ujung kain atas diatas bahu kiri. Dari Abdullah Ibnu Abbas rhadiyallahu anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalamdan para Sahabatnya melakukan umroh dari Ju’ronah, mereka melakukan romman ketika thawaf dan menjadikan pakaian atas mereka dibawah ketiak dan melemparkannya diatas bahu kiri. HR Abu Dawud dengan isnad yang shahih.
Selain thawaf  Umroh dan Thowaf Qudum bagi orang yang Haji Qiran dan Haji Ifrod dan juga keadaan-keadaan yang lain maka tidak disunnahkan Ittibaa’
12.AR ROMMAN.  Disunnahkan bagi laki-laki sebagaimana dalam hadits diatas untuk melakukan Ar Roman pada 3 putaran thowaf yang pertama. Yang dimaksud dengan Ar Romman adalah lari kecil dengan mempercepat langkah dan memperpendek.  Dari Abdullah Ibn Umar rhadiyallahu anhuma bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam  jika thowaf dalam ibadah haji dan umroh yaitu thawaf ketika pertama masuk Mekkah maka beliau melakukan Romman pada 3 putaran dan berjalan biasa pada 4 putaran. HR al-Bukhari dan Muslim. 
Dan wanita tidak disunnahkan untuk melakukan Romman. Berkata Ibnu MUndzir rahimahullah “Dan mereka bersepakat bahwa wanita tidak melakukan romman ketika thawaf di Baitullah dan ketika Sa’i antara Shofa dan Marwah.” Kitab Al-Ijma halaman 61.
13.DZIKIR DAN DOA KETIKA THAWAF
Disunnahkan bagi orang yang sedang thawaf untuk berdzikir dan doa sesuai dengan yang dimudahkan, tidak ada dzikir dan doa yang khusus pada setiap putaran, dan sebaiknya seseorang berdzikir dan berdoa dengan dzikir dan doa yang datang dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam.
Ketika ada di Rukun Yamani dan Hajar Aswad maka disunnahkan membaca Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qiina adzabannaar. HR Imam Ahmad dalam musnadnya.
14.SHALAT SUNNAH THAWAF Disunnahkan shalat sunnah thawaf 2 rakaat setelah thawaf, dilakukan deibelakang maqM IBRAHIM., Rakaat pertama setelah membaca Al Fatihah = Al kafirun, rakaat kedua = Al Ikhlas sebagaimana hadits Jabir  Ibnu Abdillah al-Anshory diriwayatkan oleh Imam Muslim.  Allah berfirman “Dan jadikanlah sebagian dari Maqam Ibrahim tempat Shalat.” Qs 2 : 125
Berkata Abdullah Ibnu Umar : “Datang Nabi Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam kemudian beliau thawaf 7x dan shalat dibelakang maqam Ibrahim 2 rakaat kemudian keluar menuju Shafa. HR Bukhari Muslim
15.Apabila seseorang ingin mendekati bukit Shafa maka membaca firman Allah : INNA SHOFA WAL MARWATA MIN SYA’AIRILLAH (Sesungguhnya  Shofa dan Marwa adalah termasuk syiar-syiar Allah) Qs 2: 158. Kemudian dia mengatakan : Abda’u bima bada’Allahu bih (Aku memulai dengan apa yang Allah mulai)
16.Ketika berada di Shafa berusaha melihat Rumah Allah (menghadap ke Ka’bah) kemudian membaca dzikir yang dibaca oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam , yaitu : Allahu Akbar 3x Laa Ilaha ilalah wahdahu la syarikallah, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumiit wahuwa alaa kulli  syaiin qodir. Laa ilaha ilallahu wahdah, anjaza wa’dah, wa nashoro abdah wa hazamal ahzaba wahdah….kemudian berdoa sesuai yang diinginkan, kemudian megulangi kembali dzikir tadi, kemudia doa kembali, kemudian mengulangi kembali dzikir lagi, dan setelah itu tidak berdoa. Melakukan semua itu dengan mengangkat kedua tangan.  Sehingga seseorang apabila diatas shafa dia telah takbir 9 tahil 6 doa 2x
17.Berlari dengan kencang diantara 2 tanda berwarna hijau.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : Tidak melewati al-ab’thoh kecuali dalam keadaan lari kencang. Shahih HR An-Nasa’i. berlari diantara 2 tanda hijai hanya disyariatkan hanya untuk laki2
18.Melakukan diatas  bukit marwah apa yang sudah dia lakukan seperti diatas shafa sepeti mengahdap kibat, membca takbir, tahlil dan doa kecuali membaca ayat inna sfoha wal marwata min sya’airillah hanya disyariatkan ketika pertama kali menaiki bukit shafa
19.Disunnahkan ketika sai memperbanyak dzikir dan doa sebagaimana yang dia lakukan ketika thawaf
20.Melakukan Sa’i dalam keadaan bersuci, baik dari hadats kecil dan besar. Jika sa’i dalam keadaan tidak suci, maka sainya sah
21.SA’I DALAM KEADAAN SUCI
22.BERDZIKIR serta BERDOA DISAAT PERJALANAN ANTARA SHAFA DAN MARWAH
23.MELAKUKAN IHROM DI WAKTU DHUHA PADA TANGGAL 8 DZULHIJJAH.  Karena inilah yang dilakukan oleh Para Sahabat yang melakukan Haji Tamattu’ dan juga penduduk Mekkah yang haji bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam.
Beliau Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda dalam sebuah hadits Riwayat Bukhari dan Muslim : “Sehingga apabila datang hari Tarwiyyah maka hendaklah kalian berniat haji.”
24.BERMALAM DI MINA PADA HARI TARWIYYAH DAN MALAM TANGGAL ARAFAH DAN MALAM HARI ARAFAH sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. HR Muslim
25.MENINGGALKAN MINA PADA HARI ARAFAH SETELAH TERBIT MATAHARI sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. HR Muslim.
26.MENGUCAPKAN TAKBIR DAN TALBIYAH KETIKA MENUJU ARAFAH. Abdullah Ibnu Umar mengatakan :  “Kami pergi bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dari Mina menuju Arafah. Ada diantara kami yang mengucapkan talbiyah, dan ada diantara kami yang mengucapkan Tahlil.” HR Muslim.
27.MENGHADAP KEARAH KIBLAT DAN JABAL RAHMAH KETIKA WUKUF DI ARAFAH APABILA DIMUDAHKAN, sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam  daam Hadits Jabir yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Jika tidak dimudahkan maka cukup menghadap Kiblat.
28.TIDAK BERPUASA DI HARI ARAFAH BAGI ORANG YANG SEDANG HAJI.  Dalam Shahih Bukhari Muslim dari Ummu Fadl bintu Haarits bahwa Beberapa orang berselisih tentang puasanya Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Sebagian berkata beliau puasa, sedangkan sebagian lainnya mengatakan tidak puasa. Maka akupun mengutus kepada beliau segelas susu dan beliau dalam keadaan wukuf diatas kendaraan, dan beliau meminumnya.
Diantara hikmahnya agar kuat dalam melakukan doa dan dzikir pada hari tersebut.
29.MEMPERBANYAK MEMBACA TAHLIL, TALBIYAH, ISTIGHFAR, DZIKIR DAN JUGA DOA KETIKA WUKUF DI ARAFAH.
30.MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDOA DI ARAFAF. Berkata Usamah Ibnu Zaid rhadiyallahu anhuma  : Aku membonceng Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam di arafah maka beliau mengangkat keduan tangannya ketika berdoa.
31.Langsung istirahat setelah shalat maghrib dan isya di Musdalifah sebagaimana dilakukan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam.
32.Menyibukkan diri dengan dzikir dan doa setelah shalat subuh di Musdalifah sampai langit berwarna kuning sekali menjelang terbit matahari.
33.Meninggalkan Musdalifah ketika langit berwarna kuning sekali menjelang terbit matahari, 
HR Muslim : Jabir Ibnu Abdillah mengatakan “Maka beliau Shalallahu Alaihi Wassalam mendatangi Al Musdalifah, kemudian shalat disana maghrib dan isya dengan 1 adzan dan 2 iqomah, dan beliau tidak melakukan shalat diantara keduanya, kemudian beliau berbaring sampai datang waktu subuh, kemudian shalat subuh ketika sudah jelas bagi beliau waktu subuh dengan adzan dan iqomah, kemudian beliau mengendarai unta beliau – Qoswa – sampai datang ke Masy’aril Harom kemudian menghadap kiblat berdoa kepada Allah, mengucapkan takbir, mengucapkan tahlil mengesakan Allah, dan senantiasa beliau disana dalam keadaan berdiri sampai langit berwarna kuning sekali, kemudian beliau meninggalkan Musdalifah sebelum terbit matahari.
34.Berdoa dan mengangkat tangan setelah melempar jumroh Shugra dan Wustho. 
35.Mengucapkan takbir ketika melempar setiap kerikil. 
HR Bukhori, Ibnu Umar rhadiyallahu anhuma mengatakan “Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam apabila melempar jumroh yang paling dekat dengan Masjid Mina (maksudnya : Jumroh Sughro) beliau Shalallahu Alaihi Wassalam melemparnya dengan 7 kerikil. Mengucapkan takbir setiap melepar 1 kerikil, kemudian beliau maju kedepan dan berdiri menghadap kiblat seraya mengangkat kedua tangan beliau berdoa dan beliau memanjangkan berdiri disana, kemudian setelah itu beliau mendatangi jumroh yang kedua, melemparnya dengan 7 kerikil, mengucapkan takbir setiap melempar 1 kerikil. Kemudian beliau turun ke arah kiri yang paling dekat lembah kemudian beliau berdiri menghadap kiblat kemudian mengangkat tangan berdoa, kemudian mendatangi jumroh yang berada di Aqobah, melemparnya dengan 7 kerikil. Mengucap takbir setiap melempar 1 kerikil. Kemudian beliau meninggalkan jumroh Aqobah dan tidak berdiri disana.

HSI MAHAZI – 09 KEWAJIBAN HAJI

1.    NIAT DARI MIQAT
Miqat adalah tempat start memulai Ihrom. Seseorang yang ingin Haji dan Umrh tidak boleh melewati Miqot kecuali setelah berniat sebelumnya
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : Miqat2 tsb adalah untuk penduduknya dan untuk setiap orang selain penduduknya yang melewati dari orang2 yang ingin haji dan umroh. HR Bukhari dan Muslim

2.    AL HALQ
Artinya menggundul dengan pisau. Atau At-Taktsiiru yang artinya memendekkan rambut ketika akan halal dari Haji dan Umroh. Dalilnya adalah firman Allah : “Sungguh Allah akan membuktikan kepada Rasulnya tentang kebenaran mimpi. Sungguh kalian akan memasuki masjidil haram jika Allah menghendaki dalam keadaan aman dengan menggundul rambut kalian dan memendekkannya sedangkan kalian tidak merasa takut”. Qs Al Fath 48 : 27.
Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : Ya Allah ampunillah orang2 yang menggundul. Maka mereka berkata : Wahai rasulullah dan orang2 yang memendekkan rambutnya. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : Ya Allah ampunilah orang2 yang menggundul. Mereka kembali berkata : Wahai rasulullah, dan orang2 yang memendekkan rambutnya. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : Ya Allah, ampunilah orang2 yang menggundul, maka kembali mereka berkata : Wahai Rasulullah, dan orang2 yang memendekkan rambutnya. Kemudian akhirnya Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : Dan orang2 yang memendekkan rambutnya. HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra
Ayat diatas menunjukkan disyariatkannya menggundul dan memendekkan rambut ketika akan halal dari Haji dan Umroh

3.     Wukuf di Arafah sampai tenggelam matahari bagi orang yang wukuf dari siang hari.
Berkata Jabir rhadiyallahu anhu menyifati wukuf Nabi, maka senantiasa beliau wukuf sampai tenggelam matahari dan sampai hilang warna kuning sedikit sehingga tenggelam seluruh bulatan matahari (HR Muslim), dan kita diperintahkan mengikuti Nabi dalam manasik Haji
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda hendaklah kalian mengambil dariku manasik kalian, karena sesungguhnya aku tidak tahu mungkin aku tidak haji lagi setelah ini (HR Muslim)
Seandainya meninggalkan Arafah sebelum maghrib diperbolehkan, niscaya beliau sudah memberikan keringanan untuk orang2 yg lemah sebagaimana beliau memberi keringanan bagi mereka ketika meninggalkan Musdalifah menuju Mina pada akhir malam. Ketika beliau tidak memberikan keringanan menunjukkan bahwa wukuf di Arafah sampai tenggelam matahari adalah sebuah kewajiban, dan pendapat bhw wukuf di Arafah merupakan kewajiban haji dan org yg tdk wukuf sampai tenggelam matahari harus membayar dam adalah pendapat al Imam Hambali dan al Imam Ahmad, semoga Allah merahmati keduanya. 

Adapun Imam Syafi’i berpendapat bhw org yg tdk wukuf di Arafah sampai tenggelam matahari dan meninggalkan arafah sebelum terbenam matahari maka tidak terkena dam.

4.    BERMALAM DI MUSDALIFAH, berdasarkan Qs Al Baqarah 198.
Yg dimaksud al masy’aril harrom = muzdalifah. Dulu Nabi bermalam di Musdalifah sampai pagi dan beliau memberikan keringanan bagi orang2 yang lemah, para wanita dan anak2 untuk meninggalkan Musdalifah menuju Mina di akhir malam (HR Bukhari dan Muslim)
Keringanan bagi golongan 2 ini menunjukkan bhw bermalam di Musdalifah hukumnya wajib. Ini pendapat kebanyakan para ulama diantaranya al imam Asy-Syafi’i rahimahullah
Menurut pendapat al imam syafii dan al imam ahmad ibnu hambal – semoga Allah merahmati keduanya, orang yang datang sebelum pertengahan malam diwajibkan bermalam di musdalifah sampai pertengahan malam dan orang yg dtg setelah pertengahan malam maka seandainya dia berdiam sesaat di musdalifah maka itu sudah mencukupi.

5.    MELEMPAR JUMROH al-Aqobah pada hari an-Nahr, yaitu 10 Dzulhijjah baik sebelum zawwal (tergelincirnya matahari), atau masuknya shalat dzuhur, atau sesudahnya; serta melempar 3 jumroh : Suro, Wustho dan Kubro/Aqobah pada hari2 tasyrik setelah tergelincirnya matahari.
Dalil atas wajibnya melempar jumroh adalah hadits Ashim ibnu Adi rhadiyallahu anhu bahwa Rasulullah memberikan keringanan pada para gembala dalam bermalam. Mereka melempar pada hari Raya, dan 2 hari setelahnya yaitu tgl 11 dan 12 mrk kumpulkan pada salah satu diantara keduanya (shahih, HR an-Nasa’i). Penggembala = orang2 yang menggembala hewan2 yang akan dipotong di musim haji. Bermalam = bermalam di Mina. Beliau tetap mengharuskan para penggembala untuk melempar walau dijamak lemparan 2 hari.
Dalil bahwa melempar jumroh aqobah bisa sebelum atau setelah dzuhur : Hadits Jabir : Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam melempar jumroh pd hari raya ketika waktu dhuha, adapun setelah itu maka beliau melempar setelah tergelincir matahari (HR Muslim)
Dalam hadits yang lain : Disaat hari raya aku melempar setelah aku melewati waktu sore, maka Nabi menjawab tidak mengapa, shahih HR Bukhari. Dan dalil bahwa melempar pada tgl 11, 12, dan 13 wajib dilakukan setelah waktu dzuhur selain pada hadits Jabir adalah hadits Ibnu Umar r anhuma : Kami dulu menunggu waktu maka jika matahari tergelincir, kamipun melempar. HR Bukhari.


6.    BERMALAM DI MINA, pada hari2 tasyrik (tgl 11, 12 dan 13) 3 malam bagi yang mutaakhirin dan 2 malam bagi yang mutaajilin.
·      Muta’akhirin adalah orang2 yang menunda kepulangan dan meninggalkan Mina tanggal 13 Dzulhijjah setelah melempar jumroh Kubro, Wustho dan Aqobah. ·      Muta’ajilin adalah orang2 yang menyegerakan kepulangan dan meninggalkan Mina tgl 12 Dzhj setelah melempar jumroh pda waktunya
Dalil : Dan ingatlah Allah pada hari2 yang terhitung, barangsiapa yang menyegerakan pada 2 hari maka tidak ada dosa baginya, dan barangsiapa yang menunda maka tidak ada dosa baginya bagi siapa yang bertakwa. Qs 2:203
Dahulu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bermalam 3 malam di Mina dan meninggalkan Mina pd tanggal 13 Dzh setelah melempar 3 jumroh setelah tergelincirnya matahari.
Dan didalam hadits Ashim Ibnu Adi rhadiyallahu anhu Nabi memberikan keringanan pada orang2 yang bertugas menggembala untuk tidak bermalam di Mina, demikian pula memberikan keringanan bagi orang2 yang memberikan minum sebegaimana dalam Hadits Ibnu Umar rahiyallahu anhuma : Abbas Ibnu Abdil Muththolib meminta ijin kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam untuk bermalam di Mekkah pada malam2 Mina karena untuk menyediakan minum, yaitu menyediakan minum untuk jamaah haji. Makan Nabi pun mengijinkan. HR Bukhari dan Muslim
Adanya rukhsoh / keringanan bagi orang2 tertentu spt org2 yang memberi minum dan mengurus binatang menunjukkan bahwa bermalam di Mina adalah WAJIB
7.   THOWAF WADA
Wada artinya Perpisahan. Thowaf Wada adalah thowaf yang dilakukan oleh jamaah Haji menjelang safar untuk pulang dan akan berpisah dengan Baitullah
Berkata Abdullah ibnu Abbas : Thowaf wada disyariatkan krn dahulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalah thowaf wada ketika keluar dari kota Mekkah, dan berkata Abdullah Ibnu Abbas : Manusia diperintahkan spy amalan yang terakhir adalah dengan rumah Allah, tapi hal ini diringankan untuk wanita haid. Muttafaqun alaih Yang dimaksud amalan yang terakhir dengan rumah Allah adalah thowaf wada. Segi pendalilan ini : ·      Manusia diperintahkan maksudnya diperintah oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, dan perintah asalnya menunjukkan kewajiban ·      Keringanan bagi wanita haid (dan nifas) menunjukkan bhw hukum thawaf wada selain orang haid dan nifas adalah WAJIB

HSI MAHAZI – 08 RUKUN HAJI

11.    Niat Haji atau Ihrom Haji, yaitu bermaksudnya hati untuk masuk kedalam ibadah haji. Dinamakan ihrom karena apabila sudah niat maka diharamkan apa yang sebelumnya dihalalkan seperti memotong kuku, memotong rambut, memakai minyak wangi, dll
Dalil bahwa niat haji adalah rukun adalah sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam : “innamal a’malu bin niat.>> Sesungguhnya amalan-amalan adalah dengan niat”. HR Bukhari dan Muslim

Dan niat dalam ibadah haji sebagaimana ibadah-ibadah yang lain dilakukan dengan hati, dan bukan dengan lisan. Adapun ucapan labbaik allhumma hajjan ini dinamai dengan talbiyyah dan hukumnya sunnah.  Apabila seseorang niat didalam hati dan tidak mengucapkan talbiyyah maka sah hajinya dan orang yang melakukan amalan-amalan haji seperti thawaf, sa’i dan lain-lain kemudian tidak ada niat di dalam hatinya untuk melakukan ibadah haji maka tidak sah hajinya.
22.    WUKUF DI ARAFAH, dan Arafah adalah tempat yang memiliki batas-batas tertentu, dan wukuf di Arafah adalah rukun yang terbesar didalam ibadah haji. Apabila sampai tidak wukuf di Arafah maka tidak sah hajinya. Dalil dalam Al Quran Maka apabila bertolak dari Arafah didalam AlQuran adalah firman Allah Qs 2:198. Firman Allah yang artinya : “apabila kalian bertolak dari Arafah” menunjukkan bahwa mereka dari Arafah sebelumnya, yaitu untuk melakukan wukuf.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Al hajju Arofah >> Haji adalah wukuf di Arafah” Shahih, HR Imam Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai dan Ibnu Majjah.

Berkata Ibnu Mundzir didalam kitabnya Al Ijma al Ajma’u alla annal wukufa bi Arofah fardhun laa hajjan liman fatahul wukufu bihaa >> dan mereka bersepakat bahwa wukuf di Arafah adalah kewajiban. Tidak ada haji bagi yang tidak wukuf di Arafah”


33.    Thowaf ifadhoh/ thowaf ziaroh / thowaf haji. Yang dimaksud dengan thowaf adalah mengelilingi Ka’bah 7x dengan sifat2 tertentu : Thowaf ifadhoh dilakukan setelah wukuf di arofah dan mabit / bermalam di Musdalifah. Dalilnya adalah firman Allah “Dan hendaklan mereka thawaf dirumah yang kuno yaitu Ka’bah” Qs Al Hajj 29. 

Didalam hadits Aisyah Rhadiyallahu anha menceritakan “Kami haji bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dan kami telah melakukan thowaf ifadhoh pada hari Kurban yaitu tanggal 10 Dzulhijjah, maka Shofiyyah (salah seorang istri Nabi) haid dan beliau Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menginginkan seperti yang diinginkan seorang suami kepada istrinya. Maka aku berkata Wahai Rasulullah, sesungguhnya di haid. Nabi bersabda “: Apakah ia akan menghalangi kita ? (apakah dia akan menunda kepulangan kita karena harus menunggu shofiyah suci dan melakukan thowaf ifadhah). Aisyah menjawab : dia telah melakukan thowaf ifadhah pada hari Kurban. beliau Shalallahu Alaihi Wassalam berkata : Kalau demikian keluarlah kalian (maksudnya : keluarlah kalian meninggalkan kota Mekkah menuju Madinah). 

Berkata Ibnu Qudamah (madzhab Hambali), thowaf ifadhah adalah yang tidak sempurna haji seseorang apabila tidak dilakukan, kami tidak mengetahui perselisihan pendapat didalamnya
44.   SA’I yaitu melakukan perjalanan antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7x.
Dari Shofa ke Marwah dihitung 1x, dan sebaliknya. Allah berfirman : “Innal shoffa wal marwata min sya’airillah….Qs 2:158

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Hendaklah kalian sa’i karena sesungguhnya Allah telah mewajibkan sa’i atas kalian” HR Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani

Allah tidak akan menyempurnakan haji dan umroh seseorang yang tidak melakukan thowaf dan sa’i HR Bukhari dan Muslim

Mayoritas ulama diantaranya Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad berpendapat bahwa sai haji adalah rukun2 diantara rukun haji

HSI MAHAZI – 07 PEMBAGIAN AMALAN-AMALAN HAJI

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillah Wa shollatu wa sallamu alaa Rasulillah, wa alaa alihi wa ashabihi ajma’in
Setelah mengumpulkan dalil, para ulama menyimpulkan bahwa amalan-amalan haji yang cukup banyak, dilihat dari tingkat pentingnya dibagi menjadi 3 : 1.    Rukun2 haji 2.    Kewajiban2 haji 3.    Mustahabbah / sunnah2 haji
Rukun2 haji = amalan yang wajib dilakukan dan tidak bisa diganti dengan  sesuatu apapun sebanyak apapun (uang, hewan). Bila tidak dilakukan tidak sah hajinya 1.    Niat 2.    Wukuf di Arofah 3.    Thowah ifadhoh 4.    Sa’i haji
kewajiban-kewajiban Haji adalah amalan yang wajib dilakukan, jika tidak dilakukan sengaja/tidak maka ditebus dengan dam (dam secara bahasa = darah) , dengan cara menyembelih seekor kambing yang memenuhi syarat dan dagingnya dibagi2 ke orang2 fakir yang tinggal di tanah Mekkah.
Rasulullah bersabda : Dan barangsiapa yang lupa sesuatu dari kewajibannya atau meninggalkannya maka hendaknya ia menumpahkan darah. Shahih HR Imam Malik dalam Kitab al-Muwatho
Jumlah kewajiban : 1.    ihrom dari miqot 2.    mencukur habis atau memendekkan rambut 3.    wukuf di arafah sampai tinggal matahari bagi siapa yang wukuf dari siang hari 4.    bermalam di Musdalifah 5.    melempar jumroh al aqobah pada hari An-Nahr yaitu 10 Dzulhijjah baik dilakukan sebelum zawwal atau tergelincirnya matahari ataupun sesudahnya, serta melempar 3 jumrah : shugro, wustho dan kubro/aqobah pada hari2 tasyrik setelah tergelincirnya matahari 6.    bermalam di Mina pada malam2 hari tasyrik, 3 malam bagi orang yang mutaakhirin dan 2 malam bagi orang2 yang mutaajillin 7.    thowaf wada
Mustahabbah / sunnah haji adalah amalan2 yang dianjurkan untuk dilakukan spy mendapat pahala yang besar. Meninggalkannya tidak berdosa Diantaranya ·      mencium hajar aswad ·      mengusap rukun yamani ·      tinggal di Mina pada hari tarwiyah dan malam tanggal Arofah, dll