Diposkan pada hsi

HSI 9 – Kajian 20 – Amalan Hamba Ikhtiyariyah Menurut Ahlus Sunnah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين 
Halaqah yang Ke  Dua Puluh dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh  *Amalan Hamba / Ikhtiariyah Menurut Ahlus Sunnah”*. 

Amalan Hamba terbagi menjadi dua 
⑴ Amalan Hamba Iftiroriyyah yaitu Amalan hamba yang seorang hamba tidak bisa memilih seperti gerakan orang yang menggigil. 
⑵ Amalan hamba Ikhtiariyah yaitu amalan hamba yang seseorang bisa memilih. Seperti Amalan-amalan ketaatan & Amalan-amalan kemaksiatan. 

Ahlus Sunnah Wal Jamaah meyakini bahwa Allāh yang Menciptakan amalan mereka bukan mereka sendiri yang menciptakan amalan tersebut, sebagaimana keyakinan orang Qodariyyah. 

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

[QS Ash-Shaffat 96]

“Dan Allāh yang Menciptakan kalian & apa yang kalian kerjakan”

Dan Rasulullãh ﷺ bersabda:
 ▫️ إنَّ اللهَ  صانِعُ كُلِّ صانِعٍ و صَنعَتِهِ 

[HR Al Hakim, Hasan didalam Al Mustadrok] 

“Sesungguhnya Allāh Yang Menciptakan setiap pelaku & apa yang dia lakukan”

Dan Ahlus Sunnah meyakini bahwa para hamba merekalah pelaku dari apa yang mereka amalkan, Allāh yang Menciptakan keimanan & kekafiran dan seorang hamba dialah yang beriman dan dialah yang kafir. Allāh menciptakan ketaatan & kemaksiatan dan hamba dialah yang taat & dialah yg bermaksiat. 
Allāh menciptakan shalat & puasa dan hamba lah yang melakukan shalat & dialah yang melakukan puasa, bukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang menjadi pelaku itu semua, sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Al Jabriyyah. 
Allāh berfirman:
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

[QS As-Sajdah 17

“maka sebuah jiwa tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupaya hal-hal yang menyejukan mata mereka sebagai balasan atas apa yang mereka amalkan”

Di dalam ayat ini Allāh mengabarkan bahwa amal yang dilakukan para hamba adalah sebab mereka mendapatkan kenikmatan di Surga, menunjukkan bahwa pelaku amalan tersebut adalah hamba dan bukan Allāh. 
Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan para hamba kudrah atau kemampuan sebagaimana firman Allāh”
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ.. 

[QS Al-Baqarah 286]

“Allāh tidak membebani sebuah jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya”

Dan Allāh juga memberikan mereka Iradah /keinginan. Allāh-lah yang Menciptakan Iradah pada diri mereka & Iradah mereka dibawah Iradah Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 
Allāh berfirman:
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

[QS At-Takwir 28,29]

“bagi siapa diantara kalian yang ingin istiqomah dan tidaklah kalian menghendaki istiqomah kecuali dengan kehendak Allāh Rabb semesta alam”. 

Ini semua menunjukkan tentang ucapan batil nya Al Jabriyyah bahwa hamba dipaksa melakukan ketaatan atau kemaksiatan tidak ada pilihan bagi mereka, mereka tidak memiliki qudrah & iradah keadaan mereka seperti gerakan pohon yang tertiup angin mengikuti kemana arah angin tersebut. 

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya. 
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
_*Abdullāh Roy*_

 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada hsi

HSI 0 – Kajian 19 – Makna Ucapan Rasulullah


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين 
Halaqah yang Ke Sembilan belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh  *Makna Ucapan Rasulullãh ﷺ “Kejelekan Tidak Kepadamu”*. 

Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang menciptakan segala sesuatu yang bermanfaat maupun yang memudhoroti, yang baik maupun yang buruk. Adapun sabda Nabi ﷺ didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim

والشر ليس إليك 

” Dan kejelekan tidak di sandarkan kepadamu”

Maka hadits ini tidak menunjukkan bahwa kejelekan tidak dicipta oleh Allāh. Para ulama telah menjelaskan bahwa makna hadits ini :
⑴ Ini adalah bentuk adab kita kepada Allāh ajja wajalla. Tidak boleh kita berkata “wahai Yang Menciptakan kejelekan”  /  “Wahai Pencipta Babi”. Meskipun Allāh Subhānahu wa Ta’āla Dia-lah Yang Menciptakan itu semua. 
⑵ Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak menciptakan secara murni kejelekan. Kejelekan yang Allāh ciptakan pasti ada hikmahnya, dilihat dari sisi hikmah inilah kejelekan yang menimpa manusia tersebut adalah baik dipandangan Allāh ajja wajalla, maka tidak boleh disandarkan kejelekan kepada Allāh ajja wajalla. 
Misalnya Allāh mentakdirkan rezeki ada diantara manusia yang diluaskan rezekinya & ada yg disempitkan, disempitkan dengan hikmah & di luaskan dengan hikmah. 
Diantara hikmah di sempitkan rezeki seseorang adalah supaya dia tidak berlebihan di dunia supaya dia banyak berdoa & mendekatkan diri kepada Allāh & diantara hikmahnya adalah supaya terjadi saling membutuhkan antara orang yang kaya & orang yang miskin. 
⑶ Ada diantara ulama yang mengatakan bahwa makna ucapan Nabi ﷺ “kejelekan tidak di sandarkan kepadamu”  maksudnya tidak boleh bertaqarrub kepada Allāh dengan kejelekan. 
⑷ Ada diantara Ulama yang mengatakan bahwa maknanya kejelekan tidak akan sampai kepada Allāh, tetapi kebaikan itulah yang akan sampai kepada Allāh. Penyandaran kejelekan didalam dalil tidak dilakukan secara khusus kepada Allāh tetapi terkadang dengan Penyandaran umum , seperti firman Allāh ajja wajalla :
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ… 

[QS Az-Zumar 62]

“Allāh Yang Menciptakan segala sesuatu”
Dan terkadang disandarkan kejelekan tersebut kepada penyebabnya, sebagaimana firman Allāh :
مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

[QS Al-Falaq 2]

“Dari kejelekan apa yang dia ciptakan”. 
Terkadang Allāh Subhānahu wa Ta’āla menggunakan kalimat pasif, sebagaimana firman Allāh:
وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

[QS Al-Jinn 10]

“Dan sesungguhnya kami (bangsa Jin) tidak mengetahui apakah kejelekan yang diinginkan terhadap penduduk bumi ataukah Rabb mereka menginginkan bagi penduduk bumi kebaikan”

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya. 
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
_*Abdullāh Roy*_

 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada hsi

HSI 9 – Kajian 18 – Beralasan dengan Takdir

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين 
Halaqah yang Ke Delapan belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh  *Kapan seseorang boleh beralasan dengan Taqdir*. 

Takdir dijadikan Hujjah & alasan didalam musibah & bencana dan tidak boleh dijadikan Hujjah / alasan didalam dosa &  kemaksiatan. 
Ketika musibah seseorang mengatakan :
“ini adalah takdir Allāh”

“ini adalah dengan ijin Allāh”

Atau mengatakan “apa yang Allāh kehendaki pasti terjadi” 
Maka hal ini akan membawa ketenangan & kebaikan pada dirinya. 
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
(مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ)

[QS At-Taghabun 11]

“Tidaklah menimpa sebuah musibah kecuali dengan izin Allāh & barangsiapa yang beriman kepada Allāh maka Allāh akan memberikan petunjuk kepada dirinya & Allāh Maha Mengetahui segala sesuatu” 

Dan Nabi ﷺ bersabda:

 وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ : لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَ كَذَا , وَلَكِنْ قُلْ : قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ , فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

[HR Muslim] 

” Dan apabila engkau tertimpa musibah maka janganlah engkau mengatakan seandainya aku melakukan demikian niscaya akan demikian & demikian akan tetapi ucapkanlah ini adalah takdir Allāh dan apa yang Allāh kehendaki akan Dia lakukan karena sesungguhnya ucapan seandainya ini membuka amalan syaitan”

Namun ketika berbuat maksiat dan di nasehati maka tidak boleh seseorang berhujjah dengan Takdir atas maksiat yang dia lakukan kemudian dia mengatakan “saya berbuat maksiat karena takdir Allāh” / “kalau Allāh menghendaki niscaya saya tidak berbuat maksiat” dll. 

Orang-orang Musyrikin ketika dahulu didakwahi oleh para Nabi untuk Bertauhid mereka menolak & mereka berhujjah dengan Takdir atas kesyirikan dan kemaksiatan yang mereka lakukan. 

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

[QS An-Nahl 35]

“Dan berkata orang-orang musyrikin _seandainya Allāh menghendaki niscaya kami tidak menyembah selain Allāh sedikit pun kami & bapak² kami & niscaya kami tidak mengharamkan sedikit pun_ demikianlah orang-orang sebelum mereka maka tidak ada kewajiban atas rasul kecuali menyampaikan dengan jelas”

Adapun ucapan Nabi Adam alaihi salam yang disebutkan didalam hadits 

▫️  احتجَّ آدمُ وموسى ، فقالَ لَهُ موسَى : أنتَ آدمُ الَّذي أخرجتكَ خطيئتُكَ منَ الجنَّةِ ؟ فقالَ لَهُ آدمُ : أنتَ موسى الَّذي اصطفاكَ اللَّهُ برسالتِه وبكلامِه ، ثمَّ ، تَلومُني على أمرٍ قُدِّرَ عليَّ قبلَ أن أُخلَقَ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : فحجَّ آدمُ موسَى   
[HR Al Bukhâri & Muslim] 

“Adam & Musa saling berhujjah, maka berkata Musa _engkau adalah Adam yg dosa mu telah mengeluarkanmu dari surga_ berkata Adam _engkau adalah Musa yang Allāh telah memilih mu sebagai seorang Rasul dan memilih mu sebagai manusia yang pernah diajak bicara oleh Allāh, kemudian engkau mencela ku atas sebuah perkara yang telah di takdirkan untuk ku sebelum aku diciptakan_  maka Rasulullãh ﷺ bersabda _Adam telah mengalahkan Musa dalam berhujjah_

Beliau ﷺ mengucapkannya dua kali. 
Maka perlu diketahui bahwa Nabi Adam alaihi salam didalam hadits ini tidak berhujjah dengan Takdir atas dosa yang beliau lakukan akan tetapi beliau berhujjah dengan Takdir atas musibah yang menimpa beliau & keturunan beliau, yaitu musibah keluarnya beliau dari surga yang efek nya juga dirasakan oleh keturunan beliau alaihi salam. 

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya. 
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
_*Abdullāh Roy*_

Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada hsi

HSI 9 – Kajian 17 – Peran Doa dalam Takdir

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين 
Halaqah yang Ke Tujuh belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh  *Peran Doa Didalam Beriman Dengan Takdir Allāh*. 

Takdir telah tertulis, akan tetapi bukan berarti seseorang meninggalkan berdoa kepada Allāh berdoa adalah bagian dari mengambil sebab yang diperintahkan untuk mendapatkan kebaikan Dunia maupun kebaikan Akhirat. 

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ 

[QS Ghafir 60]

“Dan berkata Rabb kalian, hendaklah kalian berdoa kepada Ku niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian”
Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ… 

[QS Al-Baqarah 186]

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang diriKu, maka sesungguhnya Aku adalah dekat mengabulkan doanya orang yang berdoa kepada Ku ”

Dan Doa adalah Ibadah sebagaimana sabda Nabi ﷺ :
الدعاء هو العبادة 

[HR Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasai & Ibn Majjah] 

” Doa itu adalah Ibadah”

Dan Rasulullãh ﷺ bersabda:
وﻻ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﻻ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ
[HR Al Hakim] 

“Dan tidak menolak Al Qadar kecuali Doa ”
Dan bukanlah yang dimaksud dengan doa bisa menolak takdir, bahwa doa bisa melawan takdir Allāh yang sudah Allāh tulis akan tetapi makna Al Qadar disini adalah Al Muqoddar yaitu sesuatu yang di Takdir kan artinya Doa bisa menjadi sebab berubahnya keadaan yang ditakdirkan oleh Allāh menjadi keadaan lain yang juga ditakdirkan oleh Allāh. 
Contoh seseorang ditakdirkan sakit kemudian dia berdoa kepada Allāh meminta kesembuhan kemudian Allāh mengabulkan doa nya & menakdirkan kesembuhan bagi orang tersebut. 
Dan doa yang dipanjatkan oleh seseorang kepada Allāh adalah bagian dari takdir Allāh. Lalu bagaimana dikatakan bahwa doa bisa melawan takdir Allāh ajja wajalla. 

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya. 
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
_*Abdullāh Roy*_

 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada hsi

HSI 9 – Kajian 16 – Aliran Sesat dalam Masalah Iradah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين 
Halaqah yang Ke Enam belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh  *Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Iradah Syar’iyyah & Iradah Kauniah*. 

Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Iradah Syar’iyyah & Iradah Kauniah adalah 
Al Qodariah 

Al Jabriyah 
Mereka tidak membedakan antara Iradah Syar’iyyah & Iradah Kauniah, mereka menganggap bahwa semua yang terjadi adalah  dicintai oleh Allāh.

 Adapun Al Qodariah mereka menganggap bahwa setiap yang diinginkan oleh Allāh pasti dicintai oleh Allāh dan yg tidak Allāh cintai & ridhoi berarti terjadi tidak dengan keinginan Allāh dan tidak diciptakan oleh Allāh dan diantara yg tidak dicintai oleh Allāh adalah 
Kekafiran & kemaksiatan 
Dengan demikian kekafiran & kemaksiatan tidak diciptakan oleh Allāh karena Allāh tidak mencintainya, kemudian akhirnya mereka menyimpulkan bahwa seluruh amalan makhluk semuanya bukan dengan Iradah & penciptaan Allāh tetapi dengan Iradah makhluk tersebut tanpa campur tangan Iradah Allāh & penciptaan Allāh. 

Dan adapun Al Jabriyah maka mereka mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah dengan Iradah & penciptaan Allāh dan setiap yang diinginkan oleh Allāh dan diciptakan pasti dicintai oleh Allāh & kekufuran serta kemaksiatan diciptakan oleh Allāh berarti kekufuran & kemaksiatan dicintai oleh Allāh ajja wajalla. 

Dengan demikian kita mengetahui bahwa orang-orang Al Qodariah tersesat karena meyakini terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan oleh Allāh didalam kerajaan Allāh dan mereka benar ketika mengatakan kalau Allāh tidak mencintai kekafiran & kemaksiatan & kita mengetahui bahwa orang-orang Al Jabriyah tersesat karena meyakini bahwa kekufuran & kemaksiatan di cintai oleh Allāh & mereka benar ketika meyakini bahwa Allāh yang mentakdirkan itu semua. 

Adapun Ahlus Sunnah maka Allāh memberikan petunjuk kepada mereka, mereka meyakini bahwa Allāh mentakdirkan segala sesuatu termasuk kekafiran & kemaksiatan, Dan Allāh tidak mencintai kekafiran & kemaksiatan. 
Dari keterangan diatas diketahui dua subhat Al Qodariah & Al Jabriyah, satu yaitu mereka tidak membedakan antara dua Iradah Allāh & meyakini bahwa setiap yang diciptakan oleh Allāh berarti dicintai oleh Allāh, padahal tidak semua yang diciptakan oleh Allāh dicintai oleh Allāh ajja wajalla. 

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya. 
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
_*Abdullāh Roy*_

 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada hsi

HSI 9 – Kajian 15 – Contoh Keadaan Iradah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين 
Halaqah yang Ke Limabelas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh  *Beberapa Contoh Keadaan Yang Berkaitan Dengan Iradah Syar’iyyah & Iradah Kauniah*. 

⑴ Keimanan Abu Bakar 
Keimanan Abu Bakar berkaitan dengannya dua Iradah sekaligus (Iradah Syar’iyyah & Iradah Kauniah). Berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah karena Allāh mencintai & menginginkan keimanan Abu Bakar & berkaitan dengannya Iradah Kauniah karena Allāh mentakdirkan, mewujudkan & menciptakan keimanan Abu Bakar 
⑵ Keimanan Abu Jahal 
Keimanan Abu Jahal berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah saja & tidak berkaitan dengannya Iradah Kauniah. Berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah karena Allāh mencintai & menginginkan keimanan Abu Jahal & tidak berkaitan dengannya Iradah Kauniah karena Allāh tidak mentakdirkan, mewujudkan & menciptakan keimanan Abu Jahal. 

⑶ Kemaksiatan orang yang berbuat maksiat 
Kemaksiatan orang yang berbuat maksiat berkaitan dengannya Iradah Kauniah saja & tidak berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah, berkaitan dengannya Iradah Kauniah karena Allāh mentakdirkan, mewujudkan & menciptakan kemaksiatan tersebut & tidak berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah karena secara syariat Allāh tidak mencintai & menginginkan kemaksiatan tersebut. 

⑷ Kekufuran Orang Yang Beriman Yang Tidak Terjadi 
Hal ini tidak berkaitan dengannya dua Iradah, tidak berkaitan dengannya Iradah Syar’iyyah karena secara syariat Allāh tidak mencintai & tidak menginginkan kekufuran orang yang beriman & tidak berkaitan dengannya Iradah Kauniah karena Allāh tidak mentakdirkan kekufuran orang yang beriman dan tidak mewujudkan nya serta tidak menciptakannya. 

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya. 
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
_*Abdullāh Roy*_

 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada hsi

HSI 9 – Kajian 14 – Perbedaan Antara Iradah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين 
Halaqah yang Ke Empatbelas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh  *Perbedaan Antara Iradah Kauniyah Qadariah & Iradah Syar’iyyah Dinniyah*. 

Perbedaan Antara Iradah Kauniyah Qadariah & Iradah Syar’iyyah Dinniyah diantaranya:
⑴ Iradah Kauniyah melajimkan terjadinya apa yang diinginkan oleh Allāh, misalnya 
Allāh menginginkan menciptakan Matahari maka tercipta lah Matahari, sedangkan Iradah Syar’iyyah maka tidak melajimkan terjadinya apa yang Allāh inginkan, seperti secara syariat Allāh menginginkan ke Islām an Abu Lahab tetapi hal tersebut tidak terjadi. 
⑵ Bahwa Iradah Kauniyah tidak melajimkan apa yang Allāh inginkan tersebut dicintai oleh Allāh akan tetapi terkadang kejadiannya ada yg dicintai oleh Allāh, misal:

Keimanan orang yang beriman 
Dan terkadang ada yang kejadiannya tidak dicintai oleh Allāh seperti kemaksiatan. 

Adapun Iradah Syar’iyyah maka kejadiannya pasti sesuatu yang dicintai oleh Allāh seperti keimanan orang yang beriman, ketaatan orang yang taat dll. 
⑶ Iradah Kauniyah tidak melajimkan bahwa itu diperintah oleh Allāh, sedangkan Iradah Syar’iyyah melajimkan bahwa hal tersebut diperintahkan oleh Allāh artinya setiap yang diinginkan oleh Allāh secara syariat berarti dia diperintahkan 

Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya. 
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
_*Abdullāh Roy*_

 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*