Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 20

Pembatal Ke-Islāman yang ketiga.

*
_Beliau berkata rahimahullah:_
*الثَّالِثُ*: مَنْ لَمْ يُكَفِّرِ المُشْرِكِينَ أَوْ شَكَّ فِي كُفْرِهِمْ، أَوْ صَحَّحَ مَذْهَبَهُم،ْكَفَرَ إِجْمَاعًا ؛؛
Yang Ketiga kata beliau :

“siapa yang _tidak_ mengkafirkan orang-orang musyrik, atau dia _ragu_ akan kekafiran mereka, atau _membenarkan_ mazhab mereka, *dia kafir berdasarkan ijma Para Ulama’*”.
Baik Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafei’i, Imam Ahmad & juga ulama-ulama yang lain bahwasanya ini adalah sebuah *kekufuran.*
*Seorang Muslim* _beriman kepada Allāh & RasulNya, percaya kepada Allāh & RasulNya membenarkan kabar yang datang dari Allāh & RasulNya_, oleh karena itu dia dinamakan sebagai seorang yang *mukmin*, seorang yang percaya _apa yang datang dari Allāh & RasulNya_ *dia benarkan.* 
Tidak boleh ada satu kabar pun /satu berita pun yang datang dari Allāh & RasulNya kemudian di dustakan oleh seorang Muslim. _Barangsiapa yang mendustakan apa yang Allāh kabarkan atau mendustakan apa yang datang dari Rasulullãh ﷺ_ maka dia adalah *kufur dari agama Islām* & diantara kabar yang datang dari Allāh & RasulNya adalah kekufuran kekafiran orang-orang kafir. 
Di dalam Al-Qur’an Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengkafirkan orang-orang musyrikin & mengkafirkan orang-orang ahlul kitab baik Yahudi maupun Nashrani & Allāh mengkafirkan orang-orang munafik, kewajiban kita adalah mengkafirkan mereka, meyakini bahwasanya mereka adalah kufur karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengabarkan kepada kita & Rasulullãh ﷺ mengabarkan kepada kita bahwasanya mereka adalah orang-orang yang kafir. 
_Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:_
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

[QS Al-Bayyinah 6] 
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ 

_“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari kalangan Ahlul kitab & Musyrikin_
فِي نَارِ جَهَنَّمَ 

_Mereka didalam *Neraka Jahanam*_
خَالِدِينَ فِيهَا ۚ 

_Kekal didalamnya_ 
أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

_dan mereka adalah makhluk yang paling buruk disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla”._
Allāh mengatakan disini
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ
Sesungguhnya *orang-orang yang kafir*
Siapa mereka?

Dari kalangan Ahlul Kitāb : Maksudnya adalah _orang-orang Yahudi & Nashrani._ Yang mereka telah diturunkan Taurat & juga Injil mereka dinamakan *Ahlul Kitāb*, karena diturunkan kepada mereka Taurat & juga Injil. 
Allāh mengatakan
 كَفَرُوا 
Mereka adalah *orang-orang yang kafir*. 
*Tidak boleh* seorang Muslim mengatakan bahwasanya Ahlul Kitāb mereka adalah sama dengan kita. 
Mereka adalah muslim, mereka sama dengan kita kemudian dia tidak mengkafirkan orang Yahudi & juga Nashrani. Allāh sendiri mengatakan bahwasanya mereka adalah _orang yang kafir_ 
مَنْ لم يكفر المشركين 
Demikian pula orang-orang Musyrik 
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ
_Yaitu orang-orang yang menyekutukan Allāh, menyembah kepada Allāh & juga menyembah kepada makhluk, menyembah Allāh & juga menyembah berhala, atau menyembah Nabi, atau menyembah Malaikat atau menyembah Patung atau menyembah Jin, ini adalah orang-orang Musyrikin. Allāh telah menghukumi mereka sebagai orang-orang yang kafir_ 
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ
*Tidak boleh* seorang muslim mengatakan bahwasanya mereka bukan orang yang kafir, kita kafirkan mereka sebagaimana Allāh & RasulNya mengabarkan demikian. Dan orang-orang Ahlul Kitāb, didalam ayat yang lain Allāh mengatakan / memberitakan tentang kekufuran mereka 

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ 

[QS Al-Ma’idah 73]

_“dan sungguh telah Kafir orang yang mengatakan bahwasanya Allāh adalah satu diantara tiga Tuhan”._

Ini adalah orang-orang Nashrani, mengatakan bahwasanya disana ada Tuhan bapak, ada Tuhan
Anak, ada Tuhan Ibu 
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ 
*_“Sungguh telah Kafir orang yang mengatakan bahwasanya Allāh adalah satu diantara tiga Tuhan”._*
Dan di dalam ayat yang lain Allāh mengatakan:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۚ 

[Surat Al-Ma’idah 17] 

_“dan sungguh telah kafir orang yang mengatakan Al-Masih bahwasanya Allāh, dia adalah Isa Ibn Maryam”._

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Iklan
Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 19

Kenapa kita tidak kembali kepada Al-Qur’an & juga Hadits untuk mendapatkan syafaat di hari kiamat, untuk mendapatkan kedekatan kepada Allāh.

*
Untuk mendapatkan _syafaat_ di hari kiamat modalnya satu yaitu *mentauhidkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, seseorang apabila meng-Esakan Allāh didalam beribadah tidak menyekutukan Allāh sedikitpun maka orang yang seperti ini yang kelak mendapatkan syafaat di hari kiamat.*
_Sebagaimana dalam hadits Rasulullãh ﷺ bersabda:_

لِكُلِّ نَبِىٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِىٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّى اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِى شَفَاعَةً لأُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِىَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِى لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا
_“setiap Nabi memiliki doa yang mustajab & masing-masing dari Nabi tersebut telah menyegerakan doa nya di dunia & sesungguhnya aku (Rasulullãh) menyimpan doa ku untuk hari kiamat sebagai syafaat bagi umatku (kemudian beliau mengatakan) maka syafaat ku tersebut akan diterima akan diberikan kepada siapa?_

مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِى لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

_Kepada umatku yang meninggal dunia & dia dalam keadaan tidak menyekutukan Allāh sedikitpun”._
*Mereka lah orang-orang yang akan mendapatkan syafaat.*
Dalam hadits yang lain beliau mengatakan, _ketika ditanya oleh Abu Hurairah_
يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ
_“ya Rasulullãh siapa yang paling gembira & paling berhak mendapatkan syafaat mu”._
*

Siapakah mereka?.

*
_Beliau mengatakan_
  مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ 
_“orang yang mengucapkan Laa ilaahaa illallaah  ikhlas dari hatinya”. [HR Bukhari, no.99]._
Maksudnya adalah *mentauhidkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.*
_Ini_ adalah modal utama untuk mendapatkan *syafaat di hari kiamat*. 
*Maka itu masing-masing mempersiapkan diri & untuk mendapatkan kedekatan kepada Allāh*, _caranya sudah diterangkan didalam Al-Qur’an dan juga hadits_, yaitu *dengan cara bertakarub kepada Allāh dengan amal sholeh*. Orang-orang sholeh tersebut /para Nabi tersebut / para Malaikat, bagaimana mereka bisa deket dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla? 
*Yaitu dengan amal sholeh mereka.*
_Kalau kita ingin dekat sebagaimana mereka dekat dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla,_ MAKA kita mengambil cara mereka yaitu *beriman & juga beramal sholeh.*
*

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman didalam hadits Qudsi :

*
مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ
_“hamba-Ku tidak bertaqarrub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai dari pada apa yang sudah Aku wajibkan atasnya”._

 _(HR. Bukhâri)._
*Qurba* _ketaatan ibadah yang paling Allāh cintai, yang paling mendekatkan diri kita kepada Allāh adalah kewajiban-kewajiban._
_Apa yang Allāh wajibkan jika kita amalkan_ *maka akan mendekatkan diri kepada Allâh*, bahkan _ini adalah yang paling mendekatkan diri kita kepada Allāh,_
✓ *Shalat lima waktu*

✓ *Berpuasa di bulan ramadhan*

✓ *Zakat yang wajib*

✓ *Haji yang wajib*

✓ *Nafkah yang wajib*
_Ini adalah amalan-amalan yang wajib, ini adalah yang paling mendekatkan diri kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla,_

 وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، 
*“dan senantiasa hambaKu bertaqarrub kepadaKu dengan sesuatu yang nafilah (yang dianjurkan) sampai Aku mencintainya”.*
_*Menunjukkan*_ bahwasanya _selain_ dengan *kewajiban* kita bertaqarrub kepada Allāh dengan *sesuatu yang dianjurkan & di sunnah kan*. Ini adalah _cara bertaqarrub supaya kita dekat dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla._
Amalan orang yang shaleh para nabi adalah untuk dirinya, mendekatkan diri mereka kepada Allāh. Adapun kita kalau kita ingin dekat kepada Allāh *maka kita juga harus beriman & juga beramal shaleh.*

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 18

_Diantara mereka ada yang beralasan:_

Kita ini adalah seorang hamba, sementara Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah seorang Al-Kholik. Kita di dunia ketika (bertemu) ingin bertemu dengan seorang Presiden / seorang kepala negara, kita tidak bisa langsung bertemu dengan Presiden tersebut, tidak bisa menyampaikan permintaan kita secara langsung disana ada Menteri, disana ada Ajudan & disana ada pembantu-pembantu, sulit untuk seseorang untuk sampai kesana kecuali dengan melalui perantara-perantara tersebut. Kemudian dia mengatakan demikian pula kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Kita perlu wasithah /kita perlu perantara yang menyampaikan hajat kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
_Ini adalah alasan sebagian & ini adalah alasan yang sangat-sangat lemah, kenapa demikian?_ 
⇒ *Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla lain dengan makhluk, Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah As Sami’ (Maha Mendengar), Al Bashir (Maha Melihat), Al Qodir (Maha Mampu melakukan sesuatu), seandainya manusia semuanya & juga Jin berada dalam satu tempat masing-masing berdoa kepada Allāh dengan bahasanya dengan hajat nya, niscaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla bisa mendengar semuanya & bisa menunaikan hajat mereka semuanya*, Allāh Subhānahu wa Ta’āla 
 *«  عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ »*
_*Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu.*_ Adapun _makhluk_ maka *dia adalah lemah tidak bisa dia mendengar beberapa orang berbicara di depannya dalam satu waktu, apalagi menunaikan hajatnya dalam satu waktu dia perlu pembantu, dia perlu ajudan atau menteri apalagi yang diurus jutaan manusia.*
_Apabila kita mengatakan:_
“kita dalam beribadah kepada Allāh perlu wasithoh/perlu perantara”
Berarti _seakan-akan_ kita menyamakan antara Allāh dengan makhluk & ini adalah *bahaya yang besar*. _Menyamakan Allāh dengan makhluk adalah bahaya yang besar._
{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ} 
*_“Tidak ada yang serupa dengan Allāh & Dia adalah Maha Mendengar & juga Maha Melihat”._*
Apabila didalam beribadah, dia menjadikan washitoh  menjadikan perantara antara dia dengan Allāh dengan alasan seperti ini _maka seakan-akan dia telah menyamakan antara Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan makhluk & ini adalah *bahaya yang besar.*_ 
*Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah Maha Mendengar, Maha Melihat*. Oleh karena itu Allāh menyuruh kita *berdoa kepadaNya langsung tanpa adanya perantara* 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ 

[QS Ghafir 60]

_“dan Rabb kalian telah berkata berdoalah kalian kepada Ku_

أَسْتَجِبْ لَكُمْ 

_niscaya Aku akan mengabulkan doa kalian”._

_Allāh tidak mengatakan:_

“berdoalah kalian kepada Ku dengan perantara dengan washitoh dengan washilah”. 
_*Allāh mengatakan:*_
  ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ 
_“berdoalah kalian kepada Ku niscaya Aku akan mengabulkan”._

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

[QS Al-Baqarah 186]

_“apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang diriKu_

فَإِنِّي قَرِيبٌ

_Maka beritahukanlah kepada mereka sesungguhnya Aku adalah dekat_

أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ 

_Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila berdoa kepadaKu”._
Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan kepada kita untuk berdoa *tanpa adanya washitoh.*

Dan diantara mereka beralasan bahwasanya kita adalah berdosa banyak maksiat, apabila kita berdoa nanti tidak dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla & tidak diampuni dosa kita…

*Kita katakan*
⇒ _Selama kita masih mau berdoa kepada Allāh & masih mengharap kepada Allāh maka itu adalah sebab kita mendapatkan ampunan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla._
_Selama seseorang masih mau berdoa mengangkat tangan kepada Allāh & masih mengharap kepada Allāh maka itu adalah sebab dia diampuni dosanya sebagaimana didalam hadits Qudsi_
*Allāh Subhānahu wa Ta’āla berkata:*
يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَو
ْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، 
_Di dalam hadits Qudsi Allāh berkata :_

*“Wahai anak Adam selama engkau masih*

دَعَوْتَنِيْ

*Berdakwah/berdoa kepada Ku*

وَرَجَوْتَنِيْ

*Dan engkau masih mengharap kepada Ku*

غَفَرْتُ لَك

*Maka niscaya Aku akan mengampuni dosamu*

عَلَى مَا كَانَ مِنكَ وَلَا أُبَالِيْ ، 

*Apapun dosa yang kau lakukan & Aku tidak akan peduli”*
Menunjukkan kepada kita bahwasanya *Allāh akan mengampuni dosa kita selama kita masih mau berdoa kepada Nya & masih mengharap kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.* 
Jadi caranya *bukan* justru kita menjadikan disana  washitoh perantara antara kita dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam ibadah. 
*Ini adalah alasan yang tidak dibenarkan* 

◎ Demikian pula mereka beralasan dengan alasan-alasan yang lain, yang semuanya adalah _alasan-alasan yang lemah_ & seseorang untuk mendapatkan syafaat di hari kiamat *sudah dijelaskan caranya oleh Allāh & RasulNya & untuk dekat kepada Allāh / menjadikan dekat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga sudah diterangkan oleh Allāh & juga RasulNya.* 
_Oleh karena itu_ *jangan sampai* kita mencari cara yang *tidak diterangkan* oleh Allāh & RasulNya, bahkan menjadikan cara orang-orang musyrikin menjadikan cara mereka untuk mendapatkan syafaat & juga kedekatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 17

Demikian pula para shahabat radiallahu anhum, _mereka membedakan antara ketika Rasulullãh ﷺ *masih hidup* bersama mereka & setelah Rasulullãh ﷺ *meninggal dunia.*_

_Di zaman_ *Umar bin khotob radiallahu anhu* terjadi kemarau panjang & kemarau yang sangat dahsyat lama tidak turun hujan sehingga tanaman rusak hewan² banyak yang meninggal dunia bahkan karena sangat parahnya keadaan saat itu banyak terjadi pencurian, orang tidak memiliki makanan dirumah, tidak memiliki rezeki di rumah akhirnya terpaksa dia mencuri, karena saking banyaknya pencurian sampai Umar bin khotob radiallahu anhu saat itu memaafkan orang yang mencuri, *tidak memotong* tangannya. 
_Kemudian_ beliau radiallahu anhu mengumpulkan _para shahabat & para penduduk Madinah_ mengadakan *shalat istisqo* meminta kepada Allāh hujan mengumpulkan mereka melakukan shalat istisqo kemudian _beliau berkata kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla:_

اَللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا إذا أجدبنا تَوَسَّلنَا إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ  فَتَسْقِيَنَا 
_“Ya Allāh, dahulu kami ketika kami mendapatkan kemarau yaitu dimasa Rasulullãh ﷺ, kami dahulu *bertawashul* kepada nabiMu kemudian engkau memberikan hujan kepada kami”._

Bagaimana *bertawashul* mereka *kepada Rasulullãh ﷺ*, _diterangkan didalam hadits yang lain_ dimana sebagian shahabat meminta kepada Rasulullãh ﷺ supaya berdoa kepada Allāh. *Tawashulnya adalah dengan meminta kepada beliau supaya berdoa*,.

Sebagaimana dalam hadits seorang badui Arab yang masuk kedalam masjid & Rasulullãh ﷺ dalam keadaan berkhutbah, kemudian orang badui Arab ini berkata kepada Rasulullãh ﷺ (berkata kepada beliau) supaya beliau ﷺ berdoa kepada Allāh dengan hujan, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengabulkan.
_Kemudian Umar bin khotob mengatakan_
 ، وإنا نتوسل إليك بعم نبينا فاسقنا ،
_“kemudian sekarang ya Allāh, kami bertawashul dengan *paman NabiMu*, maka hendaklah Engkau memberikan hujan kepada kami”._
Saat itu *masih hidup Abbas bin Abdul Muthalib* yaitu pamannya Rasulullãh ﷺ , _Umar bin khotob mengatakan:_
وإنا نتوسل إليك بعم نبيك
_“dan kami sekarang ya Allāh, *bertawashul* kepadaMu dengan paman NabiMu (yaitu Abbas bin Abdul Muthalib”._
*

Bagaimana tawashul beliau dengan Abbas bin Abdul Muthalib?

*
Diterangkan didalam hadits yang lain
قُمْ يا عَبَّاس فد علنا  _“Wahai Abbas berdirilah engkau, maka hendaklah engkau mendoakan untuk kami”._
Ini adalah *tawashulnya* Umar bin khotob dengan Abbas, maksudnya adalah dengan *doa beliau*
قُمْ يا عَبَّاس فد علنا 
_“berdirilah ya Abbas dan doakanlah untuk kami”._
_Tawashulnya beliau adalah dengan doa orang yang shaleh yang masih hidup & beliau radiallahu anhu (Umar bin khotob) dalam keadaan demikian parahnya yaitu kemarau panjang tidak datang ke kuburan Rasulullãh ﷺ dan mengatakan:_
“ya Rasulullãh, doakan lah untuk kami karena engkau adalah orang yang paling afdhol /orang yang paling utama”.
Beliau radiallahu anhu tidak datang kepada Rasulullãh ﷺ, *tidak datang* kepada kuburan beliau demikian pula para shahabat radiallahu anhum, _karena para shahabat radiallahu anhum memahami perbedaan keadaan ketika Rasulullãh ﷺ masih hidup & setelah beliau meninggal dunia, padahal saat itu keadaan sangat parah & tentunya orang dalam keadaan sangat genting, sangat parah mencari sebab mencari cara yang kira² paling manjur untuk keluar dari permasalahan tersebut._
Tapi beliau memilih meminta doa dari Abbas yang masih hidup akan tetapi & beliau tidak meminta doa dari Rasulullãh ﷺ. 
Inilah *pemahaman para shahabat radiallahu anhum*. _Maka bagaimana seseorang di zaman sekarang datang ke kuburan beliau Rasulullãh ﷺ meminta *doa* dari beliau atau meminta *syafaat* dari beliau  ﷺ._ 
Ini adalah keterangan dari Rasulullãh ﷺ dan juga para shahabat yang menunjukkan

perbedaan antara orang yang shaleh yang masih hidup dengan orang yang shaleh yang meninggal dunia.

*Jadi alasan bahwasanya mereka hidup mereka adalah hidup didalam kuburan mereka mendengar ucapan
 kita maka ini adalah alasan yang tidak benar*. 

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 16

“`Demikian pula Allāh mengabarkan dengan lisan  nabiNya bahwasanya para Nabi & Rasul“`
  أحياء في قبورهم يصلون 
*Para nabi dan rasul* mereka hidup di dalam kuburan mereka dalam keadaan  *« يصلون »* _*dalam keadaan shalat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.*_
*Para Nabi & Rasul* _hidup di alam Barzah,_ *akan tetapi* kehidupan mereka berbeda dengan kehidupan kita di dunia, *kehidupan yang lebih sempurna dari pada kehidupan para syuhada dari pada kehidupan manusia yang lain.* 
*Sekali lagi* _kehidupan mereka lain dengan kehidupan kita._ Mereka *tidak mendengar & tidak melihat apa yang terjadi di sini,* _tidak mengharuskan bahwasanya orang yang hidup di alam yang lain dia mendengar apa yang terjadi dengan di alam yang lain._
Dia hidup & kita hidup di sini tetapi dia hidup di alam yang lain (di _alam barzah_) sedangkan kita di _alam dunia_ & tidak ada keharusan dia mendengar apa yang kita lakukan di sini. “`Sebagaimana kita disini sama-sama dialam, kita hidup & orang yang di mekkah juga hidup akan tetapi tidak ada keharusan mereka mendengar apa yang kita ucapkan sekarang disini, padahal mereka hidup & sama-sama di alam dunia, bagaimana yang hidup di alam yang lain. Demikian pula seorang bayi yang ada di dalam perut ibunya, dia dalam keadaan hidup tetapi dia berada di alam yang lain, di alam rahim & tidak ada keharusan meskipun dia hidup mendengar apa yang kita ucapkan yaitu orang yang sudah lahir didunia. Sama-sama hidup tetapi tidak ada keharusan saling mendengar satu dengan yang lain, demikian pula para Nabi dan rasul orang-orang yang shaleh, mereka hidup di alam kuburnya akan tetapi tidak ada keharusan mereka mendengar apa yang kita ucapkan.“`
إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ

[QS Fatir 14]
_“kalau kalian meminta kepada mereka (berdoa kepada mereka) niscaya mereka tidak mendengar apa yang kalian ucapkan”._
*Ini adalah kabar dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.*
Kabar dari Allāh bahwasanya mereka *tidak* mendengar apa yang kita ucapkan. 
 وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ 
_“seandainya mereka mendengar sekalipun *« مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ »*  niscaya mereka tidak akan bisa meng ijabahi /mengabulkan doa seseorang”._
_Seandainya_ mereka bisa mendengar *tidak bisa meng ijabahi*, lalu *“`untuk apa“`* seseorang berdoa kepada mereka, _seandainya mereka mendengar_ pun *tidak bisa mereka mengabulkan.* Jadi mereka hidup di alam Barzah tidak mengharuskan mereka mendengar apa yang kita ucapkan. 
_Beda antara orang yang shaleh dalam keadaan hidup bersama kita di dunia dengan orang yang shaleh yang sudah meninggal dunia. Apabila orang yang shaleh tersebut didunia hidup bersama kita, berada di dekat kita, mendengar ucapan kita boleh kita meminta doa darinya namun apabila sudah meninggal dunia *maka tidak halal /tidak boleh kita meminta kepada orang shaleh tersebut*, meskipun hanya meminta doa._
“`Rasulullãh ﷺ membedakan antara beliau dalam keadaan hidup & beliau dalam keadaan meninggal dunia. Dalam keadaan hidup beliau bisa mendoakan tapi ketika beliau sudah meninggal dunia maka beliau tidak bisa mendoakan.“`
_Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhâri di dalam kitabul mardho, Aisyah radiallahu anha ketika beliau sakit kepala dan mengatakan_
وَارَأْسَـاه
Kalau dalam bahasa Indonesia kurang lebih _“aduh sakit kepalaku”_ demikian. 
_Beliau mengatakan_ *« وَارَأْسَـاه »*
Kemudian Rasulullãh ﷺ mendengar ucapan Aisyah dan dia merasakan sakit dikepala nya 
_*Rasulullãh ﷺ bersabda :*_
ذاك لو كان وأنا حي فأستغفر لك وأدعو لك
_“Wahai Aisyah seandainya itu terjadi (yaitu) seandainya engkau sakit & sakitmu ini menjadikan engkau meninggal dunia( menjadi sebab engkau meninggal dunia sebelum aku), seandainya itu terjadi *« وأنا حي »* dan aku dalam keadaan masih hidup *« فأستغفر لك وأدعو لك »* niscaya aku akan memohonkan ampun untukmu dan niscaya aku akan mendoakan kebaikan untukmu”_
Ini adalah ucapan Rasulullãh ﷺ dimana beliau membedakan antara
beliau dalam keadaan hidup & beliau dalam keadaan meninggal dunia. Seandainya beliau masih hidup niscaya  *bisa* mendoakan, tapi kalau beliau sudah meninggal dunia maka beliau *tidak bisa* mendoakan & tidak bisa memohonkan ampun untuk orang lain bahkan kepada istrinya sendiri tidak bisa. *Ini adalah hiburan kepada Aisyah* 
_“selama aku masih hidup, niscaya aku akan mendoakan kebaikan untuk mu”._

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada hsi

HSI Pembatal Keislaman 15

══════❁﷽❁══════
_Ada diantara saudara kita yang membolehkan *bertawasul* dengan cara meminta kepada orang yang shaleh yang sudah meninggal, berdoa kepada mereka, meminta syafaat kepada mereka, dengan alasan² diantaranya_
① *Yang pertama*
_Bahwasanya_ orang-orang yang shaleh tersebut mereka *dalam keadaan hidup*, _apabila hidup_ maka *dia mendengar*, _apabila dia mendengar_ maka kita *boleh* meminta doa dari mereka. Sebagaimana seseorang *“`ketika hidupnya (orang yang shaleh tersebut hidup)“`* maka boleh kita meminta doa dari orang yang shaleh tersebut. 
_Kita katakan_

1. *Benar orang-orang yang shaleh & juga para Nabi dalam keadaan hidup dialam kubur mereka,* _sebagaimana manusia yang lain, mereka juga dalam keadaan hidup  dialam kubur mereka._ *Karena manusia* apabila meninggal dunia kemudian di kuburkan akan ada disana *azab kubur & akan ada disana nikmat kubur*. Ada diantara manusia yang hidup di alam kubur dalam keadaan di _azab_ seperti *orang-orang munafik, orang-orang kafir, orang-orang musyrikin,* _demikian pula_ *sebagian orang-orang yang beriman yang mereka melakukan dosa diazab karena dosanya dialam kubur, diazab dalam keadaan hidup.*
Demikian pula disana ada *nikmat kubur para Nabi, para Rasul, orang-orang yang meninggal sabilillah, orang-orang yang shaleh, orang-orang yang beriman mendapatkan kenikmatan dialam kubur & mereka dalam keadaan hidup tetapi kehidupan mereka kehidupan yang lain dengan kehidupan kita di dunia. Mereka hidup tetapi di alam yang lain yang dinamakan dengan alam barzah atau alam kubur. Ada diantara mereka yang hidup dalam keadaan baik mendapatkan kenikmatan & ada diantara mereka yang hidup dalam keadaan tersiksa mendapatkan azab kubur.*
_Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:_
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ فَرِحِينَ بِمَا آَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

[QS Al-imron 169-170]
_Allāh mengabarkan tentang orang-orang yang syuhada (yang syahid fisabilillah)_

_“janganlah engkau menyangka bahwasanya orang-orang yang meninggal yang terbunuh fisabilillah mereka adalah – أَمْوَاتًا – meninggal dunia_
بَلْ أَحْيَاءٌ

_*Akan tetapi mereka dalam keadaan hidup*_
 عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
_Disisi Rabb mereka, mereka mendapatkan rezeki ”._
*“`Allāh mengabarkan di dalam ayat ini bahwasanya orang-orang yang terbunuh fisabilillah, mereka dalam keadaan hidup.“`* 
Maksudnya adalah _hidup dengan kehidupan di alam Barzah, kehidupan di alam kubur, bukan kehidupan seperti kita_
عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
_“Di sisi Rabb mereka, mereka hidup & juga mendapatkan rezeki, mendapatkan kenikmatan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla”._
 فَرِحِينَ

_“Mereka dalam keadaan bergembira”._
 بِمَا آَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
_“Dengan apa yang Allāh berikan kepada mereka berupaya karunia”._
وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ
_“Dan mereka memberikan kabar gembira kepada saudara-saudara mereka yang belum mendapatkan syahadah fisabilillah”._
 أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
_“Supaya mereka jangan takut & jangan mereka bersedih”._
Demikianlah Allāh menggambarkan kehidupan *orang-orang syuhada,* mereka _mendapatkan rezeki di alam kubur bahkan mereka berkeinginan, mereka memberikan kabar gembira kepada saudara² mereka yang belum mendapatkan syahadah fisabilillah supaya mereka tidak bersedih & jangan mereka takut._
Dan ini yang dimaksud dengan kehidupan *Barzakiyyah*, _*kehidupan di alam Barzah yang berbeda dengan kehidupan kita.*_ 

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_

Diposkan pada hsi

HSI Pembatal Keislaman 14

══════❁﷽❁══════
*“`Dalil yang kedua“`*

② _Firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla_
 ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

[QS Az-Zumar 3]
_“dan orang-orang yang menjadikan sekutu bagi Allāh._
*“`apa yang mereka katakan?“`*
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ 
_dan orang-orang yang menjadikan sekutu / tandingan-tandingan bagi Allāh yang mereka namakan *syufaat,* mereka mengatakan_
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

_*tidaklah* kami menyembah kepada mereka /menyerahkan ibadah kepada mereka berdoa kepada mereka_ 

 إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ 
_Supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allāh ”._
Kami adalah orang jauh dari Allāh, kami adalah orang yang banyak berbuat maksiat, banyak melakukan dosa, banyak lalai kepada Allāh, sedangkan orang-orang yang shaleh tersebut mereka adalah memiliki *derajat yang tinggi disisi Allāh.*

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ
_“Tidaklah kami beribadah kepada mereka, berdoa kepada mereka, meminta syafaat kepada mereka kecuali supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”._
Ini adalah *tujuan* orang-orang musyrikin, _ingin dekat kepada Allāh dengan cara berdoa kepada orang-orang yang shaleh._
*“`Kemudian Allāh membantah & mengatakan:“`*
 إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ 
_*“sesungguhnya Allāh akan menghukumi diantara mereka”.*_
Yaitu antara *Rasulullãh ﷺ dan orang-orang musyrikin tersebut,* siapa yang benar diantara mereka, apakah *Rasulullãh ﷺ yang mengajak kepada tauhid & memperingatkan kepada mereka dari kesyirikan* ataukah yang benar adalah _orang-orang musyrikin tersebut yang mereka berdoa & beribadah kepada orang-orang yang shaleh dengan maksud mendekatkan diri mereka kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla._ 
إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ 
_*“sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan menghukumi diantara mereka di dalam apa yang perselisihkan”.*_
إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
_“sesungguhnya Allāh tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang_
كاذب كفاف 
*Orang yang berdusta & dia kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”.*
Ini menunjukkan bahwasanya _apa yang diucapkan oleh orang-orang musyrikin tersebut_ yang pertama ini adalah *kedustaan,* _karena Allāh mengatakan_
إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ 
*“Allāh tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang dusta”.*
Menunjukkan bahwasanya ucapan mereka 
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ
Adalah ucapan yang *“`tidak benar.“`*
_Tidak benar bahwasanya orang-orang shaleh tersebut mendekatkan diri mereka (orang-orang yang menyembahNya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla)_ 
*Allāh katakan ini adalah kedustaan,* kedustaan atas nama Allāh & Allāh lebih tahu tentang hakikat. 
Kemudian Allāh mensifati sebagai *- كفار  -* menunjukkan bahwasanya perbuatan ini adalah termasuk *kekufuran,* bahkan _kekufuran yang sangat._ *Karena Allāh mengatakan – كفار – dan orang-orang Arab membedakan antara kaffar dengan kafir, kafir artinya adalah orang yang kafir, tapi kalau sudah mengatakan kaffar berarti orang yang sangat kafir.*
إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّار
_“Allāh tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang dusta dan dia sangat kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”._
Menunjukkan bahwasanya cara seperti ini adalah cara yang *tidak dibenarkan* secara syariat *tidak diajarkan* oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, *tidak diajarkan* Rasulullãh ﷺ, demikian pula ini adalah _dien ini adalah agama orang-orang musyrikin yang diperangi Rasulullãh ﷺ._

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di d
alam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

═══════ ❁ ❁ ═══════