Diposkan pada Uncategorized

HSI MAHAZI – 12 Larangan-Larangan dalam Ihrom

Telah berlalu bahwa Niat adalah termasuk rukun haji. Seseorang apabila sudah ihrom atau niat masuk didalam ibadah umroh atau haji maka diharamkan atasnya beberapa hal yang sebelumnya dihalalkan, yang dikenal dengan larangan-larangan ketika ihrom. Jumlahnya ada 9 :
1.     Mengambil rambut dari tubuh 2.     Memotong kuku 3.     Memakai minyak wangi 4.     Menutup kepala dengan sesuatu yang menempel 5.     Memakai pakaian yang membentuk badan 6.     Membunuh hewan buruan 7.     Melakukan pernikahan 8.     Bersenang-senang dengan istri dengan melakukan jima’ 9.     Bersenang-senang dengan istri dengan selain jima’, baik dengan dengan ucapan atau dengan perbuatan seperti memeluk, mencium dll

1.     MENGAMBIL RAMBUT, BAIK DARI KEPALA, KUMIS, KETIAK, KEMALUAN, DLL Dalil : Firman Allah Azza wa Jalla “Dan janganlah kalian mencukur kepala kalian sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya” Qs 2 : 196
2.     MEMOTONG KUKU. Berkata Ibnu Mundzir  rahimahullah “Dan mereka bersepakat bahwa seorang yang muhrim dilarang untuk mengambil kukunya”
3.     MEMAKAI MINYAK WANGI Dilarang seorang muhrim memakai minyak wangi, baik didalam badannya maupun didalam pakaiannya. Yang demikian berdasarkan hadits Abdullah Ibnu Umar tentang pakaian-pakaian yang dilarang dipakai oleh seorang muhrim, dan didalam hadits tersebut Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Dan janganlah kalian memakai pakaian-pakaian yang terkena za’faron atau warsh” HR Bukhari dan Muslim.
Za’faron dan Warsh adalah nama minyak wangi.

Dan didalam hadits Ya’la Ibnu Umaiyah bahwa seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam di Ju’ronah dan dia memakai jubah yang terkena minyak wangi, maka dia berkata “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang ihram untuk umroh dengan memakai jubah yang sudah terkena minyak wangi?” Maka Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjawab “Adapun minyak wangi yang ada pada badanmu maka cucilah 3x sedangkan jubah maka lepaskanlah kemudian lakukanlah didalam umrohmu apa yang engkau lakukan didalam hajimu”. HR Bukhari dan Muslim

Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda ketika ada seorang laki-laki yang meninggal dalam keadaan ihrom “Hendaklah kalian memandikan laki-laki tersebut dengan air dan daun bidara dan kafanilah dia dengan 2 kainnya dan janganlah kalian menyentuhkan ia dengan minyak wangi dan jangan menutup kepalanya, sesungguhnya ia akan dibangkitkan di akhirat dalam keadaan bertalbiyah”  HR Bukhari dan Muslim

4.     MENUTUP KEPALA DAN WAJAH DENGAN SESUATU YANG MENEMPEL.
Yang demikian berdasarkan hadits Ibnu Umar rhadoyallahu anhuma ketiak ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tentang pakaian yang dipakai seorang Muhrim, maka Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam berkata “Dia tidak memakai gamis dan tidak memakai sorban” HR al-Bukhari dan Muslim. Didalam hadits ini beliau melarang untuk memakai sorban, masuk didalamnya setiap yang menutupi kepala seperti peci, topi, kopiah dll.

Didalam hadits Ibnu Abbas rhadiyallahu anhuma, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berkata kepada Sahabat yang mengurus seorang laki-laki yang meninggal ketika ihrom : “Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara dan kafanilah dengan 2 kainnya yaitu kain ihrom dan jangan tutupi kepala dan wajahnya karena kelak ia akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah”. HR Muslim.
Beliau melarang untuk ditutupi kepala wdan wajah karena dia meninggal dalam keadaan ihrom, adapun menutupi kepala dengan sesuatu yang tidak menempel seperti berteduh dibawah payung, atap mobil, kain, kemah, maka yang demikian tidak masalah karena Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam  berteduh dibawah kain ketika melempar Jumroh Aqobah sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah.
5.     MEMAKAI PAKAIAN YANG MEMBENTUK BADAN
Bagi laki-laki yang sedang ihrom dilarang  memakai pakaian yang membentuk badan, baik seluruh badannya, atau sebagian badannya. Membentuk seluruh badan seperti memakai gamis, dan membentuk sebagian badan seperti celana panjang, sepatu boot, kaos kaki, kaos, dll.

Yang demikian berdasarkan hadits Ibnu Umar ketika ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tentang pakaian yang dipakai seorang yang muhrim, maka Nabi berkata “Dia tidak memakai gamis, sorban, celana panjang, baronis, sepatu boot, kecuali jika seseorang  tidak menemukan 2 sandal maka hendaklah ia memakai sepatu boot dan memotongnya dibawah mata kaki” HR Bukhari  dan Muslim.

Tidak masalah seorang muhrim memakai sabuk, kacamata, jam, cincin, dan sandal yang berjahit maupun tidak berjahit.

Adapun wanita maka memakai pakaian syar’ie yang biasa dia pakai dan dilarang memakai kaos tangan dan niqob.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Dan seorang wanita yang ihrom tidak memakai niqob dan tidak memakai  2 kaos tangan” HR Bukhari dan Muslim.
Yang dimaksud dengan niqob adalah kain cadar, tetapi kalau melewati laki-laki asing maka ia menutup wajah dan tangannya dengan kain kerudungnya sebagaimana ucapan Aisyah rhadiyallahu anha “Dahulu rombongan melewati kami dan kami bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dalam keadaan ihrom. Maka apabila rombongan tersebut mendekati kami, salah seorang wanita diantara kami menjulurkan jilbabnya diatas wajahnya, dan apabila mereka sudah lewat, kamipun membuka wajah-wajah kami” HR Abu Dawud, dan sanadnya lemah tetapi ada syahid yang shahih dikelauarkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatho : Dari Fathimah Ibnu Mundzir beliau berkata “Kami dahulu menutupi wajah-wajah kami dengan kerudung sedang kami dalam keadaan ihrom bersama Asma binti Abi Bakar”


6.     MEMBUNUH HEWAN BURUAN DARAT / MENOLONG DALAM MEMBUNUHNYA / MENUNJUKKANNYA. Dalil : Ø  Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian membunuh hewan buruan, sedangkan kalian dalam keadaan ihram (Al Maidah 95) Ø  Dan diharamkan atas kalian memburu hewan buruan darat selama kalian ihrom (Al Maidah 96) Ø  HR Bukhari dan Muslim : Abu Qotadah rhadiyallahu anhu sedang safar bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dan para Sahabat dalam keadaan para Sahabat sedang ihrom dan Abu Qotadah tidak ihrom. Mereka melihat seekor keledai liar,  maka  Abu Qotadah membunuhnya dan mereka memakannya. Kemudian mereka bertanya “Apakah kita boleh memakan daging hewan buruan sedangkan kita dalam keadaan ihrom ?”. Maka dibawalah sisa daging kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam kemudian Nabi pun Shalallahu Alaihi Wassalam berkata “Adakah diantara kalian yang menyuruh Abu Qotadah, atau memberikan isyarat kepadanya ?” Mereka berkata “Tidak” Maka Nabi pun Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Makanlah daging yang masih tersisa”.
Dan balasan bagi orang yang membunuh buruan darat secara sengaja berdasakan ayat 95 Surat Al Maidah : a.     Menyembelih hewan ternak yang semisal, disembelih di tanah Haram di Kota Mekkah dan tidak boleh memakannya sedikitpun, atau b.     Membeli makanan seharga hewan ternak tersebut dan setiap orang miskin diberikan setengah sha’ yaitu kurang lebih 1,5kg beras, atau c.      Berpuasa dengan jumlah hari sebanyak jumlah orang miskin
7.     MENGADAKAN AKAD NIKAH, BAIK SEBAGAI SUAMI ATAU WALI dan MELAMAR Dalil : Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Seorang yang muhrim tidak boleh menikah dan tidak boleh dinikahkan dan tidak boleh melamar. HR Muslim
8.     BERSENANG-SENANG DENGAN ISTRI DENGAN CARA BERJIMA’ DAN

9.     BERSENANG-SENANG DENGAN ISTRI DENGAN SELAINNYA BAIK DENGAN UCAPAN DAN PERBUATAN SEPERTI MEMELUK, MENCIUM, DLL
Dalil : Haji dilakukan pada bulan-bulan yang sudah diketahui, maka barangsiapa mewajibkan dirinya untuk melakukan ibadah haji pada bulan-bulan tersebut maka janganlah dia melakukan rofats dan kefasikan, dan berdebat ketika dalam keadaan haji. Qs 2:197
Masuk dalam makna rofats : a.     Berjima’ dengan kemaluan b.     Memeluk c.      Mengucapkan ucapan yang jorok atau perbuatan yang jorok
Akibat bagi orang yang berjima’ sebelum Tahallul awal : 1)   Hajinya rusak 2)   Diwajibkan untuk menyempurnakan hajinya tahun tersebut 3)   Diwajibkan untuk berhaji tahun depan 4)   Diwajibkan untuk menyembelih seekor unta dan dibagikan untuk orang-orang miskin di Tanah Haram kota Mekah
Empat konsekuensi diatas diambil dari atsar yang shahih dari Abdullah Ibnu Umar, Abdullah Ibnu Abbas dan Abdullah Ibnu Amr, semoga Allah meridhai semuanya.
Adapun  apabila dilakukan jima’ tersebut setelah tahallul awal maka hajinya tidak rusak dan dia diwajibkan untuk menyempurnakan hajinya tahun tersebut dan tidak diwajibkan menyempurnakan haji tahun depan dan diharuskan membayar fidyah berupa kambing.
Dan ibadah Umroh jika terjadi jima’ sebelum sa’i atau thawaf maka : 1)   rusak umrohnya 2)   diharuskan menyempurnakan umrohnya yang rusak 3)   diharuskan untuk umroh lagi dari miqot umroh yang pertama 4)   diharuskan untuk menyembelih kambing untuk orang-orang yang fakir dan miskin di kota Mekah
Jika dilakukan jima’ setelah sa’i maka umrohnya tidak rusak dan diharuskan menyembelih seekor kambing dan dibagikan untuk orang-orang yang miskin di Tanah Haram Kota Mekkah.

Iklan