HSI Pembatal Keislaman 04

═══════ ❁  ﷽  ❁ ═══════
Mempelajari An-Nawāqidhul Islām adalah perkara yang sangat penting Hudzaifah Ibn Yaman (beliau) mengatakan 
كَانَ أصحاب  رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُوْنَه عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي
“Dahulu para sahabat Rasulullãh ﷺ, mereka bertanya kepada Rasulullãh ﷺ tentang kebaikan sedangkan aku bertanya kepada Rasulullãh ﷺ tentang kejelekan 

مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي

karena aku takut apabila terjerumus didalam kejelekan tersebut ”

[HR Bukhari 6/615-616 dan 13/35 beserta Fathul Baari. Muslim 12/235-236 beserta Syarh Nawawi. Baghowi dalam Syarhus Sunnah 14/14. Dan Ibnu Majah 2979]

Hudzaifah Ibn Yaman bertanya kepada Rasulullãh ﷺ tentang kejelekan², tujuannya adalah 
⇒ supaya tidak terjerumus ke dalam kejelekan tersebut. 
Dilakukan oleh para sahabat radhiallahu anhum, mereka mengetahui kebenaran maupun kesalahan, mengetahui al haq & mengetahui kebatilan. 
✓mengetahui kebenaran supaya diamalkan 
✓ dan mereka mengetahui kebatilan / kesalahan supaya bisa terhindar dari kesalahan tersebut. 

didalam sebuah bait dikatakan 
عرفت الشر لا للش ولكن لتوقيه 
ومن لم يعرف الشر من الناس يقع فيه
“aku mengetahui kejelekan bukan untuk kejelekan tersebut (bukan untuk mengamalkannya), akan tetapi supaya terhindar dari kejelekan tersebut & barangsiapa yang tidak mengetahui sebuah kejelekan dari manusia maka dikhawatirkan dia akan terjerumus ke dalam kejelekan tersebut “. 
Oleh karena itu para ulama rahimahullahu didalam kitab² mereka didalam kitab akidah atau didalam kitab fikih disebutkan tentang masalah bab Ar ridhad bab Ttg perkara² yang bisa menjadikan seseorang murtad dan seseorang keluar dari agama Islam. 
Tujuan para ulama membuat masalah riddah (masalah perkara² yang bisa mengeluarkan dari islam) tujuannya adalah:
✓ supaya kita tahu pembatal² keIslaman dan
✓ supaya kita waspada jangan sampai kita & keluarga kita & orang-orang yang kita cintai & kaum muslimin terjatuh di dalam apa yang dinamakan An-Nawāqidhul Islām. 

Yang mengeluarkan seseorang dari Islām 

Dan membatalkan amal seseorang & apabila dia meninggal dunia dalam keadaan riddah maka tidak diterima taubat nya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla & dia kekal didalam neraka bersama orang-orang yang kafir. 
Ini Adalah akibat yang fatal bagi orang yang keluar dari agama Islām & meninggal dalam keadaan sebagai orang yang kafir, batal amalannya dan dia diakherat termasuk penduduk neraka yang kekal didalamnya. 
وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هم الْخَاسِرِينَ

“dan barangsiapa diantara kalian yang murtad dari agamanya  

فَيَمُتْ

Kemudian dia meninggal dunia 

وَهُوَ كَافِرٌ

& dia dalam keadaan kafir (tidak masuk Islām kembali), 

فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ 

maka mereka lah yang batal amalannya di dunia maupun di akhirat ”

Abdullāh Roy 

Di kota Al-Madīnah
Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy. 
═══════ ❁ ❁ ═══════

Iklan

HSI Pembatal Keislaman 03

═══════ ❁  ﷽  ❁ ═══════
Disana ada pembatal keIslam-an yang berupa Aqidāh, berupa keyakinan, berupa itiqod. 
⇒ Meyakini bahwasanya ada ilāh selain Allāh
⇒ Meyakini bahwasanya hukum selain hukum Allāh adalah lebih baik dari pada hukum Allāh 
⇒ Meyakini bahwasanya shalat tidak wajib 
⇒ Meyakini sesuatu yang diharamkan jelas didalam agama meyakini bahwasanya itu halal. 

Maka ini adalah keyakinan yang bisa membatalkan keIslam-an seseorang, sebagaimana orang² munafik mengucapkan kalimat – لا إله إلا الله – & mengucapkan – محمداً رسول الله – Akan tetapi mereka tidak berkeyakinan dua kalimat syahadat tersebut, didalam hati mereka, mereka tidak percaya bahwasanya Muhammad adalah Rasulullãh. Ini adalah bentuk kekufuran yang berupa keyakinan meskipun mereka mengatakan dihadapan Rasulullãh ﷺ “sesungguhnya engkau adalah rasulullah”  tapi mereka tidak meyakini itu didalam hati mereka & Allāh menghukumi mereka sebagai orang kafir 

 إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

[Surat Al-Munafiqun 1]

“Apabila datang kepadamu wahai Muhammad orang² munafik 

قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ 

mereka berkata “aku bersaksi bahwasanya engkau adalah Rasulullãh” 

Ini dikatakan oleh orang-orang munafik 

قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ 

وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ 

“dan Allāh tau bahwasanya engkau adalah rasul-Nya ”

وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

” dan Allāh bersyahadat (bersaksi) bahwasanya orang-orang munafik adalah berdusta ”
Berdusta didalam ucapan mereka, mereka mengatakan” aku bersaksi bahwasanya engkau adalah Rasulullãh “akan tetapi dusta didalam hati mereka. 

يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِم مَّا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ ۚ 

 [QS Al-Fath: 11] 

“Mereka mengucapkan dengan lisan-lisan mereka apa yang tidak ada di dalam hati mereka”. 
⇒ Hati mereka kufur dan mengingkari meskipun lisan mereka mengucapkan. 
⇒ Menunjukkan kepada kita bahwasanya di sana ada keyakinan yang bisa membatalkan keIslaman seseorang. 

Demikian pula pembatal keIslaman bisa berupa perbuatan anggota badan, seperti: 
• Seseorang yang bersujud kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’ālā. 
• Menyembelih untuk selain Allāh Subhānahu wa Ta’ālā. 
Maka ini adalah berupa perbuatan dan ini semua termasuk kufur, ini semua dinamakan dengan nawāqidhul Islām, yaitu perkara-perkara yang membatalkan keIslaman seseorang. 
Mengetahui An-Nawāqidhul Islām (pembatal-pembatal keIslaman) merupakan perkara yang sangat penting. 
● Seseorang mengetahui kebaikan untuk diamalkan dan mengetahui kejelekan supaya bisa terhindar dari kejelekan tersebut. 
● Orang yang hanya mengetahui kebaikan tetapi tidak mengetahui kejelekan maka dikhawatirkan akan terjerumus di dalam kejelekan tersebut, disadari atau tidak disadari. 
Mempelajari kejelekan tujuannya adalah untuk supaya kita terjauh dan terhindari dari kejelekan tersebut. 
Ibrāhīm ‘alayhissalām berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā: 
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ (٣٥)

 رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ … (٣٦)

 [QS Ibrāhīm: 35] 
“Ya Allāh, jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala.”
Berdo’a dengan do’a ini, meminta kepada Allāh supaya dijauhkan beliau dan juga keturunan beliau dari menyembah berhala, berlindung kepada Allāh dari kesyirikan karena orang yang terjerumus ke dalam kesyirikan (penyembahan kepada berhala/makhluk) maka dia telah keluar dari Islam. Beliau ‘alayhissalām takut atas diri beliau, takut terjerumus ke dalam kesyirikan, demikian pula takut apabila ada keturunan beliau yang terjerumus ke dalam kesyirikan. 
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ 
“Ya Allāh, jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah berhala”. 
Padahal siapa beliau ‘alayhissalām? 
✓ Beliau adalah Imāmul al-muwahhidīn (imamnya orang-orang yang bertauhid kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā). 

Beliaulah yang telah memecah berhala-berhala yang ada di kaumnya dengan tangan beliau sendiri. 
✓ Beliau disakiti dan diuji karena mempertahankan aqidah beliau, mentauhidkan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā. 
✓ Beliau mengajak kaumnya, bapaknya (dan) raja di zaman beliau untuk mentauhidkan Allāh. 
✓ Beliau mendapatkan ujian yang berat karena berdakwah kepada Tauhid, dilempar ke dalam api, dan dengan izin Allāh Subhānahu wa Ta’ālā api tersebut menjadi dingin. 
Dan ini semua adalah ujian yang berat bagi beliau ‘alayhissalām. 
Akan tetapi meskipun demikian, beliau sangat takut apabila terjerumus ke dalam kesyirikan, oleh karena itu beliau berdo’a kepada Allāh dan mengatakan: 
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ 
Apabila beliau ‘alayhissalām takut dengan kesyirikan tersebut padahal beliau adalah imāmul muwahhidīn (imamnya orang-orang yang bertauhid), yang kita diperintahkan untuk mengikuti millah beliau
*“`Maka bagaimana dengan kita?“`*
Tentunya orang seperti kita harusnya lebih takut terjerumus ke dalam kesyirikan tersebut. 
════════════════════

Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy. 
Abdullāh Roy 

Di kota Al-Madīnah

═══════ ❁ ❁ ═══════

HSI Pembatal Keislaman 02

═══════ ❁  ﷽  ❁ ═══════
Seseorang masuk ke dalam agama Islam dengan 2 kalimat syahadat, dengan 2 kalimat syahadat ini maka dia dianggap sebagai seorang Muslim, dijaga darah dan kehormatannya. 
sebagaimana sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam: 
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan dan bersyahadat Lā ilāha illallāh dan bersyahadat Muhammad Rasūlullāh, kemudian mendirikan shalat, membayar zakat, maka apabila mereka melakukann itu semua –  عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ – maka sungguh mereka telah menjaga dariku darah mereka – وَأَمْوَالَهُمْ – dan harta mereka – إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ  – kecuali dengan hak Islam –  وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ – dan hisab mereka adalah atas Allāh Subhānahu wa Ta’ālā.” 

(Muttafaqun ‘alayhi)
Apabila sudah mengucapkan “asyhadu an Lā ilāha illallāh wa anna Muhammadan Rasūlullāh” berarti dia sudah masuk Islam & di sana ada perkara-perkara yang apabila dilakukan maka bisa membatalkan keIslaman tersebut, ini yang dinamakan dengan Nawāqidhul Islām. 
Seseorang masuk ke dalam agama Islam dan apabila dia melakukan salah satu atau lebih di antara perkara-perkara ini maka bisa membatalkan keIslaman dia, dia dinamakan dengan Nawāqidhul Islām (perkara-perkara yang membatalkan keIslaman).  
Sebagaimana tadi kita sebutkan orang berwudhū’ dan di sana ada pembatal-pembatal wudhū’, apabila berwudhū’ & melakukan salah satu di antara pembatal-pembatal wudhū’ maka batal wudhū’nya. 
Demikian pula Islam, seseorang mengatakan dua kalimat syahadat tetapi apabila dia melakukan salah satu di antara pembatal-pembatal keIslaman ini, batallah dua kalimat syahadatnya. 
Pembatal pembatasan l keIslaman ada yang berupa ucapan dan ada yang berupa i’tiqad (keyakinan di dalam hati) dan ini semua dinamakan Nawāqidhul Islām. Adapun berupa ucapan seperti orang yang mencela Allāh & juga RasulNya atau berdo’a kepada selain Allāh dengan lisannya maka ini adalah pembatal keIslaman. 

Allāh Subhānahu wa Ta’ālā berfirman: 
وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ 
“Dan sungguh mereka telah mengucapkan kalimat yang kufur –  وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ – dan mereka telah kufur setelah keIslaman mereka.” (QS At-Tawbah: 74)

Allāh Subhānahu wa Ta’ālā mengabarkan bahwasanya mereka telah mengucapkan kalimatal kufr, menunjukkan bahwasanya di sana ada ucapan yang diucapkan oleh seseorang dan itu adalah termasuk pembatal keIslaman. 
Di zaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam suatu saat orang-orang munafiq mereka membicarakan (mencela) Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan juga para shahābat radhiyallāhu ‘anhum, mereka adalah orang yang banyak makan, yang perutnya paling besar dan bahwasanya mereka adalah orang yang paling pengecut ketika berperang, mereka mengucapkan kalimat ini di antara mereka (yaitu di antara orang-orang munafiq), ada sebagian shahābat yang mendengar kemudian mengabarkan ini kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kemudian turunlah ayat: 
قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (٦٥) لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ … (٦٦)
“Katakanlah: ‘Apakah kalian mengejek dan mengolok-olok dengan Allāh dan juga ayat-ayatNya dan juga dengan RasulNya? Janganlah kalian meminta udzur, sungguh kalian telah kufur setelah keimanan kalian…’.” (QS At-Tawbah: 65-66)

Kufur dengan apa? Dengan ucapan, karena mengejek Allāh dan RasulNya, mengejek ayat-ayatNya. 
لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
“Janganlah kalian meminta udzur, kalian sudah kafir setelah keimanan”
menunjukkan bahwa di sana ada pembatal keIslaman yang berupa ucapan lisan. 

Abdullāh Roy 

Di kota Al-Madīnah

HSI MAHAZI – 21 MIQOT

Miqot haji dan umroh :
1.    MIQOT TEMPAT = tempat-tempat dimana orang yang melewatinya dalam keadaan dalam keadaan ingin melakukan haji / umroh diharuskan berihram dari sana.

Abdullah bin Abbas rhadiyallahu anhuma berkata : “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menentukan Dzulhulaifah untuk penduduk Madinah, dan Juhfah untuk penduduk Syam, Qonun Manazil untuk penduduk Najed dan Yalamlam bagi penduduk Yaman. Tempat-tempat tersebut adalah bagi penduduknya dan orang-orang yang melewatinya dalam rangka ingin melakukan haji dan umroh, dan dia bukan penduduk setempat. Dan barangsiapa berada dibawah miqot, maka berihrom dari tempat dia berada sampai penduduk Mekkah ihrom dari Mekkah” HR  Bukhari dan Muslim.
Dalam Hadits Aisyah rhadiyallahu anha disebutkan “Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menentukan Dzaatu Irqin sebagai miqot bagi penduduk Iraq” shahih, HR Abu Dawud. Barangsiapa yang melewati miqot-miqot ini maka harus berihrom ketika melewati daerah yang sejajar dengan miqot-miqot ini, baik di darat, laut, maupun udara. 
Orang yang naik pesawat dan turun di Jedah dengan tujuan langsung haji atau umroh maka diharuskan ber-ihrom di pesawat  karena dia pasti melewati daerah yang sejajar dengan Miqot. Adapun orang yang turun di Jedah dengan tujuan Madinah terlebih dahulu maka tidak masalah dia mengakhirkan ihromnya sampai di Madinah nanti.
2.    MIQOT WAKTU

Miqot waktu untuk haji adalah bulan-bulan yang digunakan untuk melakukan ihrom haji yaitu Syawal, Dzulqodah dan 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah. Bulan Syawal diawali dari Maghrib malam hari raya Idul Fitri. Dan yang dimaksud dengan 10 hari yang pertama dari bulan Dzulhijjah adalah yang diakhiri dengan datangnya waktu subuh hari raya Idul Adha.  Barangsiapa yang melakukan ihrom haji pada waktu tersebut maka sah hajinya. Dan kalau ia melakukan ihrom haji sebelum Syawal atau setelah subuh tanggal 10 Dzulhijjah maka sah ihromnya dan diubah menjadi Umroh, dan tidak dianggap melakukan Ibadah Haji.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Haji itu di bulan-bulan yang diketahui. Maka barangsiapa yang mewajibkan dirinya untuk berhaji pada bulan-bulan tersebut maka tidak boleh dia melakukan rofats, kefasikan, dan berdebat ketika haji” Qs 2 : 197
Miqot waktu untuk ibadah Umroh adalah sepanjang tahun.

Halaqah – 01 Pengantar Penjelasan Kitab Nawaqidhul Islam Bagian 1

Halaqoh yang pertama 
Penjelasan An Nawaqidhul Islam karangan Syaikh Muhammad Ibnu Wahab at Tamimi rohimahullôh 
ً ❁  ﷽  ❁

 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 
Setelah kita menyelesaikan kitab Al-Qowaidul arba dengan 25 pertemuan & insyaAllah hari ini akan kita  memulai dengan kitab yang baru yang juga dikarang oleh Syaikhul Islam Muhammad Wahab Ibn Sulaiman at Tamimi yang berjudul   
“`An Nawaqidhul Islam“`

Sebelum kita memulai mempelajari kitab, akan memperkenalkan pengarang kitab ini. 
Beliau adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Ibn Sulaiman at Tamimi yang lahir pada tahun 1115 H, disebuah daerah di jazirah Arab yaitu di Al Uyainah & beliau lahir ditengah-tengah keluarga yang sangat memperhatikan tentang ilmu Agama & beliau menghafal Al-Qur’an dan memulai menghafal Al-Qur’an sejak kecil sehingga beliau menyelesaikan menghafal Al-Qur’an sebelum berumur 10 tahun. 
Kemudian memulai menuntut ilmu agama mempelajari tafsir, mempelajari fiqh & Diantara gurunya adalah bapak beliau sendiri Syaikh Abdul Wahab Ibn Sulaiman kemudian setelah itu beliau rohimahullôh mempelajari ilmu Agama dari beberapa guru yang lain & melakukan rihlah ilmiah, melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu pergi ke kota Mekkah, ke kota Madinah, pergi ke Baghdad dan juga kota- kota lain dengan bertujuan untuk menuntut ilmu agama. 
Beliau belajar di kota Madinah dan menuntut ilmu dari seorang syaikh al Muhadits yang terkenal yaitu syaikh Muhammad Hayah As Sindy dan hampir beliau melakukan perjalanan ke Syam, akan tetapi karena satu sebab akhirnya beliau tidak bisa pergi kesana & beliau menghabiskan waktunya untuk mempelajari ilmu agama dan juga mengajarkan kepada orang lain &telah mengarang kitab² yang banyak yang bermanfaat bagi kaum muslimin, diantaranya adalah:
Kitabut Tauhid
Kasyfu asy Syubhaat
Ushulul Sithah
Al Ushulul tsalasah
Mukhtashor Zaadul maad 
& diantaranya adalah kitab yang sangat ringkas yang insyaallah akan kita pelajari yang dinamakan *An Nawaqidhul Islam* & kitab ini hanya dua halaman tetapi mengandung faedah faedah yang besar yang hendaknya dipelajari oleh seorang muslim. 
Beliau meninggal dunia pada tahun 1206 H, umur beliau saat itu sekitar 91 tahun. Setelah menghabiskan waktunya & hidupnya didalam mencari ilmu agama & juga mengajarkan kepada orang lain. 
Ini Adalah biografi singkat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Ibn Sulaiman at tamimi rohimahullôh. Semoga Allah merahmati kita & juga beliau rohimahullôh. 
Kemudian setelah itu tentang kitab beliau yaitu An Nawaqidhul Islam. 

“`An Nawaqidh“` 
artinya adalah pembatal 
Nawaqidh adalah jamak dari naqidhun & dalam bahasa Arab adalah perusak atau pembatal 

Inilah yang dinamakan naqidhun. 

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا 
“Janganlah kalian seperti seorang wanita yang merusak pintalannya (yang mencerai beraikan) pintalannya setelah dia kuat ”

[Surat An-Nahl 92]
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman – نَقَضَتْ غَزْلَهَا- (jangan kalian seperti seorang wanita yang merusak & mencerai beraikan pintalannya Memintal kemudian merusaknya) 
نَقَضَتْ 

Artinya merusak atau mencerai beraikan 

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ 
[Surat Al-Baqarah 27]
Menceritakan tentang sifat orang orang yang merusak perjanjian mereka dengan Allāh. Berjanji kepada Allāh dengan sebuah janji kemudian membatalkannya & merusak nya. 
Allāh mengatakan :
الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ 
” orang² yang mereka – ينـقضـون – merusak & membatalkan perjanjian mereka dengan Allāh.. 
مـن بـعد مـيثاقه 
Setelah mereka berjanji kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 

نـقض –  ينـقض

Artinya merusak 
Inilah makna Nawaqidh adalah pembatal – pembatal / perusak – perusak. 

Sebagaimana “`Nawaqidhul wudhu“` – perusak² wudhu artinya adalah amalan² / perkara² yang membatalkan wudhu seseorang dinamakan “`Nawaqidhul Wudhu“` 

“`Al Nawaqidhul Islam“`
Yang dimaksud dengan Al Islam adalah 
الاسْتِسْلامُ للهِ بِالتَّوْحِيدِ وَالانْقِيَادُ لَهُ بِالطَّاعَةِ وَالْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ وَأَهْلِهِ
“Menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala dengan tauhid & menyerahkan dengan ketaatan & berlepas diri dari kesyirikan & juga para pelaku syirik ”
Inilah yang dinamakan Al Islam. 
Al Islam dari kata aslama yuslimu 

الإسلام – أسلم – يسلم 
Artinya didalam bahasa Arab adalah menyerahkan diri. Aslam Ali fulan adalah menyerahkan diri kepada si fulan. 
Aslama (ألسلام) – yuslimu (يسلم) – islaman (إسلاما) artinya adalah penyerahan diri. 
Kenapa islam atau agama islam dinamakan dengan islam, karena orang yang masuk ke dalam agama islam & mengaku bahwasanya dirinya adalah seorang yang memeluk agama islam dia telah  menyerahkan dirinya hanya kepada Allāh, menyerahkan dirinya dan juga ibadahnya kepada Allāh, oleh karena itu dinamakan dengan Islam. 
Seorang Nashrani yang dahulunya dia menyembah kepada Allāh yang mereka namakan dengan Tuhan bapa & menyembah Nabi Isa yang mereka namakan Tuhan anak & menyembah kepada Maryam ketika dia masuk Islam dia harus menyerahkan ibadahnya hanya kepada Allāh. Meninggalkan peribadatan kepada Nabi Isa alaihi salam, meninggalkan peribadatan kepada ibunya Maryam & hanya menyerahkan ibadah nya kepada Allāh maka dia dinamakan sebagai seorang Muslim, 
kenapa? 
Karena dia menyerahkan dirinya & juga ibadah nya hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 
Oleh karena itu yang dinamakan islam adalah :
الاسْتِسْلامُ للهِ بِالتَّوْحِيدِ
“penyerahan diri kepada Allāh dengan TAUHID ”
Yaitu meng Esa kan Allāh dengan ibadah & Ini adalah inti ajaran Islam 

وَالانْقِيَادُ لَهُ بِالطَّاعَة
” Dan melaksanakan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla” 
bukan hanya meng-Esa-kan Allāh didalam ibadah tetapi juga melaksanakan perintah meninggalkan larangan. Apabila diperintah oleh Allāh & juga RasulNya melaksanakan, apabila dilarang dengan sesuatu maka dia meninggalkan maka ini juga bagian dari Islam 
 ِ وَالْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ 

“dan berlepas diri dari kesyirikan ”
Yaitu menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla 
وَأَهْلِهِ

” demikian pula berlepas diri dari orang-orang yang melakukan kesyirikan ”
Sebagaimana dahulu Nabi Ibrahim alaihi salam beliau & juga orang² yang beriman bersama beliau berkata kepada kaum nya 
 إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ
 Mereka berkata kepada kaumnya “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kalian (wahai orang orang musyrikin) 

كَفَرْنَا بِكُمْ

dan kami mengkufuri kalian 
وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ
Dan akan terus ada permusuhan antara kami dengan kalian selama lamanya 
حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ

Sampai kalian beriman hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla 

  [QS Al Mumtahanah: 4]
Inilah yang dinamakan dengan – وَالْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ وَأَهْلِهِ. 
Seorang Muslim menyembah kepada Allāh semata & melaksanakan perintah Allāh menjauhi larangan Allāh & dia harus berlepas diri dari apa yang dinamakan kesyirikan & juga orang² yang melakukan kesyirikan tersebut… 
“`Nawaqidhul Islam artinya adalah pembatal – pembatal ke-Islam-an“`

Wabillahi taufiq wal hidayah 

Wassalaamu’alaykum warahmatullaah wabarakaatuh 

Abdullāh Roy 

Di kota Al-Madīnah

HSI MAHAZI – 13 Tatacara Haji dan Umroh Secara Global

Cara melakukan Umroh secara global adalah :
1.     Ihrom dari miqot. Orang Mekkah yang akan melakukan umroh maka ia ihrom dari luar Tanah Haram. 2.     Thawaf 3.     Sa’i antara Shafa dan Marwah 4.     Menggundul rambut atau memendekkan
Cara melakukan Haji secara global adalah :
1.     Seseorang yang datang dari luar miqot maka ia berihrom dari Miqot; sedangkan penduduk Mekah dan selain penduduk Mekah yang berada di Tanah Haram maka ia berihrom dari tempat ia berada. 2.    Orang yang melakukan Haji Qiran dan Ifrad melakukan Thawaf Qudum dan Sa’i dan boleh mengakhirkan Sa’i dan melakukannya setelah Thawaf Ifadhah. 3.     Jamaah Haji berada di Mina tanggal 8 dan malam tanggal 9 4.     Wukuf di Arafah 5.     Bermalam di Musdalifah 6.     Melempar Jumroh Aqobah pada tanggal 10 7.     Menyembelih hadyu bila ada kewajiban membayar hadyu seperti orang yang melakukan Haji Tamattu’ dan Qiran 8.     Mencukur habis atau memendekkan 9.    Thawaf Ifadhah dan Sa’i jika ia Haji Tamattu; dan jika ia melakukan Haji Qiran dan Ifrad dan belum sa’I setelah thawaf Qudum maka dia melakukan sai setelah thawaf ifadhah 10. Bermalam di Mina pada hari-hari tasyrik dan melempar 3 jumroh setiap hari setelah tergelincirnya matahari
11. Melakukan thawaf Wada ketika akan meninggalkan Mekkah

HSI MAHAZI – 12 Larangan-Larangan dalam Ihrom

Telah berlalu bahwa Niat adalah termasuk rukun haji. Seseorang apabila sudah ihrom atau niat masuk didalam ibadah umroh atau haji maka diharamkan atasnya beberapa hal yang sebelumnya dihalalkan, yang dikenal dengan larangan-larangan ketika ihrom. Jumlahnya ada 9 :
1.     Mengambil rambut dari tubuh 2.     Memotong kuku 3.     Memakai minyak wangi 4.     Menutup kepala dengan sesuatu yang menempel 5.     Memakai pakaian yang membentuk badan 6.     Membunuh hewan buruan 7.     Melakukan pernikahan 8.     Bersenang-senang dengan istri dengan melakukan jima’ 9.     Bersenang-senang dengan istri dengan selain jima’, baik dengan dengan ucapan atau dengan perbuatan seperti memeluk, mencium dll

1.     MENGAMBIL RAMBUT, BAIK DARI KEPALA, KUMIS, KETIAK, KEMALUAN, DLL Dalil : Firman Allah Azza wa Jalla “Dan janganlah kalian mencukur kepala kalian sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya” Qs 2 : 196
2.     MEMOTONG KUKU. Berkata Ibnu Mundzir  rahimahullah “Dan mereka bersepakat bahwa seorang yang muhrim dilarang untuk mengambil kukunya”
3.     MEMAKAI MINYAK WANGI Dilarang seorang muhrim memakai minyak wangi, baik didalam badannya maupun didalam pakaiannya. Yang demikian berdasarkan hadits Abdullah Ibnu Umar tentang pakaian-pakaian yang dilarang dipakai oleh seorang muhrim, dan didalam hadits tersebut Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Dan janganlah kalian memakai pakaian-pakaian yang terkena za’faron atau warsh” HR Bukhari dan Muslim.
Za’faron dan Warsh adalah nama minyak wangi.

Dan didalam hadits Ya’la Ibnu Umaiyah bahwa seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam di Ju’ronah dan dia memakai jubah yang terkena minyak wangi, maka dia berkata “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang ihram untuk umroh dengan memakai jubah yang sudah terkena minyak wangi?” Maka Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjawab “Adapun minyak wangi yang ada pada badanmu maka cucilah 3x sedangkan jubah maka lepaskanlah kemudian lakukanlah didalam umrohmu apa yang engkau lakukan didalam hajimu”. HR Bukhari dan Muslim

Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda ketika ada seorang laki-laki yang meninggal dalam keadaan ihrom “Hendaklah kalian memandikan laki-laki tersebut dengan air dan daun bidara dan kafanilah dia dengan 2 kainnya dan janganlah kalian menyentuhkan ia dengan minyak wangi dan jangan menutup kepalanya, sesungguhnya ia akan dibangkitkan di akhirat dalam keadaan bertalbiyah”  HR Bukhari dan Muslim

4.     MENUTUP KEPALA DAN WAJAH DENGAN SESUATU YANG MENEMPEL.
Yang demikian berdasarkan hadits Ibnu Umar rhadoyallahu anhuma ketiak ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tentang pakaian yang dipakai seorang Muhrim, maka Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam berkata “Dia tidak memakai gamis dan tidak memakai sorban” HR al-Bukhari dan Muslim. Didalam hadits ini beliau melarang untuk memakai sorban, masuk didalamnya setiap yang menutupi kepala seperti peci, topi, kopiah dll.

Didalam hadits Ibnu Abbas rhadiyallahu anhuma, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berkata kepada Sahabat yang mengurus seorang laki-laki yang meninggal ketika ihrom : “Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara dan kafanilah dengan 2 kainnya yaitu kain ihrom dan jangan tutupi kepala dan wajahnya karena kelak ia akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah”. HR Muslim.
Beliau melarang untuk ditutupi kepala wdan wajah karena dia meninggal dalam keadaan ihrom, adapun menutupi kepala dengan sesuatu yang tidak menempel seperti berteduh dibawah payung, atap mobil, kain, kemah, maka yang demikian tidak masalah karena Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam  berteduh dibawah kain ketika melempar Jumroh Aqobah sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah.
5.     MEMAKAI PAKAIAN YANG MEMBENTUK BADAN
Bagi laki-laki yang sedang ihrom dilarang  memakai pakaian yang membentuk badan, baik seluruh badannya, atau sebagian badannya. Membentuk seluruh badan seperti memakai gamis, dan membentuk sebagian badan seperti celana panjang, sepatu boot, kaos kaki, kaos, dll.

Yang demikian berdasarkan hadits Ibnu Umar ketika ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tentang pakaian yang dipakai seorang yang muhrim, maka Nabi berkata “Dia tidak memakai gamis, sorban, celana panjang, baronis, sepatu boot, kecuali jika seseorang  tidak menemukan 2 sandal maka hendaklah ia memakai sepatu boot dan memotongnya dibawah mata kaki” HR Bukhari  dan Muslim.

Tidak masalah seorang muhrim memakai sabuk, kacamata, jam, cincin, dan sandal yang berjahit maupun tidak berjahit.

Adapun wanita maka memakai pakaian syar’ie yang biasa dia pakai dan dilarang memakai kaos tangan dan niqob.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Dan seorang wanita yang ihrom tidak memakai niqob dan tidak memakai  2 kaos tangan” HR Bukhari dan Muslim.
Yang dimaksud dengan niqob adalah kain cadar, tetapi kalau melewati laki-laki asing maka ia menutup wajah dan tangannya dengan kain kerudungnya sebagaimana ucapan Aisyah rhadiyallahu anha “Dahulu rombongan melewati kami dan kami bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dalam keadaan ihrom. Maka apabila rombongan tersebut mendekati kami, salah seorang wanita diantara kami menjulurkan jilbabnya diatas wajahnya, dan apabila mereka sudah lewat, kamipun membuka wajah-wajah kami” HR Abu Dawud, dan sanadnya lemah tetapi ada syahid yang shahih dikelauarkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatho : Dari Fathimah Ibnu Mundzir beliau berkata “Kami dahulu menutupi wajah-wajah kami dengan kerudung sedang kami dalam keadaan ihrom bersama Asma binti Abi Bakar”


6.     MEMBUNUH HEWAN BURUAN DARAT / MENOLONG DALAM MEMBUNUHNYA / MENUNJUKKANNYA. Dalil : Ø  Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian membunuh hewan buruan, sedangkan kalian dalam keadaan ihram (Al Maidah 95) Ø  Dan diharamkan atas kalian memburu hewan buruan darat selama kalian ihrom (Al Maidah 96) Ø  HR Bukhari dan Muslim : Abu Qotadah rhadiyallahu anhu sedang safar bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dan para Sahabat dalam keadaan para Sahabat sedang ihrom dan Abu Qotadah tidak ihrom. Mereka melihat seekor keledai liar,  maka  Abu Qotadah membunuhnya dan mereka memakannya. Kemudian mereka bertanya “Apakah kita boleh memakan daging hewan buruan sedangkan kita dalam keadaan ihrom ?”. Maka dibawalah sisa daging kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam kemudian Nabi pun Shalallahu Alaihi Wassalam berkata “Adakah diantara kalian yang menyuruh Abu Qotadah, atau memberikan isyarat kepadanya ?” Mereka berkata “Tidak” Maka Nabi pun Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Makanlah daging yang masih tersisa”.
Dan balasan bagi orang yang membunuh buruan darat secara sengaja berdasakan ayat 95 Surat Al Maidah : a.     Menyembelih hewan ternak yang semisal, disembelih di tanah Haram di Kota Mekkah dan tidak boleh memakannya sedikitpun, atau b.     Membeli makanan seharga hewan ternak tersebut dan setiap orang miskin diberikan setengah sha’ yaitu kurang lebih 1,5kg beras, atau c.      Berpuasa dengan jumlah hari sebanyak jumlah orang miskin
7.     MENGADAKAN AKAD NIKAH, BAIK SEBAGAI SUAMI ATAU WALI dan MELAMAR Dalil : Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Seorang yang muhrim tidak boleh menikah dan tidak boleh dinikahkan dan tidak boleh melamar. HR Muslim
8.     BERSENANG-SENANG DENGAN ISTRI DENGAN CARA BERJIMA’ DAN

9.     BERSENANG-SENANG DENGAN ISTRI DENGAN SELAINNYA BAIK DENGAN UCAPAN DAN PERBUATAN SEPERTI MEMELUK, MENCIUM, DLL
Dalil : Haji dilakukan pada bulan-bulan yang sudah diketahui, maka barangsiapa mewajibkan dirinya untuk melakukan ibadah haji pada bulan-bulan tersebut maka janganlah dia melakukan rofats dan kefasikan, dan berdebat ketika dalam keadaan haji. Qs 2:197
Masuk dalam makna rofats : a.     Berjima’ dengan kemaluan b.     Memeluk c.      Mengucapkan ucapan yang jorok atau perbuatan yang jorok
Akibat bagi orang yang berjima’ sebelum Tahallul awal : 1)   Hajinya rusak 2)   Diwajibkan untuk menyempurnakan hajinya tahun tersebut 3)   Diwajibkan untuk berhaji tahun depan 4)   Diwajibkan untuk menyembelih seekor unta dan dibagikan untuk orang-orang miskin di Tanah Haram kota Mekah
Empat konsekuensi diatas diambil dari atsar yang shahih dari Abdullah Ibnu Umar, Abdullah Ibnu Abbas dan Abdullah Ibnu Amr, semoga Allah meridhai semuanya.
Adapun  apabila dilakukan jima’ tersebut setelah tahallul awal maka hajinya tidak rusak dan dia diwajibkan untuk menyempurnakan hajinya tahun tersebut dan tidak diwajibkan menyempurnakan haji tahun depan dan diharuskan membayar fidyah berupa kambing.
Dan ibadah Umroh jika terjadi jima’ sebelum sa’i atau thawaf maka : 1)   rusak umrohnya 2)   diharuskan menyempurnakan umrohnya yang rusak 3)   diharuskan untuk umroh lagi dari miqot umroh yang pertama 4)   diharuskan untuk menyembelih kambing untuk orang-orang yang fakir dan miskin di kota Mekah
Jika dilakukan jima’ setelah sa’i maka umrohnya tidak rusak dan diharuskan menyembelih seekor kambing dan dibagikan untuk orang-orang yang miskin di Tanah Haram Kota Mekkah.