Diposkan pada Uncategorized

HSI MAHAZI – 06 BADAL HAJI ATAU MEWAKILI ORANG LAIN DALAM IBADAH HAJI

Disyariatkan untuk mewakili orang lain dalam ibadah haji, baik itu keluarga mapun bukan. 1 orang hanya boleh mewakili 1 orang Orang yang mewakili disyaratkan harus sudah pernah berhaji sebelumnya
Dari Abdullah Ibnu Abbas rhadiyallahu anhuma, Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mendengar seorang laki2 berkata “labbaika an shubrumah (aku memenuhi panggilanMu ya Allah, untuk shubrummah) , maka Nabi bertanya : siapa subrummah ? saudara laki2ku. Nabi bertanya apakah kamu sudah berhaji untuk dirimu sendiri ? Laki2 itu menjawab belum. Maka Nabi berkata “ Hajilah untuk dirimu sendiri dahulu, kemudian berhajilah untuk shubrumah” shahih HR Abu Dawud dan Ibnu Majjah
Orang yang diwakili hendaknya yang mengetahui amanatnya dan tatacara ibadah haji sesuai sunnah Rasul dan bukan karena harta. Lebih baik keluarga sendiri krn biasanya lebih ikhlas dan lebih sungguh2 didalam mewakili keluarganya untuk berhaji
Orang yang bisa diwakili dalam ibadah Haji ada 3 golongan : 

  1. Yg sudah meninggal. Dalil dari Ibnu Abbas rhadiyallahu anhuma, seorang wanita dari kabilah Juhainnah datang kepada Nabi dan berkata : sesungguhnya ibuku bernadzar untuk berhaji tapi beliau belum berhaji sehingga meninggal dunia. Bolekah aku menghajikan beliau ? Nabi bersabda : Ya, berhajilah untuknya. Apa pendapatmu seandainya Ibumu memilihi kutang, apakah engkau akan membayarkannya ? Tunaikanlah hutang kepada Allah karena Allah lebih berhak kamu tunaikan hutang kepadanya. HR al Bukhori.
  2. Yg sudah tua renta tidak mampu melakukan perjalanan. Hadits Abu Rozin rhadiyallahu anhu (halaqoh 4)
  3. Orang yg sakit dan tidak diharapkan kesembuhannya menurut dokter yang terpercaya, hal ini dikiaskan pada orang tua yang tidak bisa melakukan bepergian.  

aa. Seorang laki-laki boleh mewakili laki-laki (HR Abu Rozin) bb. Seorang wanita boleh mewakili wanita lain sebagaimana kisah wanita dari kabilah Juhainah (HR Ibnu Abbas) cc. Seorang wanita boleh menghajikan laki2 sebagaimana Kisah wanita dari kabilah Qhot’am berkata kepada Rasulullah : Wahai Rasulullah sesungguhnya kewajiban Haji dari Allah atas hamba-hambaNya telah datang sedangkan bapakku dalam keadaan sudah tua renta, tidak bisa tegak diatas kendaraan, bolehkah aku menghajikan untuk beliau ? Rasulullah menjawab : Iya. Kejadian ini terjadi pada saat haji Wada. (Hadits al Bukhari dan Muslim). d.  Seorang laki2 boleh mewakili wanita sebagaimana hadits Ibnu Abbas rhadiyallahu anhuma. Sesungguhnya saudariku bernadzar untuk berhaji dan ia sudah meninggal. Rasul berkata kalau ia punya hutang…dst
Pahala dari haji tersebut adalah untuk yang dihajikan; sedangkan yang mewakili pahala berbuat baik kepada orang lain dan dia bisa mendapat manfaat2 misalnya saat berdoa di Arafah, ketika diatas Safa dan Marwa saat sa’i dll

Iklan
Diposkan pada Uncategorized

HSI MAHAZI – 05 MAHROM WANITA KETIKA HAJI

Sebagian ulama mengatakn : termasuk kemampuan bagi seorang wanita muslimah adalah apabila dia mempunyai mahrom. Artinya bila ia punya mahrom maka ia dianggap mampu dan jika tidak punya mahrom dianggap tidak mampu. Bila tidak punya mahrom maka ia tidak diwajibkan melakukan ibadah haji, dan tidak berdosa jika tidak melakukan ibadah haji.
Jika ia berhaji tanpa mahrom dan memenuhi rukun-rukun haji maka HAJINYA SAH namun ia BERDOSA karena menyelisihi syariat. Diantara yang berpendapat demikian adalah al-Imam Ibnu Hanifah dan Imam Ibnu Hambal. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasssalam bersabda : Seorang wanita tidak boleh safar kecuali ada mahromnya dan tidak boleh seorang laki-laki masuk ketempat wanita kecuali wanita tersebut bersama mahrom. Bertanya seorang laki-laki “ Wahai Rasulullah sesungguhnya aku ingin keluar bersama pasukan ini dan itu sedangkan istriku ingin melakukan haji”Maka Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasssalam bersabda : Keluarlah bersama istrimu” HR Muslim
Didalam hadits ini Rasulullah menyuruh suami tersebut untuk meninggalkan jihad dan menemani istrinya berhaji. Ini menunjukkan bahwa wanita diharuskan bepergian bersama mahrom, baik bepergian untuk urusan dunia maupun urusan ibadah. Pendapat inilah yang dikuatkan oleh sebagian besar guru kami dan ulama di Saudi Arabia, Allahu Ta’ala a’lam.
Adapun Imam Malik dan Imam Syafii beliau berdua tidak memiliki mahrom. Mereka mensyaratkan adanya rombongan yang terpercaya sehingga wanita tersebut aman.
Yang dimaksud mahrom adalah suami dan semua laki-laki yang diharamkan untuk menikah dengan wanita itu selama-lamanya. Mahrom karena nasab : bapak, anak laki2, saudara laki2, paman dari pihak Bapak, paman dari pihak Ibu Mahrom karena sebab yang boleh seperti sebab penyusuan, contoh suami dari Ibu yang menyusui pada seorang wanita Mahrom karena sebab perkawinan = bapak mertua, menantu laki-laki, dll. Adapaun saudara sepupu dan ipar bukanlah mahrom

Dalam Islam mahrom sudah ada dalam syariat, dan tidak ada dalam Islam istilah mahrom titipan

Diposkan pada Uncategorized

HSI MAHAZI – 04 SYARAT-SYARAT WAJIB HAJI

Syarat-syarat wajib haji adalah perkara-perkara yang apabila terpenuhi pada diri seseorang maka ia diwajibkan untuk melakukan ibadah haji. Jumlahnya ada 5 :
1.    Islam. Orang yang kafir tidak diperintahkan berhaji hingga ia masuk Islam. Seandainya ia berhaji sebelum masuk Islam maka hajinya tidak diterima. Allah berfirman : “Dan kami akan mendatangi apa yang mereka amalkan berupa amalan, kemudian Kami jadikan amalan tersebut debu yang berterbangan” Qs Al Furqon 23
2.    Berakal. Orang yang gila tidak diwajibakan untuk berhaji. Seandainya ia berhaji dalam keadaaan tidak berakal maka hajinya tidak sah. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : “Diangkat pena dari 3 orang : dari orang yang tidur sampai ia bangun, dari anak kecil sampai ia dewasa, dari orang gila sampai ia berakal” shahih, HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Ali ibni Abi Thalib rhadiyallahu anhu.
3.    Baligh / dewasa. Seorang yang belum baligh maka tidak diwajibkan melakukan haji. Seandainya ia berhaji ketika masih kecil maka hajinya sah, dan orang yang menghajikan (orang tua misalnya) mendapatkan pahala, tapi haji ini belum menggugurkan kewajiban Haji. Apabila ia dewasa dan memenuhi syarat Haji yang lain maka ia diwajibkan memenuhi kewajiban Haji. Pada hadits Ibnu Abbas rhadiyallahu ahuma disebutkan bahwa seorang wanita mengangkat anaknya dan bertanya pada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ‘Wahai Rasulullah, apakah anak ini boleh berhaji ?’ Rasulullah menjawab “Iya boleh, dan kamu mendapatkan pahala” HR Muslim. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : “Anak kecil mana saja yang dihajikan keluarganya dalam keadaan masih anak kecil kemudian dewasa maka wajib baginya melakukan haji orang dewasa” HR Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas rhadiyallahu anhuma.

4.    Merdeka. Seorang budak / hamba sahaya tidak wajib melakukan ibadah Haji. Seandainya ia berhaji ketika masih sebagai budak maka hajinya sah tetapi belum menggugurkan kewajiban. Apabila kelak merdeka dan memenuhi syarat haji yang lain maka ia diwajibkan memenuhi kewajiban haji. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Hamba sahaya mana saja yang dihajikan oleh keluarganya kemudian dimerdekakan, maka wajib baginya berhaji” HR Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih.
5.    Memiliki kemampuan badan dan harta sekaligus. Orang yang mampu fisiknya dan tidak mampu hartanya maka tidak diwajibkan berhaji, demikian pula sebaliknya, orang yang mampu hartanya tapi tidak mampu fisiknya maka tidak diwajibkan untuk berhaji sampai mampu keduanya. Allah berfirman : “Dan kewajiban manusia kepada Allah untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah yaitu bagi orang-orang yang mampu kesana” Qs Al Imron 97. Apabila seseorang mampu hartanya tapi tidak mampu fisiknya secara terus menerus misal karena sudah tua renta atau sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya menurut dokter yang terpercaya maka dia mewakilkan hajinya kepada orang lain.
Dari Abu Rozin rhadiyallahu anhu beliau datang kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dan berkata ‘Ya Rasulullah sesungguhnya Bapakku sudah tua, tidak bisa haji, tidak bisa umroh, tidak bisa bepergian’ maka Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : “Berhajilah untuk bapakmu dan umrohlah untuk bapakmu” shahih, HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah

Apabila kelima syarat ini terpenuhi pada diri seseorang maka dia diwajibkan untuk melakukan ibadah haji dan bersegera untuk melakukannya, namun apabila salah satu atau lebih dari syarat-syarat wajib haji diatas tidak ada pada diri seseorang maka dia tidak diwajibkan untuk melakukan ibadah haji.

Diposkan pada Uncategorized

HSI MAHAZI – 03 PENGERTIAN, CIRI, KEUTAMAAN HAJI MABRUR DAN CARA MENDAPATKANNYA

Tidak semua orang yang melakukan ibadah haji mendapatkan haji yang mabrur. 
Haji yang mabrur adalah haji yang seseorang mendapatkan pahala yang besar didalamnya.
Dan ciri haji yang mabrur = haji tersebut membawa perubahan pada dirinya kepada yang lebih baik.
Diantara keutamaan haji yang mabrur :

1.    Balasan surga bagi orang yang mendapatkannya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : “Dan haji yang mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali surga HR al-Bukhari dan Muslim

2.    Diampuni dosa-dosanya.
Didalam sebuah hadits, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam mengatakan “Barangsiapa yang berhaji karena Allah kemudian ia tidak melakukan rofats dan tidak melakukan kefasikan maka ia akan kembali seperti ketika dilahirkan oleh ibunya.” HR al-Bukhari dan Muslim

3.    Haji yang mabrur termasuk amalan yang paling afdhol. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah ditanya tentang amalan apa yang paling afdhol, beliau berkata : –       beriman pada Allah dan RasulNya –       jihad di jalan Allah –       haji yang mabrur HR Bukhari dan Muslim



CARA MENDAPATKAN HAJI YANG MABRUR DIANTARANYA  :
1. Ikhlas, yaitu mengharap pahala dari Allah Azza wa Jalla. Allah berfirman “Dan hendaklah kalian menyempurnakan haji dan umroh karena Allah” Qs Al Baqarah 196. Dalam Hadits Qudsi Allah Sunbhanahu wa Ta’ala berkata : “Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh dengan sekutu. Barangsiapa yang melakukan sebuah amalan dia menyekutukan Aku didalam amalan tersebut maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya” HR Muslim. Maksud Allah meninggalkan dia dan sekutunya adalah Allah tidak memberikan pahala kepadanya. Oleh karena itu seorang calon jamaah haji hendaknya memohon kepada Allah supaya dimudahkan untuk ikhlas dalam beramal, menjauhi riya (ingin dipuji) dan sum’ah (ingin didengar) atau ingin lebih dihormati oleh masyarakatnya atau ingin dipanggil pak haji dan bu haji, karena ini semua bisa menjadi sebab ketidak mabruran haji seseorang
2.    Mengikuti sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam didalam ibadah hajinya.  Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam  bersabda “Hendaklah kalian mengambil dariku manasik kalian, karena sesungguhnya aku tidak tahu mungkin aku tidak haji lagi setelah hajiku ini” HR Muslim.
Oleh karena itu calon jemaah haji hendaknya bersungguh-sungguh dalam mempelajari tatacara haji Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam yang berdasarkan dalil yang shohih dan pemahaman yang benar dan mengamalkannya supaya mendapatkan haji yang mabrur.

3.    Tidak melakukan kemaksiatan dan pelanggaran. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda “Barangsiapa yang berhaji karena Allah kemudian dia tidak melakukan rofats dan tidak melakukan kefasikan, maka ia akan kembali seperti ketika dilahirkan oleh ibunya” HR Bukhari dan Muslim. Yang dimaksud denga rofats disini adalah jima’ (mendatangi istri) atau pembukaan dari jima’ ketika dalam ihrom. Dan yang dimaksud kefasikan adalah kemaksiatan. Oleh karena itu hendaknya jemaah haji menjaga hati, lisan. Takut kepada Allah dimanapun dia berada, dan apabila dia melakukan kemaksiatan maka hendaknya bersegera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang nasuha dan menjaga larangan-larangan ketika berhaji.
4.    Berakhlak yang baik kepada orang lain diantaranya memberi makan kepada orang lain, menyebarkan salam, memperbaiki tutur katanya, dan lain lain. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda ketika ditanya oleh para Sahabat tentang haji yang mabrur “memberi makan, dan menyebarkan salam”. Didalam riwayat yang lain beliau mengatakan : “memberi makan dan ucapan yang baik” HR Ahmad dalam musnadnya dan Al Hakim dalam Al Mustadrok dan dishahihkan oleh Syaikh Albani rahimahullah.

5.    Menggunakan harta yang halal. Wajib bagi seorang muslim menggunakan harta yang halal supaya menjadi haji yang mabrur. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda : “Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik” HR Muslim.

6.    Memperbanyak mengingat Allah dalam rangkaian ibadah hajinya. Hendaknya seorang jemaah haji memperbanyak mengingat Allah dengan hatinya, lisannya, mengingat keagunganNya, keEsaanNya, dan tidak menyia-nyiakan masa ibadah haji yang sebentar ini dengan pekerjaan yang sia-sia dan tidak bermanfaat.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan Bapak dan Ibu untuk mendapat haji yang mabrur.

Diposkan pada Uncategorized

HSI MAHAZI – 02 KEWAJIBAN HAJI DAN KAPAN DIWAJIBKAN

Haji diwajibkan sekali seumur hidup atas setiap muslim yang memenuhi syarat wajib haji.
Allah berfirman : 

”Dan kewajiban manusia kepada Allah untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Yaitu bagi orang-orang yang mampu kesana. Dan barangsiapa yang mengingkari kewajiban haji maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari seluruh alam” (Qs Al Imran 97)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda ketika ditanya malaikat Jibril tentang Islam : “Engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di Bulan Romadhon, dan engkau berhaji ke Baitullah apabila engkau mampu kesana” HR Muslim dari Umar Ibn Khoththob rhadiyallahu anhu
Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah berkhutbah dan berkata : “Wahai manusia, telah diwajibkan atas kalian maka berhajilah. Maka berkata seorang laki-laki ‘Apakah setiap tahun ya Rasulullah ?’ beliau diam sampai ditanya 3 kali lalu kemudian beliau berkata ‘kalau aku berkata iya maka niscaya haji akan menjadi wajib setiap tahun, dan kalau demikian maka kalian tidak akan mampu melakukannya’.” HR Muslim
Dan kaum muslimin telah bersepakat atas wajibnya Haji bagi yang mampu sebagaimana dinukil ijma ini dari Imam An-Nawawi rahimahullah.
Dan pendapat mayoritas ulama bahwa kewajiban Haji harus segera ditunaikan dan tidak boleh ditunda-tunda sebagaimana sebuah hadits : Rasulullah bersabda “Hendaklah kalian bersegera melakukan Haji karena salah seorang diantara kalian tidak tau apa yang menimpanya” HR Imam Ahmad Ibnu Hambal dalam musnadnya, hadits hasan.
Sebagian kaum ulama berpendapat bahwa haji diwajibkan atas kaum muslimin ditahun ke-9 Hijriyah. Diantara alasannya krn ayat tentang kewajiban haji ada pada surat Al Imron dan awal surat Al Imron diturunkan pada tahun datangnya para utusan kabilah-kabilah pada Rasulullah pada tahun ke-9 H.
Inilah yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Muhammad Amin al Syinthiqi rahimahullah dan Asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah, dan beliau Shalallahu Alaihi Wassalam baru menunaikan ibadah Haji pada tahun ke-10 H, diantara sebabnya karena kesibukan beliau menyambut para utusan dan menyampaikan risalah Allah kepada mereka.

Diposkan pada Uncategorized

HSI MAHAZI – 01 PENGERTIAN, KEUTAMAAN DAN BEBERAPA HIKMAH HAJI

Al Hajju = Al Qoslu (maksud)
HAJI secara istilah = bermaksud ke Baitullah dengan melakukan amalan-amalan khusus (niat, thawaf, sa’i, wukuf, dll) di waktu-waktu yang khusus (di bulan-bulan Haji : syawal, dzulqo’dah dan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah)

Haji adalah salah satu rukun Islam
HR Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda :  “Islam dibangun diatas 5 perkara. Syahadat bahwasanya tidak ada sesembahan yang  berhak disembah kecuali Allah, bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa bulan Ramadhan dan Haji. Haji yang mabrur adalah termasuk sebaik-baik amalan
HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairoh : Rasulullah ditanya tentang amalan yg paling afdhol =

  • beriman pada Allah dan RasulNya
  • berjihad di jalan Allah
  • Haji yang mabrur

Hikmah-hikmah yang banyak dari haji :

  1. Haji adalah musim untuk mendapatkan pahala yang besar dan ampunan dosa.
  2. Perwujudan Ukhuwah Islamiyah dan usaha untuk mengenal satu sama lain, kaum muslimin yang bermacam-macam asal, warna kulit, suku datang untuk menyembah Tuhan yang satu. 
  3. Madrasah iman dan beramal shaleh; karena seorang jamaah Haji dalam musim Haji akan selalu melakukan amalan sholeh : bersabar, mengingat hari akhir ketika manusia dikumpulkan, dan mengingat bahwa dunia hanya sementara. 
  4. Musim untuk mendapat rejeki dunia bagi banyak orang. 
  5. Kesempatan menimba ilmu dan mengajarkan ilmu dan berbuat baik pada sesama. 
  6. Dan hikmah-hikmah serta manfaat-manfaat yang lainnya

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : 

Hendaklah engkau seru manusia untuk melakukan haji maka mereka akan berdatangan dengan berjalan kaki dan naik onta dari tempat yang jauh supaya mereka merasakan manfaat-manfaat bagi mereka”

(Qs Al Hajj 27-28)

Diposkan pada hsi

HSI – Al-Qowāidul Arba Halaqah 25 ~ Penjelasan Kaidah Keempat

Halaqah yang ke-25 penjelasan kitab Al-Qowā’idul Arba, karangan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi rahimahullah.

Kaidah yang ke-4, yang terakhir, dari empat Qoidah Yang dengannya kita bisa memahami apa itu kesyirikan.

Beliau mengatakan:

اَلْقَاعِدَةُ الرَّابِعَة: أَنَّمُشْرِكِي زَمَانِنَا أَغْلَظُ شِرْكًا مِنَ الْأَوَّلِيْنَ،

“Ketahuilah,” kata beliau, “bahwasanya orang-orang musyrikin di zaman kita ini”

dan beliau hidup 200 tahun yang lalu.

أَغْلَظُ شِرْكًا مِنَ الْأَوَّلِيْنَ

“Lebih keras, lebih dahsyat kesyirikannya, dari pada orang-orang musyrikin zaman dahulu”

Kata beliau, orang-orang musyrikin di zaman sekarang (di zaman beliau) itu lebih dahsyat, lebih keras kesyirikannya/lebih besar kesyirikannya dari pada orang-orang musyrikin zaman dahulu.

Ini ucapan beliau pada kaidah yang keempat.

Apa kata beliau :

لِأَنَّ الْأَوَّلِيْنَ يُشْرِكُوْنَفِي الرَّخَاء وَيُخْلِصُوْنَ فِي الشِّدَّة،

“Kenapa demikian?” Kata beliau, “Karena orang-orang musyrikin yang terdahulu, mereka menyekutukan Allāh ketika dalam keadaan rākho (dalam keadaan senang, dalam keadaan bahagia, dalam keadaan tenteram, mereka menyekutukan Allāh).”

وَيُخْلِصُوْنَ فِي الشِّدَّة

“Tetapi ketika mereka susah, mereka mengikhlaskan ibadahnya kepada Allāh.”

Ini adalah sifat orang-orang musyrikin zaman dahulu, ketika mereka senang, ketika mereka bahagia, mereka menyekutukan Allāh. Tapi ketika mereka susah, terkena musibah, mereka mengikhlaskan ibadahnya hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian beliau mengatakan :

وَمُشْرِكُوْا زَمَانِنَا شِرْكُهُمْدَائِمٌ؛ فِي الرَّخَاءِ وَالشِّدَّة

“Adapun orang-orang musyrikin di zaman kita” kata beliau, “kesyirikan mereka senantiasa dan selalu, baik ketika mereka dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah.”

Dalam keadaan senang dan susah, mereka menyekutukan Allāh.

Adapun yang dahulu, orang-orang musyrikin yang dahulu, mereka menyekutukan hanya ketika dalam keadaan senang. Tapi dalam keadaan susah, mereka mengikhlaskan ibadahnya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

 Tentunya orang yang melakukan kesyirikan, baik dalam keadaan susah maupun senang, ini lebih keras dan lebih dahsyat dan lebih besar daripada orang yang menyekutukan Allāh ketika dalam keadaan senang dan tidak dalam keadaan susah.

Oleh karena itu, beliau mengatakan :

“orang-orang musyrikin di zaman kita lebih dahsyat kesyirikannya, susah senang mereka berbuat syirik. Adapun zaman dahulu melihat keadaan, dalam keadaan senang menyekutukan Allāh, dalam keadaan susah baru mereka ingat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Dalilnya apa?

Beliau mengatakan :

وَالدَّلِيْل قَوْلُهُ تَعَالَى: فَإِذَارَكِبُواْ فِي ٱلۡفُلۡكِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّانَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ  ٦٥ [ العنكبوت:65-65]

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam firmanNya :

”Apabila mereka berada di dalam kapal”

Artinya, mereka sedang dalam perjalanan di laut menaiki kapal.

فَإِذَارَكِبُواْ فِي ٱلۡفُلۡكِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

“Mereka berdoa kepada Allāh dalam keadaan meng-ikhlaskan agama ini hanya untuk Allāh”

Ini yang mengabarkan kepada kita adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Mengabarkan tentang keadaan orang-orang musyrikin, ketika mereka melakukan bepergian memakai kapal di tengah-tengah lautan.

Allāh mengabarkan

دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

“Mereka berdoa kepada Allāh dalam keadaan meng-ikhlaskan agamanya hanya untuk Allāh”

Kabar dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla tentang keadaan orang-orang musyrikin saat itu. Kita tidak pernah mendengar, tidak pernah melihat apa yang mereka lakukan di tengah lautan tetapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla melihat dan mendengar apa yang mereka lakukan.

Allāh mengabarkan ternyata mereka meng-ikhlaskan ibadahnya hanya untuk Allāh. Di dalam ayat yang lain Allāh mengabarkan, ketika mereka berada di tengah lautan, kemudian datang angin yang keras dan datang ombak yang sangat besar, mereka meng-ikhlaskan ibadah nya kepada Allāh dan mengatakan :

لَئِنۡ أَنجَيۡتَنَا مِنۡهَٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ٢٢ [ يونس:22-22]

“Ya Allāh seandainya Engkau menyelamatkan kami dari ini semua, niscaya kami termasuk orang-orang yang bersyukur “[QS Yunus 22]

Berjanji kepada Allāh di tengah lautan, apabila mereka selamat sampai daratan dan diselamatkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, niscaya mereka akan menjadi orang-orang yang bersyukur.

Lupa mereka dengan Lata, Lupa dengan Uzza, Lupa dengan Mana dan Lupa dengan sesembahan-sesembahan yang lain, selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Yang mereka ingat saat itu adalah Allāh. Dialah Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang hanya bisa menyelamatkan mereka dari kesusahan saat itu.

Oleh karena itu, Allāh mengatakan

دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

“Dalam keadaan susah tersebut mereka meng-ikhlaskan ibadahnya karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Tapi apa kata Allāh?

فَلَمَّانَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ

”Ketika Allāh menyelamatkan mereka ke daratan, tiba-tiba mereka kembali menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Lupa dengan apa yang sudah dikatakan oleh mereka ketika mereka berada di tengah lautan.

إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ

”tiba-tiba mereka kembali menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Ayat ini adalah dalil sebagaimana yang disebutkan oleh pengarang bahwasanya orang-orang musyrikin mereka meng-ikhlaskannya ibadahnya ketika susah dan menyekutukan Allāh ketika mereka dalam keadaan senang.

Adapun orang-orang musyrikin di zaman beliau dan ini juga masih ada di zaman kita, dalam keadaan susah dan senang, mereka tetap menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Tidak jarang diantara mereka ketika datang musibah, bukan kembali dan meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, akan tetapi justru meminta kepada selain Allāh.

Ketika Gunung berapi akan meletus, atau ketika terjadi tsunami, kembalinya bukan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan meminta perlindungan dan penjagaan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Akan tetapi, kembali kepada benda-benda, menaruh ini dan itu di rumah, datang kepada orang yang dinamakan dengan paranormal atau orang yang sakti ,dengan harapan mereka bisa menyelamatkan dari musibah-musibah tersebut.

Dalam keadaan susah pun mereka masih bergantung kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dalam keadaan senang juga.

Oleh karena itu, apa yang dikatakan oleh beliau pada Qoidah yang keempat ini adalah sesuatu yang berdasar dan bukan sesuatu yang mengada-ada. Bahwasanya orang-orang musyrikin di zaman kita lebih dahsyat daripada orang-orang musyrikin yang ada di zaman dahulu.

Kemudian beliau mengatakan :

وَاللَّهُأَعْلَم

“Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla lebih mengetahui”

Dengan demikian kita sudah menyelesaikan sebuah kitab yang sangat bermanfaat, yang ringkas, yang dikarang oleh syaikh Muhammad At Tamiimi dan beliau adalah ulama besar yang meninggal pada tahun 1206 H.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan manfaat dari apa yang kita baca. Itulah yang bisa kita sampaikan, semoga apa yang kita sampaikan bermanfaat.

Wabillahi taufiq wal hidayah
Wassalaamu’alaykum warahmatullaah wabarakaatuh

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah