Diposkan pada hsi

HSI – Al-Qowāidul Arba Halaqah 15 – Penjelasan Kaidah Kedua Kitab Al-Qawa’idul Arba Bagian 4

Halaqah yang ke-15 penjelasan kitab Al-Qowā’idul Arba, karangan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi rahimahullah.

Mualif atau pengarang, ingin menunjukkan kepada kita tentang ucapan beliau di awal, bahwasanya tujuan orang-orang musyrikin menyembah berhala-berhala mereka adalah untuk meminta kedekatan kepada Allāh dan juga meminta syafa’at.

Dan ini bukan berarti bahwasanya Mualif atau pengarang mengingkari apa yang dinamakan dengan syafa’at.

Syafa’at di hari kiamat adalah haq dan kewajiban bagi seorang mukmin maupun mukminah (yang laki-laki maupun wanita) untuk beriman dengan adanya syafa’at berdasarkan dalil-dalil di dalam Al-Qurān maupun di dalam Assunnah.

Wajib bagi seorang muslim untuk beriman dengan adanya syafa’at di hari kiamat. Dan syafa’at di hari kiamat bermacam-macam. Ada diantara syafa’at tersebut yang merupakan kekhususan Rasulullãh ﷺ. Diantaranya syafa’atul Ujma (syafa’at yang paling besar) yang terjadi di padang Mahsyar dan diantara syafa’at yang khusus bagi Rasulullãh ﷺ adalah syafa’at untuk masuk ke dalam surga (dibukanya pintu surga). Demikian pula syafa’at beliau kepada paman beliau, yaitu Abu Tholib. Dan di sana ada syafa’at yang umum dimiliki oleh beliau ﷺ, demikian pula dilakukan oleh yang lain seperti para Malaikat, para Nabi, Orang-orang yang beriman, seperti syafa’at bagi orang-orang yang berdosa diantara orang-orang yang beriman yang mereka diazab oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam Neraka dan disana ada syafa’at mengangkat derajat di dalam Surga dan ini semua berdasarkan dalil-dalil yang shahih.

Bukan berarti apa yang beliau ucapkan di sini bahwasanya beliau mengingkari syafa’at-syafa’at tersebut. Tidak.

Beliau menjelaskan setelahnya, bahwasanya syafa’at yang ada di dalam Al-Qurān maupun Hadits ini ada dua macam.

Beliau mengatakan :

وَالشَّفَاعَةُ: شَفَاعَتَان

“Syafa’at itu ada dua”

شَفَاعَةٌ مَنْفِيَة؛ وَشَفَاعَةٌمُثْبَتَة

  1. Syafa’at manfiyah adalah syafa’at yang diingkari. Diingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
  2. Syafa’at mutsbatah adalah syafa’at yang ditetapkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di sana ada syafa’at yang diingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla berdasarkan dalil-dalil di dalam Al-Qurān dan disana ada syafa’at yang ditetapkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian beliau mengatakan :

فَالشَّفَاعَةُ المَنْفِيَة، مَاكَنَتْ تُطْلَبُ مِنْ غَيْرِ اللَّه، فِيْمَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا اللَّه

Apa yang dimaksud dengan syafa’at yang diingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla? Yang dimaksud dengan syafa’at yang diingkari adalah syafa’at yang diminta dari selain Allāh.

فِيْمَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا اللَّه

”Di dalam perkara yang tidak mungkin melakukannya kecuali Allāh”

Apabila syafa’at ini diminta dari selain Allāh, maka inilah yang diingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla di hari kiamat. Tidak akan bermanfaat yang seperti ini. Contohnya, seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin quraisy, karena mereka meminta syafa’at bukan dari Allāh tetapi meminta syafa’at dari sesembahan-sesembahan selain Allāh.

Oleh karena itu, tadi mereka mengatakan :

هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَاللَّهِ ۚ

Mereka mengharap kepada sesembahan-sesembahan tersebut, takut kepada sesembahan-sesembahan tersebut, berdoa kepada sesembahan-sesembahan tersebut, tujuannya supaya memberikan syafa’at bagi mereka di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla pada hari kiamat.

Apabila syafa’at diminta dari selain Allāh, maka inilah yang diingkari oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

Iklan
Diposkan pada hsi

HSI – Al-Qowāidul Arba Halaqah 14 – Penjelasan Kaidah Kedua Kitab Al-Qawa’idul Arba Bagian 3

Halaqah yang ke-14 penjelasan kitab Al-Qowā’idul Arba, karangan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi rahimahullah.

Kemudian beliau mengatakan:

وَدَّلِيْلُ الشَّفَاعَة،

”Dan dalil tentang syafa’at, dalil bahwasanya mereka menyembah sesembahan-sesembahan tersebut tujuan adalah untuk mencari syafa’at.

Apa dalilnya?

قَوْلُهُتَعَالَى:

وَيَعۡبُدُونَمِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ قُلۡ أَتُنَبِّ‍ُٔونَ ٱللَّهَ بِمَالَا يَعۡلَمُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰعَمَّا يُشۡرِكُونَ  ١٨ [ يونس:18]

Allāh berfirman :
”Dan mereka (orang-orang quraisy) menyembah kepada selain Allāh sesuatu yang tidak memberikan mudhorot kepada mereka dan juga tidak memberikan manfaat dan mereka menyembah kepada selain Allāh sesuatu yang tidak memberikan mudhorot kepada mereka dan juga tidak memberikan manfaat.“

Seharusnya seseorang apabila ingin menyembah, menyembah sesuatu yang memberikan manfaat dan memberikan mudhorot, yaitu Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Di tangan-Nya lah manfaat dan juga mudhorot. Namun, orang-orang musyrikin menyembah kepada selain Allāh sesuatu yang sama sekali tidak memberikan manfaat dan juga tidak bisa memberikan mudhorot.

وَيَقُولُونَ

“dan mereka mengatakan”

هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ

Ketika mereka ditanya kenapa mereka menyembah kepada sesembahan-sesembahan tersebut, mereka mengatakan :

هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِۚ

”Mereka ini adalah orang-orang yang akan memberikan syafa’at kepada kami di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Ini Adalah tujuan kedua mereka menyembah kepada sesembahan-sesembahan tersebut, supaya sesembahan-sesembahan tersebut memberikan syafa’at kepada mereka di sisi Allāh.

Menunjukkan sekali lagi bahwasanya mereka mengenal Allāh, dan bahwasanya tujuan mereka adalah tujuan yang baik.

Akan tetapi apakah cara yang dilakukan oleh mereka adalah cara yang diridhoi Allāh Subhānahu wa Ta’āla?

Dengarkanlah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla setelahnya :

قُلۡأَتُنَبِّ‍ُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ…  ١٨[ يونس:18]

”Katakanlah wahai Muhammad kepada mereka – apakah kalian (wahai orang-orang musyrikin) mengabarkan kepada Allāh, sesuatu yang Allāh tidak ketahui di langit maupun di bumi.”

Artinya apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrikin adalah sesuatu yang tidak berdasar. Seakan-akan mereka mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang tidak Allāh ketahui di langit maupun di bumi.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak pernah mengabarkan yang demikian. Dari mana mereka tahu bahwasanya orang-orang  shaleh yang sudah meninggal tersebut yang mereka sembah, memberikan syafa’at di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk mereka. Apakah mereka mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang Allāh tidak ketahui di langit maupun di bumi.

Kemudian Allāh mengatakan:

…سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ١٨ [ يونس:18-18]

”Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan”

Sehingga Allāh mengatakan:

… عَمَّا يُشۡرِكُونَ ١٨ [ يونس:18]

”Dari apa yang mereka sekutukan”

Menunjukkan bahwasanya apa yang mereka perbuat, apa yang mereka lakukan adalah termasuk jenis kesyirikan.

Oleh karena itu, Allāh mengatakan:

…سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ١٨ [ يونس:18]

”Maha Suci Allāh & Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan”

Perbuatan mereka menyembah kepada selain Allāh, menyerahkan ibadah kepada selain Allāh dengan tujuan supaya selain Allāh tersebut memberikan syafa’at di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk mereka, maka ini adalah termasuk bagian dari kesyirikan.

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

Diposkan pada hsi

HSI – Al-Qowāidul Arba Halaqah 13 – Penjelasan Kaidah Kedua Kitab Al-Qawa’idul Arba Bagian 2

Halaqah yang ke-13 penjelasan kitab Al-Qowā’idul Arba, karangan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi rahimahullah.

Beliau mengatakan :

فَدْلِيْلُ الْقُرْبَة

Dalil yang menunjukkan bahwasanya orang-orang musyrikin, mereka menyembah kepada sesembahan-sesembahan tersebut, tujuannya adalah supaya mendekatkan diri mereka kepada Allāh,

قَوْلُهُ تَعَالَى:

adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :

وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهِ أَوْلِيَاءَمَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَايَهْدِيْ مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ  ٣ [الزمر:3]

Yang artinya

“Dan sesungguhnya orang-orang yang telah menjadikan selain Allāh sebagai sesembahan-sesembahan”,

Maksudnya adalah orang-orang kafir Quraisy, orang-orang musyrikin quraisy.

“Dan sesungguhnya orang-orang yang menjadikan selain Allāh sebagai sesembahan-sesembahan, mereka mengatakan”

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

“Tidaklah kami menyembah mereka, tidaklah kami menyembah sesembahan-sesembahan tersebut,”

إِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

“kecuali supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allāh dengan sebenar-benar pendekatan.”

Ini yang mengabarkan kepada kita adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Allāh mengabarkan kepada kita tentang sebagian ucapan orang-orang musyrikin quraisy. Apa ucapan mereka :

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَا إِلَىاللَّهِ زُلْفَى

“tidaklah kami menyembah mereka,”

Memberikan sebagian ibadah kepada sesembahan-sesembahan tersebut,

“kecuali tujuannya baik.”

Apa tujuan mereka?

إِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

“supaya orang-orang tersebut, makhluk-makhluk tersebut mendekatkan diri kami kepada Allāh”

Ucapan mereka illallah, menunjukkan bahwasanya mereka mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan ini jelas menunjukkan kepada kita tentang tujuan orang-orang musyrikin tersebut beribadah kepada berhala-berhala tersebut, yaitu untuk mendekatkan diri mereka kepada Allāh.

Kemudian Allāh mengatakan :

إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْفِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ

”Sesungguhnya Allāh akan menghukumi mereka, mengadili diantara mereka, di dalam apa yang mereka perselisihkan”

Pada hari kiamat, apakah benar ucapan orang-orang musyrikin tersebut, apakah ucapan mereka

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَا إِلَىاللَّهِ زُلْفَى

ini Adalah ucapan yang hak atau hanya sekedar persangkaan dari mereka.

Maka, nanti di hari kiamat, Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan menghukumi dan mengadili diantara mereka. Siapa diantara mereka yang benar, apakah orang-orang musyrikin tersebut ataukah Rasulullãh ﷺ.

إِنَّ اللَّهَ لَايَهْدِيْ مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“sesungguhnya Allāh tidak akan memberikan petunjuk kepada setiap orang yang berdusta dan dia sangat kufur”

Ini menunjukkan bahwasanya apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrikin tersebut yang pertama adalah kedustaan.

Karena Allāh mengatakan

إِنَّ اللَّهَ لَايَهْدِيْ مَنْ هُوَ كَاذِبٌ

”Sesungguhnya Allāh tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang dusta”

Kemudian Allāh mengatakan :

كَفَّارٌ

”yang sangat kufur”

Kaffar adalah shighoh mubalaghoh dari kafir. Kafir artinya adalah orang yang kafir. Tetapi, orang yang Kaffar berarti orang yang sangat kafir. Menunjukkan bahwasanya apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin tersebut ini adalah perbuatan yang sangat kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Selain kedustaan, itu adalah sangat kufur di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Jadi, ayat ini adalah dalil yang jelas bahwasanya tujuan orang-orang musyrikin di dalam menyembah sesembahan-sesembahan mereka adalah untuk diantaranya mencari kedekatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Bukan meyakini bahwasanya sesembahan-sesembahan tersebut yang memberikan rezeki kepada mereka atau menciptakan mereka atau mengatur alam semesta. Tidak! Dan sudah disebutkan dalil mereka apabila ditanya siapa yang memberikan rezeki kepada mereka, mereka mengatakan Allāh.

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

Diposkan pada hsi

HSI – Al-Qowāidul Arba Halaqah 12 – Penjelasan Kaidah Kedua Kitab Al-Qawa’idul Arba Bagian 1

Halaqah yang ke-12 penjelasan kitab Al-Qowā’idul Arba, karangan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi rahimahullah.

Kaidah yang kedua, Beliau berkata :

اَلْقَاعِدَةُ الثَّانِيَة: أَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ: مَا دَعَوْنَاهُمْ وَتَوَجَّهْنَاإِلَيْهِمْ، إِلَّا لِطَلَبِ الْقُرْبَة، وَالشَّفَاعَة،

“Mereka, yaitu orang-orang musyrikin, orang-orang musyrik di zaman Rasulullãh ﷺ, mereka berkata, diantara ucapan mereka :

مَا دَعَوْنَاهُمْ وَتَوَجَّهْنَاإِلَيْهِمْ، إِلَّا لِطَلَبِ الْقُرْبَة، وَالشَّفَاعَة

“Kami (kata mereka) tidaklah menyembah sesembahan-sesembahan kami

Seperti latta, uzza, manna, Hubal & juga sesembahan-sesembahan yang lain. Mereka berkata, tidaklah kami berdoa kepada mereka (sesembahan-sesembahan tersebut) – وَتَوَجَّهْنَاإِلَيْهِمْ – dan kami menghadapkan peribadatan kami kepada mereka – إِلَّا – kecuali –  لِطَلَبِ الْقُرْبَة، وَالشَّفَاعَة – tujuannya adalah untuk mencari yang pertama Al-Qurbah, kemudian yang kedua adalah mencari Asysyafa’ah”

Tujuan mereka didalam berdoa kepada sesembahan-sesembahan mereka adalah untuk dua tujuan ini, yaitu :

  1. Yang pertama adalah Al-Qurbah. Mereka ingin kedekatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla/bagaimana mereka supaya dekat dengan Allāh. Bahwasanya orang-orang musyrikin mereka juga mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Di dalam Qoidah yang pertama dan bahwasanya mereka meyakini Allāh yang menciptakan mereka, memberikan rezeki kepada mereka, mengatur alam semesta, menghidupkan dan juga mematikan yang menunjukkan bahwasanya orang-orang musyrikin mereka juga mengenal Allāh. Akan tetapi, sebatas Allāh yang mencipta, memberikan rezeki, mengatur alam semesta. Dan disini beliau mengatakan bahwasanya orang-orang musyrikin, diantara ucapan mereka, tidaklah kami berdoa kepada patung-patung tersebut, sesembahan-sesembahan tersebut, kecuali untuk mencari kedekatan. Mereka merasa dirinya adalah orang yang jauh dari Allāh, terlalu banyak kemaksiatan, terlalu banyak dosa yang dilakukan. Oleh karena itu, mereka ingin kedekatan kepada Allāh dengan cara memberikan sebagian ibadah kepada sesembahan-sesembahan tersebut, yang mereka adalah orang-orang yang shaleh. Supaya sesembahan-sesembahan tersebut, mendekatkan diri mereka kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
  2. Kemudian yang kedua, tujuannya adalah Asysyafa’ah, ingin mendapatkan syafa’at dari sesembahan-sesembahan tersebut. Syafa’at di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dan Ucapan Beliau rahimahullah di sini, ini adalah ucapan berdasarkan dalil dan setelah ini beliau akan menyebutkan dalilnya.

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

Diposkan pada hsi

HSI – Al-Qowāidul Arba Halaqah 11 – Penjelasan Kaidah Pertama Kitab Al-Qawa’idul Arba Bagian 3

Halaqah yang ke-11 penjelasan kitab Al-Qowā’idul Arba, karangan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi rahimahullah.

Apa yang memasukan seseorang ke dalam agama Islam?

Apa yang membedakan antara orang Islam dengan orang-orang musyrikin tersebut?

Apabila dalam masalah penciptaan, masalah pengaturan rezeki ternyata sama antara kita dengan mereka.

Lalu apa yang membedakan antara diri kita dengan mereka?

Apa yang diinginkan oleh Rasulullãh ﷺ dari orang-orang musyrikin tersebut?

Yang beliau inginkan bukan hanya mereka mengakui bahwasanya Allāh yang mencipta, memberikan rezeki dan juga mengatur alam semesta, tetapi yang diinginkan oleh Allāh & Rasul-Nya dari orang-orang musyrikin tersebut adalah supaya mereka meng-Esa-kan ibadah hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Inilah yang diinginkan oleh Allāh dan Rasul-Nya.

Allāh dan Rasul-Nya menginginkan dari orang-orang musyrikin tersebut selain mereka mengakui bahwasanya Allāh yang mencipta, mengatur alam semesta dan memberi rezeki, diinginkan dari mereka supaya mereka meng-Esa-kan ibadah hanya untuk Allāh.

Orang-orang musyrikin tidak meng-Esa-kan Allāh di dalam ibadahnya. Inilah yang membedakan antara kita dengan mereka. Terkadang mereka melakukan ibadah untuk Allāh, seperti ketika haji-an. Karena ibadah haji ini sudah ada sejak Nabi Ibrahim alaihi wa sallam, kemudian dilanjutkan Nabi Ismail dan seterusnya dan orang-orang quraisy, mereka adalah keturunan Nabi Ismail ibn Ibrahim. Ibadah haji masih mereka pegang sampai di zaman Rasulullãh ﷺ. Oleh karena itu, setiap tahun mereka senantiasa melakukan ibadah haji dan ini dilakukan untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita membaca di dalam kitab-kitab syiroh, tentang perjanjian Aqobah yang pertama maupun yang kedua, Baiat antara Rasulullãh ﷺ dengan kaum Ansor. Kapan terjadi? Ketika musim-musim haji. Ketika orang-orang Arab, orang-orang quraisy dan orang-orang Arab yang ada di sekitarnya, mereka melakukan ibadah haji menuju ke Mekkah. Disanalah pertemuan Rasulullãh ﷺ dengan orang-orang Anshor. Terkadang mereka beribadah kepada Allāh dan terkadang mereka beribadah kepada selain Allāh. Sehingga ketika terjadi musibah, misalnya diantara mereka ada sebagian yang datang kepada Jin atau ada diantara mereka ketika ingin berperang dan ingin menang menaruh senjata-senjata mereka digantungkan di sebuah pohon tertentu, dengan keyakinan bahwasanya itu akan membawa barokah. Terkadang mereka menyembah kepada Allāh beribadah kepada Allāh semata dan terkadang mereka serahkan sebagian ibadah mereka kepada selain Allāh. Inilah yang membedakan antara diri kita orang Islam dengan orang-orang musyrikin tersebut.

Kalau meyakini bahwasanya Allāh yang mencipta satu-satunya, memberikan rezeki satu-satunya, mengatur alam semesta satu-satunya, seharusnya keyakinan ini menjadikan mereka hanya menyembah kepada Allāh.

Bagaimana kita menyembah sesuatu yang tidak mencipta?

Bagaimana seseorang menyembah sesuatu yang tidak memberikan rezeki, baik dari langit maupun dari bumi sedikit pun?

Bagaimana seseorang menyembah sesuatu yang tidak mengatur alam semesta?

Bahkan mereka diciptakan, mereka diberikan rezeki, mereka diatur oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kenapa mereka tidak menyembah saja Dzat yang telah menciptakan benda-benda tersebut, yang telah menciptakan makhluk-makhluk tersebut?

Oleh karena itu Allāh mengatakan :

فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُوْنَ

“Lalu katakan kepada mereka, kenapa mereka tidak takut dan takwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Inilah yang diinginkan oleh Allāh dan Rasul-Nya. Dan ini ditolak dan diingkari oleh orang-orang quraisy, ketika mereka didakwahi.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه

”tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh”

Mereka semuanya memahami bahwasanya makna kalimat ini, berarti saya harus meninggalkan seluruh sesembahan selain Allāh yang selama ini aku sembah, dan hanya menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Orang-orang Quraisy, orang-orang kafir Quraisy, orang-orang musyrikin, mereka semuanya memahami kalimat ini. Karena, mereka adalah orang-orang Arab dan sangat mengenal makna kalimat – لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه . Ada diantara mereka yang menerima dan langsung masuk Islam dan ada diantara mereka yang menolak dan tidak mau mengucapkan – لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه . Bahkan mereka sombong.

إِنَّهُمْ كَانُوْا إِذَا قِيْلَلَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُوْنَ
وَيَقُوْلُوْنَ أَئِنَّا لَتَارِكُوْآلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُوْنٍ

“sesungguhnya mereka, kata Allāh, apabila dikatakan kepada mereka, diajak untuk mengucapkan – لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه – mereka sombong, menolak kebenaran tidak mau mengucapkan – لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه –

Karena mereka tahu tentang tuntutan dari kalimat ini. Kalau saya mengucapkan kalimat ini berarti saya harus masuk Islam, sesembahan yang begitu banyak aku tinggalkan dan hanya menyembah kepada Allāh yang satu, tidak boleh lagi aku berdoa kepada selain Allāh, tidak boleh lagi aku beristianah, beristhigosah kepada selain Allāh. Oleh karena itu, mereka – يَسْتَكْبِرُوْنَ – mereka sombong dan tidak mau mengucapkan kalimat ini

وَيَقُوْلُوْنَ أَئِنَّالَتَارِكُوْ آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُوْنٍ

“Dan mereka mengatakan, apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami hanya karena tukang syair yang gila?”

Selain mereka menolak mereka juga menghina Rasulullãh ﷺ. Mengatakan bahwasanya Rasulullãh ﷺ adalah tukang syair, padahal beliau adalah orang yang tidak mengetahui tentang syair, dan mengatakan bahwasanya beliau seorang yang gila. Semuanya ini adalah menunjukkan kesombongan mereka. Selain menolak dakwah beliau, mereka juga berusaha untuk merendahkan beliau supaya manusia tidak mengikuti dakwah beliau.

Di dalam ayat yang lain mereka mengatakan

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًاوَاحِدًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan yang banyak ini, hanya menjadi tuhan yang satu? sesungguhnya ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan”

Ini Adalah kesombongan orang-orang quraisy, orang-orang musyrikin quraisy. Mereka tidak mau mengucapkan kalimat – لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه, karena inilah yang akan memasukan mereka ke dalam agama Islam.

Inti dari Qoidah yang sudah kita sampaikan ini :

  1. Bahwasanya orang-orang musyrikin yang diperangi oleh Rasulullãh ﷺ sama dengan kita mengakui bahwasanya Allāh telah menciptakan mereka, memberikan rezeki kepada mereka, mengatur alam semesta ini, dan sesungguhnya ini tidak memasukkan mereka ke dalam agama Islam.
  2. Kemudian yang kedua, Apa yang sebenarnya memasukkan seseorang ke dalam agama Islam? Yaitu, Apabila seseorang hanya meng-Esa-kan Allāh di dalam beribadah, hanya menyerahkan ibadah kepada Allāh. Adapun seseorang hanya meyakini Allāh yang mencipta, Allāh yang memberikan rezeki, Allāh yang mengatur alam semesta, maka ini belum membedakan antara dia dengan orang musyrikin.
  3. Kemudian yang ketiga, Hendaknya seseorang Di dalam berdakwah atau mendakwahi manusia ke dalam Agama Islam, tidak mencukupkan diri hanya mengenalkan mereka bahwa Allāh yang menciptakan, memberikan rezeki dan juga mengatur alam semesta. Karena ini tidak membedakan antara kita dengan yang lain. Karena sebagian ketika berdakwah dan mengajak orang kepada Islam hanya mengingatkan perkara-perkara ini. Padahal disana ada sesuatu yang lebih penting dari itu. Artinya, setelahnya yang harus yang dia sampaikan, bukan hanya menyampaikan tentang Rububiyah : keyakinan bahwasanya Allāh yang mencipta, memberikan rezeki dan juga mengatur alam semesta. Tapi juga harus disampaikan bahwasanya keyakinan ini menuntut kita, mengharuskan kita, untuk hanya meng-Esa-kan Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam ibadah.

Dan Insya Allah, Qoidah ini akan diperjelas pada Qoidah-qoidah selanjutnya.

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

Diposkan pada hsi

HSI – Al-Qowā’idul Arba Halaqah 10 – Penjelasan Kaidah Pertama Kitab Al-Qawa’idul Arba Bagian 2

Halaqah yang ke-10 penjelasan kitab Al-Qowā’idul Arba, karangan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi rahimahullah.

Beliau mengatakan dan dalilnya adalah Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُممِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَمَنيُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَمَنيُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ  ٣١ [ يونس: 31]

قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُممِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ

Katakanlah wahai Muhammad, katakanlah wahai Muhammad sebagai seorang rasul, katakan kepada mereka, tanyakan kepada mereka kaummu,

مَن يَرۡزُقُكُممِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ

“Wahai kaum ku, wahai orang-orang Quraisy, siapakah yang menciptakan, siapakah yang memberikan rezeki kepada kalian dari langit maupun dari bumi. Siapa yang memberikan rezeki kepada kalian, menurunkan hujan, memberikan rezeki kepada kalian dengan perdagangan,”

وَٱلۡأَرۡضِ

“dan juga memberikan rezeki kepada kalian dari bumi, berupa tanam-tanaman, siapakah yang memberikan rezeki kepada kalian dari langit maupun dari bumi”

أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ

“atau siapakah yang memiliki pendengaran dan juga penglihatan. Siapakah yang telah memberikan kalian pendengaran dan juga penglihatan. Sehingga kalian bisa mendengar, sehingga kalian bisa melihat,”

وَمَنيُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ

“dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati,

وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ

“dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup”, tanyakan kepada kaummu siapakah yang menghidupkan mereka dan siapakah yang mematikan mereka,

وَمَنيُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ

dan tanyakan kepada mereka siapakah yang telah mengatur alam semesta. Yang menggerakkan matahari, membuat siang, membuat malam.

فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ

Niscaya mereka akan mengatakan “Allah”

Ini adalah jawaban dari orang-orang Quraisy. Seandainya kaummu wahai Muhammad ditanya tentang beberapa pertanyaan ini niscaya mereka akan menjawab dengan satu jawaban dan tidak ada diantara mereka yang menjawab dengan jawaban lain, semuanya akan mengatakan “Allah”. Allah yang telah memberikan rezeki kepada kami, Allah yang telah menciptakan kami, Allah yang telah menghidupkan kami dan menghidupkan orang yang sudah mati dan telah mengatur alam semesta ini. Ini adalah jawaban orang-orang Quraisy. Mereka tidak mengatakan, yang menciptakan kami adalah Lata, salah satu sesembahan mereka, atau mengatakan yang menciptakan kami adalah Uzza, salah satu sesembahan mereka, atau mengatakan bahwasanya yang memberikan rezeki kepada kami adalah Hubal. Mereka memiliki sesembahan-sesembahan yang banyak, tetapi tidak ada diantara mereka yang meyakini bahwasanya yang menciptakan mereka adalah sesembahan-sesembahan tersebut.

Menunjukkan kepada kita kebenaran apa yang dikatakan oleh pengarang di sini. Beliau mengatakan “Engkau mengetahui bahwasanya orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam mereka meyakini bahwasanya Allah yang mencipta, memberikan rezeki dan juga mengatur alam semesta.”

Apa yang beliau ucapkan memiliki dasar, memiliki dalil di dalam Al-Qurān bahkan juga hadits-hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam.

فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Maka, katakanlah wahai Muhammad “Apakah kalian tidak bertaqwa?” “

“Wahai kaumku Seandainya kalian mengakui ini semua, Allah yang menciptakan, memberikan rezeki, mengatur alam semesta,”

أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Kenapa kalian tidak takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala? Kenapa kalian masih berbuat syirik kepada Allah subhanahu wa ta’ala?”.

Menunjukkan bahwasanya keyakinan mereka ini tidak menjaga mereka dari azab Allah subhanahu wa ta’ala. Karena, di sini Allah mengatakan

فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Kenapa kalian tidak menjaga diri kalian dari azab Allah?”

Menunjukkan bahwasanya keyakinan mereka, bahwasanya Allah yang mencipta, memberikan rezeki, mengatur alam semesta, ini, tidak bisa menjaga mereka dari azab Allah subhanahu wa ta’ala.

Ini adalah Qoidah yang pertama, yang beliau sampaikan dan ini adalah Qoidah yang sangat bermanfaat.

Dengan Qoidah ini kita bisa memahami banyak perkara, banyak fakta yang bisa kita pahami dari Qoidah ini. Karena sebagian kita sekali lagi, meyakini bahwasanya orang-orang musyrikin yang ada di zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam itu, mereka tidak mengenal Allah sama sekali. Seakan-akan mereka meyakini yang mencipta adalah berhala mereka, patung yang mereka sembah, pohon yang mereka sembah, Jin yang mereka sembah. Tidak. Ternyata di dalam masalah ini, masalah penciptaan, masalah pengaturan alam semesta, masalah rezeki, keyakinan mereka sama dengan keyakinan kita, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala yang melakukan ini semua. Jadi, ini kata beliau

لم يدخلهم ذلك في الإسلام

“Tidak memasukkan mereka ke dalam agama Islam”

Oleh karena itu, ketika kita melihat di zaman kita, apabila kita melihat orang musyrik, ternyata dia juga mengenal Allah, maka ini bukan sesuatu yang menakjubkan dan bukan sesuatu yang mengherankan. Kalau ada seorang musyrik ternyata dia mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, meyakini bahwasanya Allah yang telah menciptakan mereka dan ini bisa kita buktikan, ketika kita melihat orang-orang di sekitar kita yang mereka mungkin adalah orang yang tidak menisbatkan dirinya kepada agama Islam. Tetapi, ternyata dia ketika ditanya, siapakah yang telah menciptakan dia, dia akan menjawab yang menciptakan adalah Allah subhanahu wa ta’ala, atau terkadang memberikan isyarat mengatakan “Yang menciptakan saya adalah yang di atas” atau dengan kalimat-kalimat yang lain yang intinya dia mengakui bahwasanya yang menciptakan dia adalah Allah. Padahal dalam kehidupan dia sehari-hari, dia banyak mengagungkan selain Allah subhanahu wa ta’ala, bermuamalah dengan jin, menyembah kepada Jin, meyakini selain Allah subhanahu wa ta’ala. Tapi, ketika ditanya tentang siapa yang mengatur alam semesta, siapa yang memberikan rezeki, ternyata mereka juga mengakui bahwasanya itu adalah Allah subhanahu wa ta’ala. Dan ini tidak memasukkan mereka ke dalam agama Islam.

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

Diposkan pada hsi

HSI – Al-Qowāidul Arba Halaqah 09 – Penjelasan Kaidah Pertama Kitab Al-Qawa’idul Arba Bagian 1

Halaqah yang ke-9 penjelasan kitab Al-Qowā’idul Arba, karangan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi rahimahullah.

Beliau rahimahullah mengatakan :

اَلْقَاعِدَةُ الْأُوْلَى: أَنْتَعْلَمَ أَنَّ الْكُفَّارَالَّذِيْنَ قَاتَلَهُمْ رَسُوْلُ اللَّهِ مُقِرُّوْنَ: أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْخَالِقُ،الْرَازِقُ، الْمُحْيِي الْمُمِيْتُ، الْمُدَبِّرُ لِجَمِيْعِ الْأُمُوْر

اَلْقَاعِدَةُ الْأُوْلَى:

”Kaidah yang pertama

أَنْتَعْلَمَ أَنَّ الْكُفَّارَالَّذِيْنَ قَاتَلَهُمْ رَسُوْلُ اللَّهِ

Beliau mengatakan

مُقِرُّوْنَ: أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْخَالِقُ،الْرَازِقُ، الْمُحْيِي الْمُمِيْتُ، الْمُدَبِّرُ لِجَمِيْعِ الْأُمُوْر

Beliau mengatakan, kaidah yang pertama adalah engkau mengetahui bahwasanya orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallahu’alaihi wa salam, mereka menyatakan, mereka meyakini, mengakui bahwasanya Allah, Dialah – الْخَالِقُ – Yang Maha Pencipta, الْرَازِقُ – Yang Maha Memberikan Rezeki, الْمُحْيِي الْمُمِيْتُ – Yang menghidupkan dan Mematikan, الْمُدَبِّرُ لِجَمِيْعِ الْأُمُوْر – Dan bahwasanya Alah Subhanahu wa Ta’ala Dialah Yang mengatur seluruh perkara ini

Ini adalah Kaidah yang pertama yang ingin beliau sampaikan kepada kita semua. Apa itu? Hendaknya kita mengetahui sebagai seorang muslim bahwasanya orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallahu’alaihi wa salam. Siapa mereka? Yaitu, orang-orang musyrikin di zaman beliau, diantaranya orang-orang Quraisy, kaum beliau sendiri. Engkau mengetahui bahwasanya mereka yang diperangi oleh Rasulullah shallahu’alaihi wa salam bersama shahabat.

Perlu diketahui, bahwasanya mereka, yaitu orang-orang musyrikin tersebut, مُقِرُّوْنَ – mereka menyatakan, mereka mengakui, mereka meyakini, bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah Yang Menciptakan. Ini diyakini oleh orang-orang Quraisy, oleh orang-orang musyrikin. الْرَازِقُ – Dan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah yang memberikan rezeki. Kemudian beliau mengatakan – الْمُحْيِي الْمُمِيْتُ – mereka meyakini bahwasanya Yang menghidupkan dan Mematikan adalah Allah subhanahu wa ta’ala. الْمُدَبِّرُ لِجَمِيْعِ الْأُمُوْر – Yang mengatur seluruh perkara ini, Yang mengatur alam semesta. الْمُدَبِّرُ لِجَمِيْعِ الْأُمُوْر – Yang mengatur seluruh perkara ini. Orang-orang Quraisy juga meyakini dan mengakui bahwasanya yang mengatur alam semesta ini tidak ada selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Kemudian beliau mengatakan

وَلَمْ يُدْخِلْهُمْ ذَلِكَ فِي الْإِسْلَام

Akan tetapi, keyakinan dan aqidah orang-orang kaum musyrikin Quraisy, yang mereka meyakini bahwasanya Allah yang mencipta, memberikan rezeki, mengatur alam semesta, menghidupkan dan mematikan, Ternyata ini, kata beliau, tidak memasukkan ke dalam Agama Islam. Keyakinan tersebut tidak memasukkan mereka ke dalam Agama Islam.

Seandainya keyakinan ini memasukkan mereka ke dalam agama Islam tentunya tidak akan diperangi oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam. Seandainya keyakinan bahwasanya Allah itu mencipta, memberikan rezeki, mengatur alam semesta, menghidupkan dan mematikan, ini memasukkan mereka ke dalam agama Islam, menjadikan mereka islam seperti yang diinginkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam, tentunya tidak akan diperangi oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam dan juga para shahabat. Namun, ternyata Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam dan para shahabat tetap memerangi mereka, menunjukkan bahwasanya keyakinan ini, tidak memasukkan mereka ke dalam agama Islam. Dan ini, pengetahuan yang tidak banyak diketahui oleh saudara-saudara kita. Mereka mendengar dari gurunya, mendengar dari orang tua nya, bahwasanya orang-orang Quraisy, mereka adalah orang yang menyembah berhala, menyembah ini dan menyembah itu seakan-akan mereka tidak mengenal siapa Allah subhanahu wa ta’ala.

Oleh karena itu, di sini beliau ingin memberikan nasihat, memberikan pengetahuan kepada kita yang mungkin tidak kita ketahui. Ketahuilah bahwasanya orang-orang musyrikin ternyata mereka juga mengakui bahwasanya Allah yang mencipta, seperti kita dan bahwasanya Allah yang memberikan rezeki dan bahwasanya Allah yang mengatur alam semesta. Namun, yang demikian, tidak memasukkan mereka ke dalam agama Islam. Berarti, di sana harus ada sesuatu yang memasukkan mereka ke dalam agama Islam.

Ternyata, keyakinan ini tidak cukup untuk memasukkan mereka ke dalam agama Islam. Lalu apa yang diinginkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam dari mereka? Nanti Insya Allah kita akan sebutkan.

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah