Diposkan pada hsi

HSI 06 – Halaqoh 21 s.d. 25 – Amalan Malaikat 10 s.d. 12, Beberapa Penyimpangan Dalam Hal Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh & Penjelasan Tentang Beberapa Hak Malaikat, dan Buah Dan Manfaat Beriman Kepada Malaikat

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-21 s.d. 23 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah

“Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 10 s.d. 12”

Di antara amalan malaikat yang kita diperintahkan untuk beriman dengannya adalah amalan mereka yang berkaitan dengan manusia, mulai dari awal penciptaan manusia di dalam perut ibunya, Penulisan taqdir, Penulisan ucapan & perbuatan dia selama di dunia, Pencabutan ruh, Dan seterusnya.

Di antara amalan malaikat & tugas mereka yang berkaitan dengan manusia :

⑴ PERANTARA ANTARA ALLĀH & ANTARA HAMBA-HAMBANYA DARI KALANGAN MANUSIA

Di antara malaikat ada yang Allāh berikan tugas menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasūl.

◆ Ada di antara wahyu yang langsung diberikan oleh Allāh kepada seorang Nabi dan ada di antaranya yang melalui malaikat.

Allāh berfirman:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِن وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

“Dan tidaklah Allāh berbicara kepada manusia kecuali wahyu yang diwahyukan secara langsung atau berbicara kepadanya dari balik hijab atau Allāh mengutus seorang malaikat utusan kemudian malaikat tersebut mewahyukan dengan izin Allāh apa yang Allāh kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (Asy-Syūra 51)

◆ Jibrīl adalah yang paling sering melaksanakan tugas ini. Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

“Katakanlah, ‘Barangsiapa yang menjadi musuh bagi Jibrīl maka sesungguhnya dia telah menurunkan Al-Qurān atas hatimu dengan izin Allāh, membenarkan apa yang sebelumnya, petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (Al-Baqarah 97)

◆ Dan terkadang selain Jibrīl juga turun membawa wahyu, sebagaimana ucapan ‘Abdullāh Ibnu ‘Abbās:

بَيْنَمَا جِبْرِيلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: هَذَا بَابٌ مِنْ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ، فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ، فَقَالَ: هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ، فَسَلَّمَ، وَقَالَ: أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا، لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ: فَاتِحَةُ الْكِتَابِ، وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ

“Ketika Jibrīl duduk bersama Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tiba-tiba Jibrīl mendengar suara dari langit.

Kemudian Beliau mengangkat kepalanya seraya berkata: ‘Ini adalah pintu di langit dibuka hari ini, belum pernah dibuka sebelumnya kecuali hari ini’.

Maka turunlah dari pintu tersebut seorang malaikat.

Kemudian Jibrīl berkata, ‘Ini adalah malaikat turun ke bumi, dia belum pernah turun sebelumnya kecuali hari ini.’

Kemudian malaikat tersebut mengucapkan salam dan berkata kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam: ‘Bergembiralah dengan 2 cahaya yang diberikan kepadamu, belum pernah diberikan kepada seorang Nabipun sebelummu, Fātihatul Kitāb (yaitu Al-Fātihah) dan ayat-ayat terakhir surat Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca 1 huruf dari keduanya kecuali engkau akan diberi’.”

(HR Muslim)

⑵ MENULIS AMAL KEBAIKAN & KEJELEKAN MANUSIA

Allāh berfirman:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (١٠) كِرَاماً كَاتِبِينَ (١١)

“Dan sesungguhnya atas kalian ada malaikat penjaga yang mulia lagi menulis.” (Al-Infithār 10-11)

◆ Jumlahnya ada 2 malaikat, kiri dan kanan untuk setiap manusia.

Allāh berfirman:

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (١٧) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (١٨)

“Ketika 2 malaikat menulis di kanan dan di kiri senantiasa bersamanya, tidaklah ada ucapan kecuali ada malaikat yang mengawasi yang ditugaskan untuk itu.” (Qāf 17-18)

◆ Mereka bertugas mencatat semua amalan manusia.

Allāh berfirman:

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkanlah kitab catatan maka engkau akan melihat orang-orang yang berbuat maksiat takut dengan apa yang ada di dalamnya dan mereka berkata: ‘Celaka kami, kitab ini tidak meninggalkan amalan yang kecil maupun yang besar kecuali ditulisnya.’ Dan mereka mendapatkan apa yang mereka amalkan hadir di depannya dan Rabbmu tidak menzhalimi seorangpun.” (Al-Kahfi 49)

◆ Sampai niat dan kehendak yang ada di dalam hatipun, mereka tulis.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِذَا هَمَّ عَبْدِي بِسَيِّئَةٍ ، فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ ، فَإِنْ عَمِلَهَا ، فَاكْتُبُوهَا سَيِّئَةً ، وَإِذَا هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، فَاكْتُبُوهَا حَسَنَةً ، فَإِنْ عَمِلَهَا ، فَاكْتُبُوهَا عَشْرًا

“Allāh ‘Azza wa Jalla berkata, ‘Apabila hambaKu berkehendak untuk melakukan kejelekan maka janganlah kalian tulis. Kemudian apabila dia melakukan kejelekan tersebut maka tulislah satu kejelekan. Dan apabila dia berkehendak untuk berbuat baik kemudian tidak mengamalkannya maka tulislah satu kebaikan. Kemudian apabila dia mengamalkannya maka tulislah sepuluh kebaikan’.” (HR Muslim)

◆ Hikmah dari pencatatan ini adalah menunjukkan keadilan Allāh dan bahwasanya Allāh tidak menzhalimi manusia dalam ketaatan yang dia lakukan dan kemaksiatan yang dia kerjakan.

⑶ MENGATUR RAHIM

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا ، يَقُولُ : يَاْ رَبِّ نُطْفَةٌ، يَا رَبِّ عَلَقَةٌ، يَا رَبِّ مُضْغَةٌ، فَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقه، قَالَ : أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى ؟ شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ ؟ فَمَا الرِّزْقُ وَ الْأَجَلُ ؟ فَيُكْتَبُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ

“Sesungguhnya Allāh ‘Azza wa Jalla menugaskan seorang malaikat untuk rahim. Malaikat berkata, ‘Wahai Rabbku, setetes air mani. Wahai Rabbku, segumpal darah. Wahai Rabbku, segumpal daging.’ Maka, apabila Allāh berkehendak untuk menyempurnakan penciptaanNya, malaikat berkata, ‘Ya Allāh, apakah laki-laki atau wanita? Celaka atau bahagia? Kemudian, apa rezeki dan apa ajalnya?’ Maka ditulislah semua itu ketika seseorang di perut ibunya.” (HR Bukhāri dan Muslim)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ في بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ في ذلك عَلَقَةً مِثْلَ ذلك ثُمَّ يَكُونُ في ذلك مُضْغَةً مِثْلَ ذلك ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فيه الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أو سَعِيدٌ

“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya 40 hari. Kemudian berupa segumpal darah di dalamnya selama yang semisalnya (yaitu 40 hari). Kemudian menjadi segumpal daging di dalamnya selama yang semisalnya. Kemudian diutus seorang malaikat maka dia meniup ruh di dalamnya dan diperintah menulis 4 kalimat; rizqinya, ajalnya, amalnya dan dia bahagia atau celaka.” (HR Bukhāri dan Muslim)

⑷ MENJAGA MANUSIA DARI MARABAHAYA

Allāh berfirman:

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لا يُفَرِّطُونَ

“Dan Dialah Zat yang berkuasa di atas para hambaNya dan mengutus atas kalian para malaikat penjaga sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kalian maka utusan-utusan Kami yang akan mewafatkannya dan mereka tidak akan menyia-nyiakan perintah Allāh.” (Al-An’ām 61)

Para malaikat itu menjaga manusia dari marabahaya, dari depan dan belakangnya. Dan apabila datang taqdir Allāh maka mereka membiarkannya.

Allāh berfirman:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ

“Setiap manusia memiliki malaikat-malaikat yang bergantian yang berada di depan dan belakangnya, yang bertugas menjaganya dengan perintah dari Allāh.” (Ar-Ra’d 11)

Ibnu Katsīr rahimahullāh menyebutkan bahwa malaikat yang mengikuti setiap manusia ada 4;

  1. 2 malaikat sebagai pencatat amal kanan dan di kiri
  2. 2 malaikat sebagai penjaga dari bahaya di depan dan di belakang.

Mereka ini bergantian dengan 4 malaikat yang lain setiap malam dan siang.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلائِكَةٌ بِالنَّهَارِ , وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلاةِ الْفَجْرِ وَصَلاةِ الْعَصْرِ ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ : كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ , وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ

“Bersama kalian ada malaikat-malaikat yang bergantian, beberapa malaikat di malam hari dan beberapa malaikat di siang hari. Dan mereka berkumpul ketika shalat Shubuh dan shalat ‘Ashar. Kemudian naiklah malaikat yang bermalam bersama kalian, maka Allāh bertanya kepada mereka sedang Allāh lebih tahu tentang mereka. ‘Bagaimana keadaan hamba-hambaKu ketika kalian meninggalkan mereka?’ Maka mereka berkata, “Kami meninggalkan mereka sedangkan mereka dalam keadaan shalat dan kami mendatangi mereka sedangkan mereka dalam keadaan shalat.” (HR Bukhāri dan Muslim)

⑸ MENDORONG MANUSIA UNTUK BERBUAT BAIK

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ وَقَرِينُهُ مِنَ الْمَلائِكَةِ. قَالُوا : وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : ” وَإِيَّايَ ، إِلاَّ أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ ، فَلا يَأْمُرُنِي إِلا بِخَيْرٍ

“Tidaklah ada di antara kalian seorangpun kecuali diberikan kepadanya qarīn dari kalangan jin dan qarīn dari malaikat. Para shahābat berkata, ‘Demikian pula engkau, wahai Rasūlullāh?’ Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, ‘Demikian pula aku, akan tetapi Allāh telah menolongku kemudian jin itu masuk Islam maka dia tidak memerintahkanku kecuali kebaikan’.” (HR Muslim)

⑹ MENYAMPAIKAN KEPADA RASŪLULLĀH SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM SALAM UMATNYA

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الأَرْضِ يُبَلِّغُوْنَ مِنْ أُمَّتِيْ السَّلاَمَ

“Sesungguhnya Allāh memiliki malaikat-malaikat yang senantiasa berjalan-jalan di permukaan bumi, menyampaikan salam untukku dari umatku.” (Hadits shahīh riwayat Nasāi)

⑺ MENGHADIRI MAJLIS DZIKIR & MAJLIS ‘ILMU

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

.مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Dan tidaklah berkumpul sebuah kaum di rumah di antara rumah-rumah Allāh, mereka membaca kitab Allāh dan mempelajarinya di antara mereka kecuali akan turun atas mereka, ketenangan, akan menyelimuti mereka rahmat, menaungi mereka malaikat-malaikat, dan Allāh akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisiNya.” (HR Muslim)

Dan telah berlalu dalil yang lain pada halaqah ke-16.

⑻ MENCATAT ORANG-ORANG YANG HADIR SHALAT JUM’AT

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إذا كان يوم الجمعة وقفت الملائكة على باب المسجد يكتبون الأول فالأول ومثل المهجر كمثل الذي يهدي بدنة ثم كالذي يهدي بقرة ثم كبشا ثم دجاجة ثم بيضة فإذا خرج الإمام طووا صحفهم ويستمعون الذكر

“Apabila datang hari Jum’at berdiri para malaikat di pintu masjid menulis siapa yang pertama datang dan yang selanjutnya.

Dan permisalan orang yang berpagi-pagi datang seperti orang yang menyembelih hadyu berupa unta.

Kemudian yang selanjutnya seperti orang yang menyembelih hadyu berupa sapi.

Kemudian yang selanjutnya seperti orang yang menyembelih hadyu berupa kambing.

Kemudian yang selanjutnya seperti orang yang menyembelih hadyu berupa ayam.

Kemudian yang selanjutnya seperti orang yang membayar hadyu berupa telur.

Kemudian apabila keluar imam malaikat-malaikat tersebut melipat lembaran-lembaran catatan dan mendengarkan dzikir.”

(HR Bukhāri)

⇒ Yang dimaksud dengan hadyu adalah sesuatu yang dikirim ke tanah haram (kota Mekkah) dalam rangka beribadah kepada Allāh.

⇒ Ada di antaranya yang hukumnya wajib dan ada di antaranya yang hukumnya sunnah.

⑼ MENCABUT NYAWA MANUSIA

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

“Katakanlah; akan mewafatkan kalian malaikat maut yang telah ditugaskan kepada kalian kemudian kalian akan dikembalikan kepada Rabb kalian.” (As-Sajdah 11)

Di dalam hadīts Barā Ibnu ‘Ādzib yang diriwayatkan Imām Ahmad, Abū Dāwūd, Nasāi dan haditsnya shahih, malaikat maut akan dibantu oleh malaikat-malaikat yang lain.

Setelah malaikat maut mengeluarkan nyawa dari badan maka langsung diterima oleh malaikat-malaikat lain yang bertugas membawanya ke atas.

Ada di antara manusia tersebut yang baik dan shalih dan dibawa oleh malaikat-malaikat rahmat.

Dan ada manusia yang menzhalimi dirinya sendiri maka dibawa oleh malaikat-malaikat adzab.

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلآئِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ

“Orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan menzhalimi diri mereka sendiri.” (An-Nahl 28)

Dan Allāh berfirman:

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ

“Orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan mereka baik.” (An-Nahl 32)

⑽ MENANYAI MANUSIA DI ALAM KUBUR, MEMBERI NIKMAT KUBUR & ADZAB KUBUR

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya

“Seorang hamba apabila diletakkan di kuburnya ditinggalkan dan pergi para sahabatnya, sampai-sampai dia mendengar suara sandal mereka.

Maka datanglah 2 malaikat dan mendudukkannya kemudian berkata, ‘Apa yang engkau katakan tentang laki-laki ini (Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam)?’

Dia berkata, ‘Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allāh dan RasulNya.’

Maka dikatakan kepadanya, ‘Lihat tempatmu di neraka, sungguh Allāh telah menggantikannya untukmu sebuah tempat di surga.’

Berkata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, ‘Maka orang tersebut melihat ke-2 tempat semuanya.’

Dan adapun orang yang kafir atau munafiq maka dia berkata, ‘Aku tidak tahu, aku dahulu mengatakan apa yang dikatakan manusia.’

Maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu tidak tahu dan tidak mengikuti.’

Kemudian dipukul dengan palu dari besi dengan sebuah pukulan di antara 2 telinganya maka dia berteriak dengan sebuah teriakan yang di dengar oleh apa yang ada di sekitarnya kecuali jin dan manusia.”

(HR Bukhāri dan Muslim)

⑾ BERPERANG BERSAMA ORANG-ORANG YANG BERIMAN

Allāh menceritakan pertolonganNya kepada orang-orang yang beriman pada saat Perang Badr di dalam firmanNya:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

“Ingatlah ketika kalian meminta pertolongan kepada Rabb kalian maka Allāh mengabulkan do’a kalian. Sesungguhnya Aku mengirimkan kepada kalian 1000 malaikat yang datang berturut-turut.” (Al-Anfāl 9)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sendiri melihat Jibrīl saat itu dan bersabda:

هَذَا جِبْرِيلُ آخِذٌ بِرَأْسِ فَرَسِهِ عَلَيْهِ أَدَاةُ الْحَرْبِ

“Ini adalah Jibrīl memegang kepala kudanya memakai alat-alat perang.” (HR Bukhāri)

Itulah sebagian amalan malaikat yang bisa kita sebutkan. Kewajiban kita adalah beriman dengan apa yang datang dari Allāh dan RasulNya.

Dengan demikian kita sudah menyelesaikan 4 poin cara beriman dengan malaikat yang telah kita sebutkan di halaqah yang pertama.

Halaqah yang ke-24 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah tentang

“Beberapa Penyimpangan Dalam Hal Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh & Penjelasan Tentang Beberapa Hak Malaikat.”

PENYIMPANGAN DALAM HAL BERIMAN DENGAN MALAIKAT ALLĀH

Di antara penyimpangan dalam hal iman dengan malaikat-malaikat Allāh adalah:

(1) Mengingkari keberadaan malaikat.

(2) Mengingkari sebagian malaikat dan amalannya.

(3) Menyamakan antara jin dan malaikat.

(4) Menyembah para malaikat.

Di dalam Al-Qurān, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلائِكَةِ أَهَؤُلاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ (٤٠) قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ (٤١)

“Dan hari dimana Allāh mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allāh berkata kepada para malaikat, ‘Apakah mereka dahulu menyembah kalian?’ Para malaikat berkata, ‘Maha Suci Engkau, Engkaulah wali kami selain mereka, akan tetapi mereka dahulu menyembah jin, sebagian mereka beriman dengan jin-jin tersebut.” (Saba 40-41)

(5) Memusuhi mereka.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

“Barangsiapa yang memusuhi Allāh, malaikat-malaikatNya, rasul-rasulNya, Jibrīl & Mīkāil maka sesungguhnya Allāh musuh bagi orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah 98)

⑹ Meyakini bahwa malaikat berjenis kelamin wanita dan bahwasanya malaikat adalah anak wanita Allāh.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَاسْتَفْتِهِمْ أَلِرَبِّكَ الْبَنَاتُ وَلَهُمُ الْبَنُونَ (١٤٩) أَمْ خَلَقْنَا الْمَلَائِكَةَ إِنَاثاً وَهُمْ شَاهِدُونَ (١٥٠)

“Maka tanyakanlah kepada mereka, ‘Apakah anak-anak wanita itu untuk Tuhanmu sedangkan untuk mereka anak-anak laki-laki? Ataukah Kami menciptakan malaikat-malaikat dengan jenis kelamin wanita sedangkan mereka menyaksikan?’.” (Ash-Shāffāt 149-150)

HAK MALAIKAT ATAS KITA

Adapun hak malaikat atas kita yang harus kita lakukan, maka di antaranya adalah:

⑴ Mewujudkan beriman dengan 4 point yang sudah kita sampaikan.

⑵ Mencintai mereka dan menghormati mereka karena Allāh karena mereka adalah hamba-hamba Allāh yang dimuliakan dan tidak memaksiati Allāh.

⑶ Tidak mengejek dan menghina mereka atau menjadikan mereka sebagai bahan bercanda karena hal ini bisa mengeluarkan seseorang dari Islam.

⑷ Menghindari apa yang dibenci oleh malaikat, seperti gambar dan patung makhluq yang bernyawa dan memelihara anjing di rumah.

• Di dalam sebuah hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةُ

“Malaikat tidak memasuki sebuah rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar.” (HR Bukhāri & Muslim)

Dan diantara yang dibenci malaikat adalah,

• Memakan makanan yang membuat bau mulut tidak sedap seperti bawang merah dan bawang putih dalam keadaan mentah.

Dalam sebuah hadits dari Jābir radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu berkata:

نهى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن أكل البصل والكراث، فغلبتنا الحاجة فأكلنا منها، فقال: من أكل من هذه الشجرة المنتنة فلا يقربن مسجدنا، فإن الملائكة تتأذى مما يتأذى منه الإنس

“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang dari memakan bawang merah dan kurrāts (bawang bakung). Maka suatu saat kami sangat butuh dan kamipun makan darinya. Kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, ‘Barangsiapa yang memakan dari tanaman yang berbau ini maka janganlah dia mendekati masjid kami karena sesungguhnya malaikat merasa terganggu dengan apa yang merasa terganggu dengannya manusia.” (HR Bukhāri dan Muslim)

• Demikian pula dihindari meludah ke kanan ketika shalat maupun di luar shalat.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إذا قام أحدكم إلى الصلاة، فلا يبصق أمامه، فإنما يناجي الله ما دام في مصلاه، ولاعن يمينه؛ فإن عن يمينه ملكاً، وليبصق عن يساره، أو تحت قدمه فيدفنها

“Apabila salah seorang diantara kalian berdiri untuk shalat maka janganlah meludah ke depan karena sesungguhnya dia sedang menghadap Allāh selama masih di tempat shalatnya dan jangan pula meludah ke kanan karena di sebelah kanan ada malaikat dan hendaknya meludah ke kiri atau meludah ke bawah kakinya kemudian memendamnya.” (HR Bukhāri dan Muslim)

⇒ Maksud dari meludah ke kiri atau ke bawah kakinya di sini adalah adalah apabila di luar masjid.

⇒ Maksud memendamnya adalah apabila lantai masjid berupa tanah.

Halaqah yang ke-25 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah tentang

“Buah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh”.

Di antara buah dan manfaat beriman dengan malaikat-malaikat Allāh di dunia dan di akhirat:

⑴ Beriman kepada malaikat adalah bagian dari mewujudkan keimanan yang tersebut keutamaan-keutamaannya di dalam Al-Qurān dan Hadīts.

Di antaranya adalah:

  1. Mendapatkan hidayah di dunia.
  2. Mendapatkan keamanan di akhirat.
  3. Masuk ke dalam surga, Dan lain-lain

⑵ Semakin mengagungkan Allāh.

Karena seseorang ketika mendengar tentang sangat besarnya seorang malaikat, dia menyadari bahwa Allāh yang menciptakan malaikat tersebut, lebih besar.

Dan seseorang apabila dia mendengar bahwa Allāh memiliki hamba-hamba yang sangat banyak, pasukan-pasukan, yang tidak mengetahui jumlahnya kecuali Allāh maka dia menyadari bahwa Allāh; Dialah Raja Yang Haq, Yang Berkuasa, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Besar, Yang Mengatur seluruh perkara.

Maka keyakinan ini membawa dia untuk hanya menyembah kepada Allāh dan meninggalkan penyembahan kepada selain Allāh.

⑶ Menjadikan seseorang tawādhu’ dan jauh dari sifat sombong dan riya’ di dalam ibadahnya.

Karena dia mengetahui bahwa di sana ada para malaikat yang jauh lebih banyak ibadahnya kepada Allāh dan mereka tidak memaksiati Allāh.

⑷ Mengetahui rahasia-rahasia alam yang sangat teratur dan kejadian-kejadian yang ada di dalamnya.

Dan bahwasanya di sana ada malaikat-malaikat yang Allāh tugaskan dengan amalan-amalan yang berkaitan dengan alam semesta dan manusia.

⑸ Mencintai amal shalih.

Karena di sana ada malaikat yang menulis amal kebaikan dan di sana ada malaikat-malaikat yang mendo’akan dengan kebaikan bagi orang yang melakukan beberapa jenis amal shalih.

⑹ Membenci kemaksiatan dan menjauhinya.

Karena di sana ada malaikat-malaikat yang mencatat ucapan dan perbuatannya dan di sana ada malaikat-malaikat yang mendo’akan dengan kejelekan dan laknat bagi orang yang melakukan beberapa jenis kemaksiatan.

⑺ Meniru dan meneladani para malaikat di dalam beribadah, keta’atan dan rasa takut mereka kepada Allāh.

⑻ Bersyukur kepada Allāh atas kenikmatan yang besar ini.

Dimana Allāh menugaskan kepada malaikat untuk melakukan beberapa amalan yang berkaitan dengan alam semesta dan manusia.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Dengan demikian kita sudah menyelesaikan Silsilah ‘Ilmiyyah yang ke-6 tentang “Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh”.

Semoga apa yang kita sampaikan bermanfaat dan bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dan sampai bertemu kembali insyā Allāh pada Silsilah ‘Ilmiyyah yang ke-7, yaitu tentang “Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh”.

والله تعالى أعلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

‘Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

 

 

 

 

Iklan

Penulis:

Hanya Seorang Abdulloh, yang mengharapkan diri ini, keluarga yang dibina, keturunan-keturunan hingga akhir zaman, kedua orang tua kandung maupun mertua dan saudara-saudara kandung maupun ipar, istiqomah di atas agama Islam sesuai Sunnah Nabi Muhammad SAW, wafat dalam keadaan Mukmin dan khusnul khotimah di hari Jum'at atau dalam keadaan syuhada, dan berkumpul dengan Nabi dan seuluruh kaum muslimin maupun mukminin di Jannatul Firdaus, Aaamiiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.