Diposkan pada hsi

HSI 5 | Halaqoh 09 – nikmat dan adzab kubur bagian 1

NIKMAT DAN ADZAB KUBUR (BAGIAN 1)

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله

Halaqah yang kesembilan dari silsilah beriman kepada hari akhir, adalah tentang nikmat dan adzab kubur bagian yang pertama.

Diantara beriman kepada hari akhir adalah beriman dengan adanya adzab dan nikmat kubur.

Kewajiban seorang mu’min adalah beriman meskipun belum atau tidak mengetahui hakikat caranya.

Kata kubur di sini adalah kebanyakan (keumuman) dan bukan merupakan pembatasan.

Artinya, seseorang akan tetap mendapatkan adzab atau nikmat kubur kalau memang dia berhak meskipun dia mati dalam keadaan tenggelam atau terbakar sehingga menjadi abu atau dimakan binatang buas dan lain-lain.

Tentunya dengan cara yang Allāh ketahui.

Dalil adanya adzab kubur di dalam Al Qurān diantaranya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla tentang orang orang-orang munafiqin :

ﺳَﻨُﻌَﺬِّﺑُﻬُﻢْ ﻣَﺮَّﺗَﻴْﻦِ ﺛُﻢَّ ﻳُﺮَﺩُّﻭﻥَ ﺇِﻟَﻰٰ ﻋَﺬَﺍﺏٍ ﻋَﻈِﻴﻢ

“Kami akan mengadzab mereka dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada adzab yang besar.”

(At Taubah:101)

Al-Imam Ath-Thobari rahimahullāh berkata dalam tafsirnya :

Adzab yang pertama adalah di dunia dan adzab yang kedua adalah di kubur.

Di dalam hadits Al-Barro Ibnu Azhim radhiyallāhu ‘anhu yang panjang yang menceritakan tentang fitnah, nikmat dan adzab kubur,

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayihi wa sallam bersabda:

استعيذوا بالله من عذاب القبر

“Hendaklah kalian berlindung kepada Allāh dari adzab kubur.”

(Hadist shahih riwayat Abu Daud & yang lainnya).

Hadist-hadits tentang adzab kubur termasuk muttawātir menurut para ulama.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.

Wabillāhit taufiq wal hidāyah.

Wassalamu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Saudaramu,

Abdullāh Roy
Di kota AlMadinah

Iklan
Diposkan pada hsi

HSI 5 | Halaqoh 08 – fitnah kubur

FITNAH KUBUR

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله

Halaqah yang kedelapan dari silsilah beriman kepada hari akhir, adalah tentang fitnah kubur.

Di antara beriman kepada hari akhir adalah beriman dengan adanya fitnah kubur.

Fitnah secara bahasa artinya adalah ujian.

Fitnah kubur adalah tiga pertanyaan yang akan diajukan oleh malaikat Munkar dan Nakir kepada mayyit, baik seorang mukmin, kafir, maupun orang munafik.

Ditanya tentang siapa Robb-nya, siapa nabi-nya, dan apa agamanya.

Suatu hari Rasullullah shallalahu’alaihi wasalam pernah menguburkan mayat bersama para sahabat, kemudian beliau berkata kepada mereka :

اسْتَغْفِرُوا ؛ لِأَخِيكُمْ وَاسْأَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ

“Hendaklah kalian memohon ampun untuk saudara kalian dan mintalah untuknya ketetapan hati karena sesungguhnya dia sekarang sedang ditanya.”

(Hadits shahih riwayat Abu Dawud)

Yang akan menjawab pertanyaan dengan baik adalah orang yang Allah tetapkan hatinya, yang dia dahulu di dunia mengenal Allah , mengenal Rosul-nya dan mengenal agama Islam.

Kewajiban seorang muslim adalah bersungguh-sungguh mempersiapkan jawaban yang benar untuk menghadapi ujian yang soal-soalnya sudah dibocorkan ini.

Dan penjelasan tentang mengenal Allah, Rasullullah dan agama Islam telah kita sebutkan di dalam silsilah ilmiah no 2, 3 dan 4.

Ada beberapa orang yang mereka kelak tidak akan menghadapi fitnah kubur, diantaranya adalah para syuhada, yaitu orang-orang yang meninggal di dalam peperangan di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasullullah Shallalahu’alaihi wasalam :

“Ya Rasullallah mengapa orang-orang yang beriman diuji di dalam kuburan mereka kecuali orang yang syahid.”

Maka Rasullullah shallalahu’alaihi wasalam menjawab :

كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوْفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنُةً

“Cukuplah kilatan pedang di atas kepala sebagai ujian.”

(Hadits shahih riwayat An Nasa’i)

Di antara mereka adalah orang yang meninggal pada hari jum’at atau malam jum’at.

Rasullullah shallalahu’alaihi wasalam bersabda :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menjaganya dari fitnah kubur.”

( Hadits hasan riwayat Tirmidzi )

Kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan hati kita dan orang-orang yang kita cintai di dalam menghadapi fitnah kubur ini.

Itulah yang bisa kita sampaikan dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وبالله التوفيق والهداية
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Abdullah Roy,
Di kota Madinah

Diposkan pada hsi

HSI 5 | Halaqoh 07 – Kematian

KEMATIAN

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله

Halaqah yang ketujuh dari silsilah beriman kepada hari akhir, adalah tentang Kematian.

Kematian adalah keluarnya nyawa seseorang dari jasadnya.

Kematian adalah ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji siapa diantara kita yang paling baik amalannya.

Dia adalah sunnatullah bagi setiap jiwa, bagaimanapun dia berusaha untuk lari dari kematian tersebut.

Allah berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.”

(QS Ali Imran : 185)

Seseorang tidak mengetahui kapan dan dimana dia akan meninggal.

Dan apabila datang, maka kematian tersebut tidak bisa diundurkan.

Sering mengingat mati adalah perkara yang diperintahkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Diharapkan dengan mengingat mati seseorang lebih khusuk di dalam beribadah, bersegera bertaubat dan tidak lalai atas kenikmatan dunia yang fana ini.

Rasūlullāh shalallāhu ‘Alaihi wasallam bersabda :

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

“Hendaklah kalian memperbanyak mengingat sesuatu yang memutus semua kelezatan.”

(HR. Tirmidzi, An Nasai, Ibnu Majah, berkata Syaikh Albani: Hasan Shahih)

Harapan setiap muslim adalah meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, yaitu meninggal dalam keadaan taat kepada Allah.

Caranya adalah dengan berdo’a & menjaga ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala selama hidupnya.

Di dalam sebuah hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala apabila menghendaki kebaikan bagi seorang hamba maka akan diberikan taufik untuk beramal shalih sebelum ia meninggal dunia.

Diantara amal shalih tersebut adalah mengucapkan Lā ilāha illallāh.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa ucapan terakhirnya adalah kalimat Lā ilāha illallāh maka dia akan masuk ke dalam surga.”

(Hadits Shahih Riwayat Abu Daud)

Kecanduan melakukan dosa, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi tanpa diiringi dengan taubat dikhawatirkan akan menjadi sebab su-ul khotimah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membersihkan hati kita dari ketergantungan dengan dosa.

Itulah yang bisa kita sampaikan.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaramu,

Abdullāh Roy
Di kota AlMadīnah

Diposkan pada hsi

HSI 5 | Halaqoh 06 – Penghapus Dosa

PENGHAPUS DOSA

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله

Halaqah yang keenam dari silsilah beriman kepada hari akhir, adalah tentang penghapus dosa.

Setiap anak adam pasti memiliki dosa oleh karena itu seorang muslim hendaknya mengetahui perkara-perkara yang bisa menghapus dosa tersebut supaya dia keluar dari dunia ini dalam keadaan sebersih mungkin dari dosa.

Empat perkara yang jika diamalkan bisa menghapus dosa seseorang:

#1. Taubat nashuha
Allāh berfirman :

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺗُﻮﺑُﻮﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻮْﺑَﺔً ﻧَﺼُﻮﺣًﺎ ﻋَﺴَﻰٰ ﺭَﺑُّﻜُﻢْ ﺃَﻥْ ﻳُﻜَﻔِّﺮَ ﻋَﻨْﻜُﻢْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺗِﻜُﻢْ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allāh dengan taubat nashuha. Semoga Rabb kalian menghapus dosa-dosa kalian.
“(AtTahrim:8)

Taubat yang nashuha adalah taubat yang terpenuhi 3 syarat:
1. Penyesalan yang mendalam
2. Meninggalkan kemaksiatan tersebut
3. Bertekad kuat untuk tidak melakukan di masa yang akan datang

. Apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak oranglain maka hendaklah segera menunaikan hak tersebut dan segera minta dihalalkan.
. Apabila berupa harta, maka segera dikembalikan hartanya.
. Apabila berupa kehormatan maka hendaknya segera meminta maaf.

#2. Memperbanyak memohon maghfiroh dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Dan makna memohon maghfiroh:
1. Memohon supaya ditutupi dosanya dari manusia
2. Memohon supaya dosa-dosa tersebut supaya dihapus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla sehingga tidak diadzab dengan dosa yang sudah dilakukan.

Rasūlullāh Shalallāhu ‘alayihi wa sallam bersabda:

ﻭَﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻧِّﻰ ﻷَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺃَﺗُﻮﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣِﻦْ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﻣَﺮَّﺓً

“Demi Allah, aku beristighfar kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan bertaubat kepadaNya di dalam sehari lebih dari 70 kali”. (Hadist riwayat Bukhari)

#3. Beramal sholih
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺎﺕِ ﻳُﺬْﻫِﺒْﻦَ ﺍﻟﺴَّﻴِّﺌَﺎﺕِ ۚ

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu akan menghilangkan kejelekan-kejelekan.” (Hud:114)

#4. Bersabar ketika tertimpa musibah

Rasūlullāh Shalallāhu ‘alayihi wa sallam bersabda:

َ ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻣُﺼِﻴﺒَﺔٍ تُصِيْبُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢُ ﺇِﻟَّﺎ ﻛُﻔِّﺮَ ﺑِﻬَﺎ ﻋَﻨْﻪُ ﺣَﺘَّﻰ ﺍﻟﺸَّﻮْﻛَﺔِ ﻳُﺸَﺎﻛُﻬَﺎ

“Tidaklah ada sebuah musibah yang menimpa seseorang muslim kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan menghapus dengan musibah tersebut dosanya sampai apabila dia terkena duri”. (Hadist riwayat Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, janganlah seorang muslim berputus asa bagaimanapun besar dosa yang dia lakukan. Perbaikilah amal di sisa umur yang ada.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla, Alghofūrur Rohīm mengampuni dan menutupi dosa-dosa kita yang telah lalu.

Itulah yang bisa kita sampaikan.
Wassalamu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Saudaramu, Abdullāh Roy
Di kota AlMadīnah

Diposkan pada hsi

HSI 5 | Halaqoh 05 – Dosa Besar dan Kecil

DOSA-DOSA BESAR DAN DOSA-DOSA KECIL

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang kelima dari silsilah beriman kepada hari akhir, adalah tentang dosa-dosa besar dan dosa-dosa yang kecil.

Diantara dosa-dosa yang berbahaya bagi kehidupan seorang hamba di akhirat adalah:

#1. Dosa bid’ah yang tidak sampai mengkafirkan pelakunya.

Bid’ah secara istilah syari’at adalah cara yang diada-adakan di dalam agama yang menyerupai syari’at, dimaksudkan untuk berlebih-lebihan di dalam bertaqorrub kepada Allāh Subhanahu wa Ta’āla dan bid’ah adalah perkara yang paling jelek.

Rasūlullāh Shalallāhu ‘alayhi wa salam bersabda:

ﻭَﺷَﺮُّ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ ﻭَﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔ

“Dan sejelek-jelek perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat.”

(HR Muslim)

Orang yang melakukan bid’ah seakan-akan menganggap agama yang dibawa Rasūlullāh Shalallāhu ‘alayhi wa salam belum sempurna dan seakan dia telah menuduh Rasūlullāh Shalallāhu ‘alayhi wa salam mengkhianati risalah Allāh Subhanahu wa Ta’āla.

Pelaku bid’ah menganggap dirinya berada di atas petunjuk, sehingga sulit dia untuk mendapatkan hidayah kecuali orang yang Allāh Subhanahu wa Ta’āla rahmati.

#2. Dosa-dosa besar.

Diantara dosa-dosa yang berbahaya bagi seorang hamba adalah dosa-dosa besar yaitu semua dosa-dosa yang diancam pelakunya dengan hukuman di dunia atau laknat dari Allah atau amarah dari Allāh Subhanahu wa Ta’āla atau diancam dengan neraka, seperti:

. berzina,
. mencuri,
. riba,
. durhaka kepada orangtua,
. membunuh tanpa hak
. dan lain-lain.

#3. Dosa-dosa kecil.

Yaitu dosa yang tidak sampai kepada dosa-dosa besar seperti melihat kepada aurat wanita yang tidak halal baginya dan lain-lain.

Dosa kecil ini bisa menjadi besar karena beberapa sebab.

Diantaranya adalah apabila dilakukan secara terus menerus tanpa melakukan taubat kepada Allāh Subhanahu wa Ta’āla.

Rasūlullāh Shalallāhu ‘alayhi wa salam bersabda:

ﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَﻣُﺤَﻘَّﺮَﺍﺕِ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏِ ﻓَﺈِﻧَّﻬُﻦَّ ﻳَﺠْﺘَﻤِﻌْﻦَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻬْﻠِﻜْﻨَﻪُ

“Hati-hatilah kalian dengan dosa-dosa yang dianggap ringan karena sesungguhnya dosa-dosa tersebut berkumpul pada diri seseorang sampai membinasakannya.”

(HR Imam Ahmad)

Dosa kezhaliman kepada orang lain baik harta, kehormatan maupun fisik akan menjadi penyesalan di hari kiamat apabila tidak meminta dihalalkan di dunia ini.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

Wabillahitaudiq walhidayah.
Wassalamu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Saudaramu,
Abdullāh Roy

Diposkan pada hsi

HSI 5 | Halaqoh 04 – Meninggalkan Maksiat Bekal Menuju Akhirat

MENINGGALKAN KEMAKSIATAN BEKAL PERJALANAN MENUJU AKHERAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Meninggalkan kemaksiatan, apabila dilakukan karena takut kepada Allah berdasarkan dalil yang shahih ini akan menjadi pahala bagi seorang hamba.

Sebaliknya kemaksiatan, apabila dilakukan seorang hamba maka itu akan menjadi syai-ah / dosa yang membahayakan keselamatan dia di akherat kelak.

Dosa bertingkat-tingkat dan dosa yang paling berbahaya adalah dosa yang mengekalkan pelakunya di dalam neraka apabila dia mati dan tidak bertaubat dari dosa tersebut.

Yang pertama adalah kufur besar atau kekafiran, yaitu menentang apa yang dibawa oleh seorang utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Seperti menentang tauhid, mendustakan kenabian seorang Rasullullah, mengingkari syariat yang beliau bawa padahal dia mengetahui bahwasanya itu syariatNYA atau mengejek dan mengolok-olok Allah, RasulNYA dan juga ayat-ayatNYA dan lain-lain.

Allah berfirman :

وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَـٰتِنَآ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ

“Dan orang-orang yang kufur dan mendustakan ayat2 kami merekalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

( QS Al Baqarah: 39 )

Yang kedua adalah syirik besar. Syirik ini lebih khusus daripada kekufuran.

Setiap syirik adalah kekufuran dan tidak setiap kekufuran adalah syirik.

Allah berfirman :

إِنَّهُ ۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَٮٰهُ ٱلنَّارُ‌ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٍ۬

“Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka sungguh Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengharamkan atasnya surga dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang berbuat dholim.”

( QS Al Maidah: 72 )

Yang ketiga adalah nifak besar, yaitu menyembunyikan kekufuran di dalam hati dan menampakkan keimanan dengan lisan dan perbuatan.

Orang munafik termasuk orang kafir, bahkan lebih besar dosanya daripada orang kafir yang menampakkan kekafirannya dan di akherat azab mereka lebih dahsyat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik berada di lapisan paling bawah dari neraka dan engkau tidak akan mendapatkan penolong bagi mereka.”

( QS An Nisaa: 145. )

Alhamdulillah, yang telah memberikan kita petunjuk kepada Islam, kalau bukan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala niscaya kita tidak mendapatkan petunjuk.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kita ketetapan hati di atas agama Islam ini sampai kita bertemu denganNya.

Itulah yang bisa kita sampaikan.

و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaramu,
‘Abdullāh Roy di kota Al-Madinah

Diposkan pada hsi

HSI 5 | Halaqoh 03 – Menjalankan Perintah Allāh Bekal Menuju Akhirat

MENJALANKAN PERINTAH ALLĀH, BEKAL MENUJU AKHIRAT

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ketiga dari silsilah beriman kepada hari akhir, berjudul menjalankan perintah Allāh bekal menuju akhirat.

Perintah Allāh Subhānahu wa Ta’āla apabila dijalankan dengan ikhlas dan sesuai dengan sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka akan menjadi hasanah atau pahala dan bekal menuju akhirat bagi seorang hamba.

Perintah yang paling dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah apa yang Allāh wajibkan.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berkata:

…ﻭَﻣَﺎ ﺗَﻘَﺮَّﺏَ ﺇِﻟَﻰَّ ﻋَﺒْﺪِﻯ ﺑِﺸَﻰْﺀٍ ﺃَﺣَﺐَّ ﺇِﻟَﻰَّ ﻣِﻤَّﺎ ﺍﻓْﺘَﺮَﺿْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ….

“Dan tidaklah hambaKu bertaqorrub kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada apa yang sudah Aku wajibkan atasnya.”

(Hadist Riwayat Bukhari)

Oleh karena itu seorang muslim hendaknya memperhatikan kewajiban-kewajiban yang telah Allāh wajibkan atasnya dan melaksanakan kewajiban tersebut dengan sebaik-baiknya.

Kewajiban di sini ada yang berkaitan dengan hak Allāh seperti tauhid, sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, haji bagi yang wajib dan lain-lain.

Dan juga ada yang berkaitan dengan hak makhluq, seperti menafkahi orang yang menjadi tanggungan, berbakti kepada kedua orang tua dan lain-lain.

Kemudian, apabila seorang hamba memiliki waktu dan kemampuan maka hendaknya dia menambah bekal dengan berbagai amal shalih yang mustahab atau disunnahkan, seperti sholat-sholat sunnah, puasa-puasa sunnah, shadaqah sunnah, membaca Alqur’an dan lain-lain.

Memilih di antara amalan tersebut yang bisa dia kerjakan dengan baik dan bisa dilakukan secara terus menerus.

Di antara amalan yang besar pahalanya adalah menuntut ilmu agama, dzikrullah, berjihad di jalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, akhlaq yang baik, berdakwah di jalan Allāh dan lain-lain.

Orang yang sibuk dengan sesuatu yang menjadi kewajibannya sehingga tidak bisa mengerjakan sesuatu yang mustahab atau sunnah maka dia mendapatkan udzur.

Adapun orang yang sibuk dengan sesuatu yang mustahab kemudian dia lalai dengan kewajiban dia maka orang tersebut adalah orang yang tertipu.

Mintalah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla pertolongan di dalam beramal dan mintalah kepadaNya supaya amalan tersebut diterima.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memasukkan kita ke dalam surgaNya dengan sebab amal kita yang sedikit dan penuh dengan kekurangan ini dan rahmat serta kasih sayang Allāh Subhānahu wa Ta’āla lebih kita harapkan dari pada amalan kita.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah yang ketiga ini, dan sampai bertemu kembali pada halaqah-halaqah selanjutnya.

و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saudaramu, Abdullāh Roy