HSI 1 Silsilah Belajar Tauhid | Halaqoh 17. Tathayyur (Merasa Sial Dengan Sesuatu)

بسم الله الرحمن الرحيم السلام
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Pelajaran yang ke-17 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Tathayyur”, yaitu merasa sial dengan sesuatu.

◆ Tathayyur adalah merasa akan bernasib sial karena melihat atau mendengar kejadian tertentu.

Seperti:

  • Melihat tabrakan
    • Orang yang berkelahi
    • Atau yang semisalnya.

Kemudian hal tersebut menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya, seperti bepergian, berdagang dan lain-lain.

Tathayyur termasuk syirik kecil apabila perasaan tersebut kita ikuti.

Rasūlullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ
“Barangsiapa yang thiyarah menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya maka dia telah berbuat syirik.”

(Hadits shahīh diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

Perasaan ini sebenarnya tidak akan mempengaruhi takdir, sebagaimana hal ini dinafikan & diingkari oleh Rasūlullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bersabda,

وَلاَ الطِّيَارَة

“Tidak ada thiyarah.”

(HR Bukhari dan Muslim)

⇒ Maksudnya, thiyarah ini hanya sebuah perasaan saja yang tidak akan berpengaruh terhadap takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu seorang Muslim tidak boleh mengikuti was-was syaithan ini.

Dan hendaknya dia,

  • √ Memiliki keyakinan yang kuat bahwa semua yang terjadi di permukaan bumi berupa kebaikan & keburukan adalah dengan takdir Allah semata.
  • √ Yakin bahwa tidak (ada yang) mendatangkan kebaikan kecuali Allah & tidak (ada yang) melindungi dari keburukan kecuali Allah.
  • √ Hanya bertawakal kepada Allah semata & berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apabila datang perasaan tersebut maka hendaknya segera dihilangkan dengan tawakkal dan tetaplah dia melaksanakan hajatnya.

Dan apa yang terjadi setelah itu adalah takdir Allah semata.

Adapun tafa’ul maka diperbolehkan didalam agama kita.

◆ Tafa’ul artinya adalah berbaik sangka kepada Allah karena melihat atau mendengar sesuatu.

Dahulu Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam sering bertafa’ul seperti ketika Perjanjian Hudaibiyah.

Utusan Quraisy saat itu bernama Suhail. Dan Suhail adalah bentuk pengecilan dari kata “sahl” yang artinya “yang mudah”.

Maka Beliau pun berbaik sangka kepada Allah bahwa perjanjian ini akan membawa kemudahan & kebaikan bagi umat Islam.

Maka benarlah persangkaan Beliau.

Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka setelah itu (yaitu setelah perjanjian tersebut) pintu-pintu kemudahan bagi umat Islam.

Itulah halaqah yang ke-17 dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وبالله التوفيق والهداية
و السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Saudaramu,
‘Abdullah Roy

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.