Diposkan pada hsi

HSI 1 Silsilah Belajar Tauhid | Halaqoh 25. Ridho Dengan Hukum Alloh

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke-25 dari Silsilah Belajar Tauhid kali ini adalah tentang “Ridha Dengan Hukum Allah”.
Allah Ta’ala sebagai pencipta manusia sangat menyayangi mereka, Dialah Ar-Rahman Ar-Rahīm.

Dan di antara bentuk kasih sayangNya adalah menurunkan syari’at supaya manusia mendapatkan kebahagiaan dan terhindar kesusahan didunia maupun akhirat.

Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, hukumnya penuh dengan keadilan, hikmah & juga kebaikan, meskipun hal ini terkadang samar atas sebagian manusia.

Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi seorang Muslim dan juga Muslimah untuk:

✓Ridha dengan hukum Allah.

✓Yakin bahwasanya kebaikan semuanya di dalam hukum Allah.

⇒ Di dalam segala bidang kehidupan (meliputi) :

  • ‘Aqidah
    • Akhlaq
    • Adab
    • Mu’amalah
    • Ekonomi
    • Kenegaraan
    • Dan lain-lain.

Meng-Esakan Allah di dalam hukum-hukumNya adalah termasuk konsekuensi tauhid.

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah pantas bagi seorang laki-laki yang mu’min dan wanita yang mu’minah apabila Allah & Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain di dalam urusan mereka.

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.”

(QS Al-Ahzab: 36)

Saudaraku,

Alhamdulillah dengan izin dan karunia-Nya sampailah kita pada bagian yang terakhir dari Silsilah Tauhid, yaitu bagian ke-25.

Dan dengan ini saya akhiri silsilah ini.

Dan bukan berarti kita sudah merasa cukup.

Apa yang disampaikan hanyalah sebagian kecil dari ilmu tauhid itu sendiri.

Belajar tauhid dan mengamalkannya tidak akan berhenti sampai ajal menjemput kita.

Ikutilah majelis-majelis ilmu yang membahas tentang tauhid ini.

Bacalah buku-buku yang berkaitan dengan tauhid yang telah ditulis oleh para ulama yang terpercaya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati kita semua, menghidupkan dan juga mematikan kita di atas tauhid.

الحمد لله رب العالمين
و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

Saudaramu,
‘Abdullah Roy di kota Al-Madīnah An-Nabawiyyah

Iklan
Diposkan pada hsi

HSI 1 Silsilah Belajar Tauhid | Halaqoh 24. Menyandarkan Nikmat Kepada Alloh Ta’ala

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Halaqah yang ke-24 berjudul “Menyandarkan Nikmat Kepada Allah”.
Termasuk keyakinan yang harus diyakini dan diingat oleh setiap Muslim bahwa kenikmatan dengan segala jenisnya adalah dari Allah.

Allah berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Kenikmatan apa saja yang kalian dapatkan maka asalnya adalah dari Allah.”

(QS An Nahl: 53)

Dan termasuk syirik kecil apabila seseorang mendapatkan sebuah kenikmatan dari Allah kemudian menyandarkan kenikmatan tersebut kepada selain Allah.

Seperti mengatakan:

  • “Kalau pilot tidak mahir niscaya kita sudah celaka.”
  • “Kalau tidak ada angsa niscaya uang kita sudah dicuri.”
  • “Kalau bukan karena dokter niscaya saya tidak sembuh.”

Ini semua adalah menyandarkan kenikmatan kepada sebab.

Allah berfirman:

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا

“Mereka mengenal nikmat Allah kemudian mereka mengingkarinya.”

(QS An Nahl: 83)

Seharusnya dia sandarkan kenikmatan tersebut kepada Allah, Zat yang menciptakan sebab.

Seperti dengan mengatakan:

  • “Kalau bukan karena Allah niscaya kita sudah celaka.”
  • “Kalau bukan Allah niscaya uang kita sudah hilang.”
  • “Kalau bukan karena Allah niscaya saya tidak akan sembuh.”

Karena apa?

Karena Allah-lah yang memberikan:

✓Nikmat keselamatan
✓Nikmat keamanan
✓Nikmat kesembuhan

Sedangkan makhluk hanyalah sebagai alat sampainya kenikmatan tersebut kepada kita.

Kalau Allah menghendaki niscaya Allah tidak akan menggerakkan makhluk-makhluk tersebut untuk menolong kita.

Ini semua, bukan berarti seorang Muslim tidak boleh berterima kasih kepada orang lain.

Seorang Muslim diperintah untuk mengucapkan syukur dan terima kasih kepada seseorang yang berbuat baik kepadanya karena mereka menjadi sebab kenikmatan ini.

Bahkan diperintah untuk membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan atau dengan do’a yang baik.

Namun pujian dan penyandaran kenikmatan tetap hanya kepada Allah semata.

والله تعالى أعلم

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.

و صلى الله على نبينا محمد و على آل نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

Saudaramu,
‘Abdullah Roy

Diposkan pada hsi

HSI 1 Silsilah Belajar Tauhid | Halaqoh 23. Ta’at Ulama Dalam Kebenaran

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول

Halaqah yang ke-23 dari Silsilah kita adalah tentang “Ta’at Ulama Dalam Kebenaran”.
Ulama adalah orang-orang yang memiliki ilmu tentang Allah dan juga agamanya.

Ilmu yang membawa dirinya untuk bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mereka adalah pewaris para nabi dan kedudukan mereka di dalam agama Islam adalah sangat tinggi.

Allah telah mengangkat derajat para ulama dan memerintahkan kita untuk ta’at kepada mereka selama mereka menyeru dan mengajak kepada kebenaran dan juga kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ

“Wahai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul dan ulil amri kalian.”

(QS An Nisa: 59)

⇒ Dan ulil amri disini mencakup ulama & juga umara (pemerintah).

Menghormati mereka (yaitu para ulama) bukan berarti menta’ati mereka dalam segala hal sampai kepada kemaksiatan.

Ulama, ayyuhal ikhwah, seperti manusia yang lain. Ijtihad mereka terkadang salah dan terkadang benar.

√ Kalau benar, mereka mendapatkan 2 pahala.

√ Kalau salah, mereka mendapatkan 1 pahala.

Apabila jika telah jelas kebenaran bagi seorang Muslim dan jelas bahwasanya seorang ulama menyelisihi tersebut dalam sebuah permasalahan, maka tidak boleh seseorang menta’ati ulama tersebut kemudian dia meninggalkan kebenaran.

Rasūlullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Tidak ada keta’atan dalam kemaksiatan. Sesungguhnya keta’atan hanya didalam kebenaran.”

(Muttafaqun ‘alaih)

Apabila seseorang menta’ati ulama dalam kemaksiatan kepada Allah, maka dia telah menjadikan ulama tersebut sebagai pembuat syariat dan bukan penyampai syariat, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi & Nashrani.

Allah berfirman :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ الله…

“Mereka (orang-orang Yahudi & Nasrani) menjadikan ulama dan ahli ibadah mereka sebagai sesembahan selain Allah.”

(QS At Taubat: 31)

Rasūlullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menjelaskan ayat ini, Beliau mengatakan:

“Ketahuilah bahwa mereka bukan beribadah kepada para ulama & ahli ibadah tersebut, akan tetapi mereka, apabila menghalalkan apa yang Allah haramkan, maka mereka ikut menghalalkan.

Dan apabila ulama & ahli ibadah tersebut mengharamkan apa yang Allah halalkan maka mereka pun ikut mengharamkan.”

(Hadits ini hasan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)

Itulah halaqah yang ke-23 sampai bertemu pada halaqah yang selanjutnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Saudaramu,
‘Abdullah Roy

Diposkan pada hsi

HSI 1 Silsilah Belajar Tauhid | Halaqoh 22. Takut Kepada Alloh

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Halaqah yang ke-22 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Takut Kepada Allah”.
Ayyuhal ikhwah,

Di antara keyakinan seorang muslim adalah bahwasanya manfaat dan mudharat adalah di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Seorang Muslim tidak takut kecuali kepada Allah dan tidak bertawakal kecuali kepada Allah.

✓ Takut kepada Allah yang dibenarkan adalah takut yang membawa pelakunya untuk:

⑴ Merendahkan diri di hadapan Allah.

⑵ MengagungkanNya.

⑶ Membawanya untuk menjauhi larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

⑷ Melaksanakan perintahNya.

✘ Bukan takut :

⑴ Yang berlebihan yang membawa kepada keputusasaan terhadap rahmat Allah.

⑵ Yang terlalu tipis yang tidak membawa pemiliknya kepada keta’atan kepada Allah .

Takut seperti ini adalah ibadah.

Tidak boleh sekali-sekali seorang Muslim menyerahkan takut seperti ini kepada selain Allah.

Dan barangsiapa menyerahkannya kepada selain Allah, maka dia telah terjerumus ke dalam syirik besar, yang mengeluarkan seseorang dari Islam.

Seperti orang yang takut (terkena) mudharat (dengan) wali fulan yang sudah meninggal kemudian takut tersebut menjadikan dia merendahkan diri di hadapan kuburannya dan juga mengagungkannya.

Hendaknya seorang Muslim meneladani Nabi Ibrahīm ‘Alaihissalam ketika beliau berkata yang artinya:

“Dan aku tidak takut dengan sesembahan kalian, mereka tidak memudharati aku kecuali apabila Rabbku menghendakinya.”

(QS Al An’am: 80)

Di antara takut yang diharamkan adalah takutnya seseorang kepada makhluq yang melebihi takutnya kepada Allah, sehingga takut tersebut membuat dia meninggalkan perintah Allah atau melanggar larangan Allah.

Seperti:

  • Orang yang meninggalkan jihad yang wajib atasnya karena takut kepada orang-orang kafir.

Atau,

  • Tidak melarang kemungkaran karena takut celaan manusia padahal dia mampu.

Allah berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya itu hanyalah syaithan yang menakut-nakuti kalian, wahai orang-orang yang beriman, dengan wali-walinya (penolong-penolongnya).

Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kalian kepadaKu jika kalian benar-benar orang yang beriman.”

(QS Ali ‘Imran: 175 )

Di antara cara menghilangkan rasa takut kepada makhluq yang diharamkan adalah:

⑴ Berlindung kepada Allah dari bisikan syaithan.

⑵ Mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam yang artinya:

“Ketahuilah bahwa seandainya umat semuanya berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali dengan apa yang sudah Allah tulis.

Dan seandainya mereka berkumpul untuk memberikan mudharat kepadamu niscaya mereka tidak bisa memberikan mudharat kecuali dengan apa yang sudah Allah tulis.”

(HR Tirmidzi dan dishahihkan Syaikh Al Albani Rahimahullah)

Diperbolehkan takut yang merupakan tabiat manusia, seperti:

⑴ Takut kepada panasnya api.

⑵ Takut kepada binatang buas.

Dan takut seperti ini bukanlah takut yang merupakan ibadah dan juga bukan takut yang membawa seseorang meninggalkan perintah atau melanggar larangan Allah.

Ini adalah takut yang tabiat, yang para Nabi pun tidak terlepas darinya.

Itulah halaqah yang ke-22 dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.

و صلى الله على نبينا محمد و على آل نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

Saudaramu,
‘Abdullah Roy

Diposkan pada hsi

HSI 1 Silsilah Belajar Tauhid | Halaqoh 21. Cinta Kepada Alloh Ta’ala

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Halaqah yang ke-21 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang lCinta Kepada Allah”.
Mencintai Allah merupakan ibadah yang agung.

Cinta yang merupakan ibadah ini mengharuskan seorang Muslim merendahkan dirinya di hadapan Allah, mengagungkan Allah, yang akhirnya akan membawa seseorang untuk melaksanakan perintah Allah dan juga menjauhi apa yang Allah larang.

Inilah cinta yang merupakan ibadah.

Barangsiapa yang menyerahkan cinta seperti ini kepada selain Allah maka dia telah berbuat syirik besar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﺨِﺬُ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻧْﺪَﺍﺩًﺍ ﻳُﺤِﺒُّﻮﻧَﻬُﻢْ ﻛَﺤُﺐِّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﺷَﺪُّ ﺣُﺒًّﺎ ﻟِﻠَّﻪِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu-sekutu Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman maka cinta mereka kepada Allah jauh lebih besar”.

(QS Al Baqarah: 165)

Adapun cinta yang merupakan tabi’at manusia, seperti cinta keluarga, harta, pekerjaan dan lain-lain, maka hal ini diperbolehkan selama tidak melebihi cinta kita kepada Allah.
Apabila seseorang mencintai perkara-perkara tersebut melebihi cintanya kepada Allah maka dia telah melakukan dosa besar.

Allah berfirman yang artinya:

“Katakanlah; ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan juga rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, itu semua lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan juga berjihad di jalan Allah, maka tunggulah sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.

(QS At Taubah: 24)

Ketika terjadi pertentangan antara dua kecintaan maka disini akan nampak siapa yang lebih dia cintai.

Dan akan nampak siapa yang cintanya benar dan siapa yang cintanya hanya sebatas ucapan saja.

Diantara cara untuk memupuk rasa cinta kita kepada Allah adalah dengan:

√ Mentadabburi (memperhatikan) ayat-ayat Al Quran.

√ Memikirkan tanda tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala di alam semesta.

√ Mengingat-ingat berbagai kenikmatan yang Allah berikan.

Itulah halaqah yang ke-21 dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

و صلى الله على نبينا محمد و على آل نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

Saudaramu,
‘Abdullah Roy

Diposkan pada hsi

HSI 1 Silsilah Belajar Tauhid | Halaqoh 20. Riya’

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Riya”.
Ayyuhal ikhwah,

Riya’ adalah seorang mengamalkan sebuah ibadah bukan karena ingin pahala dari Allah, akan tetapi ingin dilihat manusia dan dipuji.

Riya’ hukumnya HARAM dan dia termasuk syirik kecil yang samar, yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.

Riya’ adalah di antara sebab tidak diterimanya amal ibadah seseorang, bagaimanapun besar amalan tersebut.

Rasūlullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺃَﻧَﺎ ﺃَﻏْﻨَﻰ ﺍﻟﺸُّﺮَﻛَﺎﺀِ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙِ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﺃَﺷْﺮَﻙَ ﻓِﻴﻪِ ﻣَﻌِﻲ ﻏَﻴْﺮِﻱ ﺗَﺮَﻛْﺘُﻪُ ﻭَﺷِﺮْﻛَﻪُ

“Allah berkata: ‘Aku adalah Zat yang paling tidak butuh dengan syirik. Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan dia menyekutukan Aku bersama yang lain di dalam amalan tersebut maka Aku akan meninggalkannya dan juga kesyirikannya’.” (HR Muslim)

Sebagian ulama berpendapat bahwa syirik yang kecil tidak ada harapan untuk diampuni Allah, artinya dia harus diadzab supaya bersih dari dosa riya’ tersebut.

Berbeda dengan dosa besar yang ada di bawah kehendak Allah, yang;

◆ Kalau Allah menghendaki maka akan diampuni langsung.

Dan,

◆ Kalau Allah menghendaki maka akan diadzab.

Mereka berdalil dengan keumuman ayat:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺃَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendaki.” (QS An Nisa: 48)

Tahukah kita siapa orang yang pertama kali nanti akan dinyalakan api neraka dengan mereka?

Mereka bukanlah preman-preman di jalan atau pembunuh yang kejam tapi mereka justru adalah orang-orang yang beramal shalih.

Mereka adalah orang yang:

  • ⑴ Mengajarkan Al Quran supaya dikatakan sebagai seorang qari, seorang yang suka membaca, seorang yang mahir membaca.
  • ⑵ Orang yang berinfaq supaya dikatakan dermawan.
  • ⑶ Berjihad supaya dikatakan sebagai seorang pemberani.

⇒ Beramal bukan karena Allah

Sebagaimana hal ini dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam hadits yang shahih.

Oleh karena itu, saudara sekalian, ikhlash-lah di dalam beramal..

Dan ikhlash adalah barang yang sangat berharga.

Para salaf kita, merekapun merasakan beratnya memperbaiki hati mereka.

Dan hanya kepada Allah kita meminta keikhlashan di dalam beramal, menjauhkan kita dari riya’, sum’ah, ‘ujub dan berbagai penyakit hati.

Dan marilah kita biasakan untuk menyembunyikan amal kita kecuali kalau memang ada mashlahat yang lebih kuat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah yang ke-20 ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.
وبالله التوفيق والهداية
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Saudaramu,
‘Abdullah Roy

Diposkan pada hsi

HSI 1 Silsilah Belajar Tauhid | Halaqoh 19. Bersumpah Dengan Selain Nama Alloh

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Halaqah yang ke-19 dari Silsilah Belajar Tauhid kita kali ini adalah tentang “Bersumpah Dengan Selain Nama Allah”.
Kaum Muslimīn yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Sumpah adalah menguatkan perkataan dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan, baik oleh orang yang berbicara maupun yang diajak bicara.

Kalau (dalam) bahasa ‘Arab maka menggunakan:

  • Huruf wawu (وَ)
    • Huruf ba (بَ)
    • Huruf ta (تَ)

Adapun Bahasa Indonesia dengan menggunakan kata “Demi”.

Bersumpah hanya diperbolehkan dengan nama Allah semata, misalnya mengatakan:

✓Wallahi

✓Demi Rabb yang menciptakan langit dan bumi

✓Demi Zat yang jiwaku berada di tanganNya

✓Dan lain-lain.

Adapun makhluq, bagaimanapun agungnya di mata manusia maka tidak boleh kita bersumpah dengan namanya, misalnya dengan mengatakan:

✘Demi Rasūlullah
✘Demi Ka’bah
✘Demi Jibrīl
✘Demi langit & bumi
✘Demi bulan & bintang
✘Dan lain-lain.

Ini semua termasuk jenis pengagungan terhadap makhluq yang terlarang.

Rasūlullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barang siapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka sungguh dia telah berbuat syirik.”

(HR Abū Dawūd, Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)

Syirik dalam hadits ini pada asalnya adalah syirik kecil yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.

Namun bisa sampai kepada syirik besar bila dia mengucapkan sumpah dengan makhluq disertai pengagungan seperti kalau dia mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu pengagungan ibadah.

Seperti sumpah yang di lakukan oleh orang-orang musyrik dengan mengatakan:

✘ Demi Wisnu
✘ Demi Dewa Fulan
✘ Demi Lata
✘ Dan lain-lain.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah yang ke-19 ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.
وبالله التوفيق والهداية
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Saudaramu,
‘Abdullah Roy
Di kota Al-Madīnah