HSI – Al-Qowāidul Arba Halaqah 25 ~ Penjelasan Kaidah Keempat

Halaqah yang ke-25 penjelasan kitab Al-Qowā’idul Arba, karangan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi rahimahullah.

Kaidah yang ke-4, yang terakhir, dari empat Qoidah Yang dengannya kita bisa memahami apa itu kesyirikan.

Beliau mengatakan:

اَلْقَاعِدَةُ الرَّابِعَة: أَنَّمُشْرِكِي زَمَانِنَا أَغْلَظُ شِرْكًا مِنَ الْأَوَّلِيْنَ،

“Ketahuilah,” kata beliau, “bahwasanya orang-orang musyrikin di zaman kita ini”

dan beliau hidup 200 tahun yang lalu.

أَغْلَظُ شِرْكًا مِنَ الْأَوَّلِيْنَ

“Lebih keras, lebih dahsyat kesyirikannya, dari pada orang-orang musyrikin zaman dahulu”

Kata beliau, orang-orang musyrikin di zaman sekarang (di zaman beliau) itu lebih dahsyat, lebih keras kesyirikannya/lebih besar kesyirikannya dari pada orang-orang musyrikin zaman dahulu.

Ini ucapan beliau pada kaidah yang keempat.

Apa kata beliau :

لِأَنَّ الْأَوَّلِيْنَ يُشْرِكُوْنَفِي الرَّخَاء وَيُخْلِصُوْنَ فِي الشِّدَّة،

“Kenapa demikian?” Kata beliau, “Karena orang-orang musyrikin yang terdahulu, mereka menyekutukan Allāh ketika dalam keadaan rākho (dalam keadaan senang, dalam keadaan bahagia, dalam keadaan tenteram, mereka menyekutukan Allāh).”

وَيُخْلِصُوْنَ فِي الشِّدَّة

“Tetapi ketika mereka susah, mereka mengikhlaskan ibadahnya kepada Allāh.”

Ini adalah sifat orang-orang musyrikin zaman dahulu, ketika mereka senang, ketika mereka bahagia, mereka menyekutukan Allāh. Tapi ketika mereka susah, terkena musibah, mereka mengikhlaskan ibadahnya hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian beliau mengatakan :

وَمُشْرِكُوْا زَمَانِنَا شِرْكُهُمْدَائِمٌ؛ فِي الرَّخَاءِ وَالشِّدَّة

“Adapun orang-orang musyrikin di zaman kita” kata beliau, “kesyirikan mereka senantiasa dan selalu, baik ketika mereka dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah.”

Dalam keadaan senang dan susah, mereka menyekutukan Allāh.

Adapun yang dahulu, orang-orang musyrikin yang dahulu, mereka menyekutukan hanya ketika dalam keadaan senang. Tapi dalam keadaan susah, mereka mengikhlaskan ibadahnya untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

 Tentunya orang yang melakukan kesyirikan, baik dalam keadaan susah maupun senang, ini lebih keras dan lebih dahsyat dan lebih besar daripada orang yang menyekutukan Allāh ketika dalam keadaan senang dan tidak dalam keadaan susah.

Oleh karena itu, beliau mengatakan :

“orang-orang musyrikin di zaman kita lebih dahsyat kesyirikannya, susah senang mereka berbuat syirik. Adapun zaman dahulu melihat keadaan, dalam keadaan senang menyekutukan Allāh, dalam keadaan susah baru mereka ingat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Dalilnya apa?

Beliau mengatakan :

وَالدَّلِيْل قَوْلُهُ تَعَالَى: فَإِذَارَكِبُواْ فِي ٱلۡفُلۡكِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّانَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ  ٦٥ [ العنكبوت:65-65]

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam firmanNya :

”Apabila mereka berada di dalam kapal”

Artinya, mereka sedang dalam perjalanan di laut menaiki kapal.

فَإِذَارَكِبُواْ فِي ٱلۡفُلۡكِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

“Mereka berdoa kepada Allāh dalam keadaan meng-ikhlaskan agama ini hanya untuk Allāh”

Ini yang mengabarkan kepada kita adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Mengabarkan tentang keadaan orang-orang musyrikin, ketika mereka melakukan bepergian memakai kapal di tengah-tengah lautan.

Allāh mengabarkan

دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

“Mereka berdoa kepada Allāh dalam keadaan meng-ikhlaskan agamanya hanya untuk Allāh”

Kabar dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla tentang keadaan orang-orang musyrikin saat itu. Kita tidak pernah mendengar, tidak pernah melihat apa yang mereka lakukan di tengah lautan tetapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla melihat dan mendengar apa yang mereka lakukan.

Allāh mengabarkan ternyata mereka meng-ikhlaskan ibadahnya hanya untuk Allāh. Di dalam ayat yang lain Allāh mengabarkan, ketika mereka berada di tengah lautan, kemudian datang angin yang keras dan datang ombak yang sangat besar, mereka meng-ikhlaskan ibadah nya kepada Allāh dan mengatakan :

لَئِنۡ أَنجَيۡتَنَا مِنۡهَٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ ٢٢ [ يونس:22-22]

“Ya Allāh seandainya Engkau menyelamatkan kami dari ini semua, niscaya kami termasuk orang-orang yang bersyukur “[QS Yunus 22]

Berjanji kepada Allāh di tengah lautan, apabila mereka selamat sampai daratan dan diselamatkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, niscaya mereka akan menjadi orang-orang yang bersyukur.

Lupa mereka dengan Lata, Lupa dengan Uzza, Lupa dengan Mana dan Lupa dengan sesembahan-sesembahan yang lain, selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Yang mereka ingat saat itu adalah Allāh. Dialah Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang hanya bisa menyelamatkan mereka dari kesusahan saat itu.

Oleh karena itu, Allāh mengatakan

دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

“Dalam keadaan susah tersebut mereka meng-ikhlaskan ibadahnya karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Tapi apa kata Allāh?

فَلَمَّانَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ

”Ketika Allāh menyelamatkan mereka ke daratan, tiba-tiba mereka kembali menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Lupa dengan apa yang sudah dikatakan oleh mereka ketika mereka berada di tengah lautan.

إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ

”tiba-tiba mereka kembali menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Ayat ini adalah dalil sebagaimana yang disebutkan oleh pengarang bahwasanya orang-orang musyrikin mereka meng-ikhlaskannya ibadahnya ketika susah dan menyekutukan Allāh ketika mereka dalam keadaan senang.

Adapun orang-orang musyrikin di zaman beliau dan ini juga masih ada di zaman kita, dalam keadaan susah dan senang, mereka tetap menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Tidak jarang diantara mereka ketika datang musibah, bukan kembali dan meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, akan tetapi justru meminta kepada selain Allāh.

Ketika Gunung berapi akan meletus, atau ketika terjadi tsunami, kembalinya bukan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan meminta perlindungan dan penjagaan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Akan tetapi, kembali kepada benda-benda, menaruh ini dan itu di rumah, datang kepada orang yang dinamakan dengan paranormal atau orang yang sakti ,dengan harapan mereka bisa menyelamatkan dari musibah-musibah tersebut.

Dalam keadaan susah pun mereka masih bergantung kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Dalam keadaan senang juga.

Oleh karena itu, apa yang dikatakan oleh beliau pada Qoidah yang keempat ini adalah sesuatu yang berdasar dan bukan sesuatu yang mengada-ada. Bahwasanya orang-orang musyrikin di zaman kita lebih dahsyat daripada orang-orang musyrikin yang ada di zaman dahulu.

Kemudian beliau mengatakan :

وَاللَّهُأَعْلَم

“Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla lebih mengetahui”

Dengan demikian kita sudah menyelesaikan sebuah kitab yang sangat bermanfaat, yang ringkas, yang dikarang oleh syaikh Muhammad At Tamiimi dan beliau adalah ulama besar yang meninggal pada tahun 1206 H.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan manfaat dari apa yang kita baca. Itulah yang bisa kita sampaikan, semoga apa yang kita sampaikan bermanfaat.

Wabillahi taufiq wal hidayah
Wassalaamu’alaykum warahmatullaah wabarakaatuh

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

Iklan

HSI – Al-Qowāidul Arba 24 – Penjelasan

Halaqah yang ke-24 Penjelasan Al-Qowāidul Arba’.

ودليل الأشجار والأحجار

Dan Dalil disana ada yang menyembah pohon demikian pula batu adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla

قوله تعالى: أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى(19)وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى?
[النجم:19-20].

“apa pendapat kalian tentang Al Lata, ‘Uza & juga Al Mana”

Ini Adalah tiga diantara sesembahan-sesembahan orang-orang musyrikin quraisy,
⑴ Al Lata
⑵’ Uza
⑶ Mana

Siapa Al Lata :

⑴ Lata ini adalah orang yang shaleh yang dahulu diantara amal shalehnya adalah memberi makan orang-orang yang sedang berhaji, ketika dia meninggal dunia maka di agung² kan oleh orang-orang musyrikin quraisy,

⑵ Adapun ‘Uza

Maka ini bentuknya adalah sebuah pohon, sebuah pohon yang besar yang di agung²kan oleh orang-orang quraisy.

⑶ Mana

Sebuah Batu besar

Menunjukkan bahwasanya disana ada yang meng agungkan pohon demikian pula batu, ada diantara orang-orang musyrikin yang menyembah orang shaleh, dan ada diantara mereka yang menyembah batu & ada diantara mereka yang menyembah pohon.

وحديث أبي واقدٍ الليثي – رضي الله عنه –

Dan diantara dalilnya adalah Hadits Abu Waqid Al Laitsy radiallahu anhu, beliau berkata :

قال: خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى حُنين ونحنُ حدثاء عهدٍ بكفر،

“kami keluar bersama Rasulullãh ﷺ kearah Hunain (ini terjadi dibukanya kota Mekkah pada tahun 8 H) banyak diantara orang-orang musyrikin quraisy yang masuk ke dalam agama Islam (yang sebelumnya musyrik ketika dibuka kota Mekkah mereka masuk agama Islam) (setelah dibukanya kota Mekkah maka Rasulullãh ﷺ menuju kota Hunain) dan bersama beliau orang-orang Islam baik yang lama maupun yg baru & disini Abu Waqid menceritakan “kami keluar bersama Rasulullãh ﷺ ke arah Hunain & kami baru saja masuk ke dalam agama Islam”

Artinya bekas-bekas jahiliyah / bekas² kesyirikan sebagian masih ada didalam diri mereka

وللمشركين سدرةٌ

“Dan orang-orang musyrikin memiliki sebuah pohon ”

يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم

” yang mereka ber itikaf disekitar pohon tersebut dan menaruh senjata-senjata mereka dipohon tersebut ”

Abu Waqid menceritakan bahwasanya orang-orang musyrikin dahulu mereka memiliki sebuah pohon, yang mereka sering beritikaf  pohon tersebut, berdiam diri disana, mengagungkan pohon tersebut, mengagungkan Allāh disamping itu mereka juga menaruh senjata² mereka di pohon tersebut tujuannya mencari barokah supaya senjata tersebut,   ketika digunakan untuk berperang membawa barokah & membawa kemenangan. Dan ini menunjukkan bahwasanya perilaku seperti ini adalah termasuk perilaku orang-orang musyrikin.

Kemudian beliau mengatakan :

يقال لها: ذات أنواط،

“pohon tersebut dinamakan Dzatu Anwat ”

Dikenal dikalangan orang-orang musyrikin dengan nama Dzatu Anwat

فمررنا بسدرة

Maka ketika kami menuju ke Hunain melalui / menemui sebuah pohon,

فقلنا: يا رسول الله!

Maka kami berkata kepada Rasulullãh ﷺ” Ya Rasulullãh

اجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط؛

“buatkanlah untuk kami sebuah Dzatu Anwathin sebagaimana orang-orang musyrikin memiliki Dzatu Anwath”

Mereka meminta kepada Rasulullãh supaya di jadikan sebuah pohon yang disitu mereka beritikaf dan mereka menaruh & meletakkan senjata² mereka disitu

Ucapan ini diucapkan oleh mereka, karena mereka baru saja masuk ke dalam agama Islam. Tentunya lain antara orang yang sudah lama masuk & belajar agama Islam dengan orang yang baru saja masuk ke dalam agama Islam. Oleh karena itu tidak heran apabila  disini sebagian shahabat yang baru saja masuk agama islam mereka meminta kepada Rasulullãh supaya dibuatkan Dzatu Anwath.

Kemudian beliau mengatakan :

فقال رسول الله : الله أكبر،

“Allāh Maha Besar ”

Allāh Maha Besar dari apa yang kalian ucapkan, kalian telah mengucapkan sesuatu yang besar syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian beliau mengatakan

إنها السُنَن، قلتم والذي نفسي بيده كما قالت بنو إسرائيل لموسى: اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آَلِهَةٌ 
[الأعراف/138]

“Ini Adalah jalan² orang-orang sebelum kalian (kemudian beliau mengatakan) – قلتم والذي – kalian telah mengatakan “Demi Allāh yang Jiwaku berada di tangan-Nya kalian telah mengatakan sesuatu yang pernah dikatakan oleh banu Israel kepada Musa alaihi salam, ucapan kalian ini persis dengan yang dikatakan bani Israel kepada Musa alaihi salam”.

Apa yang mereka katakan :

اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آَلِهَةٌ

Bani Israil ketika diselamatkan oleh Musa alaihi salam dari cengkraman Fir’aun dan tentara nya dikeluarkan dari Mesir dan Allāh menyelamatkan mereka dari laut (setelah menyembrang lautan ) mereka mengatakan

اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آَلِهَةٌ

“Wahai Musa buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan ”

Mereka ingin memiliki sesembahan yang bisa di lihat yang bisa mereka sentuh, sebagaimana mereka melihat ini diantara orang-orang musyrikin, orang-orang bani Israil tinggal bersama orang-orang musyrikin melihat orang-orang musyrikin mereka menyembah sesuatu yang bisa dilihat, sehingga mereka disini meminta kepada Nabi Musa untuk membuatkan Tuhan yang mereka akan sembah sebagaimana orang-orang musyrikin memiliki Tuhan.

اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آَلِهَةٌ

“Jadikanlah untuk kami seorang Tuhan sebagaimana mereka orang-orang musyrikin memiliki Tuhan”

Persis dengan yang di katakan oleh Bani Israel kepada Nabi Musa alaihi salam, oleh karena itu Rasulullãh ﷺ mengatakan “Allāhu Akbar”

إنها السُنَن، قلتم والذي نفسي بيده كما قالت بنو إسرائيل لموسى

“demi Allāh kalian katakan sama dengan yang di katakan oleh bani Israil kepada Nabi Musa ”

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwasanya diantara orang-orang musyrikin yang mereka menyembah kepada pohon.

Sehingga dengan ini kita mengetahui apa yang dikatakan oleh Al Mualif / pengarang semuanya berdasarkan dalil, ketika beliau mengatakan

: أَنَّ النَّبِيَّ   ظَهَرَ عَلَى أُنَاسٍ مُتَفَرِّقِيْنَ في عِبَادَاتِهِمْ

“bahwasanya Nabi ﷺ muncul & diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla ditengah-tengah manusia mereka berbeda-beda di dalam ibadahnya”.

Kenapa hal ini beliau kemukankan kepada kita supaya kita tahu bahwasanya seseorang yang menyembah orang shaleh sekalipun maka ini termasuk kesyirikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini termasuk kesyirikan karena sebagian menganggap yang dilarang adalah apabila kita menyembah berhala atau menyembah batu, atau menyembah Matahari, tapi kalau kita berdoa kepada orang-orang shalih, menyembah orang shalih maka ini tidak masalah.

Kita katakan ucapan ini adalah tidak benar dan bertentangan dengan dalil dari Al-Qurān dan juga sunnah Rasulullãh ﷺ.

Wabillahi taufiq wal hidayah
Wassalaamu’alaykum warahmatullaah wabarakaatuh

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

HSI – Al-Qowāidul Arba 23 – Penjelasan

Halaqah yang ke-23 Penjelasan Al-Qowāidul Arba’.

Beliau mengatakan :

Penjelasan ucapan Syeikh Muhammad At Tamiimi rahimahullaah:

ودليل الأنبياء قوله تعالى: وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ [المائدة/116]

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
“Dan ketika Allāh berkata kepada Isa Ibnu Maryam, dan ini juga terjadi di padang Masyhar Allāh akan bertanya kepada Malaikat, hamba² Allāh yang shaleh yang diagungkan yang disembah oleh sebagian manusia & Allāh akan bertanya kepada Nabi Isa alaihi salam yang disembah yang diagungkan oleh sebagian makhluk : “Wahai Isa Ibn Maryam
Penjelasan ucapan Syeikh Muhammad At Tamiimi rahimahullaah:

أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ [المائدة/116]

” apakah engkau dahulu ketika di dunia berkata kepada mereka manusia
اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ
Wahai manusia jadikanlah aku & juga ibu ku sebagai Tuhan sesembahan selain Allāh ”

Apakah engkau dahulu ketika didunia pernah pernah mengajak mereka, mendorong mereka memerintahkan mereka untuk menjadikan kamu sebagai seorang Tuhan & juga menjadikan ibumu sebagai seorang Tuhan ?

Pertanyaan ini kelak akan ditanyakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada Nabi Isa alaihi salam, apa jawaban beliau…

قَالَ سُبْحَانَكَ

” Maha Suci Engkau ya Allāh ”

sebagaimana para Malaikat tadi ketika ditanya mereka juga mengatakan ” سُبْحَانَكَ ”

Kemudian beliau mengatakan :

مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ

” Tidak pantas bagiku / tidak boleh bagiku untuk mengatakan sesuatu yang aku tidak berhak untuk mengatakannya”

Aku adalah seorang hamba, seorang manusia seorang makhluk, tidak pantas bagiku untuk mengatakan kepada manusia, wahai manusia jadikanlah aku sebagai Tuhan. Artinya pada hari itu Nabi Isa alaihi salam berlepas diri dari apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang yang menyembah beliau didunia, dan ini menunjukkan kepada kita bahwasanya ada diantara manusia yang mereka menyembah para Nabi, disini diantaranya Nabi Isa alaihi salam & ini juga diperangi Rasulullãh ﷺ, beliau memerangi orang yang menyembah atau mengaku menyembah nabi Isa alaihi salam, meskipun yang disembah adalah seorang nabi sekalipun, seorang yang paling sholeh sekalipun, tapi karena dia menyembah kepada selain Allāh & ini adalah bentuk kesyirikan maka diperangi Rasulullãh ﷺ.

Beliau tidak mengatakan apabila menyembah seorang Nabi maka tidak masalah, akan tetapi beliau ﷺ tetap memerangi mereka, meskipun mereka menyembah para Nabi & tidak membedakan antara orang yang menyembah berhala, yang menyembah Matahari maupun menyembah para Nabi.

Kemudian beliau mengatakan

Penjelasan ucapan Syeikh Muhammad At Tamiimi rahimahullaah:

ودليل الصالحين
Dan dalil bahwasanya disana ada orang yang menyembah orang-orang yang shaleh

قوله تعالى: قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا (56) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا (57)
[الإسراء/56، 57]

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
“Katakanlah Wahai Muhammad, berdoa lah kalian kepada orang-orang yang kalian sangka sebagai Tuhan selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا

“niscaya mereka tidak mampu untuk menghilangkan kesusahan dari kalian & tidak bisa memindahkan kesusahan tersebut kepada yang Lain ”

Ini Adalah ancaman kepada mereka, silahkan mereka berdoa kepada orang-orang yang kalian sangka itu adalah Tuhan² selain Allāh niscaya mereka tidak akan memiliki, tidak akan mampu untuk menghilangkan kesusahan dari kalian,

Jika Allāh Subhānahu wa Ta’āla menghendaki kesusahan bagi kalian maka tidak ada yang bisa menghilangkan kesusahan tersebut kecuali Dia, sekalipun segala sesuatu yang disembah selain Allāh menginginkannya tapi kalau Allāh ingin menghilangkan kesusahan tersebut niscaya akan terjadi.

Kemudian Allāh mengatakan :

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ

“mereka (orang-orang yang mereka berdoa kepadanya/ maksudnya adalah orang-orang shaleh yang mereka beribadah kepada orang-orang shalih tersebut ) ternyata mereka juga mencari wasilah kepada Allāh ”

Yang dimaksud wasilah didalam ayat ini adalah AlQurbah.

Kita melihat buku-buku atau kamus² bahasa arab & kita mencari makna Al-wasilah kita akan mendapatkan bahwa maknanya adalah Al-Qurbah.

Allāh mengabarkan didalam ayat ini bahwasanya orang-orang shaleh tersebut yang di agung-agungkan & di sembah oleh orang-orang musyrikin ternyata mereka

يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ

“merekapun sendiri berusaha untuk mencari wasilah kepada Allāh”

Mereka sendiri ingin mencari kedekatan kepada Allāh

أَيُّهُمْ أَقْرَبُ
Siapa diantara mereka yang akan lebih dekat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Orang-orang yang menyembah mereka menyangka apabila menyembah orang-orang shalih tersebut maka orang-orang shalih tersebut maka orang-orang shalih tersebut akan mendekatkan diri mereka kepada Allāh.

Padahal Di sini Allāh menyebutkan mereka sendiri (orang-orang shalih) sebenarnya juga mencari kedekatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Siapa diantara mereka yang lebih dekat kepada Allāh

وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ

“Dan mereka mengharap rahmat dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla & takut dari azab Allāh Subhānahu wa Ta’āla ”

Mereka sendiri juga keadaannya demikian, dalam keadaan mengharap kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Mengatakan :

إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

” Dan sesungguhnya adzab Rabb mu adalah sesuatu yang harus diwaspadai ”

Ayat ini juga menunjukkan bahwasanya ada yg diantara orang-orang musyrikin yang mereka mengagung-agungkan orang-orang yang shaleh. Padahal orang-orang shalih tersebut berlomba untuk mendekatkan dirinya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla mereka juga takut kepada adzab Allāh & mereka juga mengharap rahmat dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla

Wabillahi taufiq wal hidayah
Wassalaamu’alaykum warahmatullaah wabarakaatuh

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

HSI – Al-Qowāidul Arba Halaqah 22 ~ Penjelasan Kaidah Ketiga Kitab Al-Qawa’idul Arba Bagian 2

Halaqah yang ke-22 penjelasan kitab Al-Qowā’idul Arba, karangan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi rahimahullah.

Kemudian Beliau mengatakan :

وَدَلِيْلُ الشَمْسِ وَالْقَمَرِ

Dan dalil bahwasanya di zaman Nabi shallallahu alaihi wa salam ada orang yang menyembah Matahari dan Bulan

قَوْلُهُ تَعَالَى :

Adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيۡلُوَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَالِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُتَعۡبُدُونَ  ٣٧ [ فصّلت:37-37]

Dalil yang menunjukkan bahwasanya di zaman Nabi ﷺ ada yang menyembah Matahari dan Bulan adalah firman Allāh yang artinya :

“Dan diantara ayat-ayat Allāh yang menunjukkan kekuatan Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah – ٱلَّيۡلُوَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ – malam dan siang dan Matahari dan Bulan”

Ini adalah termasuk tanda-tanda kekuasaan Allāh, menunjukkan tentang kekuasaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, yang menjadikan malam, yang menjadikan siang, tidak ada yang menjadikan itu semua kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Tidak ada selain Allāh yang bisa merubah malam menjadi siang atau merubah siang menjadi malam.

وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ

Demikian pula termasuk Matahari & juga Bulan.

Ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian Allāh mengatakan :

لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَالِلۡقَمَرِ

”Janganlah kalian bersujud kepada Matahari dan juga Bulan”

Karena Matahari dan Bulan adalah termasuk makhluk, dan dia adalah termasuk tanda-tanda kekuasaan Allāh.

Allāh mengatakan :

لَا تَسۡجُدُواْ

“Janganlah kalian bersujud”

Kepada Matahari & bulan.

Larangan Allāh supaya manusia jangan bersujud kepada Matahari dan Bulan, menunjukkan bahwasanya pada saat itu ada diantara orang-orang musyrikin yang menyembah Matahari dan juga Bulan.

Oleh karena itu, Allāh Subhānahu wa Ta’āla melarang, mengatakan:

لَا تَسۡجُدُواْ

“Janganlah kalian bersujud”

Menunjukkan bahwasanya pada saat itu ada diantara manusia yang ada di zaman Nabi ﷺ yang menyembah kepada Matahari dan juga menyembah kepada Bulan.

Dan di dalam Al-Qurān, beberapa kisah yang menunjukkan memang bahwasanya disana ada sebagian manusia yang menyembah Matahari dan juga Bulan. Seperti Ratu Saba’, yang di dakwah-i oleh Nabi Sulaiman Alayhissalam, dan di zaman sekarang masih ada orang yang menyembah Matahari. Menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ ketika beliau diutus bukan hanya memerangi orang-orang yang menyembah berhala, yang menyembah patung, tapi beliau juga diutus untuk memerangi semua orang-orang musyrikin dengan berbagai jenis peribadatan mereka, termasuk diantaranya yang menyembah Matahari maupun Bulan.

وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُتَعۡبُدُونَ

“Dan hendaklah kalian bersujud kepada Allāh yang telah menciptakan mereka semua, kalau kalian benar-benar beribadah dan menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla “.

Setelah Allāh Subhānahu wa Ta’āla melarang bersujud kepada Matahari dan Bulan, bagaimanapun dia memberikan manfaat bagi manusia, bagaimanapun besarnya di mata manusia, kemudian Allāh menyuruh kita untuk bersujud kepada Allāh yang telah menciptakan Matahari dan Bulan dan semua makhluk. Yang menciptakan makhluk-makhluk tersebutlah yang berhak untuk disembah.

Kemudian beliau mengatakan:

وَدَلِيْلُ الْمَلَائِكَةِقَوْلُهُ تَعَالَى: وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡجَمِيعٗا ثُمَّ يَقُولُ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ أَهَٰٓؤُلَآءِ إِيَّاكُمۡ كَانُواْيَعۡبُدُونَ  ٤٠ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ أَنتَوَلِيُّنَا مِن دُونِهِمۖ بَلۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ ٱلۡجِنَّۖ أَكۡثَرُهُم بِهِممُّؤۡمِنُونَ  ٤١ [ سبإ:40-41]

Dalil yang menunjukkan bahwasanya di zaman Nabi ﷺ ada orang-orang musyrikin yang menyembah para Malaikat.

Apa dalilnya?

Beliau mengatakan:

قَوْلُهُ تَعَالَى:

adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla

yang artinya:

Dan pada hari ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengumpulkan mereka semuanya, yaitu di padang Masyar, dikumpulkan manusia dari awal sampai akhir, dikumpulkan para Jin dari awal sampai akhir dan dikumpulkan para Malaikat, bahkan dikumpulkan hewan-hewan

وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡجَمِيعٗا

pada hari dimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan mengumpulkan mereka semua

ثُمَّ يَقُولُ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ

Kemudian Allāh berkata kepada para Malaikat :

أَهَٰٓؤُلَآءِ إِيَّاكُمۡ كَانُواْيَعۡبُدُونَ

ثُمَّ يَقُولُ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ

Kemudian Allāh berkata kepada para Malaikat :

Di sana ada manusia baik yang mukmin, yang kafir, yang musyrik yang munafik, ada Jin dan di sana ada Malaikat.

Maka Allāh berkata kepada para Malaikat.

Apa yang Allāh katakan kepada mereka?

أَهَٰٓؤُلَآءِ إِيَّاكُمۡ كَانُواْيَعۡبُدُونَ

“Apakah mereka dahulu menyembah kalian”

Allāh berkata kepada para Malaikat yang sebagian manusia telah menyembah mereka. Maka, Allāh saat itu bertanya kepada para Malaikat “Apakah mereka dahulu menyembah kalian wahai para Malaikat?” Pertanyaan ini menunjukkan bahwasanya memang di dunia ada diantara manusia yg menyembah kepada Malaikat.

Apa Jawaban Malaikat?

قَالُواْ

Mereka menjawab

سُبۡحَٰنَكَ

“Maha Suci Engkau Ya Allāh,”

أَنتَوَلِيُّنَا مِن دُونِهِمۖ

Engkau adalah wali Kami selain mereka,

بَلۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ ٱلۡجِنَّۖ

bahkan mereka adalah menyembah para Jin,

أَكۡثَرُهُم بِهِممُّؤۡمِنُونَ

sebagian besar mereka beriman dengan Jin-Jin tersebut

Ayat ini menunjukkan kepada kita, ada di antara manusia yang menyembah kepada Malaikat dan ada diantara mereka yang menyembah kepada Jin.

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

HSI – Al-Qowāidul Arba Halaqah 21 – Penjelasan Kaidah Ketiga Kitab Al-Qawa’idul Arba Bagian 1

Halaqah yang ke-21 penjelasan kitab Al-Qowā’idul Arba, karangan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi rahimahullah.

Beliau berkata :

اَلْقَاعِدَةُ الثَّالِثَة: أَنَّ النَّبِيَّ –صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم –ظَهَرَ عَلَى أُنَاسٍ مُتَفَرِّقِيْنَ فِيْ عِبَادَاتِهِمْ

Kaidah yang ketiga :
“Bahwasanya Nabi ﷺ muncul dan diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla di tengah-tengah manusia yang mereka berbeda-beda di dalam ibadahnya”

Artinya bukan satu, bukan satu sesembahan.

Beliau mengatakan :

مِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الشَّمْسَ وَالْقَمَر،

Diantara orang-orang musyrikin, ada yang menyembah Matahari dan juga Bulan.

Ada sebagian manusia di zaman beliau yang menyembah Matahari dan juga Bulan.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْمَلَائِكَة،

Dan diantara mereka ada yang menyembah Malaikat

وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْأَنْبِيَاءُ وَالصَّالِحِيْن،

Dan ada diantara mereka yang menyembah para Nabi dan juga orang-orang shaleh

وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْأَحْجَارَ وَالْأَشْجَارَ،

Dan ada diantara mereka yang menyembah pohon-pohonan demikian pula batu-batuan.

Ini Adalah semuanya termasuk orang-orang musyrikin, menyembah kepada selain Allāh. Namun, apa yang disembah selain Allāh tersebut adalah sesuatu yang berbeda-beda, ada diantara mereka:

  1. Yang menyembah Matahari
  2. Ada yang menyembah Bulan
  3. Ada yang menyembah Nabi
  4. Ada yang menyembah orang shaleh
  5. Ada yang menyembah pohon
  6. Ada yang menyembah batu.

Beliau ﷺ diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, di tengah-tengah manusia yang berbeda di dalam ibadahnya.

Kemudian beliau mengatakan :

وَقَاتَلَهُمْ رَسُوْلُ اللَّه –صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

“Kemudian Rasulullãh ﷺ memerangi mereka”

وَلَمْ يُفَرِّق بَيْنَهُم

“Dan Beliau ﷺ tidak membedakan diantara mereka”

Beliau ﷺ ketika diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kepada orang-orang musyrikin tersebut, mengajak mereka bertauhid, meng-Esa-kan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan beliau memerangi mereka semuanya, tidak membedakan dengan yang lain. Bahkan diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk memerangi semua orang musyrikin dengan berbagai jenisnya.

Dalilnya beliau mengatakan

وَالدَّلِيْلُ قَوْلُهُ تَعَالَى:

Dan Dalilnya adalah Firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla

وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞوَيَكُونَ ٱلدِّينُ كُلُّهُۥ لِلَّهِۚ …  ٣٩ [ الأنفال:39-39]

“Dan perangilah mereka (perangilah orang-orang musyrikin)”

Sampai kapan?

حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ

“sehingga tidak terjadi Fitnah dipermukaan bumi ini”

Yang dimaksud dengan fitnah disini adalah kesyirikan.

Perangilah mereka sampai tidak terjadi kesyirikan di permukaan bumi.

وَيَكُونَ ٱلدِّينُ كُلُّهُۥ لِلَّهِۚ

”Dan sehingga agama ini semuanya hanyalah untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Perintah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada Rasulullãh ﷺ dan juga para shahabat radiallahu anhum untuk memerangi orang-orang musyrikin yang mereka menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan maksud supaya tidak lagi terjadi terjadi fitnah di bumi ini. Tidak terjadi kesyirikan di bumi ini. Sehingga Agama ini, ibadah ini, semuanya hanyalah untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh memerintahkan untuk memerangi mereka semua tanpa membedakan antara satu dengan yang lain.

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

HSI – Al-Qowāidul Arba 20 – Penjelasan

Halaqah yang ke-20 Penjelasan Al-Qowāidul Arba’.

Kemudian beliau mengatakan :

والمشفوع له: من رضيَ اللهُ قوله وعمله بعد الإذن كما قال تعالى: (مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ)[البقرة:255]

Siapakah yang berhak untuk mendapatkan syafa’at di hari kiamat?

Mereka adalah (kata beliau) :

من رضيَ اللهُ قوله وعمله

“Orang yang Allāh ridhoi amalannya dan juga ucapannya”

✓ Inilah orang yang akan mendapatkan syafa’at di hari kiamat,

Adapun orang yang tidak Allāh ridhoi ucapannya yang tidak Allāh ridhoi amalannya, maka Allāh tidak akan mengizinkan siapapun untuk memberikan syafa’at kepada dirinya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla meridhoi dari kita Tauhid dan Allāh tidak ridho kesyirikan. Artinya orang yang akan mendapatkan syafa’at di hari kiamat adalah orang yang berTauhid yang meng-Esa-kan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dalam ibadahnya tidak menyerahkan ibadah sedikitpun kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Inilah orang yang akan mendapatkan ridho Allāh dan mereka lah yang berhak untuk mendapatkan syafa’at.

Suatu hari Rasulullãh ﷺ pernah ditanya oleh Abu Hurairah radiallahu anhu, bertanya kepada Rasulullãh ﷺ tentang siapa yang paling bahagia  mendapatkan syafa’at dari Rasulullãh ﷺ di hari kiamat.

Abu Hurairah berkata :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ … أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

[HR Bukhari, no.99].

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ya Rasulullãh siapa orang yang paling berbahagia dengan syafa’at mu (yaitu pada hari kiamat) ”

Maka Rasulullãh ﷺ mengatakan :

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

” Barangsiapa yang mengatakan –  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ – ikhlas dari hatinya ”

Orang yang yang mengatakan –  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ – berarti dia telah ber ikrar

” Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh ”

dan diamalkan di dalam kehidupan dia. –  خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ  – ikhlas dari hati nya. Bukan karena dipaksa bukan karena sebagai orang yang munafik yang hanya mengucapkan –  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ – di lisannya bukan dengan hati nya. Dia mengucapkan  –  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ – ikhlas dari hati nya dan diamalkan di kehidupan dia sehari-hari, tidak berdoa kecuali kepada Allāh, tidak menyembelih kecuali hanya untuk Allāh, tidak bernadzar kecuali untuk Allāh, tidak beristighosah, istiadah, beristianah kecuali hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan seluruh ibadah, satupun ibadah tidak ada yang diserahkan kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Inilah orang yang akan berbahagia dengan syafa’at nya Rasulullãh ﷺ.

Dalam hadits yang lain beliau ﷺ mengatakan :

لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفَاعَةً لِأُمَّتِي وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“sesungguhnya setiap Nabi memiliki Dakwah yang mustajab /memiliki doa yang mustajab (dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla) & masing-masing dari Nabi telah menyegerakan dari doa nya (yaitu di dunia, mereka sudah menyegerakan doanya di dunia ini), dan sesungguhnya aku telah menyembunyikan doa ku / mengakhirkan doa ku pada hari kiamat sebagai syafa’at dariku untuk umatku“.

Ini doa  mustajab dari beliau miliki, yang Allāh karuniakan kepada beliau beliau simpan dan ditunda sampai hari kiamat dengan maksud sebagai syafa’at bagi umat nya pada hari kiamat.

Kemudian beliau mengatakan :

وَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“dan syafa’at ini (syafa’at ku ini) akan di terima  insyaAllah oleh setiap yang meninggal diantara umatku yang dia meninggal tanpa menyekutukan Allāh sedikit pun”

Menunjukkan bahwasanya orang yang berhak untuk mendapatkan syafa’at Rasulullãh ﷺ, dan juga syafa’at para Malaikat dan juga syafa’at yang lain pada hari kiamat adalah orang yang tidak menyekutukan Allāh, orang yang di ridhoi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Beliau mengatakan :
“Setelah diizinkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla”.

Para Nabi, para Malaikat, para syuhada, orang-orang yang beriman pada hari kiamat mereka tidak akan bisa memberikan syafa’at kepada orang lain kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Jika Allāh mengizinkan maka mereka memberikan syafa’at, tapi jika Allāh tidak mengizinkan, maka mereka tidak bisa memberikan syafa’at. Tidak mungkin mereka bisa memberikan syafa’at kecuali setelah diizinkan & dibolehkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Sebagaimana kata beliau :
كم قال الله تعالى :
( مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ)[البقرة:255]

“dan tidak ada yang memberikan syafa’at disisi Nya (yaitu disisi Allāh), kecuali dengan izin dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla”.

Menunjukkan bahwasanya syafa’at dihari kiamat berbeda dengan syafa’at di dunia. Di Hari kiamat seorang Nabi tidak mungkin memberikan syafa’at kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ

[Surat An-Najm 26]

“berapa banyak Malaikat di langit yang tidak akan bermanfaat syafa’at mereka di sisi Allāh – إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ  – kecuali setelah diizinkan orang Allāh Subhānahu wa Ta’āla ”

Menunjukkan bahwasanya Malaikat pun tidak bisa memberikan syafa’at kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu, sekali lagi seorang muslim apabila ingin mendapatkan syafa’at di hari kiamat maka hendaklah ia meminta kepada Allāh, Dzat akan mengiizinkan syafa’at tersebut. Dan Dialah yang memiliki syafa’at tersebut.

Dan Hendaklah dia menghindari cara mendapatkan syafa’at yang tidak dibenarkan dan ini adalah cara orang-orang musyrikin yang ada di zaman Rasulullãh ﷺ, demikian pula cara yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin di zaman Nabi Nuh alaihi wa sallam, yaitu mereka mencari syafa’at dengan cara meminta kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah

HSI – Al-Qowāidul Arba 19 – Penjelasan

Halaqah yang ke-19 Penjelasan Al-Qowāidul Arba’.

Kemudian beliau mengatakan :

والشفاعة المثبَتة هي: التي تُطلب من الله، والشّافع مُكْرَمٌ بالشفاعة

Adapun syafa’at yang ada, yang ditetapkan yang akan bermanfaat di hari kiamat adalah syafa’at yang diminta dari Allāh.

Seseorang di dunia mengatakan :

✓ “Ya Allāh aku meminta syafa’at para Malaikat dihari kiamat ”

Atau mengatakan :

✓ “Ya Allāh aku meminta syafa’at Nabi Muhammad dihari kiamat ”

Berarti dia telah meminta syafa’at dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Berbeda dengan sebagian yang dia datang misalnya kesebuah kuburan wali misalnya atau seorang Nabi, dia mengatakan :

⇒ ” Wahai Nabi aku meminta syafa’atmu di hari kiamat ”

Atau mengatakan:

⇒ ”  Berilah aku syafa’at mu pada hari kiamat ”

Lain antara yang pertama tadi atau dengan yang kedua.

Yang pertama memohon kepada Allāh [Ya Allāh aku meminta syafa’at Nabi mu pada hari kiamat]. Adapun yang kedua dia mengatakan [Wahai Nabi aku meminta syafa’at mu pada hari kiamat].

Yang pertama meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan ini adalah cara yang benar & ini syafa’at yang bermanfaat di hari kiamat.

Oleh karena itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan :

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا ۖ

“Katakanlah wahai Muhammad, bahwasanya syafa’at semuanya adalah milik Allāh”
[Surat Az-Zumar 44]

Apabila syafa’at semuanya adalah milik Allāh, maka seseorang tidak meminta syafa’at tersebut kecuali kepada yang memiliki yaitu adalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Adapun selain Allāh siapapun dia maka dia tidak memiliki

وَالَّذِينَ تَخَدُ مِنْ دُنِهِ الشُّفَعَة
أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ ۚ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلَا يَعْقِلُونَ

[Surat Az-Zumar 43]

Apakah mereka menjadikan selain Allah sebagai pemberi syafa’at pemberi syafa’at

قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلَا يَعْقِلُونَ

“Katakanlah apakah kalian tetap meminta syafa’at  kepada mereka, padahal mereka tidak memiliki sesuatu dan mereka tidak berakal ”

Kita meminta syafa’at dari Dzat yang memiliki

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا ۖ

” Katakanlah bahwasanya syafa’at semuanya milik Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Maka inilah syafa’at yang akan bermanfaat dihari kiamat. Orang yang di dunia meminta syafa’at nya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian beliau mengatakan :

والشّافع مُكْرَمٌ بالشفاعة

Dan orang yang memberikan syafa’at di hari kiamat, berarti dia telah diutamakan / di mulia kan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan syafa’at tersebut.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla di hari kiamat mampu untuk mengeluarkan seseorang yang berdosa dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga,

✓ Tanpa adanya orang yang memberikan syafa’at.

✓ Tanpa adanya Malaikat yang memberikan syafa’at.

✓ atau Nabi yang memberikan syafa’at atau orang yang shaleh memberikan syafa’at.

Namun kenapa Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan di hari kiamat adanya syafa’at, disini beliau mengatakan

والشّافع مُكْرَمٌ بالشفاعة

Karena tujuannya adalah untuk memuliakan orang yang memberikan syafa’at tersebut, ingin menunjukkan kemuliaan dia disisi Allāh dihadapan makhluk-Nya.

Bagaimana keutamaan para Nabi, kemuliaan Rasulullãh ﷺ, kemuliaan orang-orang yang beriman. Allāh ingin menunjukkan keutamaan mereka & kemuliaan mereka disisi makhluk-Nya.

Wabillahi taufiq wal hidayah
Wassalaamu’alaykum warahmatullaah wabarakaatuh

Abdullāh Roy
Di kota Al-Madīnah