Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 50

Berkata sebagian salaf yaitu Ibrāhīm At Taimiy:

و من يأمن البلَ بعد إبراهيم

“Siapa yang aman dari fitnah, siapa yang aman dari menyimpang dari jalan Allāh setelah Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām”

Apabila Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām takut apabila menyimpang dari agama Allāh maka bagaimana dengan kita?

Oleh karena itu beliau mengatakan disini, wajib bagi seorang Muslim untuk waspada dengan 10 perkara ini dan takut terjerumus didalamnya.

Diantara bentuk kewaspadaan adalah mau mempelajari agama Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

√ Mempelajari mana yang benar sehingga bisa mengamalkannya.
√ Mempelajari sehingga tahu mana yang salah. Kemudian dia menjauhkan dirinya dari perkara yang salah tersebut.

Kemudian beliau mengatakan:

نعوذ باللَّ من موجيبات غضبه واليم عقابه

“Kami berlindung atau kita berlindung kepada Allāh dari segala hal yang menjadikan kemarahan Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan menjadikan turunnya siksaan yang pedih dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla”

Ini adalah do’a baik dari pengarang rahimahullāh. Beliau mendo’akan beliau sendiri dan mendo’akan setiap orang yang membaca buku beliau ini, berlindung pada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dari segala hal yang menjadikan marah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla membenci kekufuran, membenci kesyirikan, membenci kenifaqan, dan tidak ada yang bisa menjaga kita dari perkara itu semua kecuali Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu disini beliau menutup kitāb beliau ini dengan do’a yang bagus yaitu berlindung kepada Allāh dari segala hal yang menjadikan marah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

وصلّى الله على النّبينا محمّد و على آله وأصحابه وسلم

Kemudian beliau mengucapkan shalawat dan salam untuk Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan shalawat atas Nabi kita Muhammad dan juga kepada keluarganya dan juga kepada seluruh shahābatnya.

وسلم dan juga memberikan salam kepada Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Menggabungkan di dalam kalimat terakhir ini antara shalawat dengan salam.
Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan kita untuk melakukan shalawat dan salam.

Dua perkara yaitu shalawat, yang pertama, kemudian yang kedua adalah salam.

إِ ا ن ا اللهَ وَمَلََئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النابِيِّ يَا أَيُّهَا الاذِينَ آمَنُوا صَلُّوا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (QS Al Ahzāb: 56)

صَلُّوا عَلَيْهِ ini adalah shalawat , وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ini adalah salam.

Kita diperintahkan untuk mengucapkan dua perkara ini yaitu shalawat dan salam untuk Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Oleh karena itu disini beliau mengatakan:

وصلّى الله على النّبينا محمّد و على آله وأصحابه وسلم

Dan shalawat Allāh untuk Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam maksudnya adalah pujian Allāh kepada beliau.

Pujian Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada Nabi kita Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam di depan para malāikatNya.

ثَنَاؤُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ الْمَلَلأعلِ

Ini adalah tafsir yang datang dari Abul ‘Aliya, salah seorang tabi’in. Beliau mengatakan (menafsirkan) tentang makna shalawat Allāh untuk RasūlNya.
Maksudnya adalah pujian Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam di depan para malāikatNya.

Adapun shalawat para malāikat maksudnya adalah permintaan para malāikat tersebut, permintaan para malāikat supaya Allāh memuji kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam di depan para malāikatNya.

Adapun shalawat yang kita ucapkan maka maksudnya adalah kita meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla supaya Allāh Subhānahu wa Ta’āla memuji Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam di hadapan para malāikatNya

Iklan
Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 49

 Kemudian beliau mengatakan :
*وَكُلُّهَا مِنْ أَعْظَمِ مَا يَكُونُ خَطَرًا،*

“dan semuanya ini ada termasuk yang paling berbahaya 

*وَ مِنْ أَكْثَرِ مَا يَكُونُ وُقُوعًا*

Sepuluh perkara yang membatalkan keIslaman (yg disebut oleh Syaikh disini) beliau katakan ini adalah yang berbahaya. 
Menunjukkan bahwasanya disana ada perkara² yang lain yang beliau tidak sebutkan disini, yang beliau sebutkan disini adalah sepuluh perkara yang paling membahayakan. 
Kemudian yang kedua & paling sering terjadi di masyarakat dan ini adalah yang paling berbahaya yaitu sepuluh perkara yang kita sebutkan secara ringkas 
① Syirik (didalam beribadah kepada Allāh). 
② Menjadikan adanya perantara (antara seseorang dengan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, berdoa kepadanya, meminta syafaat dan bertawakal kepada mereka). 
③ Orang yang tidak mengkafirkan orang musyrik /meragukan kekufuran mereka /membenarkan mazhab mereka. 
④ Orang yang meyakini bahwasanya petunjuk selain Rasulullãh ﷺ lebih sempurna dari pada petunjuk beliau ﷺ. 
⑤ Orang yang membenci apa yang datang dari Rasulullãh ﷺ, membenci syariat beliau ﷺ. 
⑥ Mengejek apa yang ada didalam agama Allāh. 
⑦ Sihir dengan berbagai macamnya. 
⑧ Membantu orang-orang musyrikin / kafir didalam memerangi orang-orang Islām . 

⑨ Meyakini bahwasanya ada sebagian manusia yang boleh tidak mengamalkan agama Islām / boleh untuk tidak mengikuti Nabi ﷺ. 
⑩ Berpaling dari agama Allāh. Tidak mau Mempelajari nya & tidak mau mengamalkannya. 

Beliau mengatakan sepuluh perkara ini adalah perkara yang paling berbahaya &  paling banyak terjadi di masyarakat. 
Apabila ini adalah yang paling berbahaya & paling banyak terjadi, kemudian beliau mengatakan 
 فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْذَرَهَا وَيَخَافَمِنْهَا عَلَى نَفْسِهِ.
Maka wajib seorang muslim untuk waspada dengan sepuluh perkara ini & hendaklah dia takut terjatuh didalam sepuluh perkara ini. 
Seorang Muslim takut apabila murtad dari agama Islām, takut apabila melakukan salah satu diantara perkara² yang membatalkan keIslaman, jangan kita Nabi Ibrahim alaihi salam yang beliau bagaimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla menceritakan didalam Al-Qur’an perjuangan beliau didalam menegakkan agama Allāh, didalam menegakkan Tauhid, beliau memerangi kesyirikan yang ada didalam kaumnya dan beliau lah yang memecah dan menghancurkan berhala dan beliau dilemparkan kedalam api karena sebab berpegang teguh dengan Tauhid, berpegang teguh dengan agama Allāh, meskipun keadaan beliau demikian & beliau adalah kholilullah (kekasih Allāh Subhānahu wa Ta’āla) beliau berdoa kepada Allāh supaya dijatuhkan & dihindarkan dari kesyirikan. 

Beliau mengatakan 
(… وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ)

[QS Ibrahim 35]
“Ya Allāh jauhkanlah aku & juga anak² keturunanku dari menyembah berhala ”
Berdoa kepada Allāh, karena setiap manusia tidak merasa aman bahwasanya dia akan melenceng dan akan menyimpang dari jalan yang lurus. 
Sampai Nabi Ibrahim alaihi salam beliau berdoa kepada Allāh / meminta kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla supaya dijauhkan dari kesyirikan, padahal beliau adalah Imamuwahidin (imamnya orang-orang yang mentauhidkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla) yang kita diperintahkan untuk mengikuti milah beliau alaihi salam tapi beliau mengatakan:
(… وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ)

[QS Ibrahim 35]
“Ya Allāh jauhkanlah aku & juga anak² keturunanku dari menyembah berhala ”
*

Menunjukkan tentang bahayanya kesyirikan

*

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 48


مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

[QS An-Nahl 106]

“Barangsiapa yang kufur setelah keimanannya 

إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِن بِالْإِيمَانِ

Kecuali orang yang dipaksa, sedangkan hatinya dalam – مطمئن – dalam keadaan tenang keimanan ”
Dipaksa oleh orang yg kafir diancam dengan akan ditembak atau akan dibunuh supaya dia mengucapkan kalimat yang kufur, diperintahkan untuk mencela Rasulullãh ﷺ, diperintahkan untuk mengucapkan ucapan yang menunjukkan bahwasanya dia keluar dari agama Islām 

إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ 

Kecuali orang yang dipaksa & hatinya masih tenang dengan keimanan. 
Siapa yang tercela? 
 وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا

Orang yang tercela apabila dia hatinya /dadanya tenang dalam kekufuran. 
Senang & dia tenang dengan kekufuran tersebut. Mengucapkan dengan lisannya melakukan dengan amalannya & hatinya merasa tenang, hatinya merasa senang dengan kekufuran tersebut 
 فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ 
Maka orang yang demikian, yang mendapatkan amarah  dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla 
 وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيم
&orang yang demikian akan mendapatkan azab yang sangat berat. 
Menunjukan kepada kita bahwasanya ada keadaan dimana seseorang dimaafkan, yaitu dimana ketika dia dipaksa oleh orang lain, adapun bukan dalam keadaan terpaksa seseorang takut dengan orang yang kafir, takut dengan atasan yang kafir, kemudian dia meninggal shalat, meninggalkan agamanya atau ikut merayakan hari raya (hari raya orang yang kafir) karena ingin dunianya, karena takut dengan atasannya, padahal dalam keadaan tidak dipaksa orang yang demikian adalah membahayakan agamanya. Karena Allāh didalam ayat ini mengecualikan bagi orang yang terpaksa. Dipaksa diancam akan dibunuh, diancam akan disiksa & hatinya dalam keadaan tenang dengan keimanan, inilah orang yang mendapatkan udzur. 
Adapun hanya sekedar takut tidak enak dengan teman atau karena ingin jabatan, ingin supaya jabatannya tetap atau supaya naik pangkat, kemudian dia meninggal agamanya, maka ini tercela didalam agama Islām. 
وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

Orang-orang kafir ingin supaya kalian meninggalkan agama kalian dan mereka pun akan meninggalkan agamanya. 
 Rasulullãh ﷺ dahulu pernah diminta oleh orang-orang kafir Qurais untuk menyembah sesembahan orang-orang Qurais, apabila beliau menyembah apa yang disembah oleh orang-orang Qurais, niscaya merekapun akan menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, meminta kepada beliau untuk meninggalkan sebagian keyakinannya, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla menurunkan Al-Kafirun 
 قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

Wahai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah & kalian tidak akan menyembah apa yang aku sembah. 
Tidak boleh seorang muslim meninggalkan agamanya karena orang kafir 

وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ

وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

[QS Al-Baiquniah 1- 6]

Bagi kalianlah agama kalian & bagiku lah agamaku 

Tidak boleh meninggalkan sebagian syariat agama Islām untuk mencari keridhoan orang-orang yang kafir 

_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 47

Kemudian beliau mengatakan 
*وَلَا فَرْقَ فِي جَمِيعِ هَذِهِ النَّوَاقِضِ بَيْنَ الهَازِلِ وَالجَادِّ وَالخَائِفِ إِلَّا المُكْرَهِ.*
Setelah beliau menyelesaikan sepuluh perkara yang bisa membatalkan keIslaman seseorang beliau mengatakan :

“tidak ada bedanya didalam pembatal-batal keIslaman yang sepuluh ini antara orang yang bercanda & orang yang sungguh²”
Sebagaimana sudah kita sebutkan ketika kita membahas tentang orang yang mengejek agama Allāh / mengejek ayat-ayat Allāh Subhānahu wa Ta’āla, apakah dia mengejek dengan maksud bercanda / bersenda gurau atau dia bersungguh-sungguh dalam ejekanya. Sama saja apakah dia mengejek dalam keadaan bercanda atau tidak, semuanya membatalkan keIslaman. Didalam surat At Taubah ketika Allāh menceritakan tentang kisah orang-orang munafik 
وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
Ketika orang-orang /sebagian manusia di zaman Rasulullãh ﷺ, mengejek Allāh, mengejek RasulNya & mengejek ayat-ayatNya ditanya oleh Rasulullãh ﷺ, kenapa kalian melakukan demikian? 

Mereka mengatakan 

*إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَب*

Kami hanya bersenda gurau 

Kami hanya bermain-main 
Artinya kami mengucapkan ucapan ini /ejekan ini bukan karena kesungguhan tapi karena hanya bermain. 
Maka Allāh berkata kepada RasulNya 
 *قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ*
Katakanlah apakah dengan Allāh dan dengan ayat-ayatNya dan dengan RasulNya kalian mengejek? Janganlah kalian meminta udzur sungguh kalian telah kufur setelah keimanan kalian 
Dihukumi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla bahwasanya mereka adalah orang yang kafir karena mengejek Allāh, mengejek ayatNya, mengejek RasulNya. Meskipun mereka beralasan ini adalah sesuatu yang permainan. Sesuatu permainan atau bersenda gurau tapi Allāh menghukumi mereka sebagai orang yang kafir. 
Menunjukkan kepada kita, orang yang mengejek agama Allāh, mengejek ayat-ayat Allāh Subhānahu wa Ta’āla baik dia bersenda gurau atau sungguh² maka keduanya mengeluarkan dari agama Islām 

① 

② 

 Rasulullãh ﷺ, 

 
_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 46

Seorang Muslim & juga muslimah yang sudah bersyahadat dengan dua kalimat syahadat maka hendaklah dia memiliki hirs memiliki semangat, memiliki keinginan untuk mempelajari agama Allāh & juga mengamalkan apa yang ada didalamnya. 
Disana ada ilmu yang fardhu ‘ain & disana ada ilmu yang fardhu kifayah. 
Ilmu yang fardhu ‘ain ini wajib dipelajari oleh setiap muslim & muslimah (yang laki-laki maupun yg wanita) yang di Kota maupun yang di Desa. Apabila dia sudah dewasa maka dia diwajibkan fardhu ‘ain untuk mempelajari ilmu ini, diantaranya adalah :

Mempelajari tentang Aqidah, mempelajari tentang Tauhid yang merupakan ushul agama ini / yang merupakan pondasi di dalam agama ini. Mempelajari makna dari dua kalimat syahadat, mempelajari rukun iman yang enam, bagaimana cara beriman kepada Allāh, bagaimana  beriman kepada Malaikat, kepada Rasul-Nya, kepada Kitab-Nya, beriman dengan takdir, bagaimana beriman dengan Hari Akhir. Ini adalah arkanul iman /rukun² Iman yang wajib dipelajari oleh setiap muslim & juga muslimah. Dan juga seluruh perkara yang tidak akan tegak agamanya kecuali dengan perkara tersebut seperti mempelajari shalat lima waktu (bagaimana caranya, rukun² nya, kewajiban² nya) & juga mempelajari thaharoh tata cara berwudhu maka ini hukumnya adalah fardhu ‘ain wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari perkara² seperti ini. 
Dan disana ada ilmu yang fardhu Kifayah yang hanya wajib di pelajari oleh sebagian kaum muslimin tidak diwajibkan kepada sebagian yang lain, wajib bagi sebagian apabila sudah dipelajari oleh sebagian orang maka yang lain tidak wajib untuk Mempelajari nya, seperti misalnya:

Tata cara menghitung harta warisan atau tentang Al Hudud /tentang hukuman² maka ini adalah perkara² yang fardhu Kifayah wajib dipelajari oleh sebagian & bukan merupakan fadhu ‘ain. 
Jadi seorang muslim hendaklah yang pertama adalah memperhatikan ilmu yang Fardhu’ain apabila ada waktu, apabila ada kemampuan maka silahkan mendalami ilmu yang lain yaitu ilmu yang hukumnya adalah fardhu kifayah. 
Dan disini beliau mengatakan “termasuk hal yang membatalkan keIslaman yang ke-10 adalah berpaling dari agama Allāh 

لاَ يتعلمه ولا يعمل به 

Tidak mau mempelajari agama Allāh dan tidak mau mengamalkan agama Allāh berpaling /tidak mau mempelajari, tidak peduli dengan agamanya, tidak mau mempelajari Aqidah, tidak mau mempelajari Tauhid berpaling & tidak mau mempelajari pondasi agama Islām ini. 
ولا يعمل به 

Dan dia tidak mengamalkan, mengucapkan dua kalimat syahadat secara dhohir secara lisannya tetapi tidak mau shalat, ketika datang ramadhan tidak berpuasa, ketika wajib melakukan haji tidak mau melakukan haji, sama sekali tidak mau mengamalkan syariat agama Islām. Inilah yang dimaksud dengan – > الإعراض عندين الله : berpaling dari agama Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Tidak mau menuntut ilmu tidak mau mempelajari pondasi agama Islām, tidak mau mempelajari Aqidah, tidak mau mempelajari tauhid tidak peduli dengan agamanya dan tidak mengamalkan sama sekali syariat Islām, maka orang yang demikian apa yang dilakukan adalah membatalkan keIslaman nya, menunjukkan bahwasanya syahadat yang dia ucapkan dengan lisannya ini adalah sekedar lisan. Tidak diyakini didalam hatinya, tidak dia percayai didalam hatinya hanya sekedar lisan tetapi dia tidak amalkan. 
Seandainya dia memahami dua kalimat syahadat mengucapkan dengan lisan dan meyakini didalam hatinya tentunya dia akan mempelajari agama Allāh, sesuai dengan kemampuan dia & akan mengamalkan agama Allāh sesuai dengan kemampuan dia. Tapi seseorang bersyahadat kemudian dia berpaling dari agama Allāh /tidak mau mempelajari agama Allāh /tidak mau mengamalkan agama Allāh maka inilah yang mengeluarkan dia dari agama Islām. 
 
_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 45

Agama Islām mendoakan kita untuk berilmu & menuntut Ilmu & mendorong kita untuk mengamalkan. 
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
“Dia lah Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang telah mengutus RasulNya dengan ْهُدَىٰ Huda & دِينِ Dinil Haq ”

[QS At-Tawbah 33]
Mengutus RasulNya dengan dua perkara yaitu 
① Dengan Petunjuk 

Yaitu dengan Ilmu 
② Mengutus RasulNya dengan Dienil Haq 

Yaitu dengan amalan 
Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengutus Rasulullãh ﷺ dengan membawa ilmu & juga amalan. 
Orang yang berilmu &  mengamalkan ilmu nya maka dia lah orang yang berada di atas jalan Allāh Subhānahu wa Ta’āla diatas jalan yang lurus. Adapun orang yang berilmu tetapi dia tidak mengamalkan ilmu nya maka sifatnya adalah seperti sifat orang Yahudi, orang yang mengamalkan tetapi tidak berdasarkan ilmu maka ini sifatnya adalah seperti orang Nashrani. 
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman didalam surat Al-fatehah 
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“berilah kami jalan yang lurus”
Kemudian Allāh mengatakan 
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
“Bukan jalan orang yang Engkau murkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat”
Siapa orang yang Allāh murkai? 
⇒ orang yang Allāh murkai adalah orang-orang Yahudi. 
Sebagaimana yang dikabarkan Rasulullãh ﷺ, 
kenapa demikian? 
Karena mereka berilmu memiliki pengetahuan tentang kebenaran hanya mereka tidak mengamalkan ilmu 
 يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ 
“Mereka orang-orang Yahudi mengenal Rasulullãh ﷺ”
 mengenal sifat² nya, mengenal bahwasanya beliau adalah Rasul yang dikabarkan oleh Nabi Musa alaihi salam yang disebutkan didalam kitab mereka. 
كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ 
“sebagaimana mereka mengenal anak² mereka ”

Seseorang mengenal anak nya, kapan lahir nya, dimana, bagaimana sifatnya, mereka mengenal Rasulullãh ﷺ sebagaimana mereka mengenal anak² mereka sendiri, tetapi mereka tidak beriman dengan Rasulullãh ﷺ, ilmu mereka tidak bermanfaat karena tidak diamalkan. 
Demikian pula sebaliknya orang yang beramal tetapi tidak berdasarkan ilmu maka ini adalah termasuk Dholin / termasuk orang yang sesat. Terkadang seseorang bersemangat untuk beramal, bersemangat untuk beribadah tetapi tidak didasarkan oleh ilmu terkadang dia beribadah dengan beribadah yang tidak ada dasarnya didalam agama Islām, tidak ada dalilnya didalam Al-Qur’an, tidak ada dalilnya didalam hadits² Nabi ﷺ, beribadah dengan modal semangat maka ini juga tercela. Seseorang beribadah tetapi tidak berdasarkan ilmu. 
Yang terpuji & di puji oleh Allāh & RasulNya adalah apabila seseorang yang berilmu dengan ilmu yang benar kemudian dia mengamalkan ilmu nya. 

 
_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*

Diposkan pada Uncategorized

HSI Pembatal Keislaman 44

Oleh karena itu seorang muslim apabila sudah bersyahadat maka keimanan dia, syahadah yg dia ucapkan dia yakini dalam hatinya mendorong dia untuk mempelajari agama Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 
Mempelajari isinya & juga mendorong dia untuk mengamalkannya, mendorong dia untuk mempelajari agama Allāh, mendorong dia untuk mengamalkan apa yang ada di dalam agama ini & Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam Al-Qur’an mendorong kita untuk mempelajari agama 
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ… 

“hendaknya ada segolongan diantara mereka yang mereka mempelajari agama Allāh Subhānahu wa Ta’āla supaya mereka kembali kedalam kaumnya # mengingatkan kaumnya, memperingatkan kaumnya tentang agama Allāh ”

[QS. At-Tawbah 122]
Dan Allāh memuji para Ulama karena mereka adalah orang-orang yang sangat takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla 
… ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ.. 
” Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah para Ulama ”

[QS. Fatir 28]
Kenapa? 

Karena mereka mempelajari agama Allāh , mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla, mengenal nama-namaNya, mengenal sifat-Nya, mengenal hari Akhir, mengenal hikmah yang didalam syariat Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sehingga mereka takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Ini adalah anjuran bagi seorang muslim & Muslimah untuk mempelajari agama Allāh. 

Semakin kita mengenal agama Allāh Subhānahu wa Ta’āla /semakin kita mendalami /semakin kita mempelajari maka akan semakin tinggi derajat kita disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla 
.. يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ… 
“Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu diantara kalian dalam beberapa derajat ”

[QS. Al-Mujadila 11]

Akan diangkat oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla diatas orang-orang Jahil. Semakin seseorang mengenal agama ini semakin takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla & semakin dia beramal didalam agama ini akan diangkat oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 

Dan Rasulullãh shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan didalam sebuah hadits 
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa siapa yang Allāh kehendaki kebaikan pada dirinya maka akan difakihkan / akan difahamkan di dalam agamanya ”
Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allāh kebaikan di dunia maupun di akhirat maka Allāh akan jadikan dia faham & jadikan dia faqih tentang agamanya. 
Menunjukkan bahwasanya orang yang tidak demikian / yang tidak dikehendaki kebaikan oleh Allāh maka dijadikan dia bodoh / dijadikan dia jahil terhadap agamanya sendiri. 
Ini adalah anjuran bagi seorang muslim & Muslimah untuk mempelajari & juga mengamalkan agamanya 
Beliau mengatakan 
*العَاشِرُ*: الإِعْرَاضُ عَنْدِينِ اللهِ تَعَالَى لَا يَتَعَلَّمُـهُ وَلَا يَعْمَـلُ بِهِ، وَالدَلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمَنْأَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَالْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ﴾

 
_*Abdullāh Roy*_

_Di kota Al-Madīnah_
 Materi audio ini disampaikan di dalam Grup WA *Halaqah Silsilah ‘Ilmiyyah (HSI) ‘Abdullāh Roy.*